Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Biliar
Untuk pertama kalinya di kehidupan ini, Kevin benar-benar melihatnya.
Tatapan itu mengikuti Sekar sampai pulang sekolah.
Ia tidak bisa fokus pada sisa pelajaran. Setiap kali guru menjelaskan sesuatu, yang muncul di kepalanya justru susu kotak di tangan Kevin, alis Bryan yang naik turun menggoda, dan kalimat Kevin yang dingin.
Lo selalu begini?
Sekar menekan buku ke dada ketika keluar dari kelas. Koridor sudah penuh siswa yang bergegas pulang, beberapa menuju parkiran motor, beberapa lain menunggu jemputan di depan gerbang. Ia mencari rambut biru di antara kerumunan, tetapi Kevin tidak terlihat.
"Jangan bilang lo mau cari dia lagi," Yola berkata di sampingnya.
Sekar berhenti pura-pura melihat papan pengumuman.
"Kelihatan banget?"
"Sekar, lo udah berdiri di depan papan lomba pidato lima menit, padahal gue tahu lo nggak tertarik pidato."
Sekar menatap poster lomba itu. Benar juga.
Yola memeluk map ke dadanya. "Gue tadi dengar anak kelas sebelah ngomong. Kevin sama Bryan biasanya nongkrong di tempat biliar dekat ruko belakang sekolah. Tapi jangan ke sana."
Sekar menoleh.
Yola langsung mengangkat tangan. "Nah, itu wajah yang gue takutkan. Gue kasih info bukan berarti gue izinkan."
"Aku cuma mau lihat."
"Kalimat paling bahaya di dunia adalah cuma mau lihat."
Sekar menggigit bibir. Ia tahu Yola benar. Tempat biliar bukan lingkungan yang cocok untuk siswi seperti dirinya, apalagi sendirian. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar nama tempat itu dari gosip sekolah, selalu dengan nada menghindar. Kevin sering terlihat di sana setelah jam pulang. Anak-anak lain menyebutnya sarang anak bandel.
Dulu, ia mendengar lalu lewat.
Hari ini, kakinya ingin berjalan ke sana.
Yola melihat wajahnya, lalu mendesah kalah. "Kalau lo maksa, gue ikut."
"Nggak. Lo ada les sore."
"Les bisa bolos."
"Nggak boleh." Sekar tersenyum kecil. "Aku nggak akan lama."
"Sekar."
"Aku janji cuma lihat dari luar."
Yola jelas tidak percaya, tetapi sopir jemputannya sudah menelepon. Setelah memaksa Sekar mengirim lokasi real-time lewat WhatsApp, Yola akhirnya pergi dengan wajah kesal.
Sekar berdiri beberapa saat di dekat gerbang. Ia bisa saja pulang, berganti pakaian biasa, dan datang besok dengan rencana lebih matang. Namun bayangan Kevin yang menatapnya tadi siang membuat keberaniannya naik lagi.
Kalau ia terus menunggu waktu yang sempurna, ia akan kembali menjadi Sekar yang lama.
Ia menunduk melihat seragam sekolahnya. Rok abu-abu sebatas lutut, kemeja putih rapi, sepatu hitam. Terlalu mencolok untuk masuk ke tempat biliar setelah jam sekolah. Di dalam tasnya ada rok denim pendek dan cardigan tipis yang sebenarnya ia bawa untuk acara foto klub akhir pekan, belum sempat ia kembalikan ke rumah.
Sepuluh menit kemudian, Sekar keluar dari toilet lantai satu dengan rambut dibiarkan terurai, cardigan menutupi blouse polos, dan rok denim yang membuat lututnya terasa terlalu terbuka.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca.
Wajahnya masih wajah siswi teladan. Matanya masih terlalu jernih untuk tempat seperti itu. Sekar menarik napas, lalu memakai kembali sepatu sneakers putih yang ia simpan untuk latihan tari.
"Cuma lihat dari luar," gumamnya pada diri sendiri.
Tentu saja ia berbohong.
Tempat biliar itu berada di lantai dua deretan ruko yang menghadap jalan kecil. Dari bawah, papan lampunya berkedip dengan warna hijau kusam. Musik berdentum pelan dari dalam. Tangga menuju atas sempit, dindingnya ditempeli poster turnamen biliar dan iklan minuman soda. Bau rokok menempel bahkan sebelum Sekar mencapai pintu.
Ia berhenti di anak tangga terakhir.
Di dalam, lampu gantung menyoroti beberapa meja biliar. Bola-bola berwarna beradu dengan suara kering. Ada siswa berseragam yang sudah melepas dasi, ada pemuda yang tampak lebih tua, ada tawa kasar dari sudut ruangan. Sekar langsung merasa semua mata bisa melihat betapa asing dirinya.
Ia hampir berbalik.
Lalu ia melihat Kevin.
Kevin berdiri di meja paling ujung, memegang stik biliar dengan satu tangan. Seragamnya sudah diganti kaus hitam dan jaket denim gelap. Rambut birunya jatuh di dahi ketika ia menunduk mengincar bola. Anting peraknya berkilat di bawah lampu hijau. Di sampingnya, Bryan duduk di tepi meja lain sambil membuka bungkus permen.
Kevin memukul.
Bola putih bergerak cepat, menabrak tiga bola sekaligus. Salah satunya masuk lubang sudut dengan suara bersih. Beberapa orang bersiul.
Sekar berdiri terpaku.
Ia pernah melihat Kevin di makam, di rumah sakit dalam ingatan yang belum terjadi, di atap gedung terakhir kehidupannya. Namun melihat Kevin muda di tempatnya sendiri, dengan tubuh santai dan tatapan malas yang membuat orang lain mundur, terasa berbeda.
Inilah dunia yang dulu tidak pernah ia masuki.
Inilah Kevin sebelum ia mengenalnya.
"Cari siapa, Cantik?"
Suara di samping membuat Sekar tersentak.
Dua pemuda berdiri dekat pintu. Usia mereka mungkin awal dua puluhan. Salah satunya memakai topi hitam, satu lagi memegang stik biliar sambil tersenyum terlalu lebar. Dari dekat, bau asap rokok dan parfum murah membuat Sekar ingin mundur.
"Permisi," kata Sekar.
Ia mencoba berjalan melewati mereka, tetapi pemuda bertopi memiringkan tubuh, menutup jalan.
"Santai. Baru datang kok buru-buru? Main dulu sama abang."
Sekar menjaga wajahnya tetap tenang. "Saya cari teman."
"Teman yang mana? Di sini semua bisa jadi teman."
Tawa kecil muncul dari beberapa orang di sekitar. Sekar merasakan kulit belakang lehernya meremang. Ia tidak ingin membuat keributan. Tidak di tempat yang belum ia kenal. Tetapi ia juga tidak akan menunjukkan takut.
"Tolong minggir."
Pemuda bertopi menatap rok denimnya, lalu tertawa pelan. "Galak juga. Anak sekolah, ya? Seragamnya mana?"
Sekar menggenggam tali tasnya lebih erat.
Di ujung ruangan, Bryan baru saja menoleh. Matanya membesar saat melihat Sekar.
"Bro," Bryan berdiri. "Itu bukan Sekar?"
Kevin yang sedang mengambil kapur untuk ujung stik biliar berhenti.
Sekar melihat kepala Kevin terangkat.
Jarak mereka cukup jauh, tetapi ketika mata Kevin menemukan posisinya di dekat pintu, seluruh udara di ruangan seolah berubah.
Sekar ingin tersenyum agar ia tahu dirinya baik-baik saja.
Namun saat itu, pemuda bertopi mengulurkan tangan dan menyentuh tali tasnya.
"Sombong amat. Kenalan dulu."
Sekar menarik tasnya cepat. "Jangan sentuh."
Tawa di sekeliling mengeras.
Pemuda satunya maju setengah langkah. "Eh, pelan-pelan. Kita cuma bercanda."
"Saya bilang jangan sentuh."
Suara Sekar tidak keras, tetapi cukup tajam. Beberapa orang mulai memperhatikan dengan lebih serius. Pemuda bertopi tampak tersinggung. Senyumnya hilang.
"Lo pikir lo siapa?"
Tangannya bergerak lagi, kali ini menuju pergelangan tangan Sekar.
Sekar mundur, tumitnya menyentuh anak tangga. Untuk satu detik, tubuhnya mengingat rasa jatuh. Atap gedung. Angin malam. Tangan Om Budi di bahunya.
Napasnya tercekat.
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Mungkin Yola mengecek lokasi, mungkin Oma Lien bertanya kapan pulang. Sekar ingin mengambilnya, ingin melakukan sesuatu yang masuk akal, tetapi jemarinya kaku di tali tas. Tubuhnya berada di lantai dua ruko sempit, bukan atap gedung, namun rasa kosong di belakang tumitnya sama persis.
Pemuda itu melihat ketakutannya dan salah mengartikannya sebagai tanda menyerah.
"Nah, gitu dong. Dari tadi kalau ngomong baik-baik kan enak."
Ia maju lagi.
Di ujung ruangan, stik biliar jatuh ke lantai dengan suara keras.
Sekar tidak sempat menoleh. Yang ia dengar hanya langkah cepat membelah ruangan, kursi terseret, seseorang mengumpat karena hampir tertabrak. Suasana yang tadi penuh tawa mendadak terbelah seperti air disibak paksa.
Sebelum jari pemuda itu menyentuh kulitnya, sebuah tangan lain muncul dan mencengkeram pergelangan pria itu.
Kuat.
Suara tulang tertekan terdengar pelan.
Pemuda bertopi meringis. "Aduh! Lepas!"
Kevin berdiri di depan Sekar.
Entah bagaimana ia sudah sampai di sana. Tubuhnya menutup pandangan Sekar dari orang-orang di ruangan. Bau sabun murah, asap jalanan, dan sedikit mint dari permen Bryan melekat pada jaketnya. Punggungnya lebar, bahunya tegang, dan seluruh dirinya seperti pagar hidup.
Bryan tiba beberapa langkah di belakang, wajahnya tidak lagi bercanda.
"Kevin, jangan di sini," katanya rendah.
Kevin tidak menoleh.
Matanya menatap pemuda bertopi dengan dingin yang membuat ruangan mendadak sepi.
"Minta maaf," katanya.
Pemuda itu mencoba menarik tangannya, tapi Kevin tidak melepaskan.
"Gue cuma bercanda."
"Gue nggak ketawa."
Sekar berdiri di belakang Kevin, jantungnya berantakan. Ia bisa melihat urat di leher Kevin menegang. Bisa melihat tangan kirinya terkepal di sisi tubuh. Kemarahan Kevin tidak meledak keras, justru turun menjadi dingin yang lebih berbahaya.
Pemuda satunya mengangkat stik biliar sedikit. "Eh, jangan sok jago. Ini tempat umum."
Kevin akhirnya menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat stik itu.
Bryan melangkah maju. "Turunin. Jangan cari mati."
Beberapa orang mulai mundur dari meja terdekat. Musik masih menyala, tapi tidak ada yang mendengarkan. Bola biliar berhenti bergerak di atas kain hijau.
Pemuda bertopi menahan malu. "Cewek lo?"
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka.
Sekar menahan napas.
Kevin diam satu detik.
Lalu ia menarik Sekar ke belakangnya dengan gerakan cepat namun hati-hati, seolah takut menyentuhnya terlalu keras. Jari-jarinya hanya mengenai ujung lengan cardigan Sekar, tetapi sentuhan ringan itu membuat dada Sekar panas.
"Sekarang iya," kata Kevin.
Bryan meliriknya dengan mata membulat, tapi tidak berani komentar.
Pemuda bertopi tertawa kasar, mencoba menutupi takutnya. "Baru juga datang, udah punya pahlawan."
Kevin maju setengah langkah.
Sekar melihat sisi wajahnya. Rahangnya mengeras, bibirnya hampir tidak bergerak saat ia bicara.
"Coba sentuh dia sekali lagi."