NovelToon NovelToon
AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

AKU: Catatan Lelaki Yang Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni Reisz

"Jika waktu bisa kuhentikan, aku ingin selamanya berada di sisimu, menjaga hubungan kita hingga garis terakhir."

Banyak yang berkata jika masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sepertinya kalimat itu berlaku juga untuk Izang, pemuda 17 tahun yang menyukai adik kelasnya, Ara. Meskipun awalnya bersama karena terpaksa, hal itu tidak menyurutkan rasa cinta Izang pada Ara.Bahagia? Harusnya. Namun, cobaan mulai menimpa bertubi-tubi. Mulai dari perceraian orang tua, kepindahan ke Bandung, hingga hubungan jarak jauh (LDR).Di saat mereka berjuang mempertahankan cinta, takdir justru mendatangkan badai yang jauh lebih kejam—sebuah vonis sakit yang mengancam sisa usia Izang. Akankah mereka yang memulai hubungan dengan tertatih, bisa bertahan hingga akhir? Ataukah perpisahan selamanya menjadi ujung dari kisah ini?

💔 Kisah Romantis Melankolis - POV Pria (Siapkan Tisu!)
🕒 Update Setiap Hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni Reisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SATU: Awal Mula (Bagian 3)

"Lu kagak ke kantin?" Alan yang notabene anak Jakarta bertanya padaku dengan logat Betawinya. Aku menggeleng.

"Nggak, aku nggak bawa duit jajan. Lagian ada janji juga sama Ara."

"Janji ape?"

"Dia minta diajarin fisika, kebetulan itu babnya kita sekarang."

"Oh, gitu. Tapi gue liat-liat, keknya lu akhir-akhir ini sama Ara terus deh? Ada apakah gerangan?" Alan menatapku dengan tatapan penuh selidik. Membuatku batal menguap dengan sukses.

"Nggak ada apa-apa deh kayaknya. Emang mau ada apa, Lan? Nggak usah mulai deh!" kali ini ganti aku yang menatapnya meminta penjelasan. Berusaha memasang wajah tenang padahal jantungku sudah berdegup lumayan cepat saat Alan menyinggung Ara.

"Yaa...biasanya kan lu paling kagak betah kalau Ara udah mulai nyebut-nyebut nama Joan. Nah gue perhatiin dari kemarin-kemarin, lu cuek-cuek aja. Terus tiap ada Ara, di situ ada lu juga keknya. Nyaris kek perangko sama amplop surat."

"Ah, perasaanmu aja mungkin. Suer deh nggak ada apa-apa. Lagi pula sohibmu ini udah punya cewek inceran sendiri. Tinggal nunggu waktu yang tepat aja buat nembak," aku bercetus tanpa menyadari bahwa Ara sudah berdiri di belakangku.

"Lho? Siapa? Kok nggak pernah cerita?" sahut Ara sambil langsung mengambil tempat duduk di depanku.

Mampus! Kenapa kamu harus dateng sekarang sih, Ara?

"Ha? Apa sih, Ra? Mana buku fisikanya? Katanya mau diajarin tadi?" aku berusaha mengalihkan perhatian.

"Nggak. Jawab dulu siapa cewek inceranmu, Mas!" Ara mendesak.

"Cewek inceran apa sih, Ra? Salah denger kamu tadi itu."

"Salah denger gimane sih, Zang? Gue juga denger hal yang sama kek yang Ara denger. Ah, elu mah aneh! Waktu tadi gue nanya soal Ara, lu bilang udah ada cewek inceran. Eh begitu giliran ditanyain Ara, lu bilang salah denger. Maksudnye?" belum sempat aku menjawab sanggahan Alan, ketiga temanku yang lain tiba-tiba ikut nimbrung di meja kami.

"Weeiiittss!! Ada apaan nih? Kok kayaknya ada arisan penting ya? Serius amat!" Farel merangkul bahuku sambil mendudukkan diri di sampingku. Ario dan Indra menyusul duduk di samping kanan dan kiri Ara. Lengkap sudah kesialanku hari ini.

"Ini nih, Rel! Si Izang barusan bilang kalau udah punya cewek inceran dan tinggal nembak aja. Nah waktu gue sama Ara mau konfirmasi, dianya malah ngeles," tanpa menunggu persetujuanku, Alan langsung menjelaskan duduk permasalahan kami bertiga beberapa menit yang lalu. Kulihat Ara masih menatapku dengan tatapan yang sama. Penasaran.

"Masa? Pangeran ini udah punya inceran?" kali ini Indra yang heboh sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Seandainya saat itu bukan aku yang diadili, aku pasti sudah tertawa terbahak-bahak. Tapi berhubung aku yang jadi pusat perkara, aku akhirnya hanya mengulum senyum saja.

"Eh? Seriusan nih? Wah, wah! Kok nggak pernah cerita, Bung? Tahu-tahu udah mau ditembak aja!" Ario mengedikkan dagunya padaku. Itu sudah tanda yang cukup jelas dari Ario untuk membuatku bicara. Ya, dari semua sahabatku hanya Ariolah yang paling bisa membuatku mengakui sesuatu. Saat itu rasanya aku ingin bel sekolah berbunyi tiga kali dan aku akan langsung pulang tanpa perlu memberikan pengakuan apa-apa. Keinginanku memang terwujud. Bel sekolah memang berbunyi. Namun sayangnya, bunyinya hanya satu kali. Dan itu pertanda bahwa istirahat selama 15 menit baru dimulai. Waktu yang terlalu cukup untuk membuatku mengaku. Damn! Again!

"Oke, oke, fine! Aku ngaku nih! Tadi sebenernya si Ara sama Alan emang nggak salah denger. Aku emang udah ada cewek inceran, tinggal nunggu special time aja buat nyatain perasaan. Aku nggak pernah cerita ke kalian soalnya aku sendiri awalnya nggak yakin kalau naksir sama nih cewek. Tapi setelah aku renungin dan aku pikir-pikir lagi, I think she's my type. Udah deh," jawabku sambil mencomot kue lapis Indra yang tinggal separuh. Saat itulah aku menyadari jika Ara tidak lagi menatapku. Dia menunduk sembari sesekali menghela napas panjang.

"Asyik! Cewek mana nih yang beruntung?" Farel menggodaku dengan menaikkan alis tebalnya beberapa kali. Aku memukul lengannya pelan.

"Sial, kamu kira lotre! Adalah pokoknya. Nanti kalau udah jadian juga kalian tahu sendiri orangnya siapa," jawabku sambil masih menatap Ara. Ada yang tidak beres dengannya.

"Wah, jangan-jangan si..." Indra menggantung kalimatnya. Jujur, aku sendiri penasaran dengan gadis dalam pikiran Indra. Tapi, rasa penasaranku tertepiskan oleh Ara yang tak kunjung bicara. Padahal tadi dia adalah orang yang getol mendesakku untuk mengaku.

"Ya udahlah kalau gitu, we'll see lah, biar surprise," Ario menengahi percakapan kami pagi itu. Meskipun aku sudah cukup berterima kasih karena mereka tidak mengorek info lebih jauh, tapi aku sedikit menyesal karena Ara juga tahu hal ini. Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, tapi aku merasa jika Ara tidak senang dengan beritaku barusan. Sikap diamnya juga aneh. Apa mungkin dia cemburu? Atau mungkin hanya marah karena aku tidak pernah menceritakan hal ini padanya?

...***...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!