NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Lepas, Ken," bisik Luna tajam sambil menepis tangan Kenan dari bahunya. Matanya sempat melirik ke arah Marko, namun sang CEO sudah berbalik arah dan berjalan cepat menuju lift eksekutif tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Galak banget sih, Lun," gumam Kenan sambil menyeringai, tidak merasa bersalah sedikit pun. "Kan aku cuma mau bantu mencairkan suasana di depan bos kamu yang dingin kayak es batu itu."

"Nggak perlu bantuan kamu," cetus Luna dingin, lalu mengajak Rania berjalan lebih cepat menuju ruangan divisi analisis data.

Hari pertama bekerja di Janitra Group benar-benar menguji kesabaran Luna. Divisi analisis data berada di lantai enam, sebuah ruangan luas dengan sekat-sekat kaca modern. Begitu masuk, pandangan belasan karyawan senior langsung tertuju pada tiga anggota magang baru tersebut.

"Selamat pagi semuanya. Ini ada adik-adik magang baru yang bakal gabung sama tim kita," panggil Pak Doni, supervisor divisi.

Saat Rania dan Kenan memperkenalkan diri dengan ramah, Luna hanya tersenyum tipis dan menyebutkan namanya secara singkat. Namun, kehadiran Luna yang anggun dengan riasan alami dan postur tubuh ideal langsung menarik perhatian mayoritas staf pria di ruangan itu.

"Wah, makin betah nih lembur kalau pemagang barunya bentukannya kayak begini," bisik salah satu staf senior pria, yang disambut tawa kecil dari rekan-rekan di sebelahnya.

"Bisa aja Mas Budi. Mbak Aluna, kalau ada yang bingung soal rumus database, tanya ke saya aja ya," timpal staf pria lainnya.

Di sudut ruangan, seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun menatap interaksi itu dengan pandangan sinis. Maya, senior analis yang terkenal perfeksionis dan merasa dirinya adalah bunga di divisi tersebut, mendengus keras sembari membanting tumpukan berkas ke atas mejanya.

"Kerja tuh yang dilihat hasilnya, bukan mukanya," sindir Maya cukup keras hingga terdengar oleh Rania dan Luna. "Jangan sampai baru masuk sehari udah bikin fokus orang lain pecah cuma gara-gara tebar pesona."

Rania menyenggol lengan Luna, mengisyaratkan ketidaksukaannya. Namun Luna hanya mengembuskan napas pelan. Ia sudah terbiasa menghadapi sifat iri seperti itu sejak di kampus.

"Biarin aja, Lun. Nenek-nenek kurang piknik tuh," bisik Rania gemas.

"Ssshh, udah. Kita fokus kerja aja," balas Luna berbisik, lalu mulai duduk di mejanya dan menyalakan komputer.

Jam menunjukkan pukul satu siang. Suasana di koridor lantai utama mendadak heboh saat sesosok wanita bertubuh tinggi semampai melangkah keluar dari lift. Mengenakan gaun merah pas badan yang memamerkan lekuk tubuhnya, kacamata hitam di atas kepala, dan langkah kaki berirama seperti di atas catwalk.

Jessi. Model papan atas berusia tiga puluh dua tahun yang baru saja ditunjuk menjadi brand ambassador proyek properti komersial Janitra Group.

"Selamat siang, Mbak Rani. Marko ada di dalam kan?" sapa Jessi dengan suara manja yang dibuat-buat begitu sampai di depan meja sekretaris CEO.

"Selamat siang, Mbak Jessi. Pak Marko sedang meninjau laporan, tapi sudah ada jadwal pertemuan dengan Mbak Jessi jam satu ini," jawab Rani sopan.

Tanpa mengetuk pintu secara formal, Jessi memutar gagang pintu ruangan Marko dan melangkah masuk dengan senyum merekah.

Marko yang sedang menatap layar laptopnya mendongak. Dahinya berkerut tipis melihat kedatangan wanita itu. "Jessi. Kamu bisa duduk dulu. Saya baru selesai mengecek draf kontrak kamu."

Jessi tak langsung duduk di kursi tamu. Ia justru melangkah memutari meja kerja Marko, lalu menyandarkan pinggulnya di tepi meja, tepat di samping laptop Marko. Aroma parfum menyengat langsung memenuhi ruangan.

"Kenapa sih formal banget, Ko?" goda Jessi sambil menunduk sedikit, sengaja mendekatkan wajahnya pada Marko. "Kita kan udah sering makan malam bareng. Lu juga yang milih gue jadi brand ambassador proyek ini."

"Saya memilih kamu karena analisis market kamu bagus buat proyek ini, Jessi. Murni bisnis," sahut Marko datar, menggeser duduknya sedikit ke belakang untuk menjaga jarak.

"Bisnis yang bisa berlanjut ke hal lain, kan?" Jessi tersenyum manis, mengulurkan tangannya untuk merapikan kerah jas Marko secara lancang. "Kamu udah terlalu lama sendiri, Marko. Kamu butuh wanita dewasa yang bisa mendampingi posisi kamu sekarang. Bukan cuma buat urusan kerjaan."

Marko menepis tangan Jessi secara halus namun tegas. "Saya tidak campur aduk urusan pekerjaan dan pribadi, Jessi. Tolong duduk di kursi kamu."

Jessi tertawa kecil, tidak tersinggung sama sekali. Bagi Jessi, sifat Marko yang dingin dan sukar ditaklukkan justru menjadi pemicu gairah tersendiri. Ia sangat berambisi menjadi nyonya di Janitra Group.

Satu jam kemudian, Pak Doni memanggil Luna ke mejanya.

"Aluna, ini ada berkas revisi anggaran untuk proyek properti baru yang harus ditandatangani langsung oleh Pak Marko. Kamu antar ke ruangannya sekarang ya?" perintah Pak Doni.

"Saya, Pak?" tanyanya ragu.

"Iya. Sekalian kamu belajar birokrasi penyerahan dokumen eksekutif. Cepat ya, Pak Marko orangnya paling tidak suka menunggu."

"Baik, Pak."

Luna mengambil map tebal itu, lalu melangkah menuju lift menuju lantai paling atas. Jantungnya berdebar pelan. Setelah kejadian tadi pagi di mana Marko terlihat sangat dingin dan kaku padanya, Luna merasa ada kecanggungan ekstra di antara mereka.

Begitu sampai di depan ruangan CEO, Mbak Rani sedang tidak ada di mejanya. Karena tugasnya mendesak, Luna akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu kayu jati itu dua kali.

Tidak ada jawaban dari dalam, namun pintunya tampak sedikit renggang.

Luna mencoba mendorong pintu itu perlahan. "Permisi, Pak Marko, saya mau mengantar berkas—"

Kalimat Luna terhenti seketika di tenggorokan.

Di dalam ruangan, Jessi sedang berdiri sangat dekat di hadapan Marko yang terduduk di kursinya. Tangan Jessi melingkar ramping di bahu jas Marko, sementara wajah wanita itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Marko, seolah-olah mereka baru saja atau hendak berciuman.

Marko refleks menoleh ke arah pintu dan matanya membelalak kaget saat bertatap muka langsung dengan Luna.

Luna membeku di ambang pintu. Dadanya mendadak terasa dihantam benda tumpul yang sangat berat melihat pemandangan tersebut.

"Maaf... saya mengganggu," bisik Luna dengan suara bergetar, lalu refleks berbalik dan berlari pergi meninggalkan ruangan itu.

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!