"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 020: DNA yang Tidak Cocok
Cold storage Blok Dua kembali dibuka sore itu.
Kali ini tidak ada kejutan besar di depan mata.
Tidak ada freezer berisi alat.
Tidak ada pisau.
Tidak ada kantong hitam baru.
Justru itu yang membuat Arka lebih waspada.
Tempat yang terlalu bersih sering menyimpan bagian paling kotor di celah yang tidak diperhatikan orang.
Adira berdiri di dekat pintu, memberi jarak untuk Inafis bekerja.
Bambang membawa lampu tambahan.
Dimas menyiapkan kantong sampel.
Kevin memeriksa daftar akses ruang sewa dari tablet.
"Semua kamera setelah penangkapan aman," kata Kevin. "Tidak ada orang masuk sejak lokasi disegel."
"Bagus," jawab Adira. "Dok, mulai dari mana?"
Arka menunjuk lantai di bawah meja potong stainless. "Drainase. Lalu kisi besi saluran. Setelah itu belakang freezer dan celah kontainer."
Bambang menatap lantai. "Kemarin sudah diswab."
"Kemarin kita mencari bukti Dewi. Sekarang kita mencari bukti yang tidak cocok dengan Dewi. Cara melihatnya berbeda."
Adira mengangkat tangan. "Ikuti Dok Arka. Foto sebelum sentuh."
Tidak ada yang membantah.
Arka berjongkok di dekat kisi besi drainase.
Pada pemeriksaan pertama, area itu tampak bersih. Pemutih masih meninggalkan bau tajam. Tetapi di bawah baut kiri, ada garis tipis gelap yang menempel seperti bayangan.
Ia menyalakan senter dari samping.
Panel abu-abu muncul sangat pucat.
[Sisa darah lama]
[Bukan korban kasus ini]
[Lokasi: celah bawah kisi besi]
Arka tidak mengubah wajah.
"Foto makro," katanya.
Teknisi mendekat.
Klik.
Klik.
"Swab kering dulu. Setelah itu swab basah. Pisahkan kode. Jangan campur dengan sampel Dewi."
Dimas menulis label. "D2-DRN-07A dan 07B."
"Tambahkan catatan: celah bawah baut kiri, kisi drainase."
"Siap."
Bambang jongkok di sebelahnya. "Kamu benar-benar melihat itu dari tadi?"
"Kalau lampunya dari atas, tidak kelihatan. Dari samping, bayangannya muncul."
"Mata kamu bikin saya ingin pensiun lebih cepat."
"Jangan, Pak. Saya masih butuh yang mengejar orang bawa pisau."
"Pujian itu terasa tidak enak."
Arka pindah ke sisi belakang meja potong.
Di sana ada celah antara kaki meja dan lantai. Noda kecil sudah hampir hilang, tetapi tekstur lantai tidak rata. Ia meminta Luminol.
Teknisi membuka kotak reagen.
Adira langsung menegaskan, "Semua lampu dikurangi. Foto posisi sebelum penyemprotan sudah selesai?"
"Selesai, Bu."
Cairan disemprot tipis.
Lampu dimatikan sebagian.
Dalam gelap setengah, tiga titik biru muncul.
Tidak besar.
Tidak dramatis.
Tetapi cukup jelas.
Satu di bawah meja potong.
Satu di celah kontainer plastik.
Satu lagi di dekat saluran pembuangan.
Dimas menahan napas. "Itu darah?"
Arka menjawab hati-hati. "Reaksi Luminol menunjukkan kemungkinan jejak darah atau oksidator tertentu. Harus dikonfirmasi lab. Tapi pola tiga titik ini tidak cocok dengan hanya satu proses pembersihan Dewi."
Adira menatap titik biru itu. "Kenapa?"
"Darah Dewi seharusnya dominan di area kerja utama dan alat yang dipakai saat memotong. Ini berada di celah lama, drainase bawah, kontainer lipatan. Seperti sisa dari kejadian lebih tua yang sempat dicuci berkali-kali."
Bambang mengusap dagu. "Korban sebelum Dewi."
"Kemungkinan. Belum kesimpulan."
Adira berkata, "Ambil empat sampel. Semua rantai bukti dipisah dari Dewi. Tulis: dugaan jejak biologis tambahan."
"Siap, Bu."
Kevin mengangkat tablet. "Saya temukan satu catatan menarik. Joko sewa ruang ini tiga bulan lebih dua minggu. Dewi hilang tiga minggu lalu. Jadi kalau ada kejadian lebih tua, waktunya masih masuk masa sewa Joko."
Arka menoleh. "Ada laporan orang hilang dalam tiga bulan terakhir di sekitar Rungkut? Perempuan usia produktif, terkait pasar, gudang, logistik, atau makanan."
Kevin mengetik cepat. "Saya tarik dari Polrestabes dan Polsek sekitar. Tapi data laporan hilang sering tidak rapi. Banyak yang masuk sebagai pergi dari rumah."
Adira menatap layar biru Luminol. "Tarik semuanya. Jangan filter terlalu sempit dulu."
"Siap."
Di pintu cold storage, seseorang berdiri sebentar.
Galang Firmansyah.
Ia datang bersama mobil IKF untuk mengambil sampel tambahan. Matanya berhenti pada Arka yang sedang memberi kode bukti.
"Mas Arka," katanya dengan senyum kecil. "Belum selesai juga?"
Arka menutup tabung sampel. "Justru karena belum selesai, kami di sini."
"Kadang terlalu mencari-cari bisa membuat laporan melebar."
Adira menoleh.
Ruangan langsung dingin dengan cara yang berbeda.
Arka menjawab sebelum Adira bicara. "Kalau sampelnya negatif, laporan justru makin kuat. Kalau positif, korban lain tidak hilang dari catatan. Dua-duanya bukan melebar. Itu pemeriksaan."
Galang tersenyum lebih kaku.
Label kuning muncul di sekitar wajahnya.
[Iri]
[Ketidakamanan profesional]
[Permusuhan tertahan]
"Semoga saja tidak membuang waktu," katanya.
Bambang berdiri. "Mas Galang, kalau mau bantu, pegang formulir. Kalau mau komentar, simpan untuk kantin."
Dimas pura-pura batuk.
Galang tidak menjawab. Ia mengambil kotak sampel dari teknisi, menandatangani serah terima, lalu keluar.
Adira menatap punggungnya, kemudian kembali ke Arka.
"Sampel cukup?"
"Cukup untuk dikirim DNA. Tapi hasilnya butuh waktu."
"Berapa lama?"
"Kalau diprioritaskan, empat puluh delapan jam."
Adira memasukkan ponsel ke saku. "Saya minta prioritas."
Empat puluh delapan jam berikutnya berjalan lambat.
Arka sempat pulang ke kos, mandi, dan tidur hampir sepuluh jam. Saat bangun, ponselnya penuh pesan grup Satreskrim, tetapi tidak ada yang benar-benar lucu.
Dewi Anggraini sudah resmi diidentifikasi.
Keluarganya sudah diberi tahu.
Joko sudah ditahan.
Media mulai menulis: Pelaku Mutilasi Rungkut Ditangkap.
Tetapi Arka belum menganggapnya selesai.
Hari ketiga, pukul dua lewat tujuh belas siang, teknisi DNA memanggilnya ke ruang kecil Labfor yang terhubung dengan IKF.
"Dok Arka, hasil sampel tambahan keluar."
Di sana ada dr. Suherman dan Adira. Bambang menyusul dua menit kemudian dengan napas terburu.
Teknisi membuka laporan.
"Sampel D2-DRN-07A, D2-CON-03 ulang, dan D2-TBL-02 menunjukkan profil DNA manusia. Profil mayor tidak cocok dengan Dewi Anggraini."
Ruangan diam.
Adira bertanya pelan, "Tidak cocok karena sampel rusak atau karena orang berbeda?"
"Orang berbeda, Bu. Kualitas profil cukup untuk pencarian database."
"Hasilnya?"
Teknisi menggeser halaman.
Foto seorang perempuan muda muncul di layar.
Nama di bawahnya: Putri Handayani.
Usia dua puluh enam.
Laporan hilang tiga bulan lalu.
Status awal: meninggalkan rumah secara sukarela, tindak lanjut terbatas.
Arka menatap kalimat terakhir lebih lama daripada foto.
Tindak lanjut terbatas.
Satu frasa pendek untuk seseorang yang darahnya akhirnya ditemukan di cold storage pembunuh.
Bambang mengumpat lirih. "Tiga bulan."
Adira tidak bergerak. Wajahnya tertutup rapat, tetapi tangan kanannya mengepal.
"Alamat keluarga?"
Teknisi menunjuk laporan. "Tambaksari. Data kontak lama ada."
Kevin mengirim pesan ke grup pada saat yang sama.
Putri pernah bekerja sementara di gudang makanan. Catatan kerja informal. Saya gali lagi.
Adira membaca pesan itu, lalu menatap Arka.
"Kamu benar."
Arka tidak merasa menang.
Tidak ada yang menang saat korban kedua muncul dari noda yang nyaris hilang.
"Sekarang kita punya dasar untuk interogasi kedua," katanya.
Bambang menutup map. "Joko akan bilang apa? Salah lab?"
"Biarkan dia bilang," jawab Adira. "Kita punya DNA, Luminol, masa sewa, dan satu perempuan hilang tiga bulan."
Dr. Suherman menarik napas berat. "Perkara ini sudah melewati kasus mutilasi Dewi."
"Ini perkara dua korban," kata Adira. "Dan mungkin lebih kalau dia masih bohong."
Panel sistem di depan mata Arka menyala tipis.
[Misi diperbarui: konfirmasi korban kedua]
[Data biologis cocok: Putri Handayani]
[Status: perlu lokasi jenazah]
Arka menutup laporan.
"Bu Iptu."
Adira menoleh.
"Joko harus ditanya bukan apakah dia membunuh Putri. Dia harus ditanya di mana dia menyembunyikan tubuhnya."
Adira mengambil berkas DNA dari meja.
"Pukul tiga. Ruang pemeriksaan dua."
Bambang mengangguk. "Saya siapkan tersangka."
Di layar, foto Putri Handayani tetap diam.
Tiga bulan lalu, orang-orang mungkin mengira ia hanya pergi dari rumah.
Sekarang darahnya berbicara dari celah drainase.
Dan kali ini, tidak ada yang boleh menutup telinga.