NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reynand & Sikap Rewelnya

####

****

"Pulang aja, ya?" pinta Reynand dengan muka memelas.

Saat ini kami sudah berada di UGD salah satu rumah sakit di Jogja. Seorang suster bahkan sedang memasangkan infus di tangan kanannya, tapi Reynand masih ngotot minta pulang. Reynand memang disarankan untuk menginap, karena jumlah trombosit rendah, tekanan darah rendah, dan demam yang cukup tinggi, hampir mencapai 40 derajat. Ternyata Reynand demam bukan sejak kemarin tapi sudah hampir lima hari yang lalu, sempat turun demamnya tapi demam lagi, terus berulang sampai saat ini. Dan aku baru mengetahuinya kemarin waktu dia minta diantar ketemu kliennya. Aku sebenarnya kesal padanya, tapi aku tidak bisa marah.

"Aqilla, sayang!" rengek Reynand sekali lagi.

Aku hanya menggeleng tegas, dan memilih sibuk dengan ponsel digenggamanku.

"Aku nggak suka rumah sakit," rengek Reynand persis seperti anak kecil.

"Berhenti merengek, Rey! Aku lagi hubungi Arisha nih, susah banget."

"Enggak usah," tolak Reynand dengan ekspresi cemberutnya.

Aku melotot. Kalau aku nggak hubungi keluarga kamu terus siapa yang jagain kamu, Rey? Aku sendiri? Bisa-bisa aku ikut masuk rumah sakit. Gerutu dalam hati.

"Mereka nggak lagi di Jogja," imbuh Reynand.

Kening mengerut. "Ke mana?"

"Semarang. Kondangan. Baru berangkat tadi, belum nyampe. Besok aja deh kalau udah pada balik, paling juga pada nginep."

Aku mendesah pasrah sambil mengangguk. "Ya udah, aku kabarin Risha-nya besok aja, kamu istirahat dulu sambil nunggu kamar."

"Kenapa harus nunggu?"

"Kamar kelas satunya penuh."

"Kelas dua juga nggak papa, Aqilla."

Aku menggeleng tidak setuju, kamar kelas dua itu kurang nyaman, karena harus berbagi kamar dengan yang lain. Biasanya suka berisik, susah untuk istrirahatnya.

"Nunggu bentar aja, Rey, katanya udah ada yang mau pulang kok. Lagian kenapa sekarang kamu yang nggak sabaran gini, tadi kan ngotot minta pulang."

"Di sini lebih nggak nyaman. Rame, bikin pusing."

"Nah, kalau nggak suka rame berarti harus masuk kelas satu. Betul, Sus?" Aku bertanya pada seorang perawat berhijab yang tengah membereskan perlengkapannya.

"Iya, betul, Mas. Biasanya kelas dua emang agak rame juga," ujar si perawat bernametag Lita ini. "Istirahat dulu aja, Mas. Saya tanya dulu udah ada kamar kosong apa belum. Mari, Mas, Mbak."

"Iya, Mbak. Makasih dan maaf, ya, Mbak. Temen saya rada rewel."

Perawat itu mengangguk maklum lalu berpamitan sekali lagi sebelum kembali ke bekerja.

"Teman?" sindir Reynand terlihat kesal.

"Iya, teman," ulangku tanpa ragu.

Reynand langsung melotot sementara aku tersenyum.

"Teman hidup kan?"

Reynand mencibir. "Bisa ae," gerutunya setengah kesal, dengan bibir bergetar karena menahan diri untuk tidak tersenyum, namun gagal.

Aku tertawa. Tak berapa lama seorang perawat menghampiri bed Reynand dan mengatakan kalau Reynand sudah siap dipindahkan karena sudah ada kamar kosong.

*****

"Pulang aja deh."

Aku membekap mulutku karena menguap. Saat ini waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan malam, tapi aku rasanya sudah sangat mengantuk.

"Pulang, Aqilla!"

Aku berdecak karena rengekan Reynand yang masih meminta untuk pulang. Demamnya memang sudah turun meski masih agak hangat, dan tekanan darahnya pun sudah stabil tapi kan kita belum tahu apa trombositnya sudah naik. Ini orang juga susah banget disuruh minum jus jambu, jawabnya nanti-nanti terus.

"Nunggu sembuh dulu kenapa sih, Rey?"

"Bukan aku, tapi kamu yang pulang."

Aku meringis malu. "Aku kirain kamu minta pulang sekarang."

"Kamu kelihatan capek banget loh, Aqilla. Aku nggak mau deh kamu ikutan sakit gara-gara jagain aku. Aku nggak suka itu. Jadi, mending kamu pulang aja. Mumpung masih agak sorean ini."

Aku menggeleng tanda tak setuju. Ya, kali aku ngebiarin dia di rumah sakit sendirian. Bisa-bisa gagal jadi mantu Tante Linda aku ntar.

"Aku nggak sendirian, ada perawat dan juga dokter jaga, sayang."

"Aku nggak tega ninggalin kamu sendirian."

"Aku lebih nggak tega lihat kamu kayak gini," balas Reynand terlihat kesal. "Pulang aja deh, besok ke sini lagi."

Aku menggeleng sekali lagi. "Besok keluarga kamu udah pulang, jadi malam ini aku temanin kamu. Besok giliran keluarga kamu, oke?"

"Enggak," tolak Reynand tegas.

Aku pura-pura memasang wajah kecewa. "Jahat banget sih," gerutuku kemudian.

"Aqilla," panggil Reynand dengan memelas.

"Iya, aku tahu kamu khawatir. Tapi aku jelas nggak mungkin ninggalin kamu sendiri, lagian aku udah capek kalau musti nyetir pulang. Aku tidur di sini aja, ya. Kan kalau aku tidur di sini lebih gampang bantuin kamu kalau butuh sesuatu," jelasku lembut.

Kuremas tangannya dengan sengaja, sambil menunjukkan wajah memohon. Membuat Reynand akhirnya mengangguk sambil mendesah pasrah.

"Lemah banget aku kalau udah kamu rayu gini," gerutu Reynand kesal.

Aku terkekeh sembari memainkan alisku naik turun.

"Dasar. Udah sana tidur!" perintah Reynand sambil menggerutu.

Masih dengan senyum terbaikku, aku mengangguk setuju. Mataku rasanya memang sudah tidak bisa diajak kerja sama, sudah mengantuk berat dan pengen cepet-cepet rebahan.

"Kamu juga tidur, ya," kataku sambil berdiri.

"Mau tidur di mana?"

Aku menunjuk sofa yang letakknya tak jauh dari ranjangnya.

Reynand tiba-tiba menggeser tubuhnya, lalu menepuk sebelah sisi ranjangnya yang kosong.

"Tidur di sini aja. Nanti kalau tidur di sofa kamu malah pegel-pegel."

Blush!

Kedua pipiku seketika langsung memerah karena malu. Entah kenapa aku merasa malu, padahal maksud Reynand hanya agar aku tidak sakit pinggang karena tidur di sofa. Tapi tetap saja kedua pipiku terasa panas.

"Aku tidur di sofa aja, nggak enak kalau nanti ada dokter yang tiba-tiba visit gimana?" Aku menggeleng tanda tak setuju.

"Kan barusan udah ada dokter yang visit, Aqilla."

Oh, iya. Kenapa aku sampai lupa, barusan kan sudah ada dokter jaga dan juga perawat yang cek suhu tubuh dan juga tekanan darah Reynand. Duh, musti jawab apa ini. Aku mendadak gugup dan juga panik, rasa kantukku mendadak lenyap.

"Aku nggak punya cukup tenaga buat ngapa-ngapain kamu, Aqilla. Lagian aku juga nggak mungkin ngapa-ngapain kamu sebelum ada sorakan SAH untuk kita, setelah aku menjabat tangan Bapak kamu dan mengucap ijab qobul atas nama kamu," ungkap Reynand sambil tersenyum.

Tanpa sadar aku tersenyum. Kedua pipiku kembali memanas. Kali ini aku lebih merasa terharu, meski sedikit malu juga dengan kalimatnya tadi. Rasa mengantukku benar-benar lenyap sudah.

"Apaan sih, Rey? Bikin panas dingin aja," gerutuku kesal. Aku memilih kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang Reynand. Sementara Reynand hanya tertawa.

"Tapi aku serius."

"Ya."

"Iiih, kok jawabannya gitu sih?" protes Reynand.

"Lah, emang harusnya gimana?" tanyaku pura-pura tidak paham.

Reynand mendengkus sesaat lalu menepuk ranjangnya. "Udah, mending sekarang tidur sini."

Aku menggeleng. "Aku tidur di sofa aja deh," tolakku.

"Enggak. Kamu ikut tidur di kasur sini, lagian muat kok. Daripada kamu tidur di sofa, nanti kalau aku butuh apa-apa susah."

Perkataan Reynand memang ada benarnya. Kalau aku tidur di sofa, Reynand pasti agak kesusahan kalau mau bangunin aku pas butuh sesuatu. Tapi kalau aku tidur sebelahan sama Reynand, gimana kalau kita kepergok lagi seperti tempo hari di apartemeny Reynand. Kan nggak lucu dong.

"Udah, nggak usah kebanyakan mikir. Sini, tidur!"

Ucapan Reynand membuyarkan lamunanku. Dengan sedikit ragu, aku akhirnya naik ke ranjang Reynand dan bersiap untuk berbaring di sebelahnya. Wajah Reynand langsung berubah senang, bahkan dengan sengaja ia merentangkan tangan kirinya yang tidak diinfus. Membuatku mengerutkan dahiku heran dan menghentikan niatku untuk berbaring.

Reynand langsung nyengir. "Buat bantal kamu, biar romantis."

Aku memutar kedua bola mataku. "Singkirin!"

Reynand kembali berdecak. "Enggak romantis banget deh," gerutunya kesal. Ia kemudian menurunkan lengannya.

"Lagi sakit juga mikirin romantis segala. Nanti kalau kesemutan juga tahu rasa." Baru setelah itu aku berbaring di sebelahnya. Setelah menyelimuti tubuh kami, Reynand tiba-tiba menyelipkan lengannya di bawah leherku lalu merangkul pundakku agar lebih dekat dengannya.

Aku melotot ke arahnya sambil berdecak. Sementara malah memasang wajah cengengesannya lalu mengecup keningku tiba-tiba.

"Selamat malam calon teman hidup,"  bisik Rey sebelum memejamkan kedua matanya.

Aku mendengkus sekali lagi. Kemudian menggelengkan kepala tak habis pikir.

*****

Untung saja saat adzan subuh berkumandang aku langsung terbangun. Kalau tidak, pasti saat ada dokter yang melakukan visit pagi akan mempergoki kami berdua. Nggak kebayang aja kalau sampai itu terjadi, Reynand pasti akan aku amuk. Pasti itu.

"Aku udah kabarin Risha, paling bentar lagi keluarga kamu dateng," kataku setelah mengecek balasan chat dari Arisha.

Reynand hanya mengangguk lemas. Badannya agak hangat lagi, suhu tubuhnya 37,2 derajat. Aku sedikit tak tega melihatnya, sarapannya pun hanya mampu masuk sampai di sendok ke tiga, karena Reynand yang merasa mual dan aku tidak bisa memaksa. Tadi seorang perawat juga sudah mengambil darahnya lagi, semoga saja trombositnya tidak turun.

"Semalam pas tidur bareng kamu aku rasanya seger banget deh, tapi kenapa sekarang aku lemes lagi, ya?" celetuk Reynand nada sedikit lemah jika dibandingkan semalam, yang mampu tertawa cukup renyah.

"Udah, mending kamu tidur aja deh," saranku.

"Temenin."

"Iya, aku nggak ke mana-mana kok. Masih di sini."

"Temenin baringannya, Aqilla."

Aku menggeleng tegas. "Enggak. Keluarga kamu bentar lagi ke sini, kalau dilihat mereka gimana? Hancur sudah image aku entar," tolakku mentah-mentah.

"Aku lemes banget ini, pengen tidur sambil peluk kamu," rengek Reynand.

Aku mendesah frustasi. Serius. Reynand benar-benar berubah menjadi bayi tua yang sangat manja kalau sedang sakit begini. Aku sampai stress rasanya ngadepinnya.

"Rey, masa aku--"

"Ya udah kalau enggak mau," rajuk Reynand yang langsung membalikkan badannya.

Aku kembali mendesah frustasi dan mengucap istighfar dalam hati. Baru kemudian membaringkan tubuhku di sebelah Reynand dan memeluknya dari belakang. Aku langsung merasakan tubuh hangat Reynand yang sedikit terlonjak kaget dengan sentuhanku, namun tidak lama setelah itu Reynand berguman terima kasih sebelum terdengar suara dengkuran halus darinya.

Tanpa sadar aku tersenyum. Nggak kebayang aja kalau aku pas punya anak bayi sama dia terus dia lagi sakit. Wah, aku pasti stress banget tuh ngurusin mereka. Eh, apa aku bilang barusan? Anak? Nikah aja belum udah mikir ke sana. Aku menggelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran ngawur itu.

Aku nyaris ikut terlelap kalau saja tidak ada suara pintu terbuka dan pekikan suara kecil, yang terdengar familiar di telingaku.

Mampus!

Tbc,

Waksss,

Mbak Qilla kepergok lagi?

Waduh, gimana ini. Mamas Rey yang lagi atit bisa2 diamuk tuh sama Mbak Qilla😆

Kira-kira bakal diamuk nggak, ya?

Ada yg penasaran?

ENGGAKKKK!!!

oh, oke. Saya mah woles.

Gk ada yg baca aja woles apalagi cuma gegara gk ada yg penasaran. Yo ws lah, ora urus😂😂

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!