NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Di tengah kesibukan dapur yang mencekam, Arka tiba-tiba membungkuk.

Wajahnya yang semula tegang karena emosi mendadak pucat pasi.

Ia memegangi perutnya yang melilit hebat, efek dari melewatkan makan seharian dan kelelahan yang memuncak. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

Sari, yang sedari tadi bersikap acuh tak acuh, seketika tersentak melihat kondisi Arka.

Gengsi yang ia bangun setinggi langit runtuh saat melihat pria itu hampir tersungkur.

Tanpa memedulikan rasa sakit di tangannya sendiri, Sari segera meraih kotak P3K di atas lemari dapur, mencari obat maag yang biasanya disimpan di sana.

"Arka, minum ini dulu," ujar Sari. Nadanya tidak lagi dingin, melainkan penuh kekhawatiran yang tulus.

"Kamu sudah keterlaluan memforsir tubuhmu."

Arka berusaha menolak dengan tangan gemetar, namun Sari menepisnya lembut.

"Dengar, aku tidak akan membiarkanmu pingsan di sini. Biar aku yang melanjutkan membungkus kue-kue ini. Kamu harus istirahat sekarang juga."

Arka ingin memprotes, namun tubuhnya sudah tidak sanggup lagi. .

Pandangannya mulai berkunang-kunang. Dengan tertatih-tatih, pria itu akhirnya mengangguk pasrah.

Ia menyeret langkah menuju kamarnya, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya.

Malam berganti sunyi, hanya menyisakan deru napas Sari dan gemericik air kukusan.

Sari sendirian di dapur. Tangannya yang terbalut kasa putih kini bekerja lebih keras dari sebelumnya.

Ia membungkus satu per satu kue klepon dan dadar gulung dengan gerakan yang semakin terampil, meski terkadang ia harus meringis menahan nyeri di lukanya.

Sari tidak lagi memikirkan harga dirinya sebagai CEO.

Ia hanya ingin kue-kue ini selesai agar Arka bisa berjualan dengan tenang saat subuh nanti.

Tanpa terasa, waktu terus merayap maju. Jarum jam di dinding kini telah menunjuk ke angka tiga pagi.

Di luar, langit masih gelap pekat, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar Arka.

Pria itu masih terlelap dalam tidurnya yang sangat dalam, terjebak dalam kelelahan yang mungkin baru kali ini ia rasakan setelah bertahun-tahun berjuang sendirian.

Sari menatap pintu kamar Arka sejenak, lalu menghela napas panjang.

Ia masih harus menyelesaikan bungkusan terakhir sebelum waktu subuh menjemput.

Jarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjuk ke angka tiga pagi.

Di atas meja dapur, ribuan butir klepon, putu ayu, dan gulungan dadar hijau telah berjajar rapi, terbungkus plastik mika dengan presisi yang mengagumkan.

Sari menyeka sisa keringat di pelipisnya dengan punggung tangan.

Seluruh modal tenaga dan ketahanannya telah diperas habis, namun tumpukan wadah besar yang kini terisi penuh memicu kepuasan tersendiri di hatinya.

Sari melangkah pelan menuju kamar Arka, lalu mendorong pintunya yang sedikit renggang.

Di dalam, Arka masih mendengkur halus, tertidur sangat pulas.

Pengaruh cairan obat maag dosis tinggi dikombinasikan dengan kelelahan hebat selama berhari-hari tampaknya telah mengunci kesadaran pria itu rapat-rapat.

Sari menatap wajah lelah itu dengan sorot mata melembut.

Ia tahu, jika ia membangunkan Arka sekarang, pria itu pasti akan memaksakan diri bangkit walau tubuhnya goyah.

Namun, membiarkan Arka melewatkan pasar subuh berarti membuang seluruh bahan baku yang telah mereka beli dengan cucuran keringat tadi malam.

Pada titik ini, jiwa kepemimpinan seorang Sari Maheswara yang terbiasa mengambil keputusan krusial di bawah tekanan langsung mengambil alih. Ia tidak akan membiarkan kerja keras mereka sia-sia.

Sari mundur beberapa langkah, lalu merogoh ponselnya di ruang tengah.

Ia mendial sebuah nomor dengan suara berbisik yang sangat rendah.

"Pak Joko? Bangun sekarang. Bawa mobil utilitas biasa, jangan mobil mewah. Datang ke titik koordinat yang saya kirimkan dalam waktu lima belas menit. Ini perintah rahasia," ucap Sari tegas, langsung mematikan sambungan begitu mendapat jawaban siap.

Tepat pukul setengah empat, sebuah mobil minibus hitam sederhana berhenti di depan teras kontrakan tanpa suara klakson.

Dengan gerakan taktis, Sari bersama sopir pribadinya mengangkut wadah-wadah kue raksasa itu ke dalam bagasi belakang.

Langkah mereka begitu senyap, memastikan Arka tetap terjaga dalam istirahat amannya.

Sesampainya di pelataran pasar subuh yang mulai riuh oleh deru mesin pikap dan teriakan para tengkulak sayur, Sari segera turun.

"Ibu, biar saya saja yang turunkan semua wadah ini," bisik Pak Joko cemas, melihat kedua belah telapak tangan majikannya masih terlilit balutan kasa putih.

"Tidak usah. Bantu saya angkat wadah yang paling besar ini ke meja lapak, setelah itu kamu langsung pergi dari sini. Jangan sampai ada orang pasar yang mencurigai keberadaanmu," perintah Sari mutlak.

Setelah semua wadah kue tertata di atas meja semen lapak milik Arka, Pak Joko membungkuk hormat lalu segera melajukan mobilnya membelah kegelapan pagi, meninggalkan Sari sendirian di tengah hiruk-pikuk yang terasa asing.

Sari berdiri tegak di balik meja kayu. Angin malam menjelang subuh berembus menusuk kulit, namun ia mengabaikannya.

Menggunakan sela-sela jarinya yang tidak terluka, ia mulai membuka tutup wadah satu per satu, menampilkan barisan kue putu ayu dan dadar gulung yang harum dan menggugah selera.

Rasa canggung, asing, dan lelah yang luar biasa sempat menghinggapi benaknya saat beberapa pedagang di kanan-kirinya mulai melemparkan tatapan heran melihat eksistensi seorang wanita kota berwajah dingin yang kini menjaga lapak perajin kue terkondang di pasar itu.

Namun, Sari menegakkan bahunya, mengunci pandangannya lurus ke depan, siap menghadapi gelombang pembeli pertama demi menjaga kelangsungan usaha pria yang telah menyelamatkannya.

Dari kejauhan, di balik pilar los pasar yang remang-remang, sepasang mata milik Niken mengawasi lapak Arka dengan tatapan penuh selidik.

Lapak itu tampak mulai dikerumuni pembeli, namun ada satu kejanggalan yang langsung disadari oleh Niken: sosok Arka tidak ada di sana.

Di balik meja semen itu, hanya ada Sari yang berdiri sendirian melayani pelanggan dengan kaku.

Niken yang masih besar kepala—merasa di atas angin karena mengira bentakan Arka semalam adalah bukti bahwa pria itu masih mencintainya—langsung menyimpulkan sepihak.

Ia mengira Arka sengaja meninggalkan wanita kota itu di pasar sebagai hukuman.

Seketika, ide jahat tebersit di benak Niken yang picik. Ia segera melambaikan tangan, memanggil suaminya, Baron, yang kebetulan sedang berada tak jauh dari sana.

"Mas, lihat itu. Si jalang kota itu sendirian. Arka tidak ada," bisik Niken penuh intrik. "Ini kesempatan kita."

Memanfaatkan situasi di mana Sari sedang sibuk parah melayani serbuan pembeli di bagian depan, Baron menyelinap dari arah belakang lapak.

Dengan gerakan lihai di tengah kelengahan Sari, Baron merogoh laci kayu di bawah meja dan mengambil paksa wadah plastik berisi uang hasil dagangan subuh itu.

Setelah berhasil mengacaukan lapak Sari dan mengantongi uang curian, Niken tidak membuang waktu.

Sebelum fajar menyingsing sepenuhnya, ia bergegas menuju rumah kontrakan Arka.

Tok!

Tok!

Niken menggedor pintu kayu kontrakan dengan brutal, menciptakan suara panik yang sengaja dibuat-buat agar terdengar darurat.

Di dalam rumah, Arka tersentak bangun. Kepalanya masih terasa luar biasa pening dan tubuhnya lemas akibat pengaruh obat maag dosis tinggi.

Dengan langkah gontai, ia membuka pintu. Begitu mendapati Niken yang berdiri dengan napas terengah-engah di ambang pintu, Arka mengernyitkan dahi.

"Arka! Gawat, Arka!" pekik Niken, langsung melancarkan fitnah besarnya tanpa memberi Arka waktu untuk berpikir.

"Perempuan kota yang kamu bawa itu, dia keterlaluan! Dia membuang semua dagangan kue yang kamu bikin semalam ke tempat sampah di pasar!"

Arka tertegun, kesadarannya belum terkumpul penuh.

"Apa...?"

"Dia dendam karena kejadian semalam, Arka! Dia marah karena kamu membelaku!" lanjut Niken dengan wajah meyakinkan, menumpahkan racun ke dalam pikiran mantan suaminya.

"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, semua kuemu dibuang ke tong sampah besar di belakang los! Sekarang perempuan itu sudah kabur, pergi entah ke mana membawa mobil mewah!"

Mendengar nama Sari dan nasib dagangan kuenya disebut, emosi Arka yang biasanya stabil langsung tersulut hebat.

Kue-kue itu adalah urat nadinya, sumber penghidupannya yang ia bela dengan cucuran keringat setiap malam.

Arka melirik ke arah dapur melalui sudut matanya dan menyadari dapur sudah kosong melompong—dan Sari memang tidak membangunkannya sama sekali pagi ini.

Trauma masa lalu tentang pengkhianatan dan rasa frustrasinya sebagai orang kecil yang selalu diinjak-injak oleh orang kota mendadak mencuat kembali ke permukaan dengan sangat liar.

Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dadanya bergemuruh hebat oleh amarah yang membakar.

Ia merasa dikhianati secara brutal oleh Sari—wanita yang sempat ia kira tulus merendahkan hati untuk membantunya.

"Pulanglah, Niken," desis Arka dengan suara rendah yang bergetar menahan amuk.

Setelah Niken pergi dengan senyum kemenangan tersembunyi, Arka menutup pintu dengan bantingan keras.

Dalam kondisi tubuh yang masih didera sakit, Arka memutuskan untuk tidak pergi ke pasar.

Dengan tatapan mata yang berubah setajam silet dan dipenuhi kekecewaan mendalam, ia duduk di kursi kayu ruang tengah.

Ia bergeming di sana, bersiap menunggu kepulangan Sari untuk meminta pertanggungjawaban atas kekacauan dan luka yang telah wanita itu torehkan pagi ini.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!