Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04. Acara Perayaan dan Kehancuran
Naya menelepon Bundanya ketika sudah duduk di bus. Memberitahukan kalau dia akan pulang larut sebab ada acara. Bunda memperbolehkan namun dengan pesan untuk hati-hati dan jaga diri.
"Iya, Bunda. Nanti Naya kabarin lagi, love you."
Begitulah Naya mengakhiri teleponnya.
Sepanjang perjalanan Naya hanya berdiam sendirian di pojok, menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala ketika senja menyapa.
Suara pendingin udara berdengung pelan, beradu dengan riuh tawa dan obrolan antusias para karyawan dari divisi lain yang sibuk membahas bonus dan hidangan yang akan disajikan di hotel nanti.
Naya menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin. Kacamatanya yang agak miring mencerminkan raut wajahnya yang pucat dan kelelahan. Jemarinya meremas tali tas selempang di pangkuan, mencoba menghalau rasa pusing yang merayap akibat kurang tidur berturut-turut.
Di kursi tepat di depan Naya, Lady dan Marina duduk berdampingan. Marina sibuk memoles ulang lipstiknya di cermin kecil, sementara Lady menoleh ke belakang dengan senyum penuh sindiran.
"Gitu dong, Nay. Mau ikut," celetuk Lady cukup keras hingga beberapa rekan di sekitarnya menoleh. "Anak baru tuh harus pinter membaur. Jangan sampai Pak Danang mikir kamu sombong cuma gara-gara baru dapet bonus pribadi."
Marina tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari cerminnya. "Iya, lagian rugi banget kalau enggak ikut. Makanan di hotel bintang lima kan mahal, kapan lagi makan gratis ditanggung kantor?"
Naya hanya menyunggingkan senyum tipis yang amat terpaksa. Senyum formalitas yang selalu ia pasang untuk menghindari konfrontasi. "Iya, Kak..." bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
"Inget ya, nanti pas sampai sana, kamu jangan cuma mojok atau sibuk main HP," tambah Lady dengan nada mendikte. "Kamu harus ikut toast bareng tim. Biar kelihatan kalau divisi Administrasi itu kompak."
Naya mengangguk pasrah. "Iya, Kak Lady. Nanti Naya ikut."
Di sudut lain bus, Gea yang duduk di kursi dekat pintu depan memperhatikan interaksi itu dari cermin tengah. Wanita itu menggeleng pelan, tahu betul Naya kembali menyerah pada rasa "tidak enakan"-nya.
Sementara Bian dan Raka di barisan paling belakang asyik bersendagurau dengan tim lain, sama sekali tak berniat mencampuri urusan tiga orang yang selalu saja begitu.
Naya kembali membuang pandangannya ke luar jendela, menatap deretan lampu jalanan Jakarta yang membias kabur di matanya yang makin berat. Di dalam hatinya, ia hanya berharap acara malam ini cepat selesai agar ia bisa segera pulang dan membaringkan tubuhnya di kasur.
Naya sama sekali tidak menyadari, perjalanan di dalam bus ini sedang membawanya lurus menuju satu malam yang akan meruntuhkan seluruh rencana hidupnya.
***
Di lounge eksklusif hotel bintang lima tersebut, perayaan sudah berlangsung hangat. Rafael Ibra berdiri di sudut meja bar dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku. Jam tangan kulitnya berkilat tertimpa pendar lampu gantung keemasan.
Sebagai Lead Engineer yang memegang peranan vital dalam kalkulasi struktur proyek BSD, Ibra sejak awal menjadi incaran utama para petinggi dan kontraktor. Denting gelas dan ajakan toast tak henti-hentinya mengarah padanya.
Ibra merogoh saku celananya, memastikan sebuah keycard bernomor S-1004 yang tadi siang sengaja ia pesan di resepsionis lantai dasar sudah aman berada di dalam sakunya. Ia sangat paham kapasitas dirinya. Daripada memaksa diri menyetir pulang ke apartemen dalam keadaan mabuk berat nanti malam, Ibra memilih menyewa satu kamar suite di lantai 10 untuk beristirahat.
"Ib, lo gila ya? Ini udah sloki ke berapa dari Pak Hendra?" Dion menyenggol lengannya sambil membawa gelas bir. "Muka lo udah merah tuh."
Ibra memijit pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri. Pandora rasa panas mulai menjalar dari dadanya naik ke pelipis. "Kepala gue mulai berat, Yon. Gue cuma mau bertahan sampai sesi sambutan direksi selesai, habis itu gue mau naik ke atas."
"Untung lo udah amankan kamar duluan," kekeh Dion sambil menepuk bahu sahabatnya itu. "Nanti kalau lo udah mau tumbang, biar gue yang bilang ke Pak Hendra kalo lo lagi butuh istirahat."
"Thanks," sahut Ibra datar, matanya menatap tajam namun samar ke arah kerumunan direksi di tengah ruangan.
Di sisi lain pintu kaca lounge terbuka, menyambut rombongan divisi Administrasi dengan dentum musik lounge dan pendar lampu keemasan yang remang. Naya melangkah canggung di belakang Lady dan Marina, matanya mengedar menatap deretan meja tinggi yang penuh dengan gelas-gelas kaca dan botol minuman.
Naya segera menuju ke meja bundar di sudut ruangan yang relatif tenang. Tubuhnya terasa begitu lemas, kepalanya makin berat. Ketika seorang staf waiter melintas membawa nampan berisi aneka minuman, Naya langsung menghentikannya.
"Mas, maaf, saya minta soda aja ya...," bisik Naya pelan sambil menyunggingkan senyum sopan.
Namun, sebelum jemari Naya sempat menyentuh kaleng soda dingin yang disodorkan waiter, sebuah tangan melayang cepat memotong jalurnya. Marina menyambar kaleng soda itu dan meletakkannya kembali ke atas nampan waiter.
"Eh, mau ngapain kamu, Nay?" tegur Marina dengan suara melengking. "Datang ke perayaan kemenangan proyek bintang lima cuma mau minum soda? Lucu banget!"
"I-iya, Kak Marina... aku pusing banget, mau yang segar-segar aja," cicit Naya pelan, berusaha menggapai sodanya lagi.
Lady mendekat membawa dua gelas sloki berisi cairan bening beraroma menyengat yang langsung menohok hidung Naya. Senyum sinis terpatri di wajah Lady. "Kamu itu udah dapet bonus paling besar dari Pak Danang, Naya. Masa diajak toast selebrasi tim malah milih minum soda anak kecil? Mau bikin kita kelihatan enggak kompak di depan divisi lain?"
"Tapi Kak Lady, aku beneran enggak bisa minum yang beralkohol..." tahan Naya dengan tangan gemetar. "Aku enggak pernah minum sama sekali..."
"Semua orang juga dulunya enggak pernah minum, Nay! Nanti juga biasa," potong Lady menyodorkan gelas sloki itu tepat ke depan wajah Naya. "Ini namanya menghargai usaha tim. Pak Danang sama Pak Hendra aja tuh di meja sebelah lagi toast pakai alkohol. Masa kamu yang anak emasnya malah sok suci?"
"Ayo dong, Naya! Tinggal sekali teguk aja kok, pelit amat sih!" cerocos Marina memegang pundak Naya, mengunci pergerakan gadis itu agar tidak bisa mundur. "Kalau kamu enggak mau minum, artinya kamu enggak mau membaur sama kita-kita. Besok-besok jangan salahin kita ya kalau kamu disampingkan dari tim!"
Ancaman terselubung dan tekanan sosial di depan puluhan pasang mata itu membuat Naya terkepung. Tatapan tajam Lady, pegangan erat Marina di bahunya, serta ketakutannya akan diasingkan di kantor merobohkan benteng pertahanannya.
"G-gelasnya kecil kan, Kak...?" tanya Naya pasrah dengan mata berkaca-kaca.
"Nah, gitu dong! Cuma satu sloki, habis itu bebas!" seru Lady puas, langsung menjejalkan gelas kaca kecil itu ke jemari Naya yang dingin.
Naya memejamkan mata rapat-rapat, menahan napas, lalu menenggak cairan beralkohol itu sekaligus. Rasa terbakar yang amat dahsyat seketika meledak di tenggorokannya, mengalir panas menghantam perutnya yang kosong. Naya terbatuk-batuk hebat, matanya hampir melelehkan air mata menahan rasa pahit dan panas yang mencekik.
"Wajahnya langsung merah! Hahaha, lucu banget si anak baru!" gelak Marina bertepuk tangan gembira.
Lady menyunggingkan senyum culas pada Marina, memberi kode mata yang sama-sama mereka pahami.
Satu sloki ini baru permulaan.
***
Ibra memutuskan naik sebentar ke lantai enam untuk menaruh jas formal dan tas kerjanya di kamar S-1004 sebelum sesi puncak dimulai. Koridor lantai sepuluh terasa sangat tenang berkat karpet tebal yang meredam suara langkah kakinya.
Menggunakan keycard-nya, Ibra membuka pintu kamar. Ia melempar jas serta tasnya ke atas sofa empuk di sudut ruangan. Rasa pusingnya membuatnya terbaring, namun hanya beberapa menit saja.
Sebab berselang setengah jam, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama Pak Hendra tertera di layar.
"Ibra, kamu di mana? Pak Danang dan tim utama kontraktor mau angkat gelas terakhir buat selebrasi penutupan! Turun sebentar ke lounge!" suara Pak Hendra menggema dari seberang telepon dengan nada tinggi yang ceria.
"Iya, Pak. Saya turun sekarang," jawab Ibra singkat.
Dengan pandangan yang mulai membayang dan kepala yang makin pusing, Ibra berbalik keluar kamar. Tanpa ia sadari, karena terburu-buru dan pengaruh alkohol yang mulai melumpuhkan fokusnya, Ibra hanya mendorong pintu kamar tersebut tanpa mengeceknya lagi.
Di saat yang bersamaan, mekanisme smart lock otomatis pada pintu nomor 1004 itu sedang mengalami masalah low battery. Indikator lampu pada gagang pintunya hanya berkedip merah cepat tanpa berhasil mendorong lidah kunci ke dalam bingkai pintu secara sempurna. Pintu itu tampak tertutup rapat dari luar, namun sebenarnya tidak terkunci sama sekali.
Ibra yang sudah setengah teler melangkah kembali menuju lift, sama sekali tidak menyadari kelalaian fatal pada pintu kamarnya sendiri. Sehingga disaat yang bersamaan, ketika Naya sudah terkulai dan hampir ambruk, ia dibopong oleh Marina dan Lady ke lantai atas.
Naya sama sekali tidak mengingat berapa banyak cairan membakar yang telah melewati kerongkongannya. Setelah sloki pertama yang dipaksakan, Lady dan Marina menariknya ke meja bundar untuk ikut permainan Truth or Drink.
Setiap kali giliran berputar, tuduhan, pertanyaan menyudutkan, dan desakan untuk minum terus mengarah padanya. Naya yang polos dan tidak tahu cara menolak hanya bisa menelan kepahitan itu bulat-bulat.
Kini, pandangan Naya benar-benar kabur. Kesadarannya merosot drastis. Kepala gadis itu terkulai lemas di bahu Marina, sementara kakinya tak mampu lagi menumpu bobot tubuhnya sendiri.
"Duh, berat banget sih nih anak!" keluh Marina sambil terengah-engah memapah pinggang Naya.
"Gara-gara kebanyakan minum, hampir pingsan kan dia! Terus ini mau dijatuhin di mana, Kak Lady? Rencana tadi masih berlaku,kan?"
Lady yang berjalan melangkah cepat di samping mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor lantai sepuluh yang sepi. "Iya. Tadi gue dengar panitia sewa beberapa kamar di lantai ini buat transit. Cari aja kamar yang bisa dibuka. Kita masukin dia ke dalam, biar dia bingung sendiri pas bangun besok pagi."
"Haha, setuju! Biar tahu rasa si anak emas Pak Danang," kekeh Marina.
Sebelumnya, mereka memang berencana membuat Naya kapok. Tak ada salahnya memberi pelajaran bukan?
Kembali pada mereka menyusuri lorong berkarpet tebal itu, memutar gagang pintu satu per satu secara acak. Kebanyakan pintu terkunci rapat—hingga langkah Marina terhenti di depan kamar bernomor 1004
Ketika jemarinya menekan gagang pintu besi cold-metallic itu, terdengar bunyi klek yang sangat pelan. Tanpa perlu menempelkan kartu, pintu kayu berdesain mewah itu terdorong terbuka lebar.
"Wah, hoki! Yang ini enggak dikunci!" bisik Lady kegirangan.
Tanpa buang waktu, mereka menyeret tubuh Naya yang setengah sadar ke dalam kamar. Dalam ruangan yang terang, mereka membaringkan Naya begitu saja di atas ranjang king size yang empuk. Naya hanya mengerang pelan, matanya terpejam rapat dengan napas yang berbau alkohol tajam.
"Selamat menikmati malam, Naya," bisik Marina sinis, melempar tas Naya ke nakas sebelum mematikan lampu utama, membiarkan lampu temaram yang masih menyala.
Mereka berdua pun bergegas keluar, mendorong pintu kamar hingga rapat dan kembali tanpa menyadari bahwa sistem smart lock yang rusak itu gagal mengunci lidah pintu dari dalam.
Tiga puluh menit berlalu.
Langkah kaki Ibra menyeret berat di sepanjang koridor lantai enam. Acara penutupan di bawah akhirnya selesai, namun harga yang harus ia bayar adalah kesadarannya yang hancur total. Rasa panas membakar dada dan kepalanya berputar hebat, menyisakan pandangan yang makin kabur.
Dengan sisa tenaganya, Ibra mendorong pintu kamar 1004 yang memang tidak terkunci. Sampai di dalam, Ibra menggeser grendel untuk mengunci pintu kamarnya agar lebih aman. Tanpa menyalakan lampu karena matanya sudah terlalu silau dan sensitif, Ibra melepas sepatu dan melangkah limbung mendekati ranjang.
Ia meluruhkan tubuh jangkungnya ke atas kasur empuk, berniat melepas rasa pusing yang teramat sangat. Namun, saat lengannya terhempas ke samping, jemarinya tidak menyentuh sprei kosong, melainkan bersentuhan dengan kulit hangat dan sosok tubuh seseorang yang terbaring pasrah di sana.
Efek alkohol yang begitu pekat merusak logika dan naluri Ibra seketika. Dalam kegelapan yang pekat dan ketidakberdayaan yang sama akibat racun alkohol, takdir menjebak mereka dalam satu malam kelam—kesalahan fatal yang esok pagi akan meruntuhkan seluruh dunia Naya tanpa ampun.
Dan, ya. Semuanya terjadi. Begitu saja.
Makasih thor lanjut up ya