Mega pernah berharap, cintanya pada Bayu yang tumbuh di usia remajanya akan berkembang menjadi cinta dewasa seiring bertambahnya usianya. Tapi kenyataan berkata lain, terpisah jarak dan waktu membuat kisah cintanya kandas di tengah jalan.
Seiring waktu berjalan, Mega mulai menata hatinya kembali dan berdamai dengan masa lalunya. Lima tahun berlalu, Mega pulang kembali ke tanah kelahirannya sebagai seorang dokter. Bukan lagi remaja tanggung yang manja dan cengeng seperti ucapan seseorang padanya dulu.
Pertemuannya kembali dengan Fajar Anugrah, seorang Insinyur Pertanian, pemilik banyak lahan dan perkebunan di desanya mulai mengusik hatinya. Sama-sama memiliki keinginan kuat untuk memajukan desanya, dengan latar belakang profesi yang berbeda. Ada tawa, ada benci, ada cinta di balik cerita luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Terluka
Fajar memacu cepat sepedanya menuju balai desa, memutar arah memintas jalan untuk segera sampai di balai desa.
Sampai di depan mulut gang kurang lebih seratus meter dari balai desa berada, Fajar menghentikan sepedanya. Ia turun dari sepedanya saat berpapasan dengan salah satu warga yang juga hendak menuju tempat yang sama dengannya, membawa sabit di tangannya.
“Memang ada acara apa di balai desa mas Pur, bawa sabit segala?” tanya Fajar berjalan beriringan sambil menuntun sepedanya.
“Kerja bakti mas Fajar. Rencananya warga mau membersihkan parit besar yang ada di depan balai desa, juga saluran air yang mengarah ke rumah-rumah warga. Makanya bawa sabit buat membersihkan rumput yang ada di tembok parit besar,” jawab mas Pur sambil mengangkat benda tajam berbentuk bulan sabit di tangannya itu.
“Oh, kerja bakti. Kemarin pagi Saya bertemu pak lurah di kecamatan, tapi beliau tidak bilang mau ada kerja bakti hari ini.”
“Baru kemarin sore mas Rizky mengusulkan diadakan kerja bakti di balai desa, kebetulan ada acara hajatan salah satu warga di sana. Kebetulan pula pak lurah ikut hadir di acara itu, jadi kita langsung saja bicarakan dengan beliau. Pak lurah dan warga yang hadir di sana pun langsung setuju,” jelas mas Pur panjang lebar.
Fajar manggut-manggut, hingga tidak terasa mereka sudah sampai di depan pelataran balai desa. Ya, sebuah bangunan sederhana yang telah disulap warga sedemikian rupa hingga menjadi gedung serba guna yang multifungsi.
Bisa menjadi tempat rapat untuk warga membahas setiap kegiatan dan masalah yang terjadi di desa, juga digunakan sebagai tempat untuk acara hajatan warga seperti kemarin sore.
Fajar menaruh sepedanya di pinggir pagar salah satu rumah warga, lalu ikut bergabung dengan yang lainnya mendengar arahan dari pak lurah yang sedang berbicara di depan.
“Mas bos!”
Fajar menolehkan wajahnya saat mendengar seseorang memanggilnya, dilihatnya Warno yang berdiri di barisan belakang melambaikan tangan padanya.
“Mas Pur, Saya permisi dulu. Sepertinya Warno memanggil Saya,” pamit Fajar pada mas Pur.
“Silahkan Mas,” sahut mas Pur.
Fajar bergegas menemui Warno, berjalan melewati halaman rumah warga yang berada persis di depan balai desa.
“No, kok semalam nggak cerita sama Aku kalau mau ada kerja bakti. Mana nggak bawa alat lagi,” tanya Fajar sambil memperlihatkan tangannya yang kosong.
“Tenang, mas bos. Saya bawa sapu lidi sama cangkul,” sahut Warno lalu memberikan cangkul di bawah kakinya pada Fajar.
“Tumben Kamu nggak lupa bawa alat, No.” Fajar tersenyum lebar saat menerima cangkul dari tangan Warno.
Warno meringis, sambil menggaruk tengkuknya. “Aslinya sih lupa bawa mas bos. Untungnya ada Sri yang mengingatkan.”
“Apa sih yang Kamu ingat, No. Lupa terus!” ucap Fajar yang dibalas dengan tawa Warno.
Tidak berapa lama kemudian, setelah pak lurah selesai memberi arahan, semua warga mulai bergerak ke lokasi yang sudah disepakati bersama.
“Ky,” sapa Fajar pada kakak lelaki Mega itu sambil mengulurkan tangan. “Maaf, telat hadir.”
“Nggak apa-apa Mas, Aku yang lupa kasih kabar. Untung saja kemarin siang ketemu sama mas Warno di acara,” sahut Rizky balas menjabat tangan Fajar.
“Harus pakai catatan kalau pesan sama Warno, Ky. Orangnya pelupa, untungnya ada Sri yang suka ngingatin dia di rumah.”
Rizky tertawa mendengarnya, keduanya lalu bergabung bersama warga dan mulai bekerja membersihkan area parit besar.
Karena banyak sampah yang ada di area tersebut, beberapa warga berinisiatif turun termasuk Fajar dan Warno. Fajar melepas sepatunya dan menaruhnya di pinggir parit di bawah pohon ketapang.
Rizky menawari untuk memakai sepatu bot dan sarung tangan, tapi Fajar menolaknya dan hanya menerima sarung tangan saja sementara sepatu bot dipakai Warno.
“Aku pakai sarung tangannya saja,” ucapnya langsung memakaikan ke tangannya. “Airnya cukup bening jadi batunya masih kelihatan,” imbuhnya lagi sambil melangkah turun perlahan, lalu mulai mengambil sampah yang terlihat.
Sementara itu, Mega yang sudah selesai membantu mamanya menyiapkan makanan dan minuman untuk warga bergegas mengantar ke balai desa.
Dilihatnya balai desa kosong, Mega lalu menaruhnya di atas meja di dalam ruangan yang tidak terkunci dan kembali lagi ke rumahnya untuk mengambil minuman yang tertinggal.
Baru saja selesai menaruh minuman di atas meja, Mega dikejutkan dengan kedatangan Rizky dan Warno yang datang dengan memapah Fajar. Celana olah raga selutut yang dikenakannya basah, dan baju kaosnya kotor terkena noda darah.
“Dek, kebetulan ada Kamu. Kaki mas Fajar luka kena batu. Terpeleset tadi waktu ambil sampah di parit besar barusan,” jelas Rizky pada Mega.
“Astaga!” seru Mega, bukan hanya kakinya yang terluka, bagian siku lengannya berdarah dan pinggangnya pun lebam biru karena jatuh terlentang terkena batu besar yang ada di dalam parit.
“Kenapa nggak hati-hati sih sampai jatuh kayak gitu,” ucap Mega melirik tajam pada Fajar, lalu mengambil tisu yang ada di atas meja, mengusap luka di lengan Fajar.
Rizky dan Warno tertawa mendengar Mega yang menegur Fajar, “Namanya juga terpeleset, dek. Nggak sengaja jatuh. Sudah buruan Kamu obati bukannya dimarahi,” tambah Rizky lagi.
“Ish! Benar itu Ky, di mana-mana itu ya orang yang lagi luka itu langsung dapat penanganan dokter, bukan dimarahi sama dokternya.” Gerutu Fajar.
“Ini juga lagi ditangani sama dokter, nggak ngerasa apa?!”
Rizky dan Warno tertawa melihat keduanya yang bersitegang. Rizky lalu mengajak Warno kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda setelah terlebih dahulu memastikan Fajar mendapatkan penanganan dari Mega.
Fajar meringis melihat Mega yang mendelik padanya, perlahan senyumnya mengembang kala Mega membersihkan luka di lengannya.
“Masih bisa jalan nggak?” tanya Mega kemudian.
“Bisa sih, tapi lumayan nyeri di kaki.” Fajar menggerakkan kakinya mencoba berdiri tapi tiba-tiba tubuhnya oleng dan hampir terjatuh.
“Eh!” Mega langsung menahan tubuh tegap itu, dan memapahnya untuk kembali duduk.
“Kenapa? Pusing?”
Fajar hanya menggeleng, luka di telapak kakinya kembali berdarah. Mega lalu melepas bandana di kepalanya hingga rambut panjangnya tergerai dan mengikatkannya pada luka di kaki Fajar.
Ia lalu membantu Fajar untuk berdiri dan keluar dari dalam ruangan menuju motornya.
“Ayo naik,” perintahnya pada Fajar.
“Mau kemana?”
“Ke rumahku, luka Mas harus segera diobati sebelum infeksi nanti.”
Fajar menurut dan naik di boncengan motor Mega.
“Hati-hati naiknya, ntar jatuh lagi.”
“Ish! Memang hobby Aku apa jatuh gitu!”
Mega hanya tertawa mendengarnya, “Lain kali harus lebih hati-hati lagi. Kalau bilang mas Rizky pakai sepatu bot ya dipakai sepatunya, paling tidak mengurangi resiko cedera yang mungkin saja terjadi.”
“Ya bu dokter! Paham,” jawab Fajar sambil manyun. Hahaha, Mega tertawa dalam hati. Dari kaca spion dia melihat muka masam Fajar yang ditujukan padanya.
🌹🌹🌹