Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Beberapa bulan telah berlalu dan Karisa sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
Dan saat ini Karisa sedang berada di TK tempatnya mengajar. Karisa terlihat sedang duduk termenung di halaman TK sambil memperhatikan anak-anak sedang bermain karena saat ini sedang jam istirahat.
"Hai Karisa, kenapa melamun?" Vanya teman seprofesi Karisa datang menghampiri Karisa.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Karisa terlihat lesu dan tak bersemangat.
"Ceritalah kalau memang ada masalah jangan di pendam sendiri nanti jerawatan." Vanya mencoba menghibur Karisa.
"Kamu ini!" Karisa memukul pelan lengan Vanya.
"Aku sedang bingung Vanya, sudah hampir 4 bulan sejak aku keluar dari rumah sakit aku tidak pernah menstruasi, aku takut Vanya jangan-jangan aku terkena penyakit serius."
Karisa menatap kosong ke arah anak-anak yang sedang asik bermain.
"Ya ampun Karisa aku pikir ada masalah apa? Kalau cuma terlambat menstruasi itu sih hal biasa, aku aja kalau lagi capek atau lagi banyak pikiran juga sering nggak menstruasi sampai beberapa bulan. Eh tapi...., jangan-jangan kamu hamil Karisa!" Vanya memengang tangan Karisa sambil tersenyum bahagia.
Karisa menggeleng dan wajahnya terlihat semakin murung.
"Nggak Vanya aku sudah coba cek pakai tespek beberapa kali dan hasilnya selalu negatif."
"Ya ampun Karisa, kamu ini. Terkadang tespek itu belum tentu akurat, ada kok beberapa kasus kehamilan yang tidak terdeteksi oleh tespek tapi setelah di cek ke rumah sakit eh, ternyata benar hamil."
"Apa iya Vanya?" Wajah Karisa terlihat sembringah ada secercah harapan di hatinya.
"Iya benar, coba saja kamu cek dulu ke rumah sakit siapa tahu kamu juga termasuk kehamilan yang sulit terdeteksi oleh tespek, tapi jangan terlalu berharap juga. Hanya untuk memastikan saja agar kamu tidak terlalu kecewa seandainya tidak hamil toh kamu juga masih muda masih banyak kesempatan."
"Baiklah nanti sepulang mengajar aku akan pergi ke rumah sakit untuk periksa."
"Ting..Ting...Ting...." Lonceng tanda jam istirahat telah berakhir berbunyi. Karisa dan Vanya mengajak anak-anak masuk ke ruangan masing-masing.
Tak terasa jam pelajaran pun usai Karisa bersiap untuk pulang. Karena jam pulang Karisa dan Farhan berbeda Karisa biasanya pulang naik ojek. Tapi karena hari ini ia ingin pergi ke rumah sakit Karisa merasa perlu memberi tahu Farhan suaminya.
Ia pun memutuskan untuk menelpon Farhan.
"Halo mas, assalamualaikum.?" Ucap Karisa saat panggilan telepon itu sudah tersambung dengan suaminya.
"Waalaikumsalam, ada apa Karisa, apa kamu sudah pulang?"
"Iya mas aku sudah pulang, aku cuma mau ngabari kamu kalau sebelum pulang aku mau mampir ke rumah sakit dulu, aku takut kamu khawatir kalau saat pulang nanti aku belum sampai di rumah." Ucap Karisa.
"Apa ke rumah sakit? Apa kamu sakit? Apa terjadi sesuatu? Sekarang kamu di mana?"
Serentetan pertanyaan di tanyakan Farhan secara beruntun bahkan Karisa sampai tidak tahu harus menjawab yang mana.
"Aku masih di TK , aku..."
"Aku segera ke sana!" Tut...Tut...Tut... sambungan telepon di putus begitu saja oleh Farhan.
"Aku tidak apa-apa mas." Ucap Karisa pada handphone yang layarnya sudah menghitam karena sambungan teleponnya sudah di putuskan.
15 menit berlalu Farhan sudah sampai di depan TK tempat Karisa mengajar, berhenti tepat didepan Karisa yang sedang berdiri menunggunya.
Di parkirkannya sepeda motornya dengan terburu-buru lalu langsung melihat Karisa dari atas sampai bawah lalu memutar tubuh Karisa untuk melihat bagian belakangnya.
"Sudah lah mas jangan bertingkah konyol, aku baik-baik saja." Ucap Karisa sambil geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.
"Kalau baik-baik saja ngapain ke rumah sakit?" Tanya Farhan, namun dengan mimik wajah yang sudah terlihat tidak khawatir lagi.
"Itu mas, kamu kan tau soal yang aku bicarakan kemarin mengenai menstruasi ku yang tidak pernah datang lagi semenjak aku pulang dari rumah sakit waktu itu, aku mau mengeceknya soalnya kata teman aku siapa tahu aku hamil." Ucap Karisa pelan dan ragu-ragu.
Deg...! Farhan panik mendengar penuturan Karisa.
"Sayang bukannya kamu sudah cek menggunakan tespek dan hasilnya negatif, lalu untuk apa kerumah sakit lagi? Sebaiknya kita pulang saja ya." Farhan berucap dengan lembut sambil membelai kepala Karisa dia bingung sekaligus takut kalau Karisa memaksa tetap ingin kerumah sakit apa yang harus dia lakukan.
"Mas aku hanya ingin memastikan sebentar saja, kalau memang kamu sibuk dan harus kembali ke sekolah, aku bisa pergi sendiri. Aku tidak akan lama, begitu selesai aku akan langsung pulang." Bujuk Karisa.
"Aku bilang naik, kita pulang sekarang!" Farhan langsung naik ke sepeda motornya dan menghidupkan sepeda motornya tanpa memperdulikan wajah Karisa yang terlihat sedih.
Sebenarnya bukan Farhan tidak tahu kalau saat ini Karisa sangat kecewa, tapi Farhan takut kalau sampai Karisa tahu kenyataannya, dia tidak akan sanggup menerimanya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah mereka Karisa hanya diam, padahal biasanya dia selalu berbicara walaupun sambil teriak-teriak agar Farhan bisa mendengarnya walaupun sedang memakai helm.
Sesampainya di rumah Karisa masih diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
Ia langsung turun dari sepeda motor, padahal sepeda motornya belum berhenti sempurna.
Ia membuka pintu dan langsung masuk meninggalkan Farhan begitu saja.
Setelah memarkirkan sepeda motornya di garasi Farhan masuk perlahan ke dalam rumah, di lihatnya di ruang tamu tapi Karisa tidak berada di sana lalu matanya tertuju pada pintu kamar yang tidak tertutup di lihatnya Karisa sedang berbaring miring membelakangi pintu. Perlahan dia mendekat dilihatnya tubuh Karisa sedikit bergetar menandakan ia sedang menangis.
"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih."
Karisa sama sekali tidak bergeming ia terlalu kecewa dengan sikap Farhan.
Farhan yang tidak bisa berbuat apa-apa memilih untuk pergi dan membiarkan Karisa sendiri agar dia bisa menenangkan diri.
"Istirahatlah dulu nanti kalau hatimu sudah lega kita makan, aku siapkan makanannya dulu."
"Ckleeek..." terdengar suara pintu yang tertutup. Karisa perlahan berbalik lalu duduk.
"Kamu jahat mas, apa kamu tidak tahu betapa inginnya aku punya anak mas, kenapa mas apa kamu tidak ingin kita punya anak?" Karisa memeluk kedua lututnya kemudian membenam wajahnya di antara kedua lututnya dan kembali menangis terisak.
Sementara Farhan yang masih berdiri di depan pintu kamar hanya bisa bersandar di pintu kamar memejamkan mata sambil mendongak, sebulir air mata mengalir di pipinya menggambarkan betapa saat ini hatinya juga terasa sangat pedih.
Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan Farhan memilih pergi ke dapur melihat sesuatu yang bisa dia olah menjadi masakan lezat berharap bisa sedikit menghibur hati Karisa yang saat ini sedang bersedih.
Setelah beberapa saat, Farhan sudah selesai dengan aktivitasnya di dapur, beberapa masakan sudah di hidangkannya di meja makan namun Karisa masih juga belum mau keluar dari kamar.
"Karisa sayang kita makan dulu yuk." Farhan kembali menghampiri Karisa ke dalam kamar.
"Aku sedang tidak berselera mas, kamu makan saja duluan." Ucapnya dengan suara parau karena habis menangis.
"Jangan begitu makan lah sedikit, agar tidak sakit." Bujuk Farhan dengan sabar.
Karisa hanya diam menatap wajah Farhan namun seolah berkata memang itu yang aku mau.