Hidup dalam kemiskinan memang membuat kita sering kali terjebak dan tak bisa berkutik. setiap kali ingin bangkit, ada saja badai yang menghalangi.
ini adalah seorang anak yang berjuang membantu perekonomian keluarga nya menjadi lebih baik. tak henti henti nya Ali bangkit dari badai yang menerpa nya.
bagaimana kisah nya, apakah Ali akan berhasil membawa keluarga nya terbebas dari kemiskinan tersebut..... ikuti kisah Ali disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.4
Malam harinya, hanya ada keheningan suara jangkrik yang memenuhi rasa sunyi keluarga Ali. dewa langsung di obati dengan obat warung yang dibelikan oleh pak ustadz Yusuf. Dia tampak merenung dengan wajah sendu nya. Seandainya saja hidup nya tak susah, dan di landa kemiskinan seperti ini, pasti keluarga nya akan sejahtera.
"Mas, ini diminum teh jahe nya." Ratna membawakan segelas teh jahe yang masih mengepul di dalam gelas nya itu. tatapan nya penuh kelembutan saat melihat suami nya yang termenung di luar dengan masih memandang ke arah langit malam.
"Terima kasih ya dek." ucap nya dengan mata berkaca-kaca menatap istrinya dengan penuh cinta dan rasa bersyukur. Ratna mau hidup sederhana seperti ini. Dia benar benar beruntung memiliki keluarga yang begitu menyayangi nya.
"Mas, jangan terlalu di pikirkan ya mas, aku masih bisa bantu mas buat bayar utang nya juragan Surip. Nanti aku bantu bantu mencuci di rumah tetangga yang membutuhkan tenaga." ucap Ratna dengan tersenyum tulus ke arah dewa.
"Maafkan mas ya dek, ini semua salah mas, seandainya mas memiliki uang banyak, pasti hidup kita ga akan seperti ini."
"Sudah mas, bersyukur saja kita masih diberikan kesehatan. Liat Ali dan Dinda. mereka adalah malaikat kecil kita. Doakan saja semoga cita cita mereka tercapai, dan bisa mengangkat derajat orang tua nya."
"Amin." dalam hati dewa selalu berdoa agar putra dan putri nya bisa sukses di masa depan. Dia percaya bahwa roda kehidupan pasti akan berputar. Dia percaya bahwa putra dan putri nya akan mampu mencapai cita cita mereka. Apalagi ali dan Dinda adalah anak anak yang cerdas.
Di kamar sederhana Ali dan Dinda saat ini, gadis itu tampak menulis sesuatu di meja belajar kayu nya itu. tatapan nya berbinar dan penuh makna.
"Dek, lagi buat apa toh?" tanya Ali yang mendekati ke arah Dinda yang tampak menggambar sesuatu di sana.
"Deg.... Gambar yang di gambar dinda adalah gambar sepatu yang indah. Di sana terlihat bahwa anak perempuan yang memakai sepatu kaca itu penuh keceriaan. Mata Ali menatap ke arah adik nya dengan begitu sendu.
"Kak, andai aja kalau ayah dan ibu punya uang. Aku ingin sekali memakai sepatu yang bagus untuk sekolah." celetuk dinda yang membuat Ali menghela nafas berat nya.
Dia merasa begitu kasihan dengan Dinda, sebab sepatu adiknya sudah bolong dan sudah tak layak untuk di pakai. Tapi gadis itu tetap memakai nya.
"Dek, nanti kalau kakak punya duit, pasti akan kakak belikan.doain ya, semoga rejeki kita selalu lancar." dengan penuh pengertian, Ali mengusap rambut adik nya dengan penuh kasih sayang. Tapi di mata nya penuh tekad untuk memiliki uang agar adik nya bisa membeli sepatu baru.
Dia tak akan merepotkan siapapun, dia akan berusaha untuk membantu ayah dan ibu nya mencari uang secara diam diam.
"Aku harus membantu ayah cari uang, ayah dan ibu sudah berusaha keras selama ini, aku haru bisa membantu ayah untuk bisa membelikan Dinda sepatu baru."
Keesokan harinya...
"Nduk, bangunkan kakak mu ya nduk, suruh mandi dan sholat subuh dulu. Ibu sudah buat singkong rebus untuk kalian sarapan."
"Ngih Bu."
"Dor.... Dinda tersenyum senang saat kakak nya kaget melihat nya. tatapan Ali yang awal nya datar, kini tampak tersenyum tipis ke arah nya.
"Hahah, kakak kaget ya?"
"Dasar nakal..... Kakak kira kamu jurig tadi."
"Enak aja bilang aku jurig, aku cantik ya kakak!" ucap Dinda dengan cemberut.
"Liat tuh, muka nya di tekuk gitu, udah mirip penunggu pohon asem nya pak RT." kekeh Ali yang suka menggoda adik nya yang cengeng itu.