Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Maudy dan Roy kini tengah berjalan bersama di lorong kantor, mereka hendak pergi. Yang satu akan mengurus koper yang Jordan berikan tadi.
Sedangkan yang satunya harus mengurus para investor yang telah rewel lantaran saham yang turun akibat gagal produk.
"Kau sadar tidak si kalau Anne itu cuma mau memanfaatkan bos kita?" Ucap Roy dan di balas anggukan oleh Maudy yang sedang menyeruput kopi panas.
"Sadar, dia itu memang tidak pernah cinta sama Jordan"
"Maksudnya"
Maudy pun merangkul Roy dan menunduk. "Jangan kasih tau siapapun, ini rahasia" Ucap Maudy berbisik.
"Ok"
"Sebenarnya aku pernah melihat Anne selingkuh dengan pria lain, saat sedang membeli Jas untuk pak Jordan"
Ingatan Maudy pun kembali ke beberapa bulan sebelumnya. Saat itu ia tengah berada di swalayan, ia menghampiri salah satu butik yang sering ia kunjungi.
"Semuanya jadi berapa mba?" Tanya Maudy pada kasir yang tengah berjaga di tempatnya.
"Baik, semuanya jadi 6 juta, mau cash atau kredit?"
"Kredit saja mba" Maudy pun menyerahkan Kartu kredit milik Jordan yang sempat ia serahkan untuk membeli beberapa barang.
Setelah selesai Maudy pun keluar dari Butik itu. Ia pun berjalan menuruni eskalator. Baru saja ia menuruni eskalator itu, ia sudah di kejutkan dengan pemandangan yang bahkan ia, tak pernah bayangkan sebelumnya. Ia melihat Anne dengan pria lain. Pria itu bahkan menaruh lengan tangannya ke pinggang Anne dan mereka benar-benar tampak begitu mesra.
"Bukannya itu Anne?" Batin Maudy, ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat salah. Namun rupanya itu benar. Maudy pun berlari, ia pindah eskalator yang kini membawanya naik ke atas.
Dirinya tak hanya diam di eskalator itu, ia berlari mencoba mengejar Anne. Dan beruntungnya dia, ia masih sempat. Ia kembali lagi ke tempat awal sejak ia pergi tadi, ke tempat saat beberapa menit yang lalu, tempat ia membeli Jas untuk bosnya.
"Ternyata benar, itu Mba Anne, Tega sekali dia menduakan pak Jordan" Ucap Maudy kala itu dan memotret mereka secara diam-diam.
***
"Jadi ini beneran?" Tanya Roy yang terkejut melihat foto yang Maudy berikan padanya.
Maudy mengambil ponselnya, Roy pun cemberut saat itu juga. "Yaelah kok di ambil si?"
"Bahaya kalau sampai ada yang lihat"
"Kenapa kau tak pernah memberitahu Pak Jordan, ini berita yang penting Maudy"
"Lalu apa kau pikir pak Jordan akan percaya dengan bukti ini. Kalau dia berpikir ini hanya editan bagaimana? sudahlah Roy, jika ingin hidup tenang lebih baik jangan ikut campur urusan orang sekalipun kamu tahu kebenarannya"
"Benar juga si"
"Sudahlah, lebih baik kita bekerja sekarang"
***
Di sebuah rumah besar, seorang wanita tengah di sandra di dalam rumahnya sendiri. Ia terus menangis mengeluarkan air mata kesakitan yang tak kunjung pudar. Kakinya terikat oleh rantai yang membuat tangan kanan dan kirinya penuh luka sayatan di nadi. Dirinya benar-benar rapuh bahkan hancur.
"Kenapa harus seperti ini, hidupku sudah cukup menderita kenapa kamu juga harus membuatku semakin menderita seperti ini?" Ucap wanita itu pada Pria di hadapannya.
"Aurora, kau pikir apa tujuanku menikahi wanita cacat sepertimu jika bukan untuk hartamu. Kakekmu saja yang bodoh menyerahkan semua pada cucunya yang bahkan sama sekali tak bisa mengurus perusahaannya."
"Aku cacat itu juga karenamu, kau yang buat aku kehilangan semuanya. Kau bahkan membunuh satu-satunya orang yang peduli padaku dan kau juga yang membuat mata kananku menjadi buta. Kau yang buat aku menderita dasar iblis."
Pria itu bernama Kris, ia adalah suami Aurora. Orang yang bahkan tak pernah peduli padanya, Ia bahkan terus menyiksa Aurora hingga mati rasa bahkan berkali-kali sempat ingin bunuh diri.
Pria itu mendekati Aurora, bersamaan dengan itu beberapa orang yang merupakan bodyguard, juga ikut maju bersama dengan Kris.
Kris berjongkok di hadapan Aurora yang kini tengah duduk di balik pintu, lantaran berusaha untuk keluar. "Tanda tangan!" Paksa Kris namun Aurora menolaknya.
"Tidak akan, jangan pernah berharap aku akan menanda tangani surat ini dasar brengsek" Kris pun menodongkan sebuah pisau di depan Aurora. Namun perempuan itu sama sekali tak takut ia justru malah tertawa.
"Bunuh aku Kris, Bunuh aku!"
"Dasar gila, Tanda tangan!"
"Tidak mau, bahkan jika harus mati aku tidak akan mau memberikan tanda tangan itu padamu. Aku tak akan membiarkan kau mendapatkan sepeserpun harta dari keluarga Darren, tak akan"
Kris rupanya tak bercanda ia menyayat pipi mulus aurora dan kemudian menusuk perut wanita itu. "Dengar Aurora, adikmu yang sangat baik hati itu masih ada di tanganku, jika ingin dia selamat maka tanda tangan!"
"Kau bohong, asal kau tahu aku sudah menyembunyikan dia di tempat yang jauh. Bahkan orang rendahan sepertimu tak akan bisa menyentuhnya sama sekali"
Kris tersenyum, ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang dan menyuruhnya untuk masuk. "Bawa gadis kecil itu masuk sekarang"
Aurora pun membelalakkan matanya terkejut, namun ia sudah menyembunyikan adiknya dengan benar di suatu tempat yang aman. "Kau pikir aku akan percaya"
"Kretttttt" Suara knop pintu terbuka, beberapa orang datang dengan seorang gadis kecil berusia sekitar 7 tahun datang, dengan wajah yang babak belur serta borgol di tangannya.
"Kakak" Teriak gadis kecil itu pilu melihat sang kakak yang bernasib sama dengannya.
"LUNAAAAAA" Teriak Aurora pecah saat ia melihat kris yang sudah berada di samping Luna dan menodongkan pisau belati ke leher gadis kecil itu.
"Kakak, Luna takut"
"Luna, tapi kakak harus bagaimana sekarang?"
Kris tersenyum, "Rora, aku tak akan bicara ini untuk yang kedua kalinya. Aku kan lepaskan kalian berdua jika kau mau tanda tangan dengan benar"
Dengan terpaksa Aurora menandatangi surat itu, Surat peralihan kekuasaan. Dari tangan Aurora beralih kepada Kris.
"Bagus sayang, ini baru istri yang baik. Kalau kamu menurut aku tidak akan menyakiti siapapun." Ucap Kris sebari tersenyum menyeringai.
"Sekarang, lepaskan Luna!"
Kris pun melepaskan Luna, Gadis kecil itu memeluk kakaknya. Tepat setelah pelukan itu, "Dorrrrr" sebuah peluru pistol di tembakkan tepat mengenai kepala Luna sehingga membuat gadis kecil itu tewas, tepat di hadapan kakaknya.
"LUNAAAAAAAAAAA"
Teriakan Aurora terdengar hingga hampir seluruh penjuru ruangan. Tak ada satupun dari pembantu atau bahkan ajudan yang membantunya.
Ia memeluk adik kecilnya itu dengan tangan yang bergetar, menangis hingga tak lagi mampu meneteskan air mata.
Tangannya di tarik oleh para bodyguard itu, ia meronta. Mencoba menyelamatkan adiknya walau ia telah tiada.
"Lepas, saya harus selamatkan Luna" Kris tersenyum seolah dia benar-benar menang. Aurora yang melihat itu semakin terpuruk.
"Dasar suami brengsek, tidak tahu balas budi"
Para orang Berjas hitam itu membawa Aurora dan Luna keluar dari raungan itu. Salah satu dari mereka menggotong tubuh gadis kecil itu yang sudah penuh dengan luka.
Di tangga rumah besar itu, seorang wanita yang sangat ia benci kembali datang. Wanita dengan senyuman kemenangan seolah telah mengalahkan Aurora.
"Anne" sambut Kris kepada wanita selingkuhannya itu.
Mata kedua wanita itupun bertemu, Anne menaiki tangga rumah besar itu dengan sambutan yang hangat dari suami Aurora, sedangkan Aurora sendiri, tengah di paksa pergi oleh suaminya.
Di seret oleh beberapa orang menuruni anak tangga besar itu, pergi dari rumah yang sudah ia singgahi sejak kecil.
"AKU BERSUMPAH KRIS, JIKA AKU PUNYA KESEMPATAN SEKALI LAGI, AKAN AKU BUAT HIDUPMU MENDERITA" Teriakan terakhir Aurora, sebelum akhirnya ia di pindahkan ke mobil.
"Dia memberimu sumpah, kau tak marah?" Ucap Anne kepada Kris.
"Ayolah sayang, Aku sudah dapat tanda tangannya. Sekarang semua ini akan jadi milik kita" Anne senang, ia bahkan memeluk Kris dengan begitu bahagia. Dialah Anne, pacar dari seorang Pengusaha sukses yang bernama Jordan, namun juga memiliki rahasia. Bahwa dia juga merupakan simpanan dari suami orang.
"Kamu tahu Kris, tada" Anne menunjukkan Kalung berlian yang ia dapatkan dari Jordan.
"Kamu itu memang pintar"
"Siapa dulu kalau bukan istri kamu"
"Sayangku ini memang pintar"
"Luna, jangan bawa dia pergi" Di dalam mobil wanita itu terus mengetuk jendela belakang. Berteriak meminta bantuan.
Luna berada di mobil lain, kedua mobil itu kini berjalan bersama pergi meninggalkan rumah mewah itu. Di depan gerbang, kedua mobil itu terpisah saling berlawanan arah.
"Lunaaaaa" Dialah kakak yang baik, mungkin dirinya penuh kekurangan. Wanita yang cantik namun juga salah memilih langkah dalam hidupnya.
Ia bahkan harus melihat satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini, harus meninggal tepat di depan matanya. Aurora, gadis yang hanya ingin di cintai, namun hidupnya penuh dengan kisah yang tragis. Semua orang yang ia sayang pergi tanpa ada satu orang pun yang tersisa.
BERSAMBUNG