Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Langkah kaki Maya terasa begitu berat menyusuri jalanan tanah yang berdebu. Matahari sore memancarkan sinar kemerahan yang hangat, tetapi dingin di dalam dada Maya seolah tak pernah surut. Tas ransel kusam yang digendongnya terasa berkali-kali lipat lebih berat dari biasanya, menekan bahunya yang sudah lelah. Seragam sekolahnya masih menyisakan noda samar dan bau tak sedap sisa dari aksi perundungan kejam yang dilakukan Lexa dan gengnya di kelas tadi siang.
Setiap kali melangkah menyusuri gang sempit menuju rumahnya, pikiran Maya selalu berputar pada pertanyaan yang sama. "Kenapa harus aku? Apa salahku?"
Ia tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Ia tidak pernah menghina orang lain, tidak pernah merogoh saku orang lain, dan selalu berusaha hidup senyap tanpa mengganggu ketenangan sekolah. Satu-satunya hal yang ia lakukan hanyalah belajar dengan tekun, berharap kepintarannya kelak bisa menjadi tiket untuk mengubah nasib keluarga dan mengangkat derajat ibunya yang bekerja membanting tulang. Namun, mengapa kepintaran yang ia perjuangkan dengan cucuran keringat justru menjadi bahan bakar bagi rasa benci orang lain? Kenapa dunia begitu tidak adil, di mana orang kaya dan berkuasa seperti Lexa bisa dengan mudah menghancurkan harga diri orang lain tanpa pernah merasa bersalah?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban, menyumbat dadanya hingga terasa sesak. Air mata yang sempat mengering di sekolah kini kembali menetes pelan, membasahi pipinya yang pucat.
Tak lama kemudian, Maya sampai di depan sebuah rumah sederhana beratap seng dengan dinding papan yang mulai memudar catnya. Rumah itu kecil dan sepi, karena sang ibu biasanya baru pulang bekerja sebagai buruh cuci saat hari sudah gelap. Maya membuka pintu kayu tua yang berdecit pelan, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan utama yang hanya diterangi lampu minyak remang-remang.
Ia meletakkan tasnya di atas meja kayu lapis, lalu mendudukkan diri di tepi tempat tidur tipisnya. Maya mengusap wajahnya yang lelah, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih sering berdebar kencang setiap kali mengingat kejadian di sekolah.
Tiba-tiba, suara getaran keras memecah kesunyian kamar. Ponsel pintar murah berkaca retak milik Maya yang tergeletak di atas meja bergetar hebat.
Maya tersentak. Rasa cemas seketika merayapi tengkuknya. Jarang sekali ada yang mengirim pesan kepadanya selain ibunya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Maya meraih ponsel itu dan menyalakan layarnya.
Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan beberapa pesan gambar dan teks berturut-turut. Begitu Maya membuka pesan tersebut, jantungnya serasa berhenti berdetak.
Di layar ponselnya, terpasang foto lembar soal pekerjaan rumah (PR) matematika dan biologi yang baru saja dibagikan guru sebelum bel pulang tadi. Dan di bawah foto tersebut, tertera pesan singkat dari nomor yang tak lain adalah milik Lexa:
"Kerjakan semua PR gue. Kerjain di buku catatan gue yang tadi gue masukin di tas lu pas jam pulang. Bikin jawabannya rapi, lengkap pakai cara, dan pastikan nilai gue harus seratus!"
Belum sempat Maya membalas atau mencerna pesan itu, pesan berikutnya masuk dengan nada yang jauh lebih mengintimidasi:
"Awas aja kalau lu menolak atau pura-pura nggak baca. Kalau sampai besok pagi PR gue belum selesai atau nilainya jelek, siap-siap aja muka lu yang culun itu bakal gue gosok di lantai toilet sekolah. Lu tahu kan gue nggak pernah main-main sama ucapan gue?"
Maya menatap layar ponselnya dengan bibir bergetar. Rasa marah, takut, dan tak berdaya bercampur menjadi satu adonan emosi yang menyiksa. Lexa benar-benar memanfaatkan posisinya. Gadis kaya itu tidak hanya mempermalukannya di depan umum, tetapi kini secara terang-terangan menjadikannya budak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.
Maya sempat berpikir untuk mengabaikan pesan tersebut atau melaporkannya kepada guru. Namun, bayangan wajah Lexa yang dingin, dorongan keras di loker, tarikan rambut yang menyakitkan, dan guyuran sampah di kepalanya siang tadi kembali menari-nari di ingatan Maya. Ia tahu betul kuasa yang dimiliki Lexa di sekolah. Guru-guru sering kali menutup mata jika berurusan dengan keluarga Lexa yang menjadi penyokong dana terbesar di sekolah itu. Menolak perintah Lexa hanya akan mengantarkannya pada neraka yang jauh lebih mengerikan esok hari.
Dengan helaan napas berat dan rasa kekalahan yang mendalam, Maya merogoh dasar tas ranselnya. Benar saja, di antara tumpukan bukunya yang kusam, ada sebuah buku catatan mahal dengan sampul merah menyala milik Lexa.Maya menarik kursi kayu ke dekat meja belajar sederhananya. Ia menyalakan lampu meja yang redup, lalu membuka buku catatan mahal milik Lexa. Kertasnya begitu halus dan harum, sangat kontras dengan meja kayu lapis tempat buku itu terhampar.
"Tuhan... sampai kapan aku harus begini?" bisik Maya lirih pada kegelapan kamar.Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik di luar rumah yang menyahut sepi.Dengan terpaksa, Maya meraih pulpennya. Jemarinya yang kasar dan lelah mulai menari di atas kertas halus milik Lexa. Ia menyalin soal-soal rumit itu satu per satu, menguraikan rumus-rumus matematika tingkat tinggi dan menyusun penjelasan materi biologi dengan sangat detail. Ia memastikan setiap baris jawaban ditulis dengan sangat sempurna, agar Lexa tidak punya alasan sedikit pun untuk menyiksanya esok hari.
Malam kian larut, suara angin berhembus menabrak dinding papan rumahnya. Di bawah remang lampu meja, Maya terus menulis dengan mata yang kian memberat dan hati yang kian hampa. Ia mengorbankan waktu istirahatnya yang berharga hanya untuk melayani kesombongan sang penindas, tanpa pernah tahu bahwa takdir gelap di antara mereka berdua sedang bersiap melompat ke garis batas yang tak terbayangkan.