Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran yang tidak bisa berhenti
Sepulang dari Sport Padel hari itu, Baska duduk di kamarnya dengan perban kecil masih menempel di pelipisnya, namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada rasa nyeri yang sesekali masih terasa. Dia mengambil ponselnya, membuka aplikasi galeri foto, dan tanpa sadar tersenyum sendiri mengingat kembali wajah Zia yang begitu dekat dengannya ketika membersihkan luka tersebut.
"Kenapa gue jadi kepikiran terus ya," gumamnya pelan, meletakkan ponsel tersebut di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar, mencoba mencari alasan logis kenapa hari yang seharusnya dia benci tersebut malah berakhir dengan perasaan yang begitu asing dan menyenangkan.
Malam itu, Dika mengiriminya pesan singkat, menanyakan kondisi kepalanya sekaligus menyelipkan sedikit godaan yang membuat Baska semakin bingung dengan perasaannya sendiri. "Bas, gimana kepala lo? Masih pusing nggak? Btw tadi gue liat lo senyum-senyum pas diobatin, jangan bilang lo mulai naksir tuh admin."
Baska membaca pesan tersebut berkali-kali sebelum akhirnya membalas dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja. "Nggak lah, Dik. Gue cuma kaget aja tadi, biasa aja kali."
"Ah, bohong. Muka lo tadi merah banget pas dia nanya nama lo," balas Dika dengan emoji tertawa, tidak berniat membiarkan sahabatnya lolos begitu saja dari godaan tersebut.
Baska mematikan ponselnya setelah membaca pesan tersebut, mencoba mengabaikan tuduhan Dika meski dalam hatinya sendiri dia tidak sepenuhnya bisa membantahnya. Sepanjang malam, bayangan senyum ramah Zia terus muncul di pikirannya, sebuah pengalaman yang jarang sekali dia rasakan mengingat hidupnya yang selama ini begitu monoton dan minim interaksi sosial di luar lingkup kantor.
Keesokan harinya, hari Minggu yang biasanya dia habiskan dengan tidur seharian atau menonton serial di kasur, Baska mendapati dirinya justru bangun lebih pagi dari biasanya, duduk di ruang tamu sambil memikirkan alasan apa yang bisa dia gunakan untuk kembali mengunjungi Sport Padel tanpa terkesan terlalu jelas menunjukkan ketertarikannya.
"Bas, kok udah bangun? Biasanya jam segini masih molor," tanya ibunya, Bu Ratna, sedikit heran melihat anaknya sudah rapi dan duduk di ruang tamu padahal hari libur.
"Nggak ada apa-apa kok, Bu. Cuma nggak bisa tidur aja," jawab Baska sekadarnya, tidak ingin ibunya curiga dengan perubahan sikapnya yang begitu mendadak tersebut.
Setelah berpikir cukup lama, Baska akhirnya memutuskan untuk kembali ke Sport Padel dengan alasan sederhana: mengembalikan raket pinjaman yang seharusnya sudah dia kembalikan kemarin namun terlupa akibat insiden luka tersebut. Alasan yang sebenarnya terkesan dibuat-buat, mengingat dia bisa saja titip raket tersebut ke Dika, namun entah kenapa dia lebih memilih datang sendiri.
Sesampainya di lapangan, suasana Minggu pagi jauh lebih sepi dibandingkan hari sebelumnya, hanya beberapa pemain lepas yang sedang bermain santai di dua lapangan yang terisi. Baska berjalan menuju meja resepsionis dengan raket di tangan, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas ketika melihat sosok Zia sedang sibuk mencatat sesuatu di komputer.
"Eh, Mas Baska," sapa Zia begitu menyadari kehadiran pemuda tersebut, senyum ramahnya langsung mengembang seperti biasa. "Gimana kepalanya? Udah nggak pusing lagi kan?"
"Udah mendingan, Mbak. Ini saya mau balikin raket pinjaman kemarin, kelupaan soalnya," jawab Baska sambil menyerahkan raket tersebut, berusaha bersikap sewajar mungkin meski jantungnya masih berdebar kencang.
"Oh, makasih ya, Mas. Lukanya masih diperban rapi tuh, bagus," ujar Zia sambil memperhatikan pelipis Baska sekilas, sebuah perhatian sederhana yang entah kenapa membuat pemuda tersebut merasa begitu diperhatikan.
Percakapan singkat tersebut, meski hanya berlangsung beberapa menit, memberikan kepuasan tersendiri bagi Baska yang biasanya menghindari interaksi sosial yang tidak perlu. Sebelum pergi, dia sempat melihat papan informasi di dekat meja resepsionis yang menampilkan jadwal kelas privat untuk pemula.
"Mbak, kalau mau ikut kelas privat gimana caranya?" tanya Baska tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri dengan pertanyaan tersebut yang keluar begitu saja tanpa dia rencanakan sebelumnya.
Zia menatap Baska dengan sedikit terkejut, mengingat kesan pertama yang dia dapatkan dari pemuda tersebut adalah seseorang yang jelas-jelas tidak tertarik dengan olahraga sama sekali. "Wah, tertarik belajar padel serius nih, Mas? Bisa banget, nanti saya kasih info jadwal Coach Yudha ya."
Baska mengangguk, tidak sepenuhnya yakin dengan keputusan mendadak yang baru saja dia ambil tersebut, namun dalam hatinya dia tahu satu hal dengan pasti: keputusan itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan keinginan untuk benar-benar jago bermain padel, melainkan alasan sederhana untuk bisa terus kembali ke tempat tersebut dan bertemu dengan sosok yang telah mengubah pandangannya soal olahraga dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam tersebut.