NovelToon NovelToon
Sistem Misi Polisi

Sistem Misi Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.

Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Panti asuhan

​Saat Nathan sedang kebingungan dan menggerak-gerakkan tangannya mencoba menyentuh layar melayang tersebut, seorang wanita paruh baya tidak sengaja memperhatikannya dari balik jendela kaca panti.

​"Bukannya itu Nathan? Kenapa dia bertingkah aneh begitu di luar?" gumam wanita itu heran.

​Dengan pelan, dia berjalan menuju pintu depan, membukanya, lalu memanggil Nathan. "Nak, kamu sedang apa di situ? Ayo masuk ke dalam. Kenapa tidak menghubungi Ibu dulu kalau mau mampir?"

​Nathan tertegun. Suara itu seketika memecah fokusnya. Bersamaan dengan itu, layar biru di depannya perlahan memudar dan menghilang begitu saja.

​"Eh, Ibu..." Nathan tersadar, lalu gelagapan mencari alasan. "Maaf Bu, tadi... ada nyamuk besar lewat di depan muka."

​Dia melangkah mendekati teras. Saat menatap wajah wanita di hadapannya, mata Nathan terasa perih.

Rasa rindu yang teramat sangat berkecamuk di dadanya.

Sudah sangat lama dia tidak melihat senyuman itu sejak tragedi kelam yang menimpa panti asuhan ini di kehidupan sebelumnya.

​Ibu Panti yang menyadari sorot mata Nathan tampak sendu mendadak merasa khawatir.

Sebagai wanita yang membesarkan Nathan sejak kecil, dia hafal betul setiap perubahan ekspresi anak ini.

​Saat Nathan berada dalam jangkauannya, Ibu Panti langsung menarik tubuh Nathan dan memeluknya erat. "Ada apa, Nak? Ada masalah? Tidak biasanya kamu kelihatan lesu seperti ini."

​Nathan membalas pelukan hangat itu dengan erat. Bagi Nathan, wanita inilah sosok ibu ke dua yang dia miliki. "Tidak ada apa-apa, Bu... Aku cuma kangen dengan panti ini."

​"Datanglah lebih sering, Nak. Ibu dan adik-adikmu di sini akan selalu menyambutmu. Sudah sering Ibu bilang, tempat ini akan selalu jadi rumahmu," ujar Ibu Panti lembut sembari mengusap-usap punggung dan rambut Nathan.

​Nathan menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan rasa haru.

Dalam hatinya, sebuah janji tertanam kuat: "Kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti panti ini. Aku pasti akan melindungi kalian semua."

​Setelah momen emosional itu, mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu panti.

Suasana di luar mulai terasa dingin menyengat.

Ibu Panti menyalakan kayu bakar di dalam cerobong asap kecil yang ada di sudut ruangan untuk menghangatkan suhu udara.

​Asap tipis mengepul, dan suara kayu berjelaga terdengar mengelotok pelan.

Tak lama kemudian, Ibu Panti datang membawa dua cangkir cokelat hangat dan meletakkannya di atas meja kayu.

​"Jadi begitu ceritanya? Hati-hati ya, Nak Nathan," ucap Ibu Panti setelah mendengar cerita singkat dari Nathan mengenai tugas kepolisiannya malam ini.

"Ibu selalu khawatir setiap kali mendengar ada kasus kejahatan di luar sana. Ibu cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk keselamatanmu."

​Nathan menyesap cokelat hangatnya perlahan. Sensasi manis dan hangat mengalir di tenggorokannya. "Nathan pasti selalu hati-hati, Bu. Oh iya, bagaimana kondisi anak-anak di sini?"

​Pertanyaan itu membuat Ibu Panti terdiam sejenak.

Pandangannya mengarah ke lorong menuju kamar anak-anak.

Matanya tampak teduh, namun menyimpan kelelahan yang dalam.

​"Aris dan yang lain anak yang baik. Hanya saja..." Ibu Panti menghela napas panjang.

"Ibu terkadang merasa kasihan pada mereka. Akhir-akhir ini mereka kadang harus menahan lapar. Uang bantuan dari donatur semakin sedikit dan tidak pernah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi fisik Ibu juga sudah mulai tidak kuat untuk merawat begitu banyak anak. Menurutmu... apa sebaiknya Ibu serahkan sebagian anak-anak ke panti lain yang lebih besar dan fasilitasnya lebih bagus?"

​Mendengar ide tersebut, ingatan masa lalu Nathan langsung berputar cepat.

Dia tahu betul betapa kejamnya dunia luar, dan tidak semua tempat penampungan benar-benar merawat anak-anak dengan tulus.

​"Jangan, Bu. Jangan pernah serahkan mereka ke tempat lain," potong Nathan tegas.

"Untuk masalah uang, Nathan yang akan bantu mencarikannya. Aku khawatir kalau kita salah memilih panti asuhan. Di luar sana, banyak orang jahat yang memanfaatkan panti hanya untuk keuntungan pribadi atau bahkan menyiksa anak-anak."

​Ibu Panti mendelik kaget mendengar penuturan Nathan. "Astaga, Nak! Kamu ini berpikir sampai sejauh itu. Mana mungkin ada orang yang tega melakukan hal sebejat itu pada anak-anak yatim piatu?"

​Nathan hanya bisa tersenyum getir tanpa berniat menjelaskan lebih detail pahitnya kenyataan yang pernah ia lihat.

​Tanpa banyak bicara lagi, Nathan merogoh saku jaketnya.

Dia mengambil sejumlah uang tunai tebal, uang hasil imbalan sistem sebesar 10 juta yang secara ajaib sudah berada di dalam dompet dan sakunya, lalu meletakkannya dengan rapi di atas meja kayu.

​"Tolong ambil uang ini ya, Bu. Jangan ditolak," ujar Nathan pelan. "Maaf, saat ini Nathan baru bisa memberi segini."

​Mata Ibu Panti terbelalak lebar melihat tumpukan uang lembaran di atas meja. Tangannya yang gemetar terangkat menutupi mulutnya.

Dia merasa sedih, terharu, sekaligus tidak percaya.

​Selama ini, sudah banyak anak-anak yang tumbuh besar dan keluar dari panti ini setelah sukses.

Namun, hampir tidak ada dari mereka yang benar-benar kembali untuk peduli.

Hanya Nathan, anak yang hidupnya sederhana ini yang selalu ingat dan datang membawa bantuan saat panti berada di titik terendah.

​Air mata Ibu Panti menetes menelusuri kerutan di pipinya. Dia terisak pelan. "Terima kasih banyak, Nathan... Ibu sangat, sangat berterima kasih padamu, Nak."

​Nathan bergeser duduk mendekati kursi sang ibu, lalu mengusap-usap punggung wanita tua itu dengan lembut untuk menangkannya.

​"Iya Bu, tidak apa-apa. Jangan menangis lagi. Semuanya pasti akan baik-baik saja."

1
Kaisar surgawi
sorry ini gw skip , karna apa ? sistemnya cuman memberikan uang, tidak kemampuan
Maul: gapapa kak. terima kasih sudah baca /Pray/
total 1 replies
Dragonovic
up👍👍👍
Dragonovic
up👍
Jonatan Revan
novel yang sangat baguss
Maul: terima kasih banyak atas ulasannya. yuhuh🍜/Determined/
total 1 replies
Jonatan Revan
saran yah thor bab nya bisa di kasih panjang lagi gak terlalu pendek
Maul: di usahakan ya hehe/Smile/
total 1 replies
Maul
🍝
Maul
🍜
Maul
/Coffee//Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
🍜/Coffee/
Maul
🍝🥘
Maul
🍔🍹
Maul
/Rice/🍜
Maul
/Coffee//Watermalon/
Maul
/Cake/
Maul
/Rice/
Maul
/Coffee/
Maul
𝙃𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙛𝙞𝙠𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖. 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖
Maul
...
Maul
𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!