NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Terjebak Cinta Sang Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Kaya Raya
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Wanti Arifianto

Bagaimana jika cinta hadir dan berjalan tak seperti seharusnya?

Kisah ini bercerita tentang Tiara, gadis berusia sembioan belas tahun yang harus merelakan bangku kuliahnya, lalu bekerja. Kondisi sang ibunda yang terswrang stroke tidak memungkinkan gadis itu untuk melanjutkan cita-cita, meski ia adalah gadis dengan prestasi mumpuni.

Lelah memasukkan lamaran ke sana-kemari dan selalu bertemu dengan penolakan, akhirnya bergabung dalam yayasan penyalur tenaga kerja. Tempat yang memberinya banyak ilmu, lalu menjadikan Tiara seorang pekerja yang bertugas merawat lansia bernama Sundari. Nenek dari seorang pria bernama Prabu Adji Widjaya.

Saat bekerja itulah banyak yang terjadi pada Tiara. Termasuk rasa cinta pada sang majikan, juga hubungan yang tak seharusnya ia jalani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanti Arifianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Rindu yang Tak Berbalas

“Mbak, mau ke mana?”

Tiara bertanya pada seorang pelayan yang baru saja menjejak lantai dua. Di tangan pelayan itu ada tumpukan baju, yang ia tahu siapa pemiliknya. Tiara tidak begitu dekat dengan pelayan tersebut, tapi ia tahu bahwa gadis seusianya ini bekerja di ruang binatu.

Sementara ia sendiri baru saja keluar dari kamar Sundari. Usai berjemur, Sundari memang kembali memilih berbaring. Biasanya Tiara akan memijat kaki wanita itu, sampai dia tertidur. Sejak bisa berjalan lagi, pekerjaan Tiara tidak lagi 24 jam menjaga, hanya seperlunya saja.

Jadi, ia bisa kembali ke kamar jika Sundari sudah tidur seperti sekarang atau mengerjakan hal lain, seperti membuat kue dan roti. Hal baru yang sangat ia sukai, termasuk membuat kudapan sehat untuk Sundari.

“Mau ke kamar Tuan, Mbak.”

“Biar aku yang bawa, Mbak.” Tiara menawarkan.

“Tapi, Mbak Tiara ... aku takut nanti—“

“Nggak apa-apa. Nyonya lagi tidur, kok. Jadi, aku bisa bantuin kerjaan yang lain. Lagian, aku udah beberapa kali diajarin sama Bu Nurma, soal mengatur bajunya Tuan Prabu. Jadi, Mbak nggak usah kuatir.”

Awalnya, pelayan itu ragu, tapi Tiara terus meyakinkan. Sebab, untuk masuk ke kamar sang Tuan di siang hari, ia butuh alasan. Semua tentangnya dan sang tuan selama ini, masih ia simpan rapat-rapat.

Namun, apa yang bisa dilakukannya, saat kerinduan itu sudah menyesak tak terkendali? Sejak kedatangannya dua hari yang lalu, Prabu belum juga kembali, dan itu membuat Tiara didera rindu setengah mati.

Ia sendiri tak habis pikir, kenapa bisa merindukan Prabu sedalam ini. Ia bahkan nyaris gila, karena perasaan yang selalu ingin bermanja pada lelaki itu. Bahkan, ia merasa bayangan Prabu menari-nari di pelupuk mata.

Tiara masuk ke kamar Prabu, langsung menuju walk in wardrobe yang penuh berisi pakaian. Setelah meletakkan tumpukan baju, ia bersimpuh di tengah-tengah, dan memeluk satu kemeja Prabu yang baru saja diambilnya dari gantungan. Entah ini perasaan apa, tapi ia ingin Prabu datang saat ini juga.

Setelah puas memenuhi dada dengan wangi yang ia rindukan, Tiara bangkit dan mulai menyusun baju satu persatu, berdasarkan warna dan bahan. Setelah memastikan semuanya rapi, ia pantas menggeser pintu kaca, menutup kembali tempat pakaian yang menyerupai lemari raksasa.

Ketika hendak beranjak, matanya tertuju pada sebuah meja kecil, yang memiliki banyak laci. Tangannya tergerak, membuka salah satu di antaranya, dan mendapati sebuah foto di sana. Gambar Prabu yang tersenyum bahagia, dalam pelukan seorang perempuan berwajah cantik.

“Apa mungkin ... ini Lusi?” gumamnya pelan lalu menutup kembali laci.

Tak ingin berlama-lama terjebak pada pikiran aneh, Tiara bangkit. Ia keluar dari ruangan itu, kembali ke kamar rabu. Pada saat bersamaan, pintu terbuka, memunculkan sosok yang amat sangat ia rindukan.

Tubuh Tiara membeku, sedangkan matanya lurus menuju pintu. Pada pria yang biasanya memeluk, juga mendambanya dalam syahdu. Namun, kali ini Tiara mendapati ada yang berbeda dari sorot mata kekasihnya itu.

“Kamu di sini?” tanya Prabu pelan. Ia berkata dengan nada datar, sambil melepas jam tangan.

Tiara masih bungkam di tempatnya. Ia masih mengamati gerak-gerik Prabu yang berbeda. Padahal, biasanya laki-laki itu akan langsung menyongsong dan memeluk, jika baru sampai. Tak jarang, Prabu mendaratkan kecupan bertubi, padahal hanya terpisah beberapa jam saja saat pulang kantor.

Namun, kenapa sekarang berbeda? Pria itu bahkan bertanya, seolah-olah tanpa membaca puluhan pesan yang ia kirimkan. Sesibuk itukah, bahkan membaca pesan pun Prabu tidak sempat?

“Saya baru saja mengantar pakaian, Tuan.” Tiara masih bergeming. Sementara batinnya penuh harap, jika lelaki yang ia rindukan itu akan datang dan memeluk.

Namun, hingga beberapa saat menunggu, tak ada pelukan hangat yang diharapkan. Pun tak ada ungkapan rindu seperti yang dibayangkannya. Tiara menunduk, merasakan sesak yang tiba-tiba datang mendera.

‘Beginikah rasanya kecewa dan tak diharapkan? Kupikir, kau rindu padaku, Tuan.’

Tiara menuju arah keluar, dan berpamitan dengan suara pelan. Sampai tangannya melepas gagang pintu, ia masih ingin agar suara sang taun menahannya. Sebab ada rindu yang menggunung, tapi terhalang canggung. Namun, lagi-lagi ia harus kecewa, karena suara yang diharap akan menahan langkahnya itu tetap bungkam.

**

“Kamu sudah makan siang?” tanya Sundari pada Tiara.

Saat ini, hadis itu tengah menyajikan makan siang untuknya. Tangan terampil itu memindahkan menu demi menu dari sebuah troli khusus, ke meja kecil dalam kamar.

“Sudah, Nyonya.” Tiara menjawab dengan nada datar.

Sekembalinya dari kamar Prabu, ia lebih banyak menunduk. Selain ingin menyembunyikan wajah yang muram, ia tak ingin Sundari menangkap jejak sembab di wajahnya. Diabaikan Prabu kali ini, hatinya begitu perih.

Tiara masih tak habis pikir dengan perasaannya sendiri. Tentang kerinduan dan hasrat ingin bersama yang datang bersamaan, juga emosinya yang begitu mudah tersulut. Kadang ingin marah, sedih, dan menangis tanpa sebab.

Tak jarang, ia menginginkan hal-hal aneh saat malam. Seperti terbayang aneka makanan kecil, atau ingin olahan yang terasa asam. Juga ... selera makannya yang turun drastis, dan beberapa aroma masakan yang membuatnya mual. Padahal sebelumnya, ia bukanlah tipe pemilih dalam hal makanan.

“Benar, kamu sudah makan?” Sundari bangkit dari ranjang, dan menuju tempat Tiara berdiri. Di sisi jendela kaca, menghadap ke kolam renang yang ada di bawah sana. “Tapi sepertinya ... kamu tidak ikut bergabung di meja makan siang ini.”

Tiara menatap Sundari, yang kini menarik kursi, dan duduk tak jauh darinya. Bagaimana sang majikan bisa tahu, kalau ia melewatkan makan siang?

“Saya makan sandwich dan segelas jus, Nyonya. Dan itu sudah cukup.” Tiara mulai menyajikan piring, dan mendekatkan beberapa lauk ke hadapan Sundari.

“Kalau begitu, sini. Makan bersamaku. Ini juga terlalu banyak untuk kumasak sendiri.” Sundari menarik sebuah kursi di akhir kalimatnya, sebagai isyarat agar Tiara duduk di sana.

“Tapi, Nyonya, saya ....” Tiara menjawab dengan ragu. Bagaimanapun, ia masih merasa canggung jika harus makan satu meja bersama Sundari.

“Sudah. Sini. Bukankah sudah kubilang, anggap aku seperti ibumu? Kamu bisa makan makananku, juga apa yang aku minum.” Sundari menyodorkan sebuah piring pada Tiara, dan mengambil mangkok untuk dirinya sendiri.

“Makanlah.” Sundari memberi isyarat sekali lagi, agar Tiara duduk di dekatnya.

Mau tak mau, Tiara duduk dan meraih piring. Namun, melihat makanan yang tersaji, seketika perutnya terasa mual. Aroma sup labu kuning dan ikan kakap kukus, seperti mengaduk -aduk perutnya, menimbulkan gejolak yang siap tumpah.

Serta-merta Tiara membekap mulut, dan berlari ke kamar mandi. Tentu saja, apa yang dilakukan gadis itu tak luput dari perhatian Sundari. Wanita itu lantas mengembuskan napas berat, dan menggeleng pelan.

“Sudah kubilang, jangan melewatkan makan dan jangan tidur terlalu larut, tapi tidak mendengar. Apa dia tidak tau, kalo kesehatannya juga membuatku cemas?” Sundari menatap ke arah kamar mandi, dan mendengar suara Tiara yang muntah beberapa kali.

"Ah, apa anak itu baik-baik saja?" gumamnya lagi.

Sementara itu, Tiara terduduk lemas, sambil memegangi wastafel. Tenaganya bagai terkuras, menumpahkan selurih isi perut yang tak seberapa. Dipeganginya perut yang teras aamat mual.

"Ah, kenapa ini?" keluhnya sambil menyigar rambut. Sudah dua minggu ia merasakan keanehan ini, dan sekarang semakin menyiksa.

***

Bersambung ....

1
lee jaehee
thor mana kisah selanjutnya
Chris Antono
Luar biasa
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Rita susilawati
hmmm.tiara Tiara🤦🤦🤦🤦🤦
Norfadilah
Bahagianya. Saya sukaaaa. .🤣🤣😍😍
Norfadilah
Kasihan juga...😥😥
Norfadilah
Kasihan Tiara diculik...😥😥
Norfadilah
Waduuh...kasihan Tiara...😥
Norfadilah
Kok sedih yaaa....😥😥
Norfadilah
Waduh bang....🤣🤣
Norfadilah
Eyang setujuuu.. 😃
Norfadilah
Modus ya Bang.. 🤣🤣
Norfadilah
hiihii ini kan juga novel...🤣🤣🤣
Wanti Arifianto
meskipun banyak sebel-sebelnya, tapi enak banget dibaca🥳
Fatim Azzahra
main nyosor j..... hrsnya tkt lh punya bos main sosr gt. blm lg... kastnya jsuh bngt. hrsnya jngn mudh jatuh cintatiaranya.
siti rohmah
tiara ne g0*l0k
putri sri andila
iya. kok tiara kayak murahan gitu ya? prabu cuma kaya doang, tapi sukaain perempuan dan suka kekerasan. ga banget buat jadi kriteria calon pendam ping.
Hafizah Gun
jangan jangan Tiara hamil
Maya Sari Niken
authornya suka warn merah jambu kayaknya
selalu serba merah jambu
Meri Delvia
baguss banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!