hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 7
Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk pasar dan keramaian gerbang utama, Elizabeth akhirnya mendapatkan pekerjaan yang ia cari. Ia kini berdiri di halaman samping sebuah kediaman bangsawan yang luas dan tertata rapi, mengenakan pakaian pelayan yang sederhana namun bersih. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap, wajahnya kaku dan tatapannya tajam . ia adalah Kepala Pelayan di kediaman itu.
Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong batu yang panjang. Kepala Pelayan melangkah lebih dulu di depan, langkahnya tegap dan penuh wibawa, sementara Elizabeth berjalan beberapa langkah di belakangnya, menunduk hormat sambil terus mendengarkan setiap kata yang diucapkan.
Tiba-tiba, pria itu berhenti mendadak. Elizabeth pun ikut berhenti seketika, tetap menundukkan kepalanya sebagaimana yang biasa dilakukan pelayan. Kepala Pelayan berbalik perlahan, menatapnya dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik dan dingin, lalu berbicara dengan nada tegas dan berwibawa:
"Dengar baik-baik peraturan di sini... Kamu harus bekerja sepuluh jam setiap harinya, tanpa mengeluh dan tanpa terlambat. Dan satu hal lagi..." Ia menatap tajam tepat ke arah wajah Elizabeth yang masih menunduk. "Selalu tundukkan kepalamu. Selalu tunduk kepada Tuanmu dan kepada siapa pun yang lebih tinggi kedudukannya darimu. Jangan pernah berani menatap mata mereka kecuali dipersilakan. Apakah ada pertanyaan?"
Elizabeth mengangkat wajahnya perlahan, menatap dengan penuh rasa hormat namun matanya menyiratkan harapan yang besar. Ia memberanikan diri bertanya dengan suara lembut namun jelas:
"Ada, Tuan... Berapakah upah yang akan kuterima?"
Kepala Pelayan mendengus pelan, seakan pertanyaan itu hal yang sepele baginya. Ia menjawab singkat dan datar:
"Satu koin emas per bulan."
Mata Elizabeth seketika membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Hatinya meloncat penuh sukacita yang tak terlukiskan. Satu koin emas! Itu jumlah yang sangat besar baginya . jumlah yang jauh melampaui apa yang pernah ia miliki selama bertahun-tahun hidupnya. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membeli makanan yang cukup untuk Leon, obat-obatan, dan tempat berlindung yang layak. Air mata bahagia hampir menetes di pipinya. Ia menatap Kepala Pelayan dengan senyum yang tak sengaja merekah lebar di bibirnya, suaranya bergetar penuh kelegaan:
"Satu koin emas... Sebanyak itu? Sungguhkah...?"
Kepala Pelayan mengangkat alisnya, lalu menyeringai tipis seakan jumlah itu bukanlah apa-apa baginya. Ia melambaikan tangan santai sambil kembali berbalik melanjutkan langkahnya, berseru dingin tanpa menoleh ke belakang:
"Itu bukan apa-apa... Hanya recehan bagi Tuan yang mempekerjakanmu. Lakukan tugasmu dengan baik, patuhilah semua peraturan, maka upah itu akan tetap utuh kau terima. Jika lalai... maka jangan harap kau akan menerima sepeser pun."
Elizabeth tersenyum lega, hatinya penuh rasa syukur yang mendalam. Segala rasa lelah dan penderitaan yang dialaminya seakan terbayar lunas seketika. Ia menundukkan kepala kembali, melangkah mengikuti di belakang Kepala Pelayan dengan langkah yang kini terasa lebih ringan dan penuh harapan.
"Terima kasih, Tuan..." bisiknya lirih dalam hati. "Leon... lihatlah... Ibu kini punya pekerjaan. Kita akan baik-baik saja mulai sekarang..."
Mereka pun kembali melangkah menyusuri lorong batu yang panjang dan sepi, langkah kaki Kepala Pelayan tetap tegap di depan, sementara Elizabeth terus berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan kepala tertunduk hormat, berusaha sebaik mungkin menaati segala peraturan yang baru saja didengarnya.
Namun tak jauh dari situ, di tikungan lorong yang luas, sesosok bayangan merah melintas anggun namun mengerikan. Itu adalah Carmilla. Ia berjalan perlahan menuju mereka, mengenakan gaun merah yang berkilau mewah, rambut merahnya terurai indah membiaskan cahaya, dan sepasang matanya menatap tajam ke depan seakan tak ada yang berani menatapnya kembali. Ia adalah penguasa di kediaman ini . Carmilla sendiri yang memegang kendali atas segala urusan di dalamnya.
Melihat sosok itu mendekat, Kepala Pelayan seketika membungkuk dalam penuh hormat. Elizabeth pun segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai batu di bawah kakinya, tak berani sedikit pun melirik . Ia berdiri diam di tempatnya, menunggu dengan napas tertahan hingga sosok yang berkuasa itu lewat begitu saja.
Namun langkah anggun Carmilla tiba-tiba terhenti tepat di hadapan mereka.
Hidungnya sedikit mengendus udara, seakan menangkap sesuatu yang tak biasa. Matanya yang merah menyala menatap tajam tepat ke arah Elizabeth dari atas hingga bawah, meneliti setiap inci tubuh wanita itu dengan tatapan yang penuh kecurigaan sekaligus kebencian yang tiba-tiba muncul. Tatapan itu begitu menusuk hingga membuat bulu kuduk Elizabeth berdiri meski ia tak berani mengangkat wajahnya.
Carmilla menyeringai sinis, suaranya terdengar lembut namun penuh racun dan penghinaan yang menyayat hati:
"Seorang pelayan... berbau darah manusia? Dan tubuhnya kurus kering seakan tak pernah makan seumur hidupnya..."
Ia melangkah mendekat, matanya menyipit tajam seakan tak percaya wanita selemah itu diterima bekerja di tempatnya.
"Bagaimana mungkin tubuh yang begitu rapuh bisa melayani Tuanku? Bagaimana mungkin ia sanggup mengangkat beban dan bekerja seharian penuh? Bukankah akan lebih baik jika ia dibuang saja ke tempat sampah daripada membiarkannya menghabiskan makanan di sini?"
Belum sempat Kepala Pelayan yang berdiri membungkuk itu membuka suaranya untuk menjelaskan, tiba-tiba gelombang kekuatan sihir yang tak kasat mata melesat dari telapak tangan Carmilla!
Dengan satu gerakan tangan yang kasar, dorongan kuat menghantam dada Elizabeth! Tubuh Elizabeth terlempar ke belakang tanpa daya, jatuh terhempas keras ke lantai batu yang dingin dan keras. Punggungnya membentur ujung dinding, napasnya tersedak hebat, dan rasa sakit dari luka lama di dadanya seketika kembali menjalar membakar seluruh tubuhnya.
Elizabeth meringis menahan sakit, kedua tangannya menekan lantai berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa begitu lemah dan tak berdaya. Dari bibirnya yang pucat, samar terlihat setetes darah menetes perlahan. Namun Carmilla hanya berdiri tegak di tempatnya, menatap ke arah Elizabeth yang terjatuh dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan, seakan baru saja menendang sebutir debu di jalannya.
"Bangkitlah..." desis Carmilla pelan namun mengancam. "Dan ingatlah tempatmu, wanita lemah. Jangan sampai bau dan kelemahanmu menyinggung siapa yang berkuasa di sini..."
Carmilla melirik sekilas ke arah pengawal kekar yang berdiri di belakangnya . seorang pria berwajah keras dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas dari setiap gerak-gerik di sekitarnya. Ia bernama Sam, pengawal kepercayaannya yang selalu siap melaksanakan setiap perintah tanpa pertanyaan, tanpa belas kasihan sedikit pun.
Dengan nada tegas dan penuh perintah yang tak dapat dibantah, Carmilla menunjuk Elizabeth yang masih terbaring lemah di lantai sambil menahan rasa sakit, lalu berbicara kepada Sam tanpa mengalihkan pandangan dinginnya dari wanita itu:
"Sam... Bawa dia ke ruang bawah tanah. Ajari dia sopan santun. Beri dia pelajaran yang pantas diterima oleh orang rendahan yang berani melangkah masuk ke tempat ini."
Sam menyeringai lebar. Sebuah senyum licik yang memancarkan kejahatan dan kebrutalan tersungging di bibirnya. Matanya menatap Elizabeth seakan melihat bukan manusia, melainkan sekadar benda atau sasaran latihan yang tak berharga. Ia melangkah perlahan mendekat, lalu membentangkan kedua telapak tangannya lebar-lebar. Cahaya gelap mulai berpendar samar di kulitnya, menandakan kekuatan sihir yang siap ia lepaskan kapan saja.
"Dengan senang hati, Nona Carmilla..." ucapnya berat, suaranya terdengar begitu ramah namun penuh ancaman yang mengerikan. "Akan kuajari dia bagaimana cara bersikap sopan kepada tuan-tuannya. Hingga tubuh dan jiwanya pun paham betul siapa dirinya dan siapa yang berkuasa di sini."
Elizabeth berusaha merangkak mundur menjauh, tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu betul apa yang menantinya di ruang bawah tanah . tempat gelap dan sunyi yang penuh penderitaan, tempat di mana tak ada satu pun yang akan mendengar teriakan atau tangisannya. Namun kakinya terasa lemas tak bertenaga, luka di dadanya masih terasa perih menyayat setiap kali ia bergerak.
Sam melangkah semakin dekat, senyum liciknya tak hilang sedikit pun. Ia menjulurkan tangan kekarnya hendak mencengkeram lengan Elizabeth dengan kasar, siap menyeretnya turun ke kegelapan ruang bawah tanah tempat tak ada belas kasih yang pernah singgah.
Tanpa belas kasihan sedikit pun, Sam langsung melangkah maju dan dengan kasar merengkuh tubuh Elizabeth yang lemah ke dalam pelukannya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seakan mengangkat sepotong kayu ringan. Elizabeth meronta sekuat tenaga, kedua kakinya menendang di udara, tangannya mencoba mencakar dan melepaskan diri dari pelukan besi itu.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!!" teriaknya penuh keputusasaan, napasnya tersengal berat, namun tenaganya terlalu kecil untuk melawan kekuatan Sam yang jauh lebih kuat.
Kepala Pelayan yang berdiri tak jauh dari sana hanya bisa menatap terpaku. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh, namun ia tak berani melangkah maju sedikit pun. Ia sadar betul siapa Carmilla dan kekuasaan yang dimilikinya. Membela pelayan rendahan di hadapan Nona Carmilla sama saja dengan menjemput maut. Hanya dapat menyaksikan dengan hati yang teriris namun tak mampu berbuat apa-apa.
Namun tiba-tiba , suara derap langkah dan gemuruh kekuatan dahsyat terdengar mendekat, seketika membuat udara di sepanjang lorong itu berubah membeku. Langit-langit seakan ikut bergetar. Dan dari ujung lorong yang luas itu, sesosok bayangan gagah melangkah dengan wibawa yang tak tertandingi.
Itu Raja Draven!
Carmilla seketika tersentak hebat. Wajahnya yang tadi penuh kebencian dan keangkuhan seketika berubah menjadi senyum manis yang dibuat-buat. Ia segera melangkah mendekat, menyambut kedatangan Raja dengan penuh keramahan yang dipaksakan.
"Tuanku?! Sungguh tak terduga Tuanku datang... Aku baru saja hendak mencarimu..." ucapnya lembut sambil menunduk hormat, namun matanya yang merah menyala melirik tajam sekilas ke arah Elizabeth yang masih tergenggam erat di pelukan Sam. Tatapan itu penuh ancaman yang mengerikan, seakan berkata: "Akan kubuat Tuanku menghukummu mati, wanita rendahan..."
Ia kembali menatap wajah Raja Draven dengan senyum yang terlihat tulus namun menyembunyikan niat busuk di baliknya.
Dari ujung lorong yang luas dan megah itu, Raja Draven melangkah turun perlahan menuruni tangga batu yang lebar dan berkilau di bawah pantulan cahaya lampu dinding. Setiap langkah kakinya terdengar berat dan berirama, seakan bumi ikut bergetar menyambut kedatangannya. Jubah hitam berhias benang emas yang dikenakannya melambai anggun mengikuti gerak tubuhnya yang tinggi tegap dan berwibawa luar biasa. Sepasang matanya yang merah menyala memancarkan kekuatan yang tak tertandingi, menatap lurus ke depan dengan ketegasan yang membuat siapa pun yang berani menatapnya akan seketika tunduk gemetar.
Melihat sosok itu muncul, seketika seluruh penghuni lorong yang hadir di sana menundukkan kepala serendah-rendahnya, menatap lantai batu dengan penuh rasa hormat sekaligus takut yang mendalam. Tak ada satu pun yang berani mengangkat wajah atau sekadar melirik ke arah Rajanya. Keheningan menyelimuti tempat itu, hanya tersisa suara napas yang tertahan dan langkah kaki Raja yang terus melangkah mendekat.
Namun di pelukan Sam yang masih mencengkeramnya erat, Elizabeth yang menunduk di antara rambutnya yang berantakan tak sengaja mengangkat wajahnya sedikit. Sekilas pandang matanya bertemu dengan sosok pria yang sedang melangkah itu. Seketika napasnya tertahan. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena ketakutan kini berpacu jauh lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena rasa takjub dan kebingungan yang mendadak menyergap seluruh jiwanya.
Pria itu... wajah itu... sepasang mata merah yang memancarkan keagungan sekaligus kehangatan yang samar... Postur tubuh yang gagah dan sorot mata yang begitu dalam...
Di dalam hatinya, Elizabeth bergumam penuh keheranan yang semakin dalam, seakan ada sesuatu yang lama tersimpan di dalam ingatannya kini perlahan terbangun kembali.
"Pria ini... Mengapa wajahnya terasa begitu akrab... Seperti pernah kulihat di suatu tempat... Seperti pernah kubayangkan dalam mimpi... Seperti sosok yang menari bersamaku di bawah sinar rembulan malam itu... Lima tahun yang lalu..."
Pikirannya seakan berputar kian kencang, mencoba menyusun kepingan-kepingan kenangan yang kabur namun terasa begitu nyata. Ia menatapnya lekat-lekat, tak menyadari bahwa pandangannya itu begitu berani dan tak pantas bagi seorang pelayan rendahan sepertinya. Namun ia tak sanggup mengalihkan pandangannya. Semakin lama ia menatap, semakin kuat perasaan itu . bahwa pria berkuasa di hadapannya ini... adalah orang yang tak pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.