NovelToon NovelToon
SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

SEPERTIGA (MANUSIA, DEWA DAN SILUMAN)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.

Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.

Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — DESA KEENAM: KECEMBURUAN

Kabut ungu beracun menggantung rendah di atas tanah berpasir hitam di wilayah perbatasan selatan. Desa Tirta Kencana—yang dulunya terkenal sebagai oase subur tempat berseminya persahabatan antar ras—kini tampak seperti cermin retak yang memantulkan keburukan rupa. Tidak ada lagi gemercik air mancur atau tawa anak-anak; yang terdengar hanyalah desis angin malam yang membawa hawa dingin kecemburuan murni, merusak setiap ikatan batin yang pernah tercipta di tempat itu.

Lu Chen menghentikan laju kuda anginnya tepat di tugu perbatasan desa yang kini telah berlumut dan retak. Tato segel di dadanya—tanda tak terpisahkan dari identitasnya sebagai perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, dan sepertiga siluman—berdenyut hangat, mengirimkan sinyal kewaspadaan langsung ke dalam aliran darahnya. Pendaran tiga warna yang terpancar dari balik jubahnya bergetar pelan, merespons racun emosional yang jauh lebih halus namun mematikan dibanding kemarahan atau kebencian.

"Tempat ini terasa sepi, tetapi atmosfernya sangat menyesakkan," bisik Xue Ling, jemarinya secara insting mencengkeram hulu pedang peraknya. Matanya menatap tajam ke arah rumah-rumah panggung yang berjajar sunyi dengan pintu-pintu yang terkunci rapat dari dalam.

Lu Chen melangkah turun dari pelana, menapakkan kakinya di atas tanah berpasir yang terasa lembap oleh sisa-sisa air mata. "Mereka tidak saling membunuh dengan pedang," ucap Lu Chen dengan suara rendah, manik matanya yang memancarkan pendar tiga warna menatap lurus ke arah alun-alun pusat desa. "Mereka mati perlahan karena racun di dalam hati mereka sendiri—rasa iri melihat kebahagiaan sesama."

Benar saja. Ketika mereka memasuki area alun-alun, pemandangan yang tersaji membuat napas Lin Yue tertahan di tenggorokan. Puluhan warga desa tergeletak tak bernyawa dalam posisi saling mencakar bayangan mereka sendiri. Di wajah mereka terukir ekspresi kepedihan yang mendalam; mata mereka melotot lebar, menatap iri pada orang-orang terdekat yang dianggap memiliki kehidupan lebih baik, kekuasaan lebih tinggi, atau berkah yang lebih sempurna.

Lu Chen berjongkok di sebelah sepasang suami istri fana yang tewas dalam keadaan saling mencengkeram leher, sementara di tangan mereka masing-masing tergenggam cermin retak.

JLEB!

Rasa sakit yang menusuk kembali menghantam ulu hati Lu Chen. Identitas campurannya membuatnya mampu menyelami sisa-sisa memori jiwa yang tertinggal di udara. Di dalam kepalanya, suara-suara berbisik meracuni kesadaran: “Kenapa dia yang dipilih?”, “Kenapa darahnya lebih mulia dari darahku?”, “Dia tidak layak bahagia sementara aku menderita”. Bisikan-bisikan kecemburuan itu berputar nyaring, mencoba membangkitkan rasa tidak puas di dalam lubuk hati Lu Chen terhadap takdirnya sendiri yang terlahir sebagai anak buangan tiga ras.

"Ugh..." Lu Chen terhuyung ke belakang, telapak tangannya menumpu di atas tanah pasir yang dingin. Pendar tiga warna di dadanya berkedip tak beraturan, nyaris padam oleh pekatnya gelombang iri hati yang meracuni atmosfer.

Wolf segera merapat, menahan bahu pemuda itu. "Chen! Jangan biarkan racun itu masuk ke dalam pikiranmu! Itu bukan suara hatimu.

Luna yang menyisir area paviliun utama desa memanggil rekan-rekannya dengan suara bergetar. "Kalian harus melihat apa yang ditinggalkan oleh para jenderal itu di sini!"

Di atas meja perjamuan batu pualam yang kini berlumuran noda hitam, sebuah cermin besar retak memantulkan prasasti darah yang berkilau mengerikan:

6/9. UNTUK KEBANGKITAN. HATI KEENAM: KECEMBURUAN MURNI

Xue Ling melangkah mendekat, menatap tulisan tersebut dengan raut wajah yang semakin mengeras. "Enam hati emosi telah direnggut: Ketakutan, Kemarahan, Kesedihan, Keserakahan, Kebencian, dan kini Kecemburuan. Kita sudah berada di ambang batas jurang kehancuran. Hanya tersisa tiga emosi lagi sebelum Varkos memperoleh seluruh komponen kebangkitannya."

"Sialan!" Wolf menggebrak meja batu hingga hancur berkeping-keping. "Mereka benar-benar membongkar seluruh sisi tergelap kemanusiaan dan kedewaan kita. Emosi apa lagi yang mereka incar selanjutnya?"

Sebelum ada yang sempat menjawab, udara di sekitar mereka mendadak membeku. Pantulan bayangan di cermin-cermin retak di seluruh penjuru desa bersinar terang, mengeluarkan asap hitam pekat yang berputar-putar membentuk tiga sosok bayangan tanpa wajah.

"Langkah yang luar biasa gigih, sang Raja Campuran," suara Jenderal Pertama bergemuruh mencemooh, memantul di dinding-dinding lembah pasir. "Bagaimana rasanya menyaksikan kerapuhan umatmu? Makhluk-makhluk yang saling merenggut kebahagiaan karena tidak sanggup melihat orang lain lebih beruntung dari mereka."

Lu Chen perlahan bangkit berdiri. Ia menyeka butiran keringat dingin di dahinya, lalu menegakkan tubuhnya dengan gagah. Pendar tiga warna di dadanya kembali menyala stabil, memancarkan kehangatan suci yang mengusir hawa dingin kecemburuan di sekitarnya.

Ia mendongak, menatap tajam ke arah bayangan para jenderal tanpa gentar. "Kecemburuan lahir dari rasa kurang dan ketidakpercayaan diri. Mereka tersesat karena mereka lupa bagaimana cara bersyukur atas apa yang mereka miliki."

Jenderal Kedua tertawa meremehkan. "Omong kosong! Kau sendiri hidup dalam penderitaan karena darah campuranmu! Apakah kau tidak pernah merasa cemburu pada para dewa murni yang diagungkan, atau pada manusia biasa yang hidup tanpa kutukan?!"

Kata-kata itu bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di titik pergulatan batin Lu Chen. Kilasan memori saat ia melihat anak-anak ras murni bermain tanpa rasa takut, sementara dirinya harus berjuang menahan siksaan tiga jenis darah di dalam tubuhnya, berkelebat cepat di dalam kepalanya.

Sisi manusianya sempat merasakan secercah rasa iri: Kenapa harus aku yang menanggung beban ini?

Namun, detik berikutnya, bayangan senyuman Shen Yue saat mendekapnya penuh kasih dan kebanggaan langsung melenyapkan keraguan tersebut.

Lu Chen menarik napas dalam-dalam. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu mengepalnya dengan mantap. "Aku tidak pernah mencemburui siapapun. Karena di dalam darah campuran inilah... aku menemukan kekuatan sejati untuk mencintai semua perbedaan."

"Anak sombong!" murka Jenderal Ketiga. "Kalau begitu, rasakan racun kecemburuan paling pekat yang akan merobek jiwamu dari dalam!"

BOOM!

Gelombang energi hitam legam melesat membabi buta, langsung menyeret kesadaran Lu Chen masuk ke dalam dimensi ilusi batinnya. Di dalam ruang hampa tersebut, ia melihat dirinya berdiri di hadapan takhta emas yang megah, sementara di sekelilingnya, seluruh makhluk dari tiga ras memuja sosok tiruan dirinya yang berdarah murni tanpa kutukan.

Bayangan tiruan itu berbisik mengejek: "Lihatlah... betapa mudahnya hidup jika kau tidak memiliki darah campuran itu. Kau tidak perlu menderita, kau tidak perlu dibenci."

Godaan untuk melepaskan identitas campurannya dan terlahir kembali sebagai makhluk murni terasa begitu menggoda. Namun, Lu Chen menggelengkan kepala perlahan.

"Aku bangga menjadi diriku," ucap Lu Chen tegas. "Aku adalah perpaduan sepertiga manusia, sepertiga dewa, and sepertiga siluman. Aku tidak butuh kepalsuan yang murni."

Ia melepaskan esensi Cahaya Penyelamat dari dalam segel di dadanya.

JURUS UTAMA: HARMONI JIWA

CAHAYA TIGA WARNA MELEDAK DAHSYAT.

Ledakan energi suci itu meruntuhkan dimensi ilusi dalam sekejap. Di dunia nyata, cahaya murni tersebut membubung tinggi ke angkasa, menyapu bersih kabut racun di Desa Tirta Kencana dan memulihkan kesadaran rekan-rekannya.

Bayangan ketiga jenderal itu menjerit kesakitan saat cahaya tersebut mengikis wujud mereka. "Sialan... ketulusannya benar-benar tidak bisa ditembus!"

"Kalian tidak akan pernah menang," ucap Lu Chen dingin.

WUS! Ketiga bayangan itu kocar-kacir melarikan diri ke dalam kegelapan malam.

Xue Ling dan Wolf segera berlari menghampiri Lu Chen.

"Kau tidak apa-apa, Chen?" tanya Xue Ling cemas.

Lu Chen mengangguk, menatap lurus ke arah cakrawala. "Aku baik-baik saja. Tapi enam hati telah jatuh ke tangan mereka. Hanya tersisa tiga emosi lagi."

Lin Yue membuka gulungan peta perbatasan magis. "Titik koordinat selanjutnya... Desa ketujuh. Emosi yang diincar adalah Kebanggaan."

Lu Chen mengepalkan tinjunya erat-erat, tekad di matanya berkobar terang. "Siapkan pasukan. Kita kejar mereka sekarang juga!"

Dan di bawah langit malam Tiga Alam yang bergemuruh, perburuan sembilan hati dendam memasuki babak akhir yang paling menentukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!