Nara Askiya, gadis cantik yang memiliki tubuh tinggi dan menawan, tak salah jika banyak laki-laki yang mendambakannya, ia terkenal sopan anggun dan cerdas, berprofesi sebagai seorang pengawas di sebuah mall terkenal di kota itu.
namun nasib hidupnya tak se indah gambaran dirinya, ketika ia menikah dengan kekasih yang ia cintai dan sangat ia dambakan.
penghianatan mengubah hidupnya saat acara ijab akan di laksanakan, ia harus menelan kepahitan saat tahu sang kekasih pergi meninggalkannya tanpa aba-aba tanpa ucapan tanpa penjelasan.
Namun, di tengah kepedihan itu... ada seorang laki-laki gagah yang rela menutupi malu keluarganya di hari yang seharusnya bahagia bagi Nara, semua sempat mendapat perdebatan namun akhirnya Nara menerima laki-laki itu' dialah Deon Satya, laki-laki yang tak Nara ketahui adalah seorang pemilik mall tempatnya bekerja yang hidupnya memilih sederhana. bagaimana kehidupan Nara dan Deon usai menikah tanpa rasa cinta dan mengenal? apakah Nara akan menerima Deon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Kesederhanaan
“Terima saja, Nara. Itu bukan karena kamu harus membayar apa pun kepada keluarga kami. Deon sudah menjadi suamimu, jadi dia wajib memberimu apapun."
Air mata Nara akhirnya jatuh. Ia menundukkan wajah. Entah mengapa perhatian sederhana itu terasa begitu besar baginya.
Kemarin ia ditinggalkan oleh laki-laki yang dicintainya. Hari ini, keluarga dari laki-laki yang bahkan belum dikenalnya justru menerimanya dengan begitu hangat.
Nara mengusap air matanya.
“Terima kasih, Oma, Deon.”
Suaranya bergetar. “Aku… tidak tahu harus berkata apa.”
Oma memeluknya dari samping.
“Tidak perlu berkata apa-apa.”
Nara menangis dalam pelukan perempuan tua itu.
Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ada sedikit kehangatan yang ia rasakan. Sementara itu, Deon hanya memperhatikan dengan perasaan lega.
Ia tersenyum tipis.
Namun tidak seorang pun di ruangan itu mengetahui bahwa ada satu hal yang sengaja disembunyikan Deon.
Tentang kedua orang tuanya.
Hanan dan Lely mengira orang tua Deon sedang berada di luar kota. Keluarga Deon pun tidak pernah membicarakannya di depan Nara.
Bahkan Oma Shu Fen hanya diam ketika Nara sempat bertanya.
“Orang tua Deon tidak datang?”
Oma tersenyum tipis.
“Mereka di luar kota, mereka tidak tinggal di sini.”
Jawaban sederhana.
Namun Deon tahu, suatu hari Nara pasti akan mengetahui semuanya. Termasuk siapa sebenarnya dirinya, Termasuk kehidupan keluarganya. Dan mungkin juga alasan mengapa sejak awal ia berani menikahi Nara tanpa rasa ragu.
Nara masih menggenggam kotak emas pemberian Oma.
Usai saling berpelukan dengan Oma, Nara menoleh sejenak menatap Deon dengan senyum yang sebelumnya tak pernah Deon lihat.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, tatapan Nara tidak sepenuhnya dipenuhi kesedihan.
Namun di dalam hatinya masih tersimpan satu pertanyaan besar. Siapa sebenarnya Deon Satya?
Dan mengapa laki-laki sederhana itu seolah memiliki kehidupan yang sama sekali tidak sederhana?
Malam telah turun ketika Nara dan Deon akhirnya kembali dari rumah Oma Shu Fen.
Sejak siang, Deon juga sudah mengurus berbagai berkas yang diperlukan untuk melengkapi syarat pernikahan mereka. Semua dokumen akhirnya diserahkan kepada Pak RT untuk diproses lebih lanjut.
Deon merasa lega.
Setidaknya satu urusan sudah selesai.
Setelah makan malam bersama keluarga Nara, Deon dan Nara memilih duduk berdua di balkon lantai dua.
Angin malam berembus pelan, Nara duduk sambil memeluk lututnya. Tatapannya mengarah ke halaman rumah.
Deon duduk tidak jauh darinya.
Mereka berbicara tentang hal-hal sederhana, Tentang rumah, makanan, tetangga. Sesekali Nara tertawa kecil ketika Deon melontarkan candaan sederhana.
Namun Deon tahu, tawa itu belum sepenuhnya berasal dari hati. Ada luka yang masih tersimpan di sana. Ada satu nama yang belum mampu Nara lepaskan dari pikirannya.
Arka.
Siang tadi, Nara bahkan sempat mengirim pesan kepada ibu Arka. Ia hanya ingin mendapatkan jawaban.
Mengapa Arka pergi? Apakah ada perempuan lain? Namun jawaban yang diterimanya justru semakin menyakitkan.
Jangan lagi tanyakan Arka. Tidak perlu menghubungi keluarga kami lagi.
Tidak ada permintaan maaf dan penjelasan.
Justru keluarga Arka seolah menyalahkan Nara karena menerima Deon.
Mereka merasa dipermalukan. Seolah Nara seharusnya menunggu laki-laki yang meninggalkannya tanpa kepastian. Nara menggenggam ponselnya.
“Deon…”
“hm?”
“Aku masih tidak mengerti.”
Deon menoleh.
“Tidak mengerti?”
“Kenapa Arka melakukan ini?” Suara Nara melemah. “Kalau memang tidak ingin menikah denganku, kenapa harus menunggu sampai hari akad?”
Deon tidak langsung menjawab. Ia tahu sebagian rahasia tentang Arka. Namun belum saatnya ia mengatakan semuanya.
“Mungkin dia punya alasan.”
Nara menatap Deon. “Alasan?”
“Iya.”
“Alasan apa yang bisa membuat seseorang meninggalkan calon istrinya di hari pernikahan?”
Deon terdiam.
Nara mengusap pipinya yang kembali basah.
“Aku bahkan sudah bertanya kepada ibunya. Dia malah menyuruhku berhenti mencari tahu.”
Deon menatap Nara dalam-dalam. “Kalau begitu, jangan paksa dirimu untuk mendapatkan jawaban dari orang yang tidak mau memberikannya.”
“Tapi aku berhak tahu.”
“Iya.” Deon mengangguk.
“Kamu berhak tahu.”
Nara terdiam.
“Tapi sampai jawabannya datang, jangan biarkan Arka terus menguasai pikiranmu.”
Nara menatapnya. “Sekarang sudah ada kamu.”
Deon tersenyum tipis. “Aku tidak akan memaksamu melupakan dia dalam satu malam.”
Nara menundukkan wajah, Untuk beberapa saat mereka kembali diam.
Deon sebenarnya ingin menggenggam tangan Nara, Namun ia mengurungkan niatnya. Ia belum berani menyentuh perempuan itu. Nara pun masih terlihat canggung setiap kali mereka terlalu dekat.
...
Malam semakin larut. Mereka akhirnya masuk ke kamar.
Nara melihat Deon kembali mengambil bantal dan hendak menuju sofa.
“Deon.”
Deon berhenti. “Ya?”
“Kamu mau tidur di sofa lagi?”
Deon mengangguk. “Tidak apa-apa.”
Nara menatap sofa itu, Entah mengapa malam ini hatinya terasa tidak enak. Setelah semua yang diberikan Deon dan keluarganya, ia merasa tidak tega membiarkan suaminya terus tidur di sana.
“Tidurlah di ranjang.”
Deon terdiam.
“Bersamamu?”
Nara mengangguk kecil.
“Tapi… Aku belum bisa…”
Nara berhenti sejenak. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Deon memahami. “Kamu belum siap.”
Nara mengangguk.
Deon tersenyum.
“paham.”
Ia meletakkan bantalnya kembali.
“Aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar siap.”
Nara merasa lega. Mereka kemudian berbaring di atas ranjang dengan jarak.
Di tengah hening Nara tiba-tiba membuka suara.
“Deon?”
“Hm?”
“Kamu bekerja di mana?”
Deon menoleh, Pertanyaan itu membuatnya hampir tersenyum.
“Aku?”
“Iya. Aku jarang melihat kamu keluar rumah.”
Deon berpikir sebentar. “Aku bekerja sebagai karyawan biasa.”
“Di mana?”
“Supermarket di pusat kota.”
Nara mengernyit.
“Supermarket mana?”
“Supermarket elektronik.”
Nara mengangguk, Ia kembali memandang langit-langit.
Deon kemudian balik bertanya.
“Kamu masih bekerja di mall, kan?”
Nara langsung menoleh. “Kok tahu?”
Deon tertawa kecil. “Ya tahu.”
“Dari mana?”
“Kita kan masih satu kompleks. Kadang aku dengar ibu-ibu ngobrol.”
Nara tertawa kecil.
“Deon, kamu parah.”
“Kenapa?”
“Penguping berat.”
Deon ikut tertawa. “Bukan penguping. Kebetulan saja dengar.”
Nara untuk pertama kalinya malam itu tertawa lepas.
Deon menatapnya diam-diam, Ia menyukai suara tawa itu. Suara yang lama ingin ia dengar dari jarak sedekat ini.
Namun Nara tidak tahu, Bahwa semua cerita tentang pekerjaan Deon hanyalah kebohongan kecil untuk menjaga rahasianya.
Deon tahu kegiatan Nara, ia selalu mentaunya dari CCTV, kegiatan Nara. Ia bahkan tahu kapan Nara datang bekerja, makan siang bahkan saat Nara murung.
“Deon.”
“Hm?”
“Kamu menguap.”
Deon tertawa kecil.
“Memang mengantuk.”
“Tidurlah. Besok kita bekerja.”
“Iya.”
Nara menoleh.
“Selamat malam.”
“Malam.”
Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang. Bukan sebagai sepasang kekasih.
Belum sebagai pasangan yang saling mencintai. Tetapi dua orang asing yang terikat pernikahan dan perlahan ...