Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandera
Aris menempatkan dirinya tepat di antara altar dan wanita tua itu. Mengorbankan nyawa secara konyol di tempat terisolasi ini tidak akan menyelesaikan masalah, dan dia tahu hukum adat selalu memiliki celah bagi mereka yang mencari keadilan sejati.
"Membunuh anak ini tidak akan mengembalikan tanah kalian yang terbakar, juga tidak akan menghidupkan kembali mereka yang tiada!"
"Bratasena Hadiningrat sudah lama mati. Dia mati dengan tenang di ranjang mewahnya tanpa pernah membayar sepeser pun atas dosa-dosanya di desa ini. Apakah menurutmu adil jika dia lolos begitu saja, sementara cicitnya yang tidak tahu apa-apa yang menanggung akibatnya?"
Wanita tua itu mengetukkan tongkat kayunya keras ke lantai panggung.
"Lalu apa maumu, Detektif?! Keadilan orang kota adalah omong kosong! Uang mereka bisa membeli hukum kalian!"
"Dulu mungkin ya, tapi tidak dengan saya," Aris menunjuk lencana polisi yang kini berada di tangan salah satu warga desa.
"Saya memegang arsip asli tahun 1959. Salinannya tersimpan aman di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh keluarga Hadiningrat. Jika kalian melepaskan Nirmala malam ini, saya berjanji akan membuka kembali kasus pembakaran lahan ini ke pengadilan modern.
Saya akan menyeret seluruh keturunan Hadiningrat yang menikmati kekayaan dari tanah abu kalian, menyita aset mereka, dan memaksa mereka mengembalikan hak atas tanah adat Gunung Kelam ini secara resmi secara hukum!"
Mendengar tawaran tersebut, bisik-bisik di antara warga desa bertopeng semakin riuh. Beberapa dari mereka tampak mulai ragu. Menghancurkan dinasti Hadiningrat di dunia luar dan mendapatkan kembali tanah mereka secara sah jauh lebih berharga daripada sekadar membunuh seorang anak kecil di dalam hutan.
Wanita tua itu diam cukup lama, dadanya naik turun menahan emosi. Mata butanya seolah sedang menerawang masa depan desa mereka.
"Kau mempertaruhkan reputasimu untuk desa yang sudah mati ini, Aris?" tanya Januar dengan suara berbisik, keringat menetes di pelipisnya.
Sebelum Aris sempat menjawab Januar, wanita tua itu mengangkat tangannya, seketika membuat seluruh warga desa kembali terbungkam. Dia menatap Aris dengan mata kirinya.
"Tawaranmu menarik, Detektif kota," sahut wanita tua itu. "Namun kami tidak bodoh. Kami akan melepaskan anak ini, tetapi dengan satu syarat mutlak sebagai jaminan atas janjimu."
"Besi tidak bisa dipercaya, begitu pula janji orang kota," suaranya sedingin es. "Anak perempuan ini boleh kau bawa pulang ke orang tuanya. Tetapi rekan mudamu ini harus tetap tinggal di Desa Talas sebagai jaminan."
Januar kaget, wajahnya seketika memucat bagai mayat. "Apa?! Tidak, Aris! Jangan biarkan mereka menahanku di tempat gila ini!" pekiknya melangkah mundur hingga menabrak salah satu warga desa bertopeng yang langsung mencengkeram pundaknya dengan kuat.
"Jika dalam waktu tiga puluh hari kau gagal menyeret keluarga Hadiningrat ke pengadilan dan mengembalikan tanah adat kami," lanjut wanita tua itu tanpa memedulikan teriakan Januar, "darah rekanmu ini yang akan mengalir di altar batu sebagai gantinya."
Aris melihat tubuh kecil Nirmala yang terus ketakutan di atas tiang ritual, dia tahu waktu tidak memihak mereka. Jika dia menolak, mereka bertiga dipastikan tidak akan pernah keluar dari kaki Gunung Kelam hidup-hidup.
"Jan... dengarkan aku. Tetap hidup. Aku bersumpah demi lencanaku, aku akan kembali menjemputmu sebelum tiga puluh hari."
Januar menatap Aris dengan tatapan pasrah yang campur aduk antara rasa takut dan kepercayaan yang tersisa pada seniornya itu.
"Buka kasusnya, Aris. Hancurkan bajingan-bajingan Hadiningrat itu," bisik Januar.
Warga desa bertopeng melepaskan ikatan tali pada tubuh Nirmala Hadiningrat. Anak perempuan itu langsung berlari dan memeluk kaki Aris sambil menangis histeris.
Aris mendekap anak itu, lalu menggendongnya. Bersamaan dengan itu, dua orang warga desa bertopeng maju dan menuntun Januar naik ke atas rumah panggung utama, menjauhkannya ke dalam kegelapan bangunan kuno tersebut.
Wanita tua itu melemparkan kembali pistol dan lencana milik Aris ke tanah pelataran. "Pergilah, Detektif. Jam milikmu sudah mulai berdetak sejak detik ini."
Aris memungut senjatanya, menyelipkannya kembali ke pinggang, lalu berbalik tanpa menoleh lagi. Dengan menggendong Nirmala yang tertidur karena kelelahan, dia berjalan menembus kabut tebal Desa Talas sendirian, meninggalkan rekannya yang kini menjadi tawanan.