Zeline Anindya adalah seorang pekerja hotel yang dijebak oleh salah satu teman kerjanya, membawa Zeline pada kejadian satu malam dengan Barata Adiwangsa yang membuat Zeline terhina dan terusir dari tanah kelahirannya.
"Kau akan menyesal, Tuan. Hidupmu akan hancur hingga harta kekayaan yang kau banggakan itu tidak akan berarti bagimu, Tuan," sumpah serapah Zeline kepada Bara yang telah menyakiti hatinya.
Bara berhenti sejenak dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zeline.
"Cih, bicaralah sesuka hatimu. Tinggal kita buktikan saja nanti. Kau atau saya yang akan hancur!" Bara pun berlalu dari kamar itu.
Dengan tekad yang kuat, Zeline beserta ketiga anak kembarnya yang genius akan bersaing hebat dengan Barata Adiwangsa untuk mengalahkannya.
Mampukan Zeline dan ketiga anak kembarnya mematahkan sosok Bara yang sangat dingin dan angkut serta ambisius itu?
Selamat membaca, semoga kalian terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Pajangan
Sebuah pemandangan yang indah saat melihat Zeline kembali di hadapannya. Tapi sebuah kenyataan pahit yang harus diterima Marco bila wanita pujaan hatinya adalah istri dari sahabatnya sendiri. Sungguh dunia begitu kecil, semuanya sudah diatur oleh sang Maha Kuasa. Sebisa mungkin Marco harus mengikhlaskan Zeline bersama Bara.
"Gue sangat mengenal Zeline, sangat dekat dengannya, tapi itu dulu saat dia di Singapura. Loe beruntung mendapatkan Zeline. Dia wanita yang baik dan hatinya sangat tulus. Nggak seperti yang loe katakan ke gue. Gue benar-benar iri karena loe bisa mendapatkan Zeline. Dan Zeline itu ... wanita yang gue ceritakan ke loe. Maaf Bara gue nggak tahu kalau Zeline itu istri loe," kata Marco yang merasa tidak enak hati bercerita tentang Zeline pada Bara.
"Ya, gue tahu kok. Nggak masalah, kejadian seperti ini sering terjadi pada orang di luaran sana dan sekarang terjadi pada kita, nyantai saja lah, Bro. Jangan tegang gitu, yang penting loe sudah cerita ke gue, jadi gue nggak perlu cemas," ucap Bara setenang mungkin, senyuman di wajah Bara harus dia perlihatkan pada Marco walau Bara masih sulit mengartikan dengan suasana saat ini.
"Cemas? Apa yang loe cemaskan, Bara?" tanya Marco bingung.
"Ah, i-itu tentang masa lalu kamu dan Zeline yang sudah saling mengenal, begitu maksudnya," jawab Bara sedikit gugup.
"Kau ini, gue kira apa," Marco tersenyum tipis.
Suasana menjadi canggung, tidak ada topik pembicaraan lagi, semuanya senyap hanya ada pemikiran masing-masing dari kedua sahabat baik itu. Seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lain, sibuk dengan diri mereka sendiri.
Tak lama kemudian, Zeline berjalan cepat ke arah Marco dengan membawa obat yang sudah ada di tangannya itu. Zeline begitu cemas dan cukup panik melihat kaki Marco yang terluka karena kesalahannya. Zeline merasa bersalah pada Marco.
"Kakak, sini biar aku obati luka Kakak," Zeline langsung jongkok dan mulai membersihkan luka di kaki Marco dengan alkohol.
"Eh, eh Zeline biar Kakak saja, tidak perlu kau melakukannya, sudah sini berikan obatnya pada Kakak, kamu duduk saja!" pinta Marco dan hendak mengambil obat dari tangan Zeline tapi Zeline tidak mengizinkannya.
"Biar aku saja, Kak. Ini salahku, Kakak jadi terluka seperti ini. Maafkan Zeline ya, Kak!" ucap Zeline dengan sesal.
"Ini hanya luka kecil, kamu yang terlalu mengganggapnya berlebihan," ujar Marco yang merasa tidak enak dengan perlakuan Zeline.
"Sssttt ... Kakak diamlah dulu, akan aku obati lukanya. Tolong jangan membantah, mengerti?" perintah Zeline seperti ibu pada anaknya. Sedangkan Marco hanya diam menuruti apa yang diperintahkan oleh wanita pujaannya.
"Zeline masih sama seperti dulu, begitu sangat mengkhawatirkan aku saat aku sedang terluka. Sungguh kau wanita yang sangat baik, Zeline!" batin Marco tersenyum-senyum saat mendapat perhatian dan pengobatan dari Zeline.
Tanpa disadari oleh Zeline dan Marco, dari jarak yang tidak jauh dari mereka berdua, tampak Bara yang sangat bosan dengan pemandangan dua orang yang sedang asik seperti dunia hanya milik mereka berdua saja.
Melihat Marco yang tersenyum-senyum memandang istrinya itu, tiba-tiba saja Bara merasa tidak suka. Bara seperti pajangan dinding yang tak berharga, yang diacuhkan dan tak diperhatikan.
"Ehem...," Bara mulai memecahkan senyuman Marco.
Di saat bersamaan pula Marco merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saat Zeline telah menyelesaikan mengobati lukanya.
"Selesai," ujar Zeline.
"Terima kasih, Zeline!" ucap Marco yang hanya di jawab senyuman oleh Zeline.
"Bara, lihat istrimu ini, dia sangat keras kepala. Sudah aku larang, masih saja dia tetap mengobati luka sekecil ini," ucap Marco yang merasa tidak enak pada Bara karena perlakuan Zeline padanya mungkin membuat Bara berpikir macam-macam.
"Sudah, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Sekarang ayo kita makan," ajakan Bara pada Marco hendak menuju ke ruang makan. Sedangkan Zeline hanya cemberut saat Bara berkata dengan sesuka hatinya.
Zeline beralih naik ke atas kamar Jupiter, Mars dan Starla menyuruh mereka turun ke bawah untuk makan malam. Zeline memberitahukan tentang keberadaan Marco di rumah mereka. Dan betapa senangnya si kembar lalu berlarian ke lantai bawah ruang makan menemui Marco yang sudah lama mereka tak bertemu.
"Om Marco!!" teriak Jupiter, Mars dan Starla bersamaan dan mendekati Marco yang sudah duduk di kursi makan.
"Hei jagoannya Om, hati-hati sayang nanti jatuh. Kalian sudah besar sekarang. Yah, Om nggak bawa mainan untuk kalian, karena Om baru tahu kalau kalian anaknya Bara Adiwangsa, hehe!" Marco bangkit berdiri dan memeluk si kembar bergantian.
"Om temennya Papa?" tanya Mars.
"Iya sayang."
"Temen bisnis Papa ya, Om?" tanya Jupiter.
"Bukan, Om ini temen Papa kamu sejak sekolah dulu."
"Berarti sudah lama dong, kenapa kami nggak pernah lihat Om bertemu dengan Papa di Singapura?" tanya Starla polos.
"Papa kamu kan tinggalnya di Jakarta, sayang!" jelas Marco dengan sabar menjawab pertanyaan anak-anak kecil itu.
"Oh, iya ya, hehe!" Starla pun tertawa.
"Sudah, ayo makan dulu. Kasihan tuh Om Marco karena kalian banyak bertanya," ucap Zeline mengingatkan.
Makan malam pun berjalan dengan lancar. Hanya saja tidak ada Jaya menemani makan malam mereka karena ada undangan pertemuan dengan teman lamanya. Si kembar begitu aktif bertanya pada Marco, apalagi si Starla yang begitu manja duduk di pangkuan Marco saat meminta disuapi oleh Marco.
"Starla, kenapa kamu manja banget sama Om Marco? Starla sudah besar, ayo makan sendiri, kasihan tuh Om Marco juga mau makan, ayo kembali ke tempat duduk kamu!" ucap Bara meminta pada Starla, ada rasa kecemburuan yang dirasakan oleh Bara saat Starla begitu dekat dengan Marco.
"Nggak apa-apa, Bara. Lagian anak ini memang suka begini kalau dekat sama gue, gadis cantik bersuara merdu, Om kangen banget ingin dengar suara Starla, sayang!" kata Marco tak mau melepaskan Starla dari pangkuannya.
Suasana begitu bahagia di sana, ada canda dan tawa menghiasi wajah dari Zeline dan ketiga anak kembarnya, hanya Bara yang terlihat sangat berbeda. Karena baru kali ini Bara merasa kalau Zeline dan ketiga anak kembarnya itu memunculkan aura kesenangan saat Marco kembali ke Jakarta. Bara merasa dirinya tak berguna sebagai suami dan seorang ayah karna tak bisa membuat ceria keluarganya selama ini.
Malam hari setelah kepulangan Marco dari rumahnya. Zeline terlihat bahagia di depan cermin sambil membersihkan mukanya dengan bersenandung.
"Sepertinya kau bahagia bertemu dengan Marco?" tanya Bara yang merasa terganggu oleh kebahagiaan Zeline dan suara senandungnya.
"Berisik!" seru Zeline.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau teman yang kamu temui minggu kemarin itu adalah Marco? Untung kalian ketemunya bertiga dengan Intan, kalau tidak...," ucap Bara yang tiba-tiba menghentikan perkataannya.
"Tidak apa? Lanjutkan ucapanmu itu. Lagian kamu nggak bertanya kalau temen aku itu cowok atau cewek, jadi jangan salahkan aku," bantah Zeline tak mau kalah.
"Walau aku bertanya pasti kamu bilang bahwa temen kamu itu cewek, kan?" tanya Bara dengan dugaannya.
"Iya lah, kalau aku bilang temen aku cowok pasti kamu nggak izinin aku pergi," ucap Zeline ketus.
"Hei, walau kamu pergi dengan cewek atau cowok, terserah. Aku nggak peduli, mengerti?" ucap Bara berpura-pura padahal hatinya tak mengizinkan.
"Benarkah? Berarti kalau besok aku pergi sama kak Marco, kamu izinin aku dong?" tanya Zeline dengan wajahnya berseri-seri.
Bara langsung membalikkan badannya membelakangi Zeline di tempat tidur. Bara diam tak menjawab ucapan istrinya itu.
"Bara, kamu izinin aku pergi besok, kan?" tanya Zeline kembali memastikan.
"I-itu ... lihat saja nanti," jawab Bara dingin.
lanjutkan