Mocca Yola, suatu malam yang tragis telah merenggut kesuciannya. Pulang ke rumah dalam keadaan hancur malah dikejutkan dengan sebuah peti mati dengan foto sang ayah tercinta di dekatnya.
Tidak hanya itu, ternyata semua sudah direncanakan oleh dua orang wanita bermuka dua yang berpura menangis tersedu di samping peti jenazah. Semua mereka lakukan tak lain demi mendapatkan harta keluarga Yola.
Setelah itu mereka mengusir Mocca dari rumah, mengirimnya ke tempat yang sangat jauh. 7 tahun kemudian dia kembali dengan si kembar Genius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YWulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas kesabaran
Hari berganti.
Setelah mengantar si kembar ke sekolah, Leon dan Mocca pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA "Tunggu aku di mobil saja, tidak akan lama kok."
"Hm." lagian malas ikut, enggan menghirup bau obat - obatan yang membuat perut tidak nyaman.
Leon pun pergi. Di dalam mobil juga bosan, Mocca pun keluar dan duduk di sebuah kursi sembari memainkan ponselnya. Sudah lama tidak mengunjungi toko, tanganpun sudah gatal ingin mengaduk adonan kue.
Tak lama supir turun dari mobil, menghampiri Mocca "Nyonya, apa ada sesuatu yang ingin anda minum atau makan? Aku akan belikan."
"Ah ya, aku ingin minuman yang ada bola - bola kecilnya gitu lho."
"Minuman yang ada bola-nya? Bola golf apa bola bekel? Apa maksud Nyonya Boba?" supir itu memutar kepalanya 180derajat.
"Apa maksud Nyonya.. Boba?"
"Iya itu, tolong belikan satu. Belikan makanan juga, aku dengar di dekat sana ada kedai yang baru buka, sekalian belikan. Untuk Tuan juga, kalau kau mau boleh sekalian."
"B-baik Nyonya, terima kasih. Kalau begitu tolong tunggu sebentar, aku akan segera kembali."
Dia pergi, meninggalkan Mocca sendiri disana.
Leon mengatakan tidak akan lama, 15 menit sudah berlalu tapi belum juga kembali. Mungkinkah terjadi sesuatu dengan hasil tesnya? Apa ternyata Leon bukan ayah si kembar? Begitu pikir ngawur Mocca.
Mocca beranjak dari duduknya, menatap pintu masuk tapi ragu untuk melangkah. Tak berapa lama keluar sosok pria yang tidak asing, dia menatap Mocca penuh perasaan. Tampak tenang kemudian menghampirinya.
"K-kau.. Bukankah~"
BRUK!
Pria itu langsung memeluk Mocca, di pertemuan kedua kalinya namun perasaan itu terasa sangat akrab. Pria itu, kalau tidak salah ingat namanya adalah Vello. Saat itu memeluk Mocca karna salah mengenali orang, sekarang alasan apa lagi?
"Itu.. Tuan~"
"Diam! Sebentar saja." berbicara lirih sembari mengeratkan pelukannya.
"T-Tuan, tidak baik jika dilihat orang seperti ini. Aku juga sudah menikah, nanti terjadi salah paham."
"Diamlah.. Mochi~"
"Hah?"
Panggilan itu, hanya satu orang yang memanggil Mocca seperti itu. Tidak salah lagi.
Mocca membuka mulutnya tapi tak ada satu katapun keluar, malah air mata yang menetes.
Tiba - tiba..
"MOCCA!"
Vello melepaskan pelukan dan langsung pergi "Belum saatnya, tunggu." dia pergi tak kala Leon datang, melihat istrinya di peluk pria lain tentu membuatnya marah.
"Mocca, kau baik baik saja?" dia mengkhawatirkan Mocca yang terbelenggu dan menangis.
"Katakan sesuatu!" ia meletakkan kedua tangannya di bahu Mocca dan menggoyang - goyangkan tubuhnya pelan.
Tersadar, Mocca kemudian menatap Leon "Leon dia~"
"Jangan pikirkan lagi, aku akan menangkapnya."
"Tidak! Jangan tangkap, jangan sakiti."
"Kenapa?" Leon memasang wajah dingin, tidak suka Mocca membela pria lain.
"Tadi itu, dia salah mengenali orang."
"Lagi? Saat itu alasannya salah mengenali orang, apa dia orang yang sama?" Leon merogoh saku celana dan mengambil ponsel, dia mungkin akan menghubungi bawahannya untuk menangkap Vello.
Ah si pencemburu ini, tapi hati Mocca sedang gundah sekarang "Leon!" Mocca merebut ponsel Leon.
"Tiba - tiba, aku merasa tidak enak badan. Aku ingin kembali ke rumah saja."
"Dimana yang sakit? Kita masuk ya, biarkan Georgio memeriksamu." dia berjalan kesamping Mocca dan merangkulnya, hendak memapah.
"Tidak perlu. Itu.. Aku bisa pulang sendiri, kau pergi ke kediaman besar sendiri tak apa 'kan? Aku benar - benar sedang tidak ingin pergi." Mocca menepis tangan Leon dan mengembalikan ponselnya, lalu membalikkan tubuhnya hendak pergi.
"Tidak boleh pergi sendiri. Pulanglah dengan mobilku, biar supir yang antar. Aku akan menelepon asisten Hyun untuk menjemputku."
"Baiklah." bernada lemah, tatapan kosong yang seperti sedang memikirkan suatu hal.
Leon menatap tajam kearah Mocca pergi, apa yang terjadi? Siapa pria itu? Apa yang dia katakan hingga membuat Mocca seperti itu? Semua pertanyaan singgah di kepala Leon.
Mengkerutkan dahinya, dia kemudian menghubungi Georgio "Tolong periksa rekaman CCTV di sekitar pintu masuk, kirimkan salinannya padaku segera." mode CEO kejam dan dingin.
...**...
Mocca pulang ke rumah dengan perasaan yang campur aduk dan hatinya merasakan keresahan. Siapa pria itu? Kenapa bisa memanggilnya seperti itu?
Jadi lemas tidak bertenaga saat harus mengingat tentang kakaknya yang sudah meninggal beberapa tahun lamanya itu. Mungkin tidur sebentar baru bisa merasa baikan, pikir Mocca.
"Ehem!" seseorang mencegatnya, siapa lagi kalau bukan ibu mertuanya.
Mocca mengabaikannya dan berjalan menuju lift untuk naik ke lantai 3, kamarnya.
"Tidak sopan sekali! Apa sejak kecil tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuamu? Beraninya tidak memberi muka padaku!" dia mengomel.
"Ibu maaf, hari ini aku sedang tidak enak badan, tadi tidak sengaja mengabaikanmu." sebenarnya malas meladeni, tapi karna Leon dia mau memberi muka.
Dia tersenyum licik, seolah sebuah rencana melintas di kepalanya "Baiklah. Sebenarnya hari ini aku sedang ingin makan makanan Barat, tolong buatkan untukku" memerintah kemudian duduk di kursi.
"Ibu, disini ada seorang koki ternama, masakan Barat itu aku tidak bisa buatnya, aku minta koki buatkan ya."
"Tidak bisa! Jika kau menganggapku sebagai ibu mertuamu, maka lakukan!"
Mocca masih berada di dalam batas kesabarannya, mungkin bisa membuat beberapa masakan Barat dibawah pengawasan koki rumah. Diapun pergi ke dapur.
Dengan kondisi yang tidak baik tapi tetap berusaha melakukan yang terbaik. Tidak enak tidak apa, yang penting bisa membungkam mulutnya.
"Heh? Lihat saja, aku akan menunjukan padamu seberapa pantas kamu menjadi menantuku. Keponakanku wanita yang cerdas dan berwawasan, memasak, berbisnis dan urusan rumah tangga dia jagonya. Jangan karna sudah memberikan anak pada Leon, kau sudah merasa seperti Nyonya Domino. Tidak semudah itu! "
Ibu mengawasi Mocca dengan berduduk santai di meja makan. Saat Mocca melakukan kesalahan, dia langsung membentak dan mengomel.
Mocca masih berada di dalam batas kesabarannya.
Dengan bersusah payah, dia mengerjakan sesuatu yang belum pernah dia lakukan, wajar jika terjadi beberapa kesalahan. Tapi mulut itu seperti roda kendaraan yang tidak memiliki rem.
1 jam kemudian,
Segala macam masakan Barat telah di hidangkan, berkat bantuan koki di rumah, pekerjaan jadi lebih mudah. Sekarang tinggal menunggu apa lagi yang akan ibu tua itu lakukan.
Jika saja bukan ibu mertua, ingin sekali melayangkan pisau dapur ke mulutnya!
Ibu beranjak, dia mengambil sendok untuk mencicipi satu persatu masakan yang tampak lezat itu.
"Hoek! Tch apa ini? Apa kau tahu seperti apa rasanya? Ini seperti kotoran binatang, tidak layak dimakan! Memiliki bentuk yang menarik tapi rasanya begitu buruk seperti.. Yang membuatnya."
Dalam sekali hinaan itu.
Tiba - tiba, sudah tidak bisa ditahan lagi kesabaran itu. Mocca menepis semua piring di atas meja sampai terbang ke udara. Dia dipenuhi amarah. Tak hanya itu, dia mengambil peralatan masak di dapur dan membantingnya.
"Apa kau sudah gula?!"
"DIAM!!!!" membanting rak pisau ke arah ibu, Mocca melotot memberinya tekanan.
"DIA.. DIA SUDAH GILAAA! TELPON RUMAH SAKIT JIWA!" teriakannya ketakutan, para penjaga datang mendengar kegaduhan itu. Tapi tetap tidak bisa menghentikan Mocca.
Tangan kecilnya ternyata kuat mengangkat kursi makan dan melemparnya, melempar ke segala sudut ruangan dan memecahkan beberapa Vas yang terpajang.
"T-telpon Tuan! Cepat!" teriak salah seorang pelayan wanita.
Seseorang pun menghubungi Leon dan memberitahukan yang terjadi.
...** * **...