Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
.
Pagi berikutnya, Aisyah kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Setelah mengantar Rangga dan Fatimah ke sekolah, ia tidak langsung pulang. Ia meminta sopir taksi untuk mengantarkannya ke restoran miliknya.
Aisyah mulai meminta berkas-berkas keuangan restoran dan mulai memeriksanya sedikit demi sedikit, ingin memahami bagaimana usaha yang mereka bangun bersama ini berjalan. Berbekal ilmu akuntansi yang dulu dipelajari saat SMA, ia meneliti buku kas, laporan penjualan, catatan pembelian, pembayaran kepada pemasok, pengeluaran operasional, hingga laporan laba-rugi. Sesekali ia mencocokkannya dengan mutasi rekening usaha dari bagian administrasi.
Pada awalnya, Aisyah tidak merasa ada yang janggal. Pemasukan sesuai catatan penjualan. Pembelian bahan masih masuk akal. Gaji karyawan, biaya listrik, air, perawatan peralatan, pembayaran kepada pemasok… semuanya tercatat rapi. Aisyah bahkan sempat berpikir mungkin dirinya yang terlalu berlebihan. Ternyata semuanya memang baik-baik saja. Itu artinya selama ini Raka benar-benar mengurus usaha mereka dengan baik.
Hingga ketika ia melanjutkan pemeriksaan pada laporan pengeluaran lima bulan terakhir, tangannya terhenti membalik berkas. Wanita itu perlahan mengerutkan keningnya saat membaca angka demi angka yang tertera di sana. Aisyah lalu mengambil kalkulator. Menghitung lagi dengan lebih cermat. Sekali, dua kali, hasilnya tetap sama.
Ada beberapa pengeluaran bernominal besar tanpa keterangan jelas. Bukan satu atau dua. Tapi cukup banyak. Aisyah mengambil laporan bulan sebelumnya untuk membandingkan. Di sana pengeluaran masih wajar. Namun sejak lima bulan terakhir, mulai muncul transaksi besar yang hanya tertulis "pengeluaran lain-lain", "biaya tambahan", atau "kebutuhan khusus" … tanpa rincian lebih lanjut.
"Ini untuk apa?" gumamnya pelan.
Ia membuka laporan bulan berikutnya. Hal yang sama terulang. Semakin ia periksa, semakin banyak transaksi yang membuatnya bertanya-tanya. Aisyah menyandarkan punggungnya ke kursi, pandangannya masih terpaku pada deretan angka itu. Lima bulan. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi saat itu. Dan perlahan satu nama muncul di benaknya… Nabila.
Apakah hubungan Raka dengan Nabila di mulai dari sini? Dulu Aisyah tidak pernah curiga pada mereka. Nabila mengatakan dia saja yang mengantar makan siang Raka karena kebetulan Aisyah sedang sibuk. Dan Aisyah malah berterima kasih karena menganggap Nabila sangat baik. Tapi ternyata Nabila menggunakan kepercayaan yang ia berikan untuk mendekati Raka.
Aisyah menatap kembali laporan di hadapannya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, namun ia segera menggeleng pelan. "Jangan berpikir macam-macam dulu,” ucapnya pada diri sendiri.
Bisa saja pengeluaran itu memang untuk kebutuhan usaha. Bisa saja ada biaya tertentu yang belum ia ketahui. Selama lima belas tahun, Aisyah memang tidak pernah mengurus keuangan secara mendetail, semuanya dipercayakan kepada Raka. Ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Aisyah kembali menghitung satu per satu transaksi yang tidak memiliki keterangan. Dan angka-angka itu membuatnya terdiam. Jumlahnya tidak sedikit. Meskipun sebagian di antaranya mungkin benar untuk keperluan usaha, nilainya tetap membuatnya merasa curiga.
Ia membuka mutasi rekening, mencocokkan tanggal transaksi dengan laporan. Beberapa cocok, namun ada yang justru semakin membingungkan. Uang yang keluar dari rekening, keterangannya sangat singkat, tanpa nama pemasok, tanpa rincian barang, tanpa bukti pembayaran.
Aisyah mengusap pelipisnya merasakan sesuatu yang berbeda. Selama ini ia sangat percaya pada suaminya. Dan berpikir suaminya tidak akan mungkin melakukan kecurangan di belakangnya. Dan selama ini semuanya memang baik-baik saja. Dari warung yang semula kecil, berkembang menjadi lebih besar, kemudian menambahkan toko di dalamnya, lalu semakin besar, hingga kemudian rumah makan berubah menjadi restoran, dan toko yang mereka memiliki dari hari ke hari menjadi semakin besar dan ramai. Tetapi kini ia melihat, tabungan yang seharusnya menjadi masa depan Rangga dan Fatimah, sebagian uangnya pergi tanpa ia ketahui.
Aisyah merawat wajahnya kasar saat mendengar alarm pada ponselnya, sudah waktunya untuk menjemput Fatimah. Wanita itu pun menutup berkas itu perlahan. Butuh waktu baginya untuk mengetahui semuanya, namun ia tidak akan bertanya pada Raka. Dia akan menggali semuanya lebih dalam dulu, dan jika ternyata memang benar ada sesuatu yang disembunyikan, ia tidak akan membiarkan semua ini begitu saja.
Aisyah mengambil buku catatan kecil, menuliskan tanggal, nominal, dan keterangan setiap transaksi yang janggal tanpa ada yang terlewat lalu menyimpannya ke dalam tas. Wajahnya tetap tenang, namun ada sesuatu yang berbeda dibalik ketenangan itu.
Selama bertahun-tahun ia percaya Raka, tapi ternyata tanpa disadarinya, Raka malah di belakangnya menggunakan jerih payah yang mereka bangun bersama untuk memberikan kebahagiaan pada perempuan lain.
Aisyah memasukkan beberapa berkas ke dalam map, lalu menatap karyawan di hadapannya. “Berkas ini saya bawa pulang dulu. Saya belum selesai memeriksanya. Kalau nanti ada yang saya butuhkan, saya akan meminta lagi.”
“Baik, Bu.”
Aisyah kemudian melihat jam tangannya. Ia harus segera menjemput Fatimah. Setelah berpamitan, ia masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan lebih dulu sebelum keluar dari ruangan kerjanya.
Saat dalam perjalanan, Aisyah kembali membuka laporan keuangan yang tadi ia bawa. Matanya bergerak dari satu angka ke angka lainnya. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Ternyata ilmu yang dulu ia pelajari masih melekat di kepalanya.
Dulu, Aisyah adalah siswi yang cukup pintar. Ia bahkan beberapa kali menjadi juara kelas. Namun setelah lulus sekolah, ia tidak bisa melanjutkan kuliah karena kondisi kedua orang tuanya yang tidak memiliki biaya. Jadi ia hanya bisa berada di rumah membantu ibunya berjualan di warung.
Aisyah bahkan sempat menganggap semua ilmu yang dipelajarinya dulu tidak akan berguna. Ternyata ia salah. Kini, pengetahuan yang pernah ia dapatkan di sekolah justru membantunya membaca laporan keuangan usaha yang selama ini hanya ia anggap sebagai urusan Raka.
Aisyah kembali menatap angka-angka di dalam map. “Aku harus segera melakukan sesuatu,” gumamnya.
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒