NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Raka keluar dari gedung apartemen dengan langkah kacau. Pergelangan tangannya sakit bukan main, kacamatanya miring, dan wajahnya merah karena marah bercampur panik. Ia berlari ke parkiran sambil berkali-kali menelepon Bima, tapi panggilannya tidak diangkat.

"Sial!" umpatnya sambil menendang ban mobil orang yang kebetulan terparkir di dekatnya.

Ia berkeliling mencari Yulia dan laki-laki yang menolongnya tadi. Di sudut parkiran yang agak gelap, Raka melihat sebuah Porsche hitam dengan kaca gelap. Mobil itu tampak bergerak sangat pelan, nyaris tidak terlihat jika ia tidak sedang memperhatikan.

Raka mendengus. "Orang kaya memang tidak tahu tempat."

Ia tidak berpikir terlalu jauh. Siapa pun pemilik Porsche itu, Raka tidak punya nyali untuk mengetuk kaca dan membuat masalah baru. Apalagi saat ini ia masih harus mencari cara menjelaskan semuanya kepada Bima. Jika rahasianya sebagai laki-laki yang lebih tertarik pada pria sampai diketahui ayahnya, uang bulanannya bisa berhenti saat itu juga.

Setelah beberapa menit mengumpat sendiri, Raka akhirnya pergi. Ia masih tidak sadar bahwa orang yang ia cari berada tepat di mobil yang baru saja ia maki.

Di dalam Porsche, Yulia bersandar pada kursi dengan mata terpejam. Rambutnya berantakan, napasnya belum benar-benar rapi, dan jari-jarinya masih menggenggam lengan Arka seolah takut laki-laki itu akan tiba-tiba menghilang. Gaun kremnya sudah kembali dirapikan, meski bekas kusutnya tetap memperlihatkan betapa kacau malam itu bagi mereka berdua.

Arka menurunkan kaca sedikit untuk membiarkan udara dingin masuk. Embun di kaca depan perlahan menipis. Aroma parfum Yulia, rokok samar dari parkiran, dan panas tubuh yang belum hilang membuat suasana di dalam mobil terasa terlalu intim untuk dibicarakan dengan kalimat biasa.

Arka tidak tahu harus berkata apa. Semua terjadi terlalu cepat. Yulia adalah mantan gurunya, seseorang yang dulu ia hormati dari jauh, tetapi perempuan yang duduk di sampingnya sekarang bukan lagi bayangan di masa SMA. Ia nyata, napasnya masih belum rapi, dan jemarinya masih meninggalkan bekas cengkeraman di lengan Arka.

Yulia membuka mata dan menoleh ketika Arka terlalu lama diam.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Arka mengusap wajahnya sendiri. "Aku masih merasa ini gila."

Yulia tertawa kecil, suaranya serak. "Memang gila."

Ia merapikan rambut dengan jari, tetapi semakin dirapikan, semakin jelas bekas kacaunya. Wajahnya merah, bibirnya masih basah, dan gaun kremnya tidak bisa kembali serapi semula. Saat menyadari Arka melihat semua itu, Yulia langsung menarik jas ke pangkuan.

"Jangan lihat terus," ucapnya.

"Tadi kamu yang menyuruhku jangan cuma lihat."

Yulia membeku, lalu wajahnya semakin merah. Ia mengambil tisu dan melemparkannya ke dada Arka, tidak keras, tapi cukup untuk menutupi rasa malunya.

"Kamu murid yang kurang ajar."

"Sudah tidak jadi murid Ibu sejak lama."

Panggilan "Ibu" membuat Yulia menggigit bibir. Entah karena malu atau karena mengingat apa yang baru saja terjadi, ia tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas pelan dan menatap kaca depan.

"Aku harus bereskan Raka," katanya. "Kalau tidak, dia akan kembali menyeretku ke Bima."

"Aku tetap akan bantu kamu."

Yulia menoleh lagi. "Kenapa?"

"Karena Bima juga punya urusan denganku."

Nama itu membuat wajah Yulia berubah. Ia akhirnya menceritakan semuanya. Raka selama ini menyembunyikan orientasinya dari keluarga. Bima mengetahui rahasia itu dan memakainya untuk memeras Raka. Malam ini, Raka menyeret Yulia ke Nirwana Club dengan alasan menemani minum beberapa tamu penting. Namun begitu sampai, Yulia mulai merasa pusing setelah minum jus yang diberikan pelayan.

Arka mendengarkan dengan rahang mengeras.

Bima benar-benar menjijikkan. Urusan Hana saja sudah cukup membuatnya ingin menghajar pria itu. Sekarang ditambah Yulia, Arka semakin yakin suatu hari ia harus membuat Bima berlutut.

"Ayahku masih di rumah sakit," lanjut Yulia. "Kecelakaan dua tahun lalu. Dokter bilang kondisinya vegetatif. Raka membayar sebagian biaya perawatan, dan itu yang selalu dia pakai untuk menahanku."

Arka teringat bagian pengobatan dalam warisan Hantala. "Bawa aku ke rumah sakit."

Yulia mengira ia salah dengar. "Sekarang?"

"Iya."

"Arka, ayahku bukan sekadar sakit biasa. Dokter spesialis saja sudah menyerah."

"Aku tidak bilang pasti, tapi aku bisa mencoba."

Yulia menatapnya ragu. Setelah apa yang ia lihat malam itu, terutama cara Arka menjatuhkan Raka dan menekan titik di tubuhnya sampai obat itu mereda, ia tidak bisa sepenuhnya menganggap ucapan Arka omong kosong.

"Kamu benar-benar bisa?"

"Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu."

Yulia akhirnya mengangguk. Mereka pergi ke Rumah Sakit Medika Sentosa, salah satu rumah sakit swasta besar di Jakarta. Sebelum masuk, Yulia menarik lengan Arka dan membawanya lewat pintu belakang. Ia tidak ingin bertemu terlalu banyak perawat yang mengenalnya.

Kamar rawat ayah Yulia berada di lantai tiga. Ruangan itu hanya diterangi lampu kecil. Seorang perawat pendamping tertidur di kursi. Di ranjang, ayah Yulia terbaring kurus dengan selang dan alat pemantau di sekitarnya.

Arka mendekat dan memeriksa nadi pria tua itu. Begitu jarinya menyentuh kulit pasien, pengetahuan medis dari Hantala muncul lagi. Ia bisa merasakan ada sumbatan dan bekas perdarahan lama di bagian kepala. Secara logika medis biasa, kondisi itu nyaris mustahil pulih cepat. Namun aliran panas di dada Arka menunjukkan jalur yang bisa dicoba.

"Aku butuh jarum akupunktur," bisik Arka.

Yulia segera mengambil kotak kecil dari tasnya. "Dulu ayah pernah terapi akupunktur. Ini masih ada."

Arka mensterilkan jarum seadanya dengan alkohol medis di meja. Setelah itu ia mulai menusukkan jarum pertama di titik kepala. Tangannya bergerak lebih tenang daripada yang ia kira. Setiap jarum masuk, ia menyalurkan sedikit tenaga Hantala, membuat aliran hangat bergerak ke dalam tubuh pasien.

Yulia berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam. Ia tidak berani bersuara.

Namun saat Arka memasukkan jarum ketiga, pintu kamar terbuka.

"Kalian sedang apa?"

Suara perempuan itu tajam dan penuh amarah.

Arka menoleh.

Hana berdiri di ambang pintu dengan seragam perawat. Matanya melebar saat mengenali Arka.

"Kamu?" Hana melangkah masuk dengan wajah tidak percaya. "Arka, kamu gila? Kamu mau membunuh pasienku?"

Yulia langsung berdiri di depan Hana. "Jangan ganggu dia."

"Kamu siapa? Keluarga pasien?" Hana melihat wajah Yulia dan mendengus. "Oh, Bu Yulia. Hebat sekali, sekarang kamu membawa laki-laki tidak jelas untuk menusuk kepala ayahmu sendiri?"

Arka tidak memedulikan mereka. Tangannya tetap bekerja. Keringat mulai muncul di dahinya, karena setiap aliran tenaga yang ia pakai membuat dadanya berdenyut panas.

"Yulia, tahan dia sebentar," ucap Arka.

Hana langsung menekan tombol panggil darurat. "Satpam! Ada orang melakukan tindakan ilegal di kamar 308!"

Langkah kaki mulai terdengar dari koridor.

Yulia menahan Hana agar tidak mendekati ranjang. Dua wanita itu saling dorong. Hana semakin panik saat melihat Arka sama sekali tidak berhenti.

"Arka! Kalau pasien ini mati, kamu masuk penjara!"

Arka memasukkan jarum terakhir.

Monitor di samping ranjang tiba-tiba berbunyi cepat.

Yulia menoleh dengan wajah pucat. Hana juga berhenti meronta.

Di atas ranjang, jari ayah Yulia bergerak.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!