DERYNE MIKAELSON si duyung cantik yang sudah lama tinggal di lautan, harus kembali ke daratan karena telah menolong seorang anak kecil. Sosok Ryn yang menyenangkan membuat gadis kecil itu memohon pada Ayahnya, untuk menjadikan Ryn sebagai pengasuhnya.
LUCAS, Ayah dari Suri yang dengan terpaksa mengijinkan gadis asing untuk tinggal di rumahnya. Banyak sekali perbedaan dari suasana rumah itu ketika Ryn mulai tinggal disana. Satu persatu rahasia terbongkar! Apakah sebenarnya hubungan Lucas dan Suri, benarkah mereka hanya Ayah dan anak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YES!! I'am Mermaid - Ep. 31
Tuk!
Tuk!
Jemari lentik Ryn menekan pipi kiri Lucas, pria tampan itu menggeliat gusar, dia mengusap pipi kiri bekas disentuh oleh Ryn dengan kasar, Lucas tidur mendengkur seperti orang yang benar-benar kecapekan. Mungkin saja memang benar, bahwa ia sedang merasa lelah, lelah dengan hati tentunya.
"Sampai kapan kau akan tidur disini terus?" Gumam Ryn lirih, duyung cantik bermata biru itu duduk dilantai menghadap Lucas dan menemani pria yang notabenenya adalah majikannya. "Nic sudah pergi, aku tidak bisa membawa tubuhmu yang lebih besar dariku ini ke kamar"
"Eh! Mungkin bisa sih, tapi itu dengan sihir" ucap Ryn lagi, jari telunjuk Ryn mengeluarkan kilatan cahaya biru yang merupakan warna sihirnya. "Hanya saja, saat ini aku tidak bisa melakukannya"
"Sihir.... Apa?" Suara berat Lucas mengagetkan Ryn, gadis itu dengan cepat memundurkan posisi duduknya beberapa langkah. "Kau.... Mengatakan tentang sihir?" Gumam Lucas lagi.
Ryn mendekatkan wajahnya pada wajah pria itu, jelas terlihat bahwa Lucas masih memejamkan matanya. Mungkin pendengaran pria itu masih berfungsi dengan baik saat mabuk, telapak tangan Ryn melambai-lambai di depan wajah pria itu namun tak digubris oleh Lucas.
"Hei, kau sungguh mabuk?"
Tap!
Kedua mata Lucas terbuka, mata indah itu menyipit, ketika tangannya berhasil menggenggam jemari Ryn yang mengecek kesadaran dirinya. "Memangnya kenapa kalau aku mabuk?"
"Orang mabuk tidak akan pernah bisa diajak bicara se-nyambung ini" bantah Ryn.
Lucas menghempaskan tangan Ryn, pria itu menyeringai, ia mencibir Ryn yang sok tahu mengenai dirinya. Dengan wajah yang cemberut, Lucas mengalihkan pandangannya dari Ryn, ia lebih memilih membenamkan wajahnya pada sofa yang empuk.
"Hei tuan, kalau kau memang sudah sadar, mari ku bantu ke kamar"
"Ah! Tinggalkan aku sendiri" sahut Lucas ketus.
"Kau akan kedinginan kalau tidur disini, bukankah lebih baik pindah ke kamar?" Ryn mulai berdiri dari duduknya, ia terus menatap tubuh yang tak bergeming itu. "Dih! Keras kepala ya?!"
"Hei Ryn" panggil Lucas tanpa memandang ke arah Ryn sama sekali. "Aku ingin menanyakan satu hal"
"........." Ryn terdiam, ia kembali duduk berjongkok dekat Lucas, meskipun Ryn hanya bisa melihat bagian belakang kepala Lucas saja dari posisinya saat ini.
"Akhir-akhir ini ada sesuatu yang menggangguku" ujar Lucas lirih.
"Ya Tuhan!" Pekik Ryn heboh. "Kau harus memanggil pengusir hantu"
"Ck!" Lucas mendecak sebal, ia mencubit pergelangan tangan Ryn lembut. "Ini bukan perkara hantu, tapi...."
Lucas menghela nafas panjang sebelum memulai kalimatnya. "Ini soal Wendy, aku mencurigainya"
"Mencurigai Wendy?" Tanya Ryn lirih. Jika saja ruangan itu dipenuhi dengan cahaya mungkin sudah terlihat dengan jelas jika sorot mata Ryn berubah, ketika pria itu membahas mengenai kekasihnya. Kilau mata Ryn mendadak redup menatap pria di depannya.
"Ryn...." Panggil Lucas pelan. "Apa kau mengenal pria itu?"
"Pria..." Kedua alis Ryn tertaut, ia bingung dengan kata-kata Lucas. "Siapa?"
"Kaos milik pria yang kau gunakan beberapa hari lalu saat pulang ke rumah, apa kau mengenalnya?"
Ryn mencoba mengingat kembali peristiwa dirinya yang bertemu dengan Gabriel, setelah dirasa yakin, gadis itu mengangguk kan kepalanya. "Maksudmu, Gabriel?"
"Jadi, kau mengenalnya?"
"Iya, kami baru saja bertemu waktu itu" jawab Ryn jujur.
"Bagaimana kalian bisa bertemu? Apa kau tidak mengenalnya dari lama?" Tanya Lucas menyelidik, pria itu benar-benar tak menunjukkan ekspresi wajahnya pada Ryn, ia lebih memilih menghadap ke arah lain yang tersembunyi. "Maaf jika aku mengusik privasi mu"
"Ah, tidak apa-apa" jawab Ryn dengan senyuman. "Waktu itu, aku sedang jalan-jalan lalu bajuku kotor terkena cipratan air jalanan dan hanya ada Gabriel disana"
"........" Lucas terdiam mendengar cerita dari Ryn, entah mengapa? Hatinya merasa lega bahwa Ryn tidak ada kaitannya dengan semua ini.
"Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa? Jadi aku meminta bantuannya, aku merasa malu karena baru bertemu sudah merepotkan nya seperti itu" ungkap Ryn panjang lebar. "Apa hal itu mengganggu mu?"
Lucas menggeleng pelan. "Tidak, aku pikir kau sudah mengenal Gabriel dari lama" ujar Lucas terus terang. "Aku bersyukur kau tidak terlibat, jadi aku tahu harus menyalahkan siapa?"
"Me-menyalah kan?" Ryn terkejut dengan kata-kata Lucas. "Me-memang nya ada apa? Apa kau dan Wendy sedang tidak akur?"
"Bukan aku yang memulainya, tapi Wendy" sahut Lucas ketus.
Ryn termenung kembali, disaat seperti ini, jika seorang teman sedang bersedih bukankah sepatutnya sebagai teman yang baik untuk memberi penghiburan? Gadis cantik bermata biru itu menarik nafas dalam-dalam, ia menghembuskan nafas pelan sambil tersenyum.
"Jika itu hanya masalah kecil, maafkanlah..." Ujar Ryn tenang. "Seiring berjalannya waktu, kau pasti akan melupakannya"
Sakit? Tentu saja! Tidak tahu sejak kapan, Ryn mulai menaruh perhatian lebih pada pria itu, rasa sakit yang diberikan oleh orang terkasih memang selalu berhasil membuat kristal bening di dalam mata ingin keluar. Tanpa sepengetahuan Lucas, Ryn mengusap kedua sudut matanya, ia tidak ingin ada mutiara yang menggelinding di lantai rumah itu.
"Ini tidak semudah yang kau katakan Ryn..." Balas Lucas lirih. "Dan ini bukanlah masalah kecil, jika itu menyangkut pengkhianatan maka hal itu sangat fatal untukku"
"Pengkhianatan?"
Lucas menoleh menatap Ryn, gadis itu tersentak kaget ketika melihat wajah Lucas yang nampak murung, meski begitu dia semakin terlihat tampan di mata Ryn.
"Wendy dan Gabriel...." Ucap Lucas lirih tanpa meneruskan kalimatnya. Meski begitu, nampaknya Ryn langsung menangkap maksud dari pria di depannya, jadi Wendy dan Gabriel telah melakukan tindakan buruk, yakni perselingkuhan, dan hal tersebut memang fatal dalam suatu hubungan.
"........." Ryn tertunduk sedih, ia ikut merasakan kesedihan yang dihadapi oleh Lucas, gadis cantik itu tak bisa mengatakan apapun dan tidak bisa memberikan penghiburan pada pria di depannya. Lucas sudah berhenti berbaring dengan posisi tengkurap, pria itu membenarkan posisi duduknya dan duduk di depan Ryn yang masih diam menundukkan wajahnya, duduk di lantai.
Puk!
Puk!
Kedua mata Ryn melebar, ia segera mengangkat kepalanya ketika merasakan telapak tangan Lucas yang besar dan hangat itu mengusap kepalanya. Gadis itu diam dengan bibir yang terbuka sedikit dan menatap Lucas penuh keheranan.
"Eh....."
Lucas tersenyum melihat ekspresi kaget Ryn, pria itu terkekeh lalu mengusap kepala Ryn lagi. "Maaf, sudah membuatmu kepikiran dengan masalahku"
"Ah, itu...." Kedua pipi Ryn bersemu merah, namun kedua matanya masih tetap terpaku memandang Lucas. "A-aku...."
Berkat cahaya pantulan dari kolam renang yang mengenai wajah Ryn, Lucas jadi bisa melihat dengan jelas bahwa di pipi putih itu ada rona merah yang menyembul keluar. Entah kenapa? Lucas merasa tertegun dengan pemandangan di depannya, tanpa ia sadari ada sesuatu di dalam dirinya yang berdetak dengan kencang sehingga menimbulkan rasa sesak di hati.
"Ryn....." Gumam Lucas lirih.
Tanpa permisi, Ryn menyandarkan kepalanya pada lutut Lucas. Gadis itu menempelkan dahinya pada bagian depan lutut pria itu, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Tubuh Lucas mendadak kaku mendapati perlakuan Ryn terhadapnya, pria itu termenung diam merasakan tabuhan detak jantungnya sendiri yang semakin tak karuan.
"Maaf...." Ucap Ryn lirih dan lembut. "Maafkan aku...."
"Mungkin kau benar, seiring berjalannya waktu, aku akan melupakannya" gumam Lucas pelan, ia kembali mengusap kepala Ryn. Kedua tangan Lucas mengangkat wajah cantik Ryn, kedua mata mereka bertemu, Lucas menatap lekat mata indah dan hangat itu. "Tapi, aku harap aku dan kau tidak akan melupakan yang ini"
Cup!
BERSAMBUNG!!!
Halo, maaf ya akhir-akhir ini jarang Update, dikarenakan satu rumah sedang sakit dan saya satu-satunya yang tidak ikut sakit jadi harus merawat suami, anak, orangtua dan adik saya! ☺️🙏 Jadi waktu saya sangat terbatas, harap maklum ya! Jangan lupa untuk dukung Author.
semangat, kuat sehat ya kak nesaaaa😍😍♥️♥️
semangat kak neess aku pasti selalu nunggu update mu,, 🌷🌷🌷🌷🌷😊😊😊🤗🤗🤗💝💝💝