Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Panen Raya dan Pawai Kemenangan
Suara derak langkah kaki logam berpadu dengan napas terengah-engah menggema di lantai dua pusat perbelanjaan. Dua puluh penyintas yang baru direkrut bekerja layaknya kesetanan. Mereka mengangkut karung beras, dus makanan kaleng, galon air mineral, hingga tumpukan pakaian musim dingin, lalu melemparkannya ke dalam palka yang terbuka di punggung Kumbang Baja Pengangkut.
Arya, dengan bahu yang telah dibalut kain bersih, menatap takjub ke dalam palka tersebut. Secara logika, perut mesin mekanis itu seharusnya sudah penuh sejak lima puluh karung beras pertama dimasukkan. Namun, setiap benda yang melewati ambang pintu palka tampak menyusut dan tertelan oleh ruang hampa yang berputar pelan di dalamnya.
"Ini... ini benar-benar sihir," bisik seorang wanita paruh baya yang baru saja memasukkan sekotak penuh obat-obatan dari apotek swalayan.
"Bukan sihir. Ini adalah kekuasaan mutlak," balas Arya pelan, memperingatkan kelompoknya. "Jangan banyak bicara. Teruslah mengangkut sampai tempat ini bersih."
Yudha berdiri di dekat jendela kaca yang pecah, menatap jalan raya di bawah sana. Dari kejauhan, ia bisa melihat tumpukan tulang putih berkilau yang telah berhasil dikumpulkan oleh Lin Tian, Bara, dan yang lainnya dari bangkai Algojo Zirah Tulang.
"Waktu habis," suara Yudha memotong kesibukan para pekerja. Nadanya datar, namun seketika menghentikan semua pergerakan di ruangan itu. "Tutup palkanya. Kita turun sekarang."
Yudha menyentuhkan tangannya ke cangkang kumbang tersebut. Pintu palka tertutup rapat dengan suara desisan mekanis yang kedap udara. Mesin raksasa itu mendengung, enam kaki bajanya bergerak serempak, mengikuti Yudha layaknya hewan peliharaan yang sangat patuh.
Mereka turun menuju lantai dasar. Karena ukuran kumbang itu terlalu besar untuk eskalator, makhluk mekanis itu sekadar merayap turun dengan menghancurkan pijakan aluminium eskalator di bawah kaki-kaki bajanya yang tajam.
Saat mereka melangkah keluar dari pintu utama yang hancur, cahaya matahari siang menyambut mereka. Kabut ungu telah sepenuhnya hilang.
Di tengah jalan raya, Bara yang sedang duduk beristirahat di atas aspal langsung melompat berdiri. Matanya terbelalak lebar hingga nyaris keluar dari rongganya melihat sebuah monster baja raksasa berjalan perlahan di belakang ketua mereka, diikuti oleh puluhan orang asing yang membawa berbagai sisa perbekalan.
"Ketua... m-makhluk apa ini?!" seru Bara, insting bertahannya membuat ia tanpa sadar mengangkat parangnya.
Lin Tian dan Lin Chen, meski juga terkejut, segera menekan rasa gentar mereka. Mereka segera menangkupkan tangan memberi hormat. Lin Tian menatap kumbang mekanis itu, lalu beralih menatap lengan baja hitam di tangan kanan Yudha. Rasa kagum di hatinya semakin tidak terbendung.
"Singkirkan senjatamu, Bara. Ini adalah mesin pengangkut ciptaanku," ucap Yudha tanpa berhenti melangkah. Ia menunjuk ke arah tumpukan tulang raksasa setinggi dua meter di dekat mereka. "Masukkan semua tulang itu ke dalam palka. Kita pulang."
Mendengar bahwa raksasa baja itu adalah ciptaan sang ketua, keangkuhan Bara sebagai mantan preman jalanan hancur sepenuhnya tanpa sisa. Ia dan anak buahnya segera bekerja sama dengan kelompok Arya untuk memasukkan tulang-tulang sekeras baja itu ke dalam Kumbang Pengangkut.
Setelah semuanya masuk, rombongan besar itu mulai berbaris menuju markas.
Perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Jika saat berangkat mereka harus mengendap-endap seperti tikus, kini mereka berjalan layaknya pasukan penakluk yang kembali dari medan perang. Kumbang Baja Pengangkut berjalan di tengah, diapit oleh Bara dan anak buahnya. Lin bersaudara memimpin di depan, membuka jalan, sementara Yudha berjalan paling belakang, memastikan tidak ada yang tertinggal.
Di balik jendela-jendela apartemen dan gedung perkantoran di sepanjang jalan, belasan pasang mata penyintas lain mengintip dengan campuran rasa iri, takut, dan putus asa. Beberapa kelompok preman yang bersembunyi di gang-gang sempit bahkan tidak berani bernapas terlalu keras saat rombongan Tatanan Besi Hitam melintas.
Di era kiamat yang baru berumur hitungan hari ini, memiliki pasukan, makanan melimpah, dan monster mekanis adalah tanda dari seorang penguasa tiran yang tidak boleh disentuh.
Tiga puluh menit kemudian, gerbang pabrik baja yang menjulang tinggi terlihat. Menara Lontar Elektromagnetik berputar, lensa merahnya memindai rombongan tersebut, mengenali tanda energi dari Yudha, lalu kembali ke posisi siaga tanpa menembak.
"Buka gerbang!" teriak Lin Tian.
Gerbang besi berat itu berderit terbuka. Para pekerja kasar yang sedari tadi dilanda kecemasan di dalam halaman pabrik kini bersorak tertahan melihat ketua mereka kembali dengan selamat. Namun, sorakan itu terhenti seketika saat melihat Kumbang Baja merayap masuk. Mereka mundur ketakutan, hingga Lin Chen harus membentak mereka untuk tetap di tempat.
Yudha melangkah ke tengah halaman. Sebanyak tiga puluh lima orang kini berdiri melingkarinya, menundukkan kepala mereka menunggu titah.
"Keluarkan isinya," perintah Yudha seraya menyentuh cangkang kumbang.
Palka terbuka, dan mekanisme ruang terkompresi memuntahkan isinya. Berkarung-karung beras, ratusan kaleng daging, galon air, obat-obatan, dan setumpuk tulang putih raksasa yang memancarkan hawa dingin memenuhi tengah halaman.
Para pekerja kasar menatap tumpukan makanan itu dengan air mata berlinang. Di luar sana, orang-orang saling membunuh demi sebungkus biskuit basah, sementara di sini, mereka memiliki pasokan makanan yang cukup untuk makan layak selama berbulan-bulan.
"Dengarkan baik-baik," suara Yudha menggema, memecah kebisuan mereka. "Mulai hari ini, Tatanan Besi Hitam dibagi menjadi tiga kelompok."
Yudha menunjuk ke arah Arya yang berdiri dengan bahu terbalut. "Arya, kau kuangkat menjadi Kepala Logistik. Seluruh makanan, air, dan obat-obatan berada di bawah pengawasanmu. Atur jatah makan agar semua orang memiliki tenaga untuk bekerja. Tidak ada yang boleh mengambil makanan tanpa izin darimu."
"S-siap, Ketua! Saya tidak akan mengecewakan Anda!" jawab Arya, langsung bersujud syukur.
Yudha lalu menoleh ke arah pria botak besar di samping kumbang. "Bara, kau dan orang-orangmu yang bertubuh kuat adalah Kelompok Konstruksi dan Penjaga Gerbang. Bangun barikade tambahan dari sisa mobil di jalan raya, perkuat tembok, dan pastikan tidak ada yang mendekati wilayah kita radius seratus meter."
Bara membusungkan dadanya, merasa bangga mendapat peran penting. "Pasti, Ketua! Kepala mereka akan kupisahkan dari badannya jika berani mendekat."
Terakhir, Yudha menatap Lin Tian dan Lin Chen. Dua pedang tertajamnya.
"Lin Tian, Lin Chen. Kalian tidak lagi mengurusi urusan di dalam tembok ini. Mulai besok, kalian adalah inti dari Pasukan Tempur. Tugas kalian adalah membantai monster di sekeliling wilayah kita, mengumpulkan kristal energi, dan memimpin ekspedisi perluasan wilayah."
Kedua bersaudara itu serentak menjatuhkan satu lutut ke tanah. "Nyawa kami untuk Tatanan, Ketua!"
Yudha mengangguk pelan. Pembagian tugas ini akan membuat markas berjalan otomatis, memungkinkannya untuk fokus pada hal yang paling penting: meningkatkan kekuatan pribadinya dan menciptakan persenjataan pembunuh dewa.
"Bawa tulang-tulang raksasa itu ke bengkel utamaku," perintah Yudha terakhir kali, matanya menatap tajam ke arah tumpukan zirah putih tersebut. "Hari ini kalian boleh makan daging. Nikmati malam ini. Karena besok, pelatihan neraka yang sesungguhnya baru akan dimulai."
Sementara halaman pabrik meledak dalam sorak-sorai bahagia, Yudha melangkah sendirian menuju bangunan bengkelnya yang gelap.