Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 MEMORI YANG TERJAGA
Setelah perjumpaan yang menguras emosi itu, Mbah Jum akhirnya pamit. Wanita sepuh itu rupanya tengah diburu waktu untuk segera menuju ke sawahnya.
Siang ini adalah jadwal panen raya, dan para tetangga ternyata sudah lebih dulu berkumpul di lahan miliknya untuk bergotong royong.
"Le, Mbah arep nang sawah dhisik, yo... Soale wis wayahe panen! Mesakne tonggo wis podho nang sawahe Mbah!" (Nak, Mbah mau ke sawah dulu, ya... Soalnya sudah waktunya panen! Nggak enak sama tetangga yang sudah duluan ke sawahnya Mbah!) pamit Mbah Jum.
"Oh, inggih Mbah, monggo-monggo... Mengke nek wonten wektu, kulo nggih badhe jagongan teng sawah nggih, Mbah!" (Oh, iya Mbah, silakan-silakan... Nanti kalau ada waktu senggang, saya mau main ke sawah juga ya, Mbah!) jawab Zaki sopan.
"Iyo, Cah Ganteeeng... Hehehe..."
"Yo wis, Mbah mlaku dhisik yo, Le..." (Ya sudah, Mbah jalan dulu ya, Nak...)
"Inggih, Mbah... Monggo..." (Iya, Mbah... Silakan...) balas Zaki seraya mengangguk dan sedikit membungkukkan badan, memberikan penghormatan pada sosok pengganti ibunya itu.
Zaki berdiri di halaman, mengawasi punggung Mbah Jum yang perlahan menjauh.
Untuk ukuran wanita yang usianya nyaris menyentuh kepala tujuh, langkah Mbah Jum masih tampak begitu tegap dan bertenaga.
"Ya Allah... Berikanlah kesehatan selalu buat Mbah Jum, Aamiin..." gumam Zaki tulus di dalam hati.
Setelah sosok Mbah Jum menghilang dari pandangan, Zaki kembali mengusap sisa air mata yang mengering di pipinya. Ia memutar tubuh, kembali berjalan dan berhadapan dengan bangunan bisu peninggalan kedua orang tuanya.
.....
.....
"Bismillah..." lirih Zaki saat tangannya bersiap memasukkan kunci usang itu ke dalam lubangnya.
Ceklek-ceklek!
Kunci diputar perlahan, memecah kesunyian.
Kriiieeettt...
Daun pintu itu berderit panjang, memprotes engselnya yang sudah lama agak mulai berkarat. Begitu celah pintu terbuka, aroma khas rumah kosong—kombinasi antara udara pengap, kayu yang mulai sedikit lapuk, dan debu—langsung menyergap indera penciumannya.
Zaki mematung sejenak di ambang pintu.
Pandangannya menyapu seisi rumah yang sudah belasan tahun ia tinggalkan demi menyambung hidup di kota bersama sang Pakde.
Ruang tamu berukuran lima kali enam meter itu tampak suram. Hanya tersisa sedikit perabotan di sana: satu set kursi dan meja tamu dari kayu jati yang warnanya mulai kusam, serta sebuah bufet kayu berhiaskan kaca polos bening di sudut ruangan.
Di sudut lainnya, teronggok sebuah meja kecil yang sudah kosong melompong.
Tepat di bagian tengah langit-langit, sebuah lampu gantung antik berwarna cokelat kehitaman menjuntai kaku.
Lapisan debu tebal menyelimuti setiap jengkal permukaan perabotan dan lantai tanah liatnya. Tak ada satu pun jejak kaki manusia maupun hewan di sana. Benar-benar bukti nyata bahwa tempat ini telah tertidur lelap dalam waktu yang sangat lama.
Zaki melangkah masuk, menaruh tas ransel birunya di atas kursi tamu berbahan jati.
"Hmmm... Butuh waktu agak lama nih, buat bersihin semuanya," batin Zaki sambil mengedarkan pandangan.
Kakinya kemudian melangkah lebih dalam, menuju ruang keluarga sederhana yang terletak di ujung ruang tamu. Di sebelah ruangan itu, terdapat dua buah pintu kamar yang saling bersisian.
Saat berdiri di tengah ruang keluarga, proyektor kenangan di kepalanya kembali berputar. Ruangan ini adalah saksi bisu kehangatannya bersama sang Bapak.
Dahulu, di sinilah mereka berdua sering duduk bersama menonton televisi hitam-putih. Siaran yang paling sering mereka tunggu tentu saja pertunjukan wayang kulit dan pagelaran gamelan tradisional.
Bayangan sang Ibu pun tak luput dari ingatannya. Ia seolah bisa melihat ibunya berjalan keluar dari arah dapur, tersenyum hangat sambil membawa nampan berisi sepiring getuk lindri atau singkong goreng bertabur kelapa parut sangrai yang uapnya masih mengepul.
Zaki menyentuh sandaran kursi di ruang keluarga itu.
Matanya terpejam erat, membiarkan nostalgia masa kecil bersama Bapak di depan televisi membanjiri relung hatinya.
Perlahan, kelopak matanya terbuka, tertuju lurus pada meja kecil tempat televisi tabung itu bertengger.
Zaki mendekat, membelai lembut layar cembung yang kini buram tertutup debu tebal.
Didorong oleh rasa penasaran yang kekanak-kanakan, ia meraih ujung kabelnya dan menancapkannya ke stopkontak di sudut bawah dinding.
Cetik-cetik!
Ia menekan tombol ON/OFF yang berdebu. Seperti yang sudah bisa ditebak, benda elektronik usang itu sama sekali tak memberikan tanda-tanda kehidupan.
Menyerah dengan televisi itu, Zaki beralih mendekati dua pintu kamar. Ia memilih kunci lain dari dalam sakunya.
Ceklek-ceklek! Kriiieeettt...
Pintu pertama terbuka. Itu adalah kamar mendiang kedua orang tuanya.
Zaki terdiam cukup lama di ambang pintu, menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan.
Kosong dan dingin.
Hanya tersisa sebuah ranjang kayu yang cukup untuk dua orang, sebuah lemari pakaian yang pintunya sedikit menganga, serta satu set meja dan kursi di sudut ruangan, tepat di sebelah jendela.
Setelah dadanya terasa cukup sesak oleh kerinduan di kamar itu, Zaki menutupnya perlahan dan beralih ke pintu kedua.
Ceklek-ceklek! Kriiieeettt...
Kamar di sebelahnya adalah kamar miliknya sendiri.
Benteng kecil tempatnya melepas penat setelah seharian bersekolah dan bermain lumpur di sawah. Tata letaknya nyaris serupa dengan kamar sebelah; ada lemari usang, ranjang single, dan meja belajar kecil di dekat jendela.
Kali ini, Zaki tak sekadar berdiri di ambang pintu. Ia melangkah masuk, membiarkan dirinya ditelan oleh aura kamarnya sendiri.
Ia mendaratkan tubuhnya di atas kasur berseprai putih kusam, di mana selimut bermotif tokoh pewayangan yang sudah pudar warnanya masih terlipat seadanya.
Ia memandangi seisi kamar. Kenangan demi kenangan kembali berkelebat.
Suara lembut ibunya yang selalu sabar membangunkannya di pagi hari, hingga usapan hangat tangan ibunya di dahi saat ia sedang tergolek sakit seharian di atas kasur ini.
Zaki menghela napas panjang, meresapi kedamaian semu dari rentetan memori indah tersebut.
Namun, di tengah keheningan nostalgia yang membuainya...
Hawa di dalam kamar mendadak berubah dingin.
Tiba-tiba saja...
Dari sudut pandang ekor matanya, bayangan seorang wanita terwujud begitu saja di sebelahnya.
Sosok itu kini ikut duduk menemaninya di tepi ranjang.
SEKAR MAYANG YANG BEGITU ANGGUN DAN CANTIK HADIR.
Sosok perewangan yang selama ini mengikutinya itu menoleh perlahan, menatap Zaki dengan senyum misteriusnya.
"Hihihihi... Sepertinya kamu sangat merindukan tempat ini, Zakiku sayaaang?"
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya