NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:64.3k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana, Mas? Enak?

Malam perlahan menyelimuti rumah itu.

Kini di meja makan. Raya duduk seorang diri, tatapannya hanya tertuju pada makanan di hadapannya. Ia menyuapkan nasi dengan tenang.

Hingga suara langkah kaki yang saling bersahutan terdengar dari arah kamar tamu.

Raya tidak butuh untuk menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik langkah tersebut.

“Sayang.”

Suara Zevan terdengar dari belakang. Raya tetap tak menoleh sedikitpun. Ia tetap melanjutkan makannya, meski sekarang makanan yang hikmat itu terasa hambar karena kedatangan dua orang Pengkhianat itu.

“Kenapa meja makan kosong?” tanya Zevan. “Kamu nggak masak, Ray?”

Barulah Raya mengangkat wajah. Ia melirik pria itu sekilas sebelum kembali menatap piringnya.

“Minta istri barumu masakkan, dong. Atau hangatkan saja makanan yang ada di prasmanan,” ucap Raya.

“Makanannya sudah di bawa sama Ibu mertua ibuku, Ray.”

Raya meletakkan sendoknya perlahan.

“Masak mie atau beli makanan lewat online, memangnya nggak bisa.”

“Raya...”

“Gunanya punya dua istri untuk apa?” tanya Raya.

Belum sempat Zevan menjawab, suara Rara terdengar dari sampingnya.

“Mas Zevan, sudah nggak apa-apa. Mbak Raya pasti masih marah. Biar Rara saja yang masak. Lagian Rara sekarang istrinya Mas Zevan, ini juga sudah menjadi tugas Rara.”

Mendengar ucapan itu, sudut bibir Raya terangkat membentuk senyum tipis.

Raya meletakkan sendok, kemudian bangkit dari kursinya. Ia berbalik dan akhirnya menatap Rara yang berdiri di sebelah Zevan.

“Tahu diri juga rupanya,” gumamnya.

Rara menundukkan wajah.

Raya kemudian mengalihkan pandangan kepada suaminya.

“Setelah makan, datanglah ke kamar, Mas. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, empat mata dan ada kejutan juga buat kamu.”

Nada suara Raya tenang, dingin tak lagi menyimpan kelembutan pada tatapannya.

Tanpa menunggu jawaban Zevan, Raya berbalik dan meninggalkan meja makan, tanda kini sudah menjadi keputusan telak.

.

Sementara Zevan yang masih berdiri diam, namun pandangannya masih tertuju pada punggung Raya yang semakin menjauh, hingga akhirnya sosok Raya menghilang di balik tangga.

Rasa tak nyaman dan asing, mulai muncul menyelimuti perasaannya, saat melihat perubahan sikap Raya yang sebelumnya lembut dan perhatian, kini seperti bukan Raya yang ia lihat.

“Mas...”

Suara Rara membuat Zevan tersadar, kemudian ia menoleh.

“Mau Rara masakin apa, Mas?”

“Nggak perlu masak, kita pesan saja,” ucap Zevan, lalu menarik kursi dan duduk.

Rara mengangguk kecil. “Iya, Mas.”

Zevan mengambil ponselnya dari saku celana. Jemarinya membuka aplikasi pesan makanan, tetapi sebelum memilih menu, matanya kembali melirik ke arah tangga.

Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menggeleng pelan, berusaha menyadarkan pikirannya.

‘Dia hanya sedang marah. Besok juga akan kembali seperti biasa.’

Zevan kembali menundukkan kepala dan memilih makanan di layar ponselnya.

“Mau makan apa Ra?” tanyanya.

“Rara nggak pilih-pilih makanan, Mas.”

Zevan mengangguk paham.

.

.

Beberapa saat kemudian, suasana di dalam kamar.

Raya duduk di sisi ranjang, dengan sebuah koper terbuka tergeletak bawah ranjang. Sesekali ia memasukan kacang ke dalam mulutnya.

Namun perhatiannya tak lepas dari layar televisi yang masih menyalah.

Bukan sinetron atau berita yang tayang, melainkan rekaman berwarna dari kamera pengawas tersembunyi yang ia pasang sendiri di dalam kamarnya

Kini di layar itu, dua sosok yang ia kenal sangat baik—Zevan dan Rara—terlihat sedang asyik bermain panas di atas ranjang miliknya. Setiap gerakan mereka terekam jelas, tanpa ada rasa malu atau penyesalan sedikit pun.

Tak lama, suara pintu kamar yang terbuka memecah keheningan. Raya tak menoleh, tatapannya masih terpaku pada layar televisi tanpa mengubah ekspresi datarnya.

“Sudah selesai makannya?” tanya Raya dingin, lalu kembali memasukan kacang ke dalam mulutnya.

“Sudah,” jawab Zevan.

Bahkan suara langkah yang semakin mendekat pun akhirnya terhenti.

“Jadi mau bicara apa?” tanyanya Zevan.

Raya tak langsung menjawab. Tatapannya masih terkunci pada layar televisi, membiarkan Zevan merasakan ketidaknyamanan akibat diabaikan.

Baru setelah beberapa detik, ia perlahan menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang tajam dan menghakimi.

“Coba Mas lihat. Adegan panasnya hebat banget ya? Aku sampai ingin melakukannya sama suami orang,” ucap Raya.

“Apa maksudmu, Raya?”

Raya mengangkat dagunya, menunjuk ke arah layar televisi yang masih memutar adegan mesum itu.

Dan seketika, perubahan sikap Zevan tampak terlihat jelas; ekspresi tegang.

“R-Raya, ini… kenapa bisa…” suara Zevan terdengar bergetar.

Tanpa peringatan, Raya berdiri dari ranjang. Dengan ayunan tangan yang cepat dan penuh kemarahan, ia melayangkan tamparan keras ke pipi Zevan.

Plak.

Suara daging bertemu daging terdengar nyaring, berhasil membuat kepala Zevan menoleh ke samping karena kekuatan pukulan tersebut. Raya melipat kedua tangannya di dada, menatap pria itu dengan tatapan jijik.

“Ternyata selama sebulan kamu dan Rara bermain di kamarku?” tanyanya dingin. “Bagaimana? Enak?”

“Ra…”

“Apa?” potong Raya cepat, tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. “Mas ingin mengelak?”

Pria itu terdiam, mulutnya terbuka namun tidak ada kata-kata yang keluar. Kepanikan terlihat jelas di matanya.

“Kamu pasang Cctv di kamar kita?” tanya Zevan.

“CCTV sudah lama aku pasang sebelum kita nikah, Mas,” jelas Raya dengan senyuman sinis. “Bukan cuma kamar ini, tapi penjuru rumah pun, ku pasang Cctv.”

Raya lalu mengambil remote dan mengganti siaran lain. Kali ini di ruang tamu, dimana Rara dan Zevan melakukannya di sana.

Lalu ia kembali menekan tombol remote nya kembali, kali ini di halaman belakang rumah. Memperlihatkan kembali adik dan suaminya melakukan hubungan terlarang.

“Ternyata kamu cukup ganas juga, Mas.”

Hingga tiba-tiba, tangannya di raih oleh Zevan.

Raya menoleh, dan pria itu sudah duduk tersimpuh di hadapannya.

“Maafin Mas, Ray. Mas salah…”

“Berapa ribu kali kamu mengatakan maaf, Mas.”

Zevan tampak terdiam.

“Tapi sepertinya di video itu, Mas nggak merasa bersalah sedikitpun,” balas Raya tajam.

Ia kembali menekan remote televisi dan kembali menggantinya. Kali ini memperlihatkan sebuah dapur. Dimana Rara dan Zevan melakukannya.

Raya menekan tombol volume hingga suara desahan dari dalam rekaman itu terdengar jelas dan vulgar di seluruh kamar.

“Ahk… Mas Zevanhhh, enak sekali,” terdengar suara Rara dari speaker televisi.

Disusul erangan puas Zevan, “Enak, hm. Rasakan ini Rara.”

“Ughhh… Mas Zevanhhh.”

Raya menatap Zevan lekat-lekat, matanya menyala karena kemarahan.

 “Desahannya saja tanda bahwa Mas menikmatinya, di tambah goyangan Mas Zevan.”

“CUKUP, RAYA!” teriak Zevan, kesabarannya putus.

Raya memperhatikan Zevan yang kini berdiri

dan tiba-tiba, remote di tangannya direbut kasar oleh pria itu.

Layar TV pun padam seketika, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang lebih mencekam daripada sebelumnya, hanya tersisa napas berat Zevan dan tatapan dingin Raya yang tak kunjung surut.

{Revisi}

1
Ma Em
Lagian Raya dan Kansa mau saja merawat anaknya Rara dan Zevan , apa bodoh atau gimana sih mereka berdua cuma bikin penyakit saja harusnya kalau Raya sdh lepas dgn Zevan Raya tdk usah pedulikan lagi dan mau saja mengurus anak Rara dan Zevan .
Elina thea
nanti kalo keluargamu hancur,salahkan dirimu sendiri,oke~~~
Elina thea
terserahmu raya~~~
stela aza
bibitnya y aja beda kelakuan tetep mengikuti ibu kandungnya walaupun dia udh di adopsi dari bayi ,,,🤦 loe j yg bodoh mau nampung bayinya orang yg udh pernah merusak rumah tangga kamu 🤦
sunaryati jarum
Anisa, berawal kau yang salah tapi kok dendam dengan Raya.Kau bekerja dengan tekun akan enak hidupmu
sunaryati jarum
Bebas umur berapa Zevan
sutiasih kasih
ambil saja zevan buat km ra... kekepe sana suami keru smpe km muntah"😅😅😅....
raya pasti ikhlas ngasih zevan buat km seorang.... tpj jgn mmpi km bisa kuasai rmh raya ya ra.....
sutiasih kasih
ya ampun.... keluarga.... suami.... mertua parasit kok ttp km prtahankan sih ray....🙄🙄
sutiasih kasih
bu riana matamu buta ya.... mna ada sejarahnya.... perempuan perebut laki orang... adalah perempuan baik"😂😂😂
sutiasih kasih
eeee dasar musang berbulu domba.... tdi kau bilang msak cm 2 porsi....
skrg bilang ke suamimu msak 3 porsi...
dasar gundik tak tau diri kau ra.... benalu... pelakor 🙄🙄
Meee
KLO bisa mah anak sirara g di urus sama raya dan Kanza,di taroh di panti asuhan ajalah,tkt jdi petaka buat anak raya nantinya.
sunaryati jarum
Jual diri dapat uang atau mati saja Rara 🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Anisa berani mengganggu bahkan menyakiti istri bosnya sendiri, tindakan konyol menggali lubang untuk kuburnya sendiri
sunaryati jarum
Bagus
Tamirah
13131
ci
Iffanaya 😽
untung Sabina otaknya masih jalan, gk gampang kehasut omongan nya anisa
Iffanaya 😽
Rara ini definisi wanita gk tau diri, hatinya penuh iri dengki liat kehidupan raya...yakin mau ngrebut Kansa dari raya, ngelirik kamu aja gk sudi Kansa 🤣
sunaryati jarum
Bagus kamu Sabina,Pak Kansa itu tipe suami setia.Jika kamu mengikuti ajakannya kau akan hancur,Pak Kansa bukan kawanmu
sunaryati jarum
Memangnya Kansa barang, sudah ditolong mau mukul yang menolong, silahkan saja toh hanya mimpi
Tamirah
Raya kamu kok betah banget satu rumah dgn gundik suami mu.Apa lagi gundiknya adikmu sendiri yg gak punya hati.m





ih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!