Menjadi menantu yang tak di anggap sangatlah menyakitkan, dihina dan dicela, menjadi santapan setiap hari, selalu dianggap seperti sampah yang layak untuk dibuang.
"Cukup, jangan terus menerus menghina ku dan pekerjaanku, apa salahnya aku sebagai OB, apa karena seperti seorang pelayan? tapi itu lebih terhormat daripada menjadi pelayan di rumah mertuanya sediri, melayani mertua dan juga ipar tanpa ada rasa menghargai. Aku ini hanya manusia biasa, ada batasnya untuk menerima hinaan dan cacian kalian semua, kalian sudah kelewatan menginjak-injak harga diriku. Aku pastikan kalian akan merasakan seperti apa rasanya menjadi aku." ( Joni)
Sebuah kecelakaan, membuat Kelvin Casandro mengalami koma, setelah terbangun ia mengalami amnesia yang membuatnya melupakan identitasnya. Kelvin menghilang dari rumah sakit.
Setelah enam tahu berlalu, ingatan Kelvin kembali dan secara perlahan jati dirinya terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak ingin bertemu 1
Casandro kembali ketempat dimana pertama kali ia melihat laki-laki yang sangat mirip dengan Alexo.
Casandro yang pergi bersama Akas, turun dari mobil dan mencari keberadaan laki-laki tersebut.
"Kek, sebenarnya kita kemari mencari siapa? bukankah ini tempat para tunawisma, gak mungkin kekek punya kerabat di sini kan." tanya Akas.
"Diam, dan ikuti kakek." tegasnya.
Setelah menyusuri tempat tersebut, Casandro, tidak menemukan laki-laki yang ia cari, membuatnya sedikit kecewa. "Kita kembali, sepertinya aku hanya salah orang saja."
"Baik kek."
****Di villa***
Kelvin mengalami demam, akibat terlalu memikirkan kenyataan yang sebenarnya.
Sonia datang dengan membawa semangkuk sup buat kelvin.
"Pak ini aku buatin sup, buat bapak biar cepat sembuh." Sonia menyuapi sup buat kelvin.
"Makasih Sonia, kamu sudah mau peduli denganku. Mana kakek? kenapa tidak ada kelihatan muncul menemui ku."
"Sama-sama pak. Kakek dengan Akas sedang pergi, katanya sedang mencari sosok yang sangat mirip dengan Alexo." Jelas Sonia.
Pesan singkat masuk, membaut Kelvin segera turun dari ranjang dan bersiap.
"Pak, bapak mau kemana? bapak belum sembuh."
"Aku harus pergi Sonia, jangan kuatir, aku baik-baik saja. Jika kakek bertanya, katakan aku sedang ada urusan penting." Kelvin segera pergi dengan terburu-buru, tak perduli beberapa kali Sonia memanggil.
Kelvin pergi dari villa berpapasan dengan kedatangan Akas dan Casandro.
"Akas lebih baik kamu susul pak kelvin, dia belum sembuh, tapi dia nekat pergi, aku takut pak kelvin kenapa-kenapa di jalan."
"Dia bilang mau kemana?"
"Tidak. Setelah mendapat pesan singkat dia langsung bergegas pergi."
"Akas segera susul kelvin."
"Baik kek." Akas pun secepatnya mengejar Kelvin, agar bisa mengikutinya.
Di tengah perjalanan, Kelvin melihat seorang gadis yang mengenakan pakaian lusuh, melambai-lambai tangan minta pertolongan.
Kelvin yang sudah melewatinya pun putar balik dan menghampiri gadis itu yang terlihat menangis.
Gadis itu langsung menggedor kaca mobil kelvin, "Tuan tolong selamatkan ayahku, antarkan ayah ke rumah sakit, dia sedang sekarat tuan." Gadis itu terus memohon dan mengiba, membuat kelvin terenyuh dan ingin menolongnya.
Kelvin segera keluar dari mobilnya dan menghampiri seorang laki-laki yang meringkuk disudut bangku halte.
Entah kenapa, saat melihat gadis itu, hati kelvin seakan terketuk untuk menolongnya.
Kelvin membawa anak dan ayah itu segera ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
"Tunggu ayahmu di sini, aku akan membayar biaya administrasi nya." Kelvin pun segera pergi.
Tak lama kelvin pun kembali, menemui gadis itu yang sedang duduk. Saat melihat kelvin datang, ia langsung bangkit berdiri dan menghampiri kelvin.
"Terimakasih tuan, terimakasih atas pertolongan tuan, saya janji akan mengembalikan semua biaya yang tuan keluarkan."
"Siapa namamu?" tanya Kelvin begitu saja.
"Saya? maaf sampai lupa, nama saya Aura, dan ayah saya bernama Alexo."
"Jaga ayahmu baik-baik Aura, semua biaya pengobatan ayahmu sudah aku bayar, kamu gak perlu pikirkan untuk menggantinya, aku ikhlas. Sekarang aku harus pergi." Kelvin pun segera melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumah sakit.
"Tunggu tuan." panggil Aura, lalu menghampiri kelvin.
"Bolehkah saya tahu siapa nama tuan?"
Kelvin mengeluarkan kartu nama, dan beberapa lembar uang untuk Aura.
"Untuk uang ini lagi tuan, tuan sudah membayar biaya pengobatan ayah saya itu sudah lebih dari cukup."
"Simpanlah, siapa tahu akan berguna." Kelvin menepuk pundak Aura, "Sampai ketemu lagi di lain kesempatan, semoga ayahmu segera sembuh." Akhirnya Kelvin benar-benar Pergi dan melanjutkan perjalanannya yang hendak menemui Seseorang.
Kelvin kembali dimalam hari dengan wajah sedikit pucat, karena demam yang ia hiraukan.
Akas yang kehilangan jejak pun kembali tanpa kelvin, membuat Casandro nampak cemas.
"Darimana kamu kelvin?" tanya kakeknya yang sudah menunggu dirinya selama berjam-jam.
"Ada hal penting yang perlu aku selesaikan kek, jangan kuatir aku tidak papa." jawab Kelvin, menenangkan kakeknya.
"Kamu bilang tidak papa, lihatlah wajahmu terlihat pucat. Kamu harus pikirkan kondisimu kelvin, jangan hanya mementingkan bisnis dan juga balas dendam mu."
"Saat hendak menjawab ucapan kakeknya, ponsel Kelvin berdering dan tertera penggilan dari telpon umum.
Kelvin langsung mengangkatnya dihadapan Casandro dan ternyata itu panggilan Aura yang menggunakan telpon umum untuk menghubungi Kelvin dari nomor yang tertera di kartu nama.
[Tuan, adakah waktu sebentar esok hari. Ayah saya ingin bicara dengan tuan sebentar saja.]
[Akan aku usahakan, tapi aku tidak bisa janji. Apa ayahmu sudah sudah membaik?" ]
[Belum, tapi ayah ingin sekali bertemu dengan tuan.]
Setelah berbicara beberapa kata, panggilan pun diputus Aura.
"Kelvin, papa ingin mengatakan sesuatu padamu, mengenai papa kandungmu. Mungkin selama ini kamu tak pernah mengetahui wajah papamu karena saat itu kamu masih ada dalam kandungan."
"Aku gak perduli lagi kek, tentang papa kandungku, jika memang dia menganggap aku ini anaknya, seharusnya dia berusaha mencari ku atau setidaknya menemui ku walaupun hanya sekali."
"Walaupun kamu tak perduli, atau juga membencinya, setidaknya kakek sudah menyampaikan amanah mamamu sebelum kakek menyusulnya."
"Amanah dari mama? baiklah kalau begitu katakan aku akan mendengarkannya, tapi maaf aku tidak bisa jika harus memaafkan nya."
"Ayahmu dulu seorang pengusaha besar di kota ini dia bernama Alexo, kakek menjodohkan mamamu dengan nya karena kakek tidak mau anak semata wayang kakek menikah dengan seorang OB yaitu Mahendra. Namun hubungan mama dan papamu hanya bertahan selama lima bulan, dan karena sebuah ke salah pahaman mengenai papamu yang dikira berselingkuh, hingga membuat mamamu berpisah dengan Alexo dan memilih untuk bersama Mahendra, walaupun tengah mengandung kamu."
"Sampai sekarang, papamu masih hidup, dan kata Mahendra, papamu sekarang menjadi seorang gelandangan. Kelvin, apa kamu gak kasihan atau setidaknya menemui papamu sekali saja, setelah itu kakek tidak akan ikut campur lagi. Hanya itu permintaan mamamu untuk mempertemukan kamu dengan papamu."
Kelvin tak menjawab, dan memilih kembali ke kamar nya untuk beristirahat. Demam yang menyerangnya membuatnya hampir kehabisan energi.
Di sisi lain Alexo yang sudah sekarat, meminta Aura mendengarkan ucapannya yang mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Aura, jika ayah sudah tiada, carilah kakakmu."
"Kakak? sejak kapan aku punya kakak? bukankah aku ini anak semata wayang ayah?" tanya Aura.
"Iya kamu memang anak semata wayang ayah dari pernikahan ayah dan ibumu, tapi sebelumnya, ayah pernah menikah dengan seorang wanita dan mengandung anak ayah. Ayah katakan ini, karena ayah gak tenang jika harus meninggalkan kamu hidup sebatang kara, setelah ayah tiada."
"Jangan katakan itu ayah, ayah pasti akan baik-baik saja, dan kita akan hidup bersama ayah." ucap Aura sambil menangis.
"Waktu ayah, tidak lama lagi Aura, ayah bisa pergi dengan tenang jika kalian bisa bertemu secepat mungkin sebelum ayah tiada."
Aura hanya menggelengkan kepalanya, tak mau mendengar kata-kata ayahnya yang seolah adalah sebuah perpisahan.
-TBC
✔Jangan lupa tinggal jejak.