Bagaimana jika tujuan yang harusnya sudah kamu tetapkan nyatanya harus berubah? Ya tentu saja bisa karena tujuan bukan berarti takdir, itu tidak bisa kita rubah.
Dan bagaimana jika takdir itu membawa kamu pada kehidupan kamu yang sebelumnya? Kehidupan yang ingin kamu tinggalkan, karena kamu merasa tak pantas dalam kehidupan seperti itu.
Tetapi nyatanya nasib baik selalu tetap milikmu. Seberapapun kamu merasa kurang pantas, tetapi takdir memang memantaskan kamu untuk itu.
Felisha Claire yang ingin membuang keberuntungan hidupnya namun terus saja mendapatkan keberuntungan yang lebih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sulit Untuk Disatukan
"Feliiiiiiii," Nata seakan meminta penjelasan. Saat ini mereka masih berada di restoran yang sama dimana mereka menikmati makan siang tadi.
"Kenapa?" tanya Feli bingung.
"Jujur sama gue, kehidupan lo disini kayak gimana Fel," pinta Nata serius.
"Gimana apanya Nat? Gue biasa-biasa ajah disini, lu lihat sendiri gue sehat dan masih cantik kayak dulu," jawab Feli santai sambil tersenyum.
"Fel, gue serius,"
Feli juga bingung apa yang harus dia ceritakan pada Nata, dia tidak tau arah pembicaraan Nata yaitu tentang pekerjaan sambilan yang dilakukan Feli disini. Apakah papinya yang diam-diam tau kemudian menceritakan itu kepada sahabatnya ini?
Feli tidak memprediksikan kalau Nata sebenarnya tau dari Alther yang tidak sengajah menceritakan hal itu, tadi Nata hanya pura-pura mengiyakan meskipun sebenarnya dia begitu terkejut dengan kehidupan Feli disini.
"Pekerjaan sambilan lo disini Feliiii, bua apa? Lo kekurangan duit selama disini?"
"Huffffff, lo tau dari siapa?"
"Ga penting! Fel, kalo lo butuh duit yaa bilang, gausah menyusahkan diri lo sendiri, hey temen lo ini ga susah bahkan buat hidupin lo disini," Nata terlalu serius membuat Feli justru menggeleng, bukan hanya terharu dengan sahabatnya itu dia justru terkekeh.
"Iyaa, gue tau lu tajir bahkan gue minta apartemen bisa lu beliin, hah kalo begini kan gue nyesel pernah kerja sambilan yang banyak," Feli bercanda.
"Gue serius Feliiiiiii," ucap Nata pelan, ada raut keseriusan yang Feli tangkap dan artinya dia tidak boleh membuat temannya itu semakin kesal, dia harus menjelaskan semuanya.
"Gue ga kekurangan duit, lo lupa duit gue lebih banyak dari lo! Haha udah nanti gue ceritain, gue gamau ngulang cerita yang sama nanti ke Dea sama Daniel, capek gue bahkan disini gue ngajar bahasa keluar suara dikit dibayar,"
"Cih sombong, masih ajah ga serius! Awas kalo lo ga cerita bentar lagi mereka nyampe,"
"Iyaaaaaaaaaaaaaaaaa,"
"Oh ya, lo ga mungkin baru sekarang kan ketemu Alther dan Mark?"
"Itu nama dua pria tadi?" Feli ingat nama Alther tetapi dia belum pernah tau dengan Mark.
"Lo gatau namanya?" tanya Nata dan Feli hanya mengangguk.
"Alther itu ramah tapi sih Mark ngeselin banget, lo tahu ga?"
"Ga tau!" Jawab Feli cuek, dia sebenarnya sedikit risih ketika Nata memposisikan Alther sebagai orang yang ramah, dia bisa menangkap keakraban diantaran mereka tadi.
"Dia itu bikin gue bete di pesawat, tadi kita satu pesawat," jelas Nata.
"Ohh, dia sedang keluar negeri, pantas tidak kelihatan beberapa hari ini," batin Feli.
"Fel, lo dengerin gue ga?"
"Iyaa denger,"
"Menurut lo Alther itu orangnya gimana?"
"Ngeselin," jawab Feli refleks.
"Apanya yang ngeselin?" tanya Nata lagi.
"Kok lo jadi nanyain dia mulu sih? Naksir?" tanya Feli sedikit sewot, Nata bisa menangkap raut ketidaksukaan diwajah Feli.
"Kalo naksir kenapa? Dia ganteng jomblo dan gue cantik jomblo, cocok!"
"Terserah," mood Feli tiba-tiba memburuk.
"Cemburu?" tanya Nata lagi sambil tersenyum.
"Hah?" Feli membulatkan mata.
"Hey Felisha Claire, I know you!" skakmat Nata.
"Sok tau!"
"Emang engga?"
"Engga,"
"Engga apa?"
"Ya lo nanya apa?"
"Engga salah lagi kalo lo cemburu, dikit sih gue liat." Nata terus menggoda.
"Apasih Nat, gue bilang engga juga!" Feli kesal.
"Serius?"
"Serius engga?" ulang Nata.
"Emang engga! Mau lo apasih ngeselin," ucap Feli.
"Yaudah kalo engga, mau gue pepet!"
Feli hanya mengabaikannya, tidak mau jatuh lebih jauh dan terjebak dalam percakapan dengan Nata yang nanti merugihkannya. Temannya itu sangat pintar memutar kata.
"Sepertinya mereka tidak akan sulit untuk disatukan," batin Nata sembari menyunggingkan senyuman.
**
Beberapa waktu kemudian Dea dan Daniel sudah tiba setelah menempuh perjalanan panjang dari Indonesia ke Swiss hanya untuk berkumpul dengan sahabat mereka.
"Ohhh myyyyyy gudddd Felii, rindu banget," ucap Dea sembari memberikan pelukan kepada Feli, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lo sehat kan?" tanya Dea melerai pelukan dan menelisik tubuh Feli dari atas hingga bawa.
"Hahahah gue sehat," ucap Feli melihat tingkah sahabatnya itu, seolah Feli baru kembali dari tempat militer mengikuti perang.
Dea kembali memeluknya, terlalu lama mereka tidak berjumpa dan tidak bertukar kabar membuat Nata ikut bergabung.
"Ish sih Dea, lo kangennya Feli doang gue engga gitu?"
"Kangen, dikit!" ucap Dea.
"Ishhhhh," Nata kesal namum tetap tersenyum.
"Gausah irih, gue ini udah lama galiat nampaknya Feli, sedangkan lo gue bahkan bosen liat feed lu tiap saat, belom lagi lu yang gangguin gue,"
"Hhmmmmm,"
"Hehehe sini gue peluk, gue rindu lo juga kok Nat meski ga sebesar rindu gue ke Feli," ucap Dea terkekeh dan memberikan pelukan gemas kepada Nata.
"Oeee gue gabisa napasss yaampun, kayaknya lu makin subur dan kuat deh,"
"Hahhhhh? Masa iya gue gemukan!" Dea cemberut.
"Emang iyaa mending lu nimbang," perkataan Nata membuat Dea berdelik sedangkan Feli hanya menatap keduanya tersenyum, dia sangat merindukan kebersamaan ini.
"Niel, I miss youuuu," ucap Feli sembari memberikan pelukan singkat kepada sahabat yang satu-satunya tidak cantik diantara mereka, "liat drama mereka gue hampir lupa ada lo hehe."
"Sehat Fel?" tanya Daniel.
"Seperti yang lo liat, gue sehat dan masih cantik as always," ucap Feli terkekeh.
"Syukurlah, bener-bener yaa lo mutusin komunikasi kita bertahun-tahun huhhhh,"
"Udah jangan dibahas," potong Nata, "lo ga nanya kabar gue?" sambungnya.
"Kabar lo gaperlu ditanyain tiap saat juga gue bisa tau," Daniel memutar bola mata malas.
"Lo itu selalu ganggu waktu gue pacaran," lanjut Daniel membuat Dea menatap tajam ke arahnya.
"Ganggu lo pacaran? Emang kapan gue ganggu lo?" Nata memicingkan mata meminta penjelasan maksud dari perkataan Daniel.
"Ehmm, yaaa ganggu ajah pokoknya!"
"Cehh," Nata tidak ingin memperpanjang karena setau dia, dia itu jarang menghubungi Daniel secara langsung kecuali mereka melakukan vidio call bertiga dengan Dea. Dan kalau Dea, Nata memang sangat sering mengganggunya meski dia sudah mendapatkan teman baru di Los Angeles dia lebih suka bercerita dengan Dea.
Lama tidak memberi kabar bukan berarti mereka saling melupakan, jarang berkomunikasi bukan berarti persahabatan mereka berakhir. Mereka bisa mengenang setiap cerita yang pernah terjadi dan bercerita lagi ketika saling bertemu seperti saat ini, rasanya ada banyak kisah yang harus mereka bagi satu dengan yang lain.
.
"Emang pacar lo siapa Niel, lo bisa dapet pacar juga?" giliran Feli yang bertanya.
"Udah ayokkkk, kepo!" Daniel mengalihkan pembicaraan dan segera melangkah berniat meninggalkan bandara.
"Lagak lo kayak tau arah ajah," ucap Feli dari belakang.
"Sekarang semua serba mudah Fel, jangan kayak orang katro deh mentang-mentang gamain sosmed lagi jangan bilang lu juga gatau gunain fasilitas goAG?" tanya Daniel mencibir.
"Hehhh kalo gue gak seupdate itu gamungkin gue mau wisuda duluan daripada kalian-kalian ini,"
"Sombong!!!" ucap ketiganya kompak.
"Realita," jawab Feli santai mendahului langkah mereka.
"Mobil lo dimana Fel?" tanya Dea.
"Naik taxi, gue gapunya mobil." Ucap Feli.
Dea dan Daniel bingung dengan Feli, apakah dia tidak di fasilitasi keluarganya selama disini. Berbeda denga Nata yang hanya diam saja, sedikit tidaknya dia sudah mendengar cerita Alther dan dia tau Feli menjalani kehidupan sederhana disini.
"Niel, bukan berarti lolos, gue tetep mau tau siapa pacar lo!" ucap Feli berbalik.
"Iya gue juga," tambah Nata.
"Lah kok lo malah ikutan?"
"Suka-suka gue dong. De, emang lo gapengen tau?"
"Hah? Iya gue juga," jawab Dea kikuk.
"Yang bener ajah ckckck," Daniel menggeleng.
...🍓🍓🍓🍓🍓...
mau minta THR udah telat ya..💃💃
met mlm ka bery sehat selalu dan makin sukses..cepetan up donggg kangen ma bang Althernya😘😘😘😘
Yuk mampir di novel perdanaku
" 100 hari pertama menjadi janda"
Kisah novel yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Perjuangan mempertahankan kewarasan dari cengkraman kesulitan ekonomi pasca diceraikan oleh suami. mendapatkan tekanan mental dari keluarga mantan dan masyarakat.
100 hari pertama harus dilalui seorang janda agar ia dapat benar-benar bangkit menjadi pribadi yang baru dan siap menjalani hari berikutnya.
Ikuti kisahnya ya🤗 jangan lupa like dan comment untuk mendukung penulis❤️ terimakasih