NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Gaun Hitam dan Sorot Mata Sinis

Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya keemasan di atas ruangan ballroom hotel bintang lima tempat perayaan ulang tahun Adijaya Group digelar. Alunan musik klasik yang dibawakan oleh grup orkestra kecil mengudara lembut, berpadu dengan gemerincing gelas kristal dan gelak tawa sopan dari kalangan papan atas Jakarta.

Aura Dania berdiri di dekat pilar besar, meremas pelan gaun malam berbahan sutra hitam yang melekat di tubuhnya. Gaun itu dipotong dengan sangat pas memamerkan leher jenjangnya yang putih bersih serta lekuk tubuhnya yang anggun tanpa terkesan berlebihan. Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipoles riasan tipis bernuansa nude.

"Jangan meremas gaunmu seperti itu. Kau merusaknya," suara berat Evan berbisik tepat di samping telinganya.

Aura terkejut kecil. Ia menoleh dan mendapati Evan berdiri amat dekat. Pria itu tampak sangat mengintimidasi sekaligus tampan dengan setelan tuxedo hitam yang membalut tubuh tegapnya. Dasi kupu-kupu yang terpasang sempurna makin mempertegas kesan dingin dan tak tersentuh dari sang CEO.

"Maaf... aku hanya belum terbiasa dengan keramaian seperti ini," cicit Aura pelan. Tangannya bergetar halus saat menyadari beberapa pasang mata di sekeliling mereka mulai menatap ke arah mereka.

Evan merengkuh pinggang Aura tanpa rasa ragu, menarik tubuh wanita itu rapat-rapat ke sisinya. Sentuhan mendadak di pinggangnya membuat Aura menahan napas. Telapak tangan Evan yang lebar terasa begitu hangat menembus kain sutra tipis gaunnya.

"Tatap mataku dan tersenyumlah," perintah Evan rendah, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Aura. "Ingat, malam ini semua direksi dan mitra bisnis Adijaya Group ada di sini. Ibu tiriku pasti sudah menyiapkan banyak mata-mata untuk mencari cela dari kita."

Aura menelan ludah, memaksakan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya. "Apakah aktingku kurang bagus?"

"Cukup bagus untuk seorang amatir," sahut Evan datar, meski dalam hati ia harus mengakui bahwa penampilan Aura malam ini cukup menyita perhatiannya. Wanita di sampingnya ini tidak memakai perhiasan berlian berlebihan seperti para wanita sosialita lain, namun justru kesederhanaan dan aura alaminya yang membuat Aura terlihat berbeda.

"Evan! Akhirnya kau datang juga!" sebuah suara melengking beraksen manja memecah percakapan mereka.

Seorang wanita bergaun merah menyala dengan potongan dada rendah melangkah mendekat dengan senyum mekar. Rambut pirang gelapnya ditata bergaya wavy, dan lehernya dihiasi kalung berlian yang menyilaukan mata. Di belakang wanita itu, berjalan Siska Adijaya (ibu tiri Evan) dengan senyum sinis yang mengembang penuh kemenangan.

Wanita bergaun merah itu langsung memegang lengan Evan yang bebas, mengabaikan keberadaan Aura yang berdiri tepat di samping sang CEO.

"Aku sudah menunggumu dari tadi, Evan. Tante Siska bilang kau akan datang terlambat karena mengurus pekerjaan," ujar wanita itu penuh keakraban, seolah-olah memiliki hak istimewa atas diri Evan.

Evan menarik lengannya secara halus namun tegas dari jangkauan wanita tersebut. "Aku ada urusan keluarga sebentar, Clara. Kenalkan, ini Aura Dania, istriku."

Raut wajah wanita bernama Clara itu berubah seketika. Senyum manisnya meluntur, digantikan oleh tatapan menilai yang sangat dingin dan merendahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki Aura.

"Oh... ini wanita yang ramai dibicarakan itu?" Clara terkekeh sinis seraya menutupi bibirnya dengan kipas bulu. "Tante Siska tadi bercerita kalau Evan tiba-tiba menikah tanpa ada pemberitaan di media. Aku kira wanita seperti apa yang bisa meluluhkan hati seorang Evan Adijaya... ternyata hanya gadis biasa dari latar belakang yang... entah darimana."

Aura merasakan jemari tangan Evan di pinggangnya sedikit mengencang. Namun sebelum Evan sempat membalas, Siska menimpali dengan nada memanas-manasi.

"Jangan begitu, Clara. Mana boleh kita meremehkan menantu baru keluarga Adijaya," ujar Siska berpura-pura membela, meski suaranya sarat akan sindiran. "Meskipun Aura ini dulunya hanya staf administrasi biasa di perusahaan kecil, tapi dia sangat pintar mengambil hati Kakek Surya. Lagipula, zaman sekarang kan banyak wanita dari kelas bawah yang pandai memanfaatkan kesempatan untuk melompat ke kelas atas."

Kalimat itu bagaikan tamparan tak terlihat di wajah Aura. Seluruh ruangan terasa menyempit dan menyiksanya. Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, melirik Aura dengan pandangan menghina. Mereka memandang Aura tak ubahnya seorang wanita pemuas yang haus harta (gold digger).

Aura mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. Rasa sakit hati dan harga dirinya yang diinjak-injak membuat matanya mulai memanas. Namun, ia teringat pada wajah adiknya yang sedang berjuang di rumah sakit. Ia tidak boleh lepas kendali. Ia tidak boleh merusak rencana ini.

Sebelum air mata Aura sempat menetes, suara dingin dan berwibawa milik Evan menggelegar menembus keheningan di sekitar mereka.

"Nona Clara," panggil Evan dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup membekukan atmosfer di sekitarnya. "Apakah bisnis ekspor-impor milik keluarga ayahmu yang baru saja mengajukan pinjaman dana ke bank Adijaya sudah resmi disetujui?"

Clara tersentak. Matanya membelalak kaget. "M-maksudmu apa, Evan?"

"Jika kau dan keluargamu masih membutuhkan kucuran dana dari Adijaya Group minggu depan, aku sarankan kau menjaga lidahmu saat berbicara dengan Istri Sah Presdir Adijaya Group," kata Evan tanpa ekspresi, namun tatapannya seolah bisa menguliti Clara hidup-hidup. "Satu kata penghinaan lagi keluar dari mulutmu untuk istriku, aku pastikan seluruh pengajuan kredit keluargamu ditolak malam ini juga."

Wajah Clara seketika pucat pasi bagaikan kertas. Ia menatap Siska untuk meminta bantuan, namun ibu tiri Evan itu justru memalingkan wajah, tidak berani melawan ancaman bisnis langsung dari sang CEO.

"M-maafkan aku, Evan... aku tidak bermaksud..." ucap Clara terbata-bata, ketakutan setengah mati.

"Minta maaf pada istriku, bukan padaku," potong Evan dingin.

Dengan bibir bergetar dan rasa malu yang membakar wajahnya di depan para tamu undangan, Clara menundukkan kepala ke arah Aura. "Maafkan saya, Nyonya Aura. Saya kurang berhati-hati dalam berbicara."

Aura tertegun. Ia menatap Clara yang kini gemetar, lalu melirik Evan yang masih berdiri tegap di sisinya dengan ekspresi tak tersentuh. Ada rasa tak percaya yang membuncah di dada Aura. Pria dingin yang kemarin memandangnya dengan sebelah mata dan menyebutnya 'wanita yang menjual diri', kini baru saja membelanya dengan begitu dominan di depan semua orang.

"Kami permisi dulu, Tante Siska," ucap Evan datar tanpa menunggu jawaban, lalu membimbing Aura melangkah pergi dari hadapan dua wanita itu.

Mereka berjalan menuju area balkon luar yang lebih sepi. Angin malam yang dingin langsung menyapu wajah Aura, memberikan kesegaran dari atmosfer ballroom yang menyesakkan.

Evan melepaskan genggamannya dari pinggang Aura, lalu menyandarkan kedua lengannya di pagar pembatas balkon, menatap lampu-lampu kota di bawah sana.

Aura berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Terima kasih... untuk yang tadi."

Evan tidak menoleh. "Jangan salah paham. Aku membelamu bukan karena aku peduli padamu."

"Lalu kenapa?" tanya Aura pelan.

"Karena kau membawa nama Adijaya malam ini," jawab Evan dingin. "Merendahkanmu di depan umum sama saja dengan merendahkan harga diriku sebagai suamimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak nama keluargaku, termasuk ibu tiriku."

Aura tersenyum tipis sebuah senyuman getar yang dipaksakan. Tentu saja. Bagaimana bisa ia sempat berpikir bahwa pria berhati es ini bertindak karena rasa iba? Semuanya tetap bermuara pada satu hal: bisnis dan harga diri.

"Aku paham," cicit Aura seraya menunduk. "Terima kasih sudah menjaga nama baikmu melalui saya."

Evan membalikkan badan, menatap Aura yang berdiri kaku di bawah pendar sinar bulan. Ada kejujuran dan rasa terluka yang samar di mata wanita itu, namun Aura tetap berusaha berdiri tegap tanpa membalas dengan amarah.

Untuk pertama kalinya, Evan merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam dadanya. Rasa bersalah yang tak biasa mendadak menyusup pelan, membuat sang CEO enggan menatap mata jernih itu lebih lama lagi.

______

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!