Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Lobi gedung itu masih saja padat seperti saat Nadya pertama kali melangkah masuk. Orang-orang hilir mudik dengan urusan masing-masing, ada yang duduk tenang sambil mendalami naskah di tangan, ada yang komat-kamit berdoa meredakan gelisah, dan tak sedikit yang sibuk menyempurnakan riasan. Namun, atensi Nadya justru tertambat pada sebuah pintu tertutup di sudut ruangan. Di sana, seorang staf berdiri siaga, memanggil peserta baru setiap kali ada yang melangkah keluar.
Ruang audisi itu memancarkan aura tersendiri. Beberapa peserta keluar dengan raut cerah, mengisyaratkan akting mereka berhasil memikat juri atau setidaknya mendapat pujian di dalam sana. Sebaliknya, tak sedikit pula yang melangkah gontai dengan wajah muram, menyisakan kekecewaan atas penampilannya yang kurang maksimal.
Nadya sendiri mendapat nomor urut lima di sesi kedua. Dengan total 20 orang per sesi yang dipanggil satu per satu, giliran Nadya kian mendekat.
Bohong besar jika ia mengaku tak gugup. Telapak tangannya kini dingin dan basah oleh keringat. Bahkan draf skenario yang diberikan Riska kemarin rasanya menguap begitu saja dari ingatannya, padahal ia sudah berulang kali merapalkan barisan dialog itu di dalam hati.
Menghembuskan napas panjang, Nadya kembali mengalihkan perhatiannya pada lembaran kertas di tangan, memusatkan fokus agar tak melakukan kesalahan konyol nanti. Baginya, meski tak terpilih sekalipun, setidaknya ia tak ingin menanggung malu di hadapan para juri.
"Minumlah."
Sebuah tumbler merah muda milik Nadya terulur tepat di depan matanya. Rexsaka menyerahkannya dengan gerakan kaku, sebuah perhatian kecil yang mendadak terasa begitu asing, namun secara ajaib mampu mengalirkan kehangatan di hati Nadya.
"Terima kasih, Kak," bisik Nadya pelan.
Ia menerima botol itu lalu meminum isinya perlahan, berusaha meredam gejolak yang berkecamuk di dalam dada, baik karena sikap tak terduga Rexsaka, maupun rasa cemas membayangkan gilirannya bertatap muka dengan para juri nanti.
Tegukan air dingin itu berhasil mengikis sedikit rasa gugupnya. Namun, tepat saat Nadya hendak memasang kembali tutup tumbler-nya, pintu ruang penjurian mendadak terbuka lebar. Seorang peserta berlari keluar dengan panik, wajahnya pucat sembari meratapi lembaran dokumen yang tercecer, tanpa memedulikan arah langkahnya di tengah keramaian lobi.
"Awas!"
Orang itu hampir saja menabrak tubuh Nadya yang lengah. Namun, sebelum benturan itu terjadi, sebuah lengan kekar menyambar pinggang halus Nadya dengan refleks sempurna.
Cengkeraman kuat di pinggangnya menarik tubuh Nadya dalam satu sentakan cepat. Brak! Tumbler merah muda di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai, tetapi Nadya sama sekali tak sempat memikirkannya. Tubuhnya terdorong sepenuhnya ke depan, terbanting lembut tepat di atas dada bidang Rexsaka yang tegap dan kokoh bak perisai.
Aroma musk maskulin yang dominan bercampur kehangatan tubuh sang perwira mendadak memenuhi indra penciuman Nadya. Selama beberapa detik, keriuhan lobi gedung seakan lenyap seketika, digantikan oleh suara hembusan napas mereka yang bertautan erat.
Nadya mendongak perlahan, matanya yang berbinar membulat sempurna. Wajah mereka terpisah hanya selapis udara. Di atasnya, Rexsaka menatap turun tepat ke manik matanya, jemari tegap sang perwira masih mencengkeram pinggangnya dengan protektif, sementara rahang tegas pria itu mengeras kaku, menahan gejolak tersembunyi dari detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di balik kemejanya.
"Sorry, gue lama ya?"
Sahutan Riska yang baru kembali dari kamar mandi seketika memotong mozaik romantis di antara mereka. Bagai tersengat listrik, Nadya buru-buru melepaskan diri dari dekapan Rexsaka. Pipinya memerah padam akibat canggung yang luar biasa. Ia merapikan pakaiannya dengan serba salah, menolak menatap mata sang perwira.
Sebaliknya, Rexsaka tampak rileks dan biasa saja. Tanpa sedikit pun sisa kegugupan, pria itu hanya menegakkan kembali posisi berdirinya dengan santai, mengamati sekitar seolah tidak baru saja memeluk gadis di sampingnya.
"Lo ke toilet gedung ini apa ke Margonda, sih? Lama amat!" omel Nadya mengalihkan rasa malunya.
"Hehehe... sorry, Nad. Habisnya perut gue mendadak mulas banget," kekeh Riska mengelus perutnya. "Perasaan Lo yang mau casting, kok malah gue yang nervous banget ya?"
Tepat saat Nadya hendak membalas racauan sahabatnya, derap langkah sepatu hak tinggi berbunyi nyaring di lantai marmer lobi. Aroma parfum menyengat mendadak menyeruak sebelum pemiliknya menampakkan diri.
"Wah, wah... lihat siapa yang ada di sini."
Jesica, gadis yang dikenal selalu meniru gaya berpakaian Nadya dan tak pernah absen mengibarkan bendera perang dengannya, melangkah anggun menghampiri. Gaya rambut, potongan gaun, bahkan warna lipstik yang ia kenakan hari ini tampak begitu familier, persis seperti penampilan Nadya saat menghadiri acara komersial minggu lalu.
Jesica bersedekap, melemparkan tatapan meremehkan dari ujung kepala hingga ujung kaki Nadya. "Kamu ikut casting ini juga, Nad? Berani banget ya, padahal saingannya aktris kelas atas semua. Aku sih sebenarnya cuma memenuhi undangan khusus dari produser, tapi ya... anggap saja ini ajang pemanasan."
Jesica sengaja mengibaskan rambutnya, bermaksud memancing emosi. Namun, bukannya terpancing, Nadya justru membuang pandangan dengan acuh tak acuh. Bagi Nadya, ambisi kekanak-kanakan Jesica yang selalu ingin bersaing dengannya sama sekali tak layak mendapat porsi perhatian di benaknya, terlebih saat ini, ada dua mata tajam milik Rexsaka yang diam-diam ikut mengawasi setiap pergerakan gadis peniru itu.
"Dasar belagu! Modal jiplak doang bangga. Gue yakin dia bisa bertahan di industri ini cuma gara-gara menjajakan tubuh tripleksnya itu!" gerutu Riska pedas.
"Hush! Mulut Lo, ya, Ris!" sergah Nadya memperingatkan. "Kalau ada yang dengar bisa berabe, tahu gak? Bagaimanapun juga penggemarnya banyak, hati-hati Lo bisa diamuk nanti."
"Ck, gue tuh kesel, Nad! Di kampus dia sering banget recokin Lo, di sini juga ikut-ikutan. Kayaknya dia penggemar fanatik Lo deh, tapi herannya gak ada love-love-nya sama sekali," cibir Riska. Matanya lalu memicing tajam. "Lihat deh tas Gucci itu! Bukannya itu model yang Lo pakai minggu lalu? Gue yakin itu KW."
Dagu Riska terangkat menuju Jesica yang kini sibuk memainkan rantai emas tas Gucci GG Marmont di bahunya, melengkapi penampilannya yang selalu berusaha tampak paling mencolok di antara orang lain.
"Udah, Ris, gak usah dipikirin orang kayak gitu," sahut Nadya santai.
Sejujurnya, Nadya sama sekali tak terganggu oleh kehadiran 'musuh bebuyutannya' itu. Namun, yang justru mengusik ketenangannya saat ini adalah interaksi terselubung antara Rexsaka dan Jesica.
Nadya tak bisa mengabaikan tatapan tajam Rexsaka yang tak seperti biasa yang tertuju lurus pada gadis itu. Di sisi lain, gesture Jesica tampak janggal, ada gestur takut yang kentara, tetapi sekaligus memancarkan rasa tertarik pada sang perwira. Sementara Rexsaka... tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari Jesica. Dingin, tajam, dan penuh kewaspadaan. Entah mengapa, Nadya merasa ada sesuatu yang tak pernah ia ketahui di antara keduanya. Bukan sekadar tatapan dua orang asing, melainkan tatapan orang-orang yang pernah saling berhadapan sebelumnya.