Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Mencari Kesempatan
Mengendarai mobilnya secepat kilat, Danzel tak memperdulikan teriakan protes dari pengguna jalan lain yang terganggu karena aksinya yang membahayakan orang lain. Pria itu cuek menanggapi, ia hanya ingin cepat pulang dan mendapat apa yang ia mau dari istrinya itu.
Tangan Danzel membuka pintu apartemen dengan tergesa - gesa, ia memanggil manggil istrinya itu sejak dari ruang tamu.
Kakinya melangkah memasuki kamar dan melihat Mala yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Mata keduanya bertemu. Pria itu tersenyum memindai wanitanya dari atas kebawah. Menelan salivanya dengan susah payah. Kaki pria itu mendekat. Sedangkan Mala mengernyit heran, kenapa suaminya itu memandang dirinya seintens itu.
"Kamu sudah pulang?" Tanya gadis itu seraya kakinya mendekat kearah suaminya. Pria itu masih menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Mala artikan.
Sedangkan Danzel, lelaki itu tengah bingung pada dirinya sendiri. Beberapa saat lalu saat seorang wanita cantik dan seksi menggoda nya mati - matian, ia merasa biasa saja. Tapi sekarang, ketika mencium aroma wanitanya yang baru selesai mandi saja membuat sesuatu dalam dirinya bangkit.
Merasa canggung dengan situasi itu, tangan Mala refleks melepaskan jas sang suami. Ia tak sadar apa yang ia lakukan karena gugup dipandang sedalam itu. Lain halnya dengan pria didepannya yang menyalah artikan tingkah istrinya.
Danzel menggenggam tangan Mala yang masih bertengger didadanya lalu mulai menghirup wangi yang menguar dari lehernya. Mala yang kegelian dan paham situasi segera mendorong suaminya pelan.
"Danzel, aku lapar. Nanti saja setelah makan, aku sudah memasak." Ujarnya seraya menjauhkan wajah pria itu yang masih mendusel pada lehernya.
Danzel tersenyum percaya diri
"Oh, rupanya kamu sengaja tidak makan sampai suami tampanmu ini pulang, ya?" Godanya.
Gadis itu mengalihkan tatapannya dan berlalu keluar kamar.
"Sayang, tunggu!" Segera ia mengejar istrinya yang tersipu malu. Padahal sebenarnya Mala sedang kabur karena takut suaminya itu akan menerkamnya padahal kondisi perutnya sangat lapar.
Mala menginjakkan kakinya di dapur dan segera meraih alat alat makan. Ia mengambil dua piring untuknya dan Danzel.
"Sayang!" Panggil pria itu menuruni tangga tergesa. Langsung ia menyusul istrinya dan memeluknya dari belakang.
"Selesai makan tolong pijat aku, ya?" Pintanya berbisik didekat telinga.
"Hmm, iya. " Jawab perempuan itu singkat sementara kedua tangannya sibuk menyiapkan makanan. Hingga hidungnya mencium bau yang aneh.
"Danzel, kamu bau alkohol!" Sontak Mala menjauhkan wajah pria itu yang semula bertumpu pada bahunya. Sampai tak sengaja jarinya mencolek mata suaminya.
"Aww! Perih!" Mala baru sadar kalau ia baru saja menyentuh sambal. Panik, ia menuntun Danzel menuju wastafel dan membilas mata suaminya tersebut.
"Kamu..! " Ucapan Danzel tertahan. Ia memerhatikan wajah Mala yang tampak menyesal dan khawatir padanya. Membuatnya yang semula ingin marah ia urungkan. Danzel punya ide yang lain.
"Danzel maaf, aku nggak tahan dengan bau alkohol. Maaf, tadi jarinya kena sambal." Serunya penuh sesal. Mala mendekatkan wajahnya dan meniup - niup kelopak mata suaminya yang merem sebelah.
"Maaf."
"Aww! Ini sakit sekali sayang, mataku perih." Danzel memanfaatkan kesempatan karena jarak Mala yang sangat dekat dengannya. Ia memegang pinggul Mala dan kian merapatkan tubuhnya, sampai Danzel dapat merasakan dua benda favoritnya yang bergesekan dengan dadanya yang bidang.
"Iya begitu, tolong tiup lebih kencang. Perih sekali!" Tangan nakalnya turun dari pinggul semakin kebawah. Danzel benar benar menikmati adegan ini, ia suka wajah Mala yang panik.
"Bagaimana kalau ke dokter? Nanti matamu kenapa - napa?"
"No, sayang. Tiup saja mataku, itu membuatnya lebih baik." Dan saking paniknya Mala ia tak sadar apa yang Danzel lakukan. Pria itu yang memanfaatkan kesempatan demi kesenangannya.
"Ya begitu, semakin dekat." Tangan Danzel kian bergerilya.
Hingga Mala merasa ada yang aneh pada bagian belakangnya. Ia sadar posisinya yang amat dekat dengan Danzel tanpa jarak satu senti pun.
Plak!
Mala memukul tangan suaminya yang nakal dibawah sana. Meraba - raba tanpa izin.
"Kamu mengambil kesempatan ya!" Sentaknya kesal.
Tiba - tiba sebelah mata Danzel yang tadinya tertutup, terbuka karena terkejut.
"Kamu pura - pura!"
Mala yang kesal meninggalkan suaminya begitu saja dan melangkahkan kakinya menuju meja makan. Langsung ia meraih piring, mengambil makanan, dan menyuapkan nya ke mulutnya. Mengunyah kan dengan gerakan yang geram. Ia hanya melirik sekilas saat bule menyebalkan itu bergabung ke meja makan.
"Oke aku salah, sorry." Ujarnya pelan.
Tak menatap sedikitpun, gadis itu bungkam dan menyambung mengisi perutnya yang sudah kosong sedari siang. Menghadapi Danzel yang menyebalkan benar - benar menguras tenaga.
"Sayang, I'm sorry." Ulangnya sekali lagi dengan nada bicara yang lebih manis. Ya mau bagaimana lagi, ia tak tahan jika berada dengan jarak seintim tadi. Entah mengapa ia merasa ketagihan pada gadis yang ia permainkan itu dan ingin terus membawanya dalam kamar.
"Kamu nggak mengambilkan makanan untukku?" Tanyanya memecah suasana. perempuan yang berstatus istrinya itu masih diam dan telah menuntaskan acara makannya. Danzel menatapnya mendamba saat istrinya itu beranjak menaruh piring kotor kedapur.
"Oke, kalau begitu aku akan makan kamu." Gumamnya pelan.
****
Setelah selesai membuang hajatnya, Mala keluar dari kamar mandi dan berdiri di balkon. Menghirup udara malam yang dingin menembus kulit putih susunya itu. Entah dimana Danzel, ia tak peduli pada lelaki mesum itu. Hingga saat masih asik memandang bintang, ia merasakan ada yang memeluknya dari belakang.
"Danzel lepaskan!" Memberontak saat tangan kekar lelaki itu mendekapnya erat. Walau Mala tak menampik ia merasa hangat dalam posisi ini.
"Kamu masih marah?" Menghirup wangi mawar yang menguar dari leher istrinya. Danzel tak tahan untuk menciumi aroma rambutnya yang semerbak.
"Aku sudah minta maaf."
"Kamu tidak tahu tempat dan kondisi."
Mereka masih diposisi yang sama. Danzel mendekapnya dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahunya. Menghirupnya dalam. Mala berhenti memberontak karena percuma, tenaganya tak sebanding dengan suaminya yang pergi ke gym setiap hari.
"Beginilah laki - laki, Sayang." Balasnya dengan suara terendah didekat telinga Mala.
"Apa semua lelaki begitu?. Sepertinya yang begitu cuma kamu saja."
Sebenarnya tak kesal karena itu, ia kesal karena Danzel pulang malam dan bau alkohol. Yang berarti kemungkinan lelaki itu pergi ke club dengan teman-temannya.
"Oke, maaf. Lain kali aku tahu tempat."
"Hmm."
"Sudah tidak marah?"
"Nggak."
Lelaki itu menarik sudut bibirnya senang.
"Tadi katanya setelah makan boleh." Bisiknya tepat ditelinga seraya tangannya yang bergerilya di pinggang.
"Siapa yang bilang begitu?" Membalikan tubuhnya dan menatap suaminya.
"Please.." Sorot mata memohon Danzel serupa anak kucing yang meminta jatah makanannya. Mala hanya membalasnya dengan senyuman terpaksa.
"Yes!" Sorak lelaki itu gembira dan sontak menggendong tubuh istrinya ala bridal style.
Mala menahan dada suaminya saat lelaki itu mulai melucuti pakaian yang menempel ditubuh.
"Sebentar saja, besok banyak pekerjaan di butik." Peringatnya. Danzel hanya mengangguk sekilas. Dan terjadilah kegiatan yang begitu diidam - idamkan Danzel sejak tadi. Ia begitu candu dengan gadis yang telah dinikahinya tersebut. Hingga hasratnya hanya akan bangun saat melihatnya seorang. Pada kenyataannya, peringatan Mala diawal hanya dianggap angin lalu. Danzel yang lupa diri tak pernah cukup hanya sekali.