Di Pesantren Al-Ihsaniyyah, cinta, ilmu, dan takdir keluarga Ihsani bersatu. Warisan Abah Muzzamil diuji, pilihan Inayah mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Outfit & Gelang Misterius: Antara Keberangkatan, Kecurigaan, pesona
Benar saja pukul 07.30 Gus Rasel bertemu kang Dio di pondok putra dan Gus rasel bilang ke kang Dio tidak usah mengantar Ning Hana dan temannya biar saya saja kang Dio pun menuruti ucapan menantu dari cucu kyai itu. lalu 5 menit kemudian mbak Cici dan Ning Hana sudah siap mereka keluar dg ciri khas santri. mbak Cici tau Gus Rasel itu suaminya Ning Hana. tp Ning Hana blm tau. mbak Cici menggunakan outfit dg sarung bertuliskan mbak santri, lalu menggunakan tunik warna cream dan kerudung cream memakai gelang kokka khas santri dan Ning Hana menggunakan outfit sarung batik warna hitam bercorak coklat juga ada merah merahnya kemudian memakai baju tunik warna biru dan kerudung cream Ning hana lebih cocok pakai outfit yg cerah karena kulitnya putih dan juga cantik dan tinggi jadinya cocok memakai gelang kokka hitam khas santri dan jam tangan dan Gus Rasel juga menggunakan outfit sam dg Ning Hana alias couple padahal tidak janjian Gus Rasel juga menggunakan peci hitam, pecinya juga dikeatasin dan rambutnya kyk diliatin sedikit sehingga bisa menarik para santri putri saat mereka lewat tadi dan juga menggunakan gelang hitam karet berinisial nama H&R di tangan kanan, juga jam tangan warna hitam lalu di tangan kirinya ada gelang kokka khas santri
- (Pukul 07.30, Gus Rasel menemui Kang Dio di pondok putra.)
- Gus Rasel: "Kang Dio, nggak usah nganter Ning Hana sama temennya ya. Biar saya aja."
- Kang Dio (menunduk): "Baik, Gus."
(Lima menit kemudian, Mbak Cici dan Ning Hana sudah siap.)
Dan saat masuk mobil semuanya sudah masuk akan tetapi Gus Rasel di depan dan Ning Hana juga mbak Cici di belakang lalu Gus Rasel bilang Ning Ten depan mriki sebelah Kulo. mboten Gus, Kulo Ten mriki mawon ngancani mbak Cici jawab Ning Hana. mboten usah Ning, njenengan Ten samping e Gus Rasel mawon Kulo Ten mriki piyambak mboten nopo" Ning ucap mbak Cici. tp kan mbak jawab Ning Hana. mboten nopo" Ning Saestu mboten nopo" ucap mbak Cici. stelah itu Ning Hana pindah kedepan duduk di sebelah supir yg menyupir Gus Rasel dan sebelah Gus Rasel Ning Hana lalu dibelakang itu mbak Cici. Ning Hana sangat canggung duduk di sebelah Gus Rasel dan sedari tadi menundukkan pandangannya. setelah sampai lokasi Ning Hana langsung belanja keperluan selama beberapa bulan kedepan dan juga mbak Cici juga membeli kebutuhan pribadi juga kebutuhan asrama. setelah selesai membeli kebutuhan, Gus Rasel mbak Cici dan Ning Hana otw pulang ke pesantren tp sebelum itu Ning Hana bilang kalau ia akan mampir ke suatu tempat sebentar setelah ditunjukkan lokasinya mereka sampai. Ning Hana mengajak Gus Rasel arah juga mbak Cici masuk dan Ning Hana bilang ke gus Rasel kalau ia mau beli seblak sebentar sama mbak cici. Gus, saya izin mau beli seblak sebentar njenengan kalau mau beli makanan ataupun minuman Monggo ucap Ning Hana tetep menundukkan pandangannya. nggeh Ning jawab Gus Rasel sambil melihat wajah istrinya yg masih menunduk itu. setelah itu Gus Rasel menuju ke tempat menjual kopi dan mbak Cici juga Ning Hana memesan seblak dibungkus, mbk Cici pesan level 4 sedangkan Ning Hana memesan level 8 sehingga merah sekali. setelah memesan seblak mbak Cici mengikuti Ning Hana ke jalan seberang dan di jalan seberang terlihat Gus Rasel yg minum kopi Americano sedangkan mbak Cici hanya menemani Ning Hana, sudah selesai Ning? tanya Gus Rasel. sebentar Gus, saya mau pesan kopi dulu jawab Ning Hana. loh Ning minum kopi juga? tanya Gus Rasel. nggeh Gus jawab Ning Hana. jangan terus terusan Ning nggak baik buat kesehatan, apalagi kamu cewek Ning nggk baik ucap Gus Rasel. nggeh Gus, nanti Kulo kurangi jawab Ning Hana.
- (Saat mereka masuk ke dalam mobil, Gus Rasel sudah duduk di kursi pengemudi. Ning Hana dan Mbak Cici hendak duduk di kursi belakang.)
- Gus Rasel (menoleh): "Ning, sini depan mriki sebelah Kulo (Ning, sini depan sebelah saya)."
- Ning Hana: "Mboten Gus, Kulo Ten mriki mawon ngancani Mbak Cici (Tidak Gus, saya di sini saja menemani Mbak Cici)."
- Mbak Cici: "Mboten usah Ning, njenengan Ten samping e Gus Rasel mawon Kulo Ten mriki piyambak mboten nopo-nopo Ning (Tidak usah Ning, kamu di samping Gus Rasel saja. Saya di sini sendiri tidak apa-apa Ning)."
- Ning Hana: "Tapi kan, Mbak..."
- Mbak Cici: "Mboten nopo-nopo Ning, saestu mboten nopo-nopo (Tidak apa-apa Ning, sungguh tidak apa-apa)."
(Akhirnya, Ning Hana pindah ke kursi depan, duduk di sebelah Gus Rasel. Sepanjang perjalanan, Ning Hana merasa sangat canggung dan terus menundukkan pandangannya.)