"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
Kabar mengenai calon nama Muhammad Farhan Al-Idrus menghadirkan kehangatan mendalam di seluruh sudut rumah keluarga Al-Idrus.
Habib Umar bahkan sampai meneteskan air mata bahagia saat Zaid mengutarakan niatnya di ruang keluarga.
Penghormatan Zaid kepada almarhum kakaknya tidak hanya menyembuhkan luka lama sang ayah, tetapi juga mengukuhkan betapa matangnya kedewasaan pria yang dulu dianggap sebagai anak pembangkang itu.
Namun, roda kehidupan tak pernah berhenti berputar hanya pada satu kisah manis.
Di usia kehamilan Khadijah yang memasuki bulan keenam, ujian baru mulai mengetuk pintu kehidupan Zaid.
Bukan lagi ancaman senjata dari geng motor atau intimidasi dari pengusaha korup seperti Handoko Pratama, melainkan sebuah pertarungan moral di dunia hukum yang mulai digelutinya.
Pagi itu, di kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum) independen yang didirikan Zaid dan Haikal di kawasan Jakarta Pusat, suasana tampak sibuk.
Tumpukan berkas perkara menumpuk di atas meja kayu tebal Zaid.
Haikal masuk tanpa mengetuk pintu, melempar sebuah map merah tebal ke atas meja Zaid dengan raut wajah sangat gundah.
"Lo harus lihat ini, Zaid,"
ujar Haikal sambil mendaratkan tubuhnya di kursi depan meja kerja Zaid.
Zaid menghentikan ketikannya di laptop, meraih map merah tersebut dan membukanya.
Matanya menyusuri draf kasus perdata dan pidana yang tertera di sana.
Seiring baris demi baris kata yang dibacanya, rahang Zaid perlahan menegang.
"Kasus sengketa tanah panti asuhan di Sunter?"
tanya Zaid, mendongak menatap Haikal.
"Bukan cuma sengketa tanah biasa,"
jawab Haikal rendah.
"Pihak penggugat yang mau menggusur panti asuhan itu adalah PT Surya Nusa Perdana.
Dan tahu siapa pengacara utama mereka?"
Zaid memicingkan matanya.
"Siapa?"
"Eko Prasetyo"
Zaid tertegun sejenak.
Nama itu memicu ingatan masa lalu di benaknya.
Eko Prasetyo adalah senior Zaid semasa kuliah hukum dulu seorang alumnus brilian yang pernah menjadi mentornya, namun kemudian memilih jalur sebagai corporate lawyer bernilai fantastis yang menghalalkan segala cara demi kemenangan klien berkantong tebal.
"Panti asuhan itu menampung lima puluh anak yatim, Zaid,"
lanjut Haikal dengan nada mendesak.
"Sertifikat tanah mereka diduga dipalsukan oleh oknum lurah setempat yang dibayar oleh perusahaan itu.
Pengurus panti minta bantuan kita karena tidak ada LBH lain yang berani melawan tim hukum Eko Prasetyo."
Zaid mengepalkan tangannya di atas meja.
Ini adalah kasus hukum murni pertama di mana ia harus berhadapan dengan raksasa hukum berduit melimpah tanpa perlindungan nama besar keluarganya.
"Ambil kasusnya, Kal,"
jawab Zaid tanpa ragu, matanya memancarkan ketajaman yang tak terbantahkan.
"Kita dampingi pengurus panti sampai tuntas."
Keesokan harinya, Zaid mendatangi lokasi panti asuhan di Sunter untuk melakukan verifikasi berkas dan wawancara dengan para pengurus.
Suasana panti yang sederhana, riuh oleh tawa anak-anak kecil yang berlarian tanpa dosa, mendadak tenggelam dalam ketegangan ketika dua mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gerbang.
Dari dalam mobil, keluar seorang pria berusia late-30s dengan setelan jas abu-abu mahal, disusul oleh tiga orang asistennya.
Eko Prasetyo melangkah masuk ke halaman panti dengan gaya angkuh, matanya menyapu bangunan tua itu dengan pandangan meremehkan.
Langkahnya terhenti ketika melihat Zaid berdiri di teras panti, melipat tangan di dada dengan aura berwibawa yang begitu dominan.
"Zaid Al-Idrus..."
Eko menyunggingkan senyum tipis yang sarat cemoohan.
"Saya dengar kamu membuka kantor LBH kecil-kecilan.
Tapi saya tidak menyangka kamu cukup bodoh untuk mengambil kasus yang sudah pasti kalah ini."
Zaid melangkah turun dari teras, menatap lurus ke dalam mata mantan mentornya.
"Kalah atau menang itu ditentukan di ruang sidang, Mas Eko,"
jawab Zaid tenang namun tegas.
"Bukan ditentukan dari seberapa tebal amplop yang kalian berikan pada oknum lurah untuk memalsukan sertifikat tanah ini."
Wajah Eko sedikit mengeras mendengar tuduhan langsung itu, namun dengan cepat ia menguasai diri dan tertawa pelan.
"Dunia hukum itu keras, Zaid.
Tidak sama seperti bentrok antar geng motor tempat kamu main-main dulu,"
sindir Eko tajam, mencoba menyerang titik lemah masa lalu Zaid.
"Kamu punya istri hamil di rumah, kan?
Syarifah Khadijah... wanita yang sangat terhormat.
Apa kamu tidak kasihan kalau karirmu yang baru seumur jagung ini hancur dan reputasimu busuk hanya karena membela panti asuhan tak berduit ini?"
Mendengar nama istrinya diseret dengan nada meremehkan, otot leher Zaid menegang.
Amarah tua yang dulu kerap meluap hampir saja memicu tangannya untuk mencengkeram kerah jas Eko.
Namun, Zaid memejamkan matanya sejenak.
Bayangan wajah Khadijah yang lembut dan pesan ayahnya di meja makan tadi pagi langsung menenangkan gejolak darah panasnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengukir senyum dingin yang justru membuat Eko merasa tidak nyaman.
"Terima kasih sudah mengingatkan saya tentang istri saya, Mas Eko,"
balas Zaid dengan suara rendah yang menembus pendengaran.
"Istri saya selalu mengajarkan saya bahwa rezeki yang didapat dari membela kebenaran jauh lebih berharga daripada jutaan rupiah hasil memakan hak anak yatim.
Sampai jumpa di pengadilan."
Zaid berbalik meninggalkan Eko yang terpaku dengan raut wajah masam.
Malam harinya, Zaid pulang ke rumah dengan pundak yang terasa sangat berat.
Berkas sengketa panti asuhan Sunter ternyata jauh lebih rumit dari dugaan awal.
Pihak lawan telah mengamankan banyak saksi kunci dan menutup akses bukti-bukti pertanahan di kelurahan.
Saat Zaid melangkah masuk ke dalam kamar, suasana harum terapi aromaterapi kayu cendana langsung menyambutnya.
Khadijah sedang duduk di atas sofa kamar, merajut sebuah topi bayi berwarna biru muda.
Melihat suaminya masuk dengan wajah letih, Khadijah segera meletakkan rajutannya dan berdiri menyambut Zaid.
"Mas Zaid..."
panggil Khadijah lembut.
Zaid tidak menjawab.
Ia langsung merengkuh Khadijah ke dalam pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
Khadijah mengusap punggung tegap Zaid yang tegang, merasakan beban pikiran yang sedang menindih suaminya.
"Mas sangat lelah ya hari ini?"
bisik Khadijah tulus, jemarinya bergerak memijat pelan tengkuk Zaid.
Zaid menguraikan pelukannya perlahan, menatap mata bening Khadijah.
Ia membawa tangan Khadijah ke bibirnya untuk dicium tulus.
"Kasus baru ini agak berat, Khadijah,"
adu Zaid jujur.
"Lawan kita adalah pengacara besar yang tidak segan menggunakan cara kotor.
Dan... hari ini dia mencoba menakut-nakutiku dengan membawa namamu."
Khadijah menatap Zaid lekat-lekat.
Tidak ada sedikit pun nada ketakutan di wajah manis sang Hafizah.
Sebaliknya, yang memancar hanyalah keteguhan dan kepercayaan penuh pada suaminya.
"Mas Zaid ingat tidak, apa yang Mas katakan waktu kita pertama kali berniat membuka LBH ini?"
tanya Khadijah lembut.
Zaid menatap istrinya, mencoba mengingat.
"Mas bilang... Mas ingin menggunakan ilmu hukum Mas untuk menjadi benteng bagi orang-orang yang tidak punya suara,"
ujar Khadijah, merapikan kerah kemeja Zaid.
"Kalau Mas mundur hanya karena ditekan oleh orang seperti pengacara itu, lalu siapa lagi yang akan membela anak-anak panti itu?"
Khadijah meraih tangan Zaid, lalu membawanya untuk menempel di atas perutnya yang membuncit.
"Anak kita... Muhammad Farhan... akan sangat bangga melihat Ayahnya bertarung demi keadilan anak-anak yatim itu.
Jangan pernah takut pada manusia, Mas.
Selama Mas berdiri di jalan yang benar, Allah tidak akan pernah meninggalkan kita."
Sentuhan hangat di perut Khadijah dan kata-kata bijak yang keluar dari bibir istrinya bagaikan aliran air dingin yang menyiram seluruh kepenatan di jiwa Zaid.
Rasa ragu dan kelelahan yang sempat menyusup ke hatinya seketika sirna tanpa sisa.
Zaid tersenyum tulus, membungkuk dan mencium kening Khadijah dengan penuh rasa takzim dan cinta.
"Terima kasih, Istriku.
Kamu selalu jadi kompas terbaik dalam hidupku."
Dua hari kemudian, perjuangan Zaid mulai membuahkan hasil.
Bersama Haikal, Zaid menyusuri perkampungan lama di Sunter untuk mencari mantan staf kelurahan yang dipecat secara sepihak tiga tahun lalu karena menolak menandatangani dokumen pemalsuan tanah.
Di sebuah rumah panggung sederhana di pinggir rel kereta api, Zaid berhasil menemui Pak Aris mantan staf kelurahan tersebut.
Pria tua itu awalnya takut dan enggan berbicara karena trauma atas ancaman dari pihak perusahaan.
Namun, cara pendekatan Zaid yang tulus, santun, dan tidak menyombongkan diri perlahan membuat Pak Aris luluh.
Zaid bahkan menjamin keselamatan Pak Aris dan keluarganya melalui jaringan keamanan internal LBH mereka.
"Mas Zaid..."
Pak Aris menyerahkan sebuah map plastik lusuh dari bawah lemari tuanya.
"Ini adalah salinan buku tanah asli tahun 1998 sebelum dipalsukan oleh oknum lurah.
Saya menyimpannya karena tahu suatu hari nanti akan ada orang baik yang datang membela panti itu."
Mata Zaid berbinar menatap salinan dokumen autentik tersebut.
Ini adalah bukti smoking gun yang sanggup meruntuhkan seluruh kebohongan tim hukum Eko Prasetyo di persidangan nanti.
"Terima kasih, Pak Aris,"
jawab Zaid mantap sambil menggenggam tangan pria tua itu.
"Bapak sudah menyelamatkan masa depan lima puluh anak yatim di panti itu."
Malam minggu, suasana rumah Al-Idrus kembali diwarnai kebersamaan hangat.
Zaid duduk di karpet ruang keluarga bersama Habib Umar, mendiskusikan strategi hukum yang akan digunakannya pada sidang pembuktian minggu depan.
Habib Umar menyimak pemaparan Zaid dengan senyum bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Abi selalu percaya, Zaid..."
ucap Habib Umar sambil menyesap teh hangatnya.
"Ilmu hukum yang dipadukan dengan niat membersihkan kezaliman akan menjadi pedang yang sangat tajam.
Teruskan perjuanganmu, Nak."
"Insya Allah, Bi,"
jawab Zaid mantap.
Dari arah dapur, Khadijah melangkah pelan membawa nampan berisi camilan pisang goreng hangat.
Pergerakannya anggun meski perutnya kian membesar.
Zaid yang melihat istrinya membawa nampan langsung berdiri terburu-buru dan mengambil alih nampan tersebut dari tangan Khadijah.
"Khadijah, kan sudah aku bilang jangan bawa yang berat-berat,"
tegur Zaid dengan nada rewel protektifnya.
Khadijah hanya terkekeh pelan.
"Mas ini... pisang goreng tiga biji dibilang berat."
Habib Umar tertawa melihat tingkah putra bungsunya yang begitu protektif.
"Sudah, Zaid... biarkan istri mu bergerak sedikit supaya nanti proses persalinannya lancar."
Zaid menuntun Khadijah duduk di sampingnya di sofa, melingkarkan tangannya di bahu sang istri.
Khadijah menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada Zaid, sementara jemari Zaid bergerak membelai lembut perut istrinya.
Di dalam keremangan malam Jakarta, Zaid Al-Idrus tahu bahwa tantangan di ruang sidang minggu depan akan sangat berat.
Namun, dengan kebenaran di tangannya, doa dari ayahnya, dan cinta tak terbatas dari Khadijah serta calon putra mereka, tidak ada satu pun rintangan yang mampu menghentikan langkahnya.
Pertarungan hukum demi anak-anak panti asuhan baru saja dimulai, dan Zaid siap membuktikan bahwa keadilan tidak bisa dibeli dengan uang.