NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Jika ada satu hal yang paling dibenci Kirana Larasati di dunia ini, itu adalah ketidakpastian. Sebagai seorang sekretaris profesional, hidupnya diatur oleh angka, jadwal yang tersusun rapi, dan spreadsheet yang rapi. Namun, sejak Raditya Baskara menyeretnya ke dalam skenario gila bernama 'pacaran kontrak' hidup Kirana yang damai seketika runtuh dan berubah menjadi wahana komedi putar yang tidak tahu kapan akan berhenti.

Pagi itu, di meja kerja Kirana, selembar dokumen tebal sudah terletak rapi di sana, Bukan laporan keuangan kuartal pertama, melainkan draf 'Non-Disclosure Agreement' (NDA) alias kontrak pacar sewaan.

Kirana memakai kacamata bacanya, lalu mulai meneliti pasal demi pasal dengan dahi berkerut.

*PASAL 3. PERILAKU DI DEPAN UMUM*

*Pihak Kedua (Kirana Larasati) wajib menunjukkan sikap yang meyakinkan kepada Pihak Pertama (Raditya Baskara) saat berada di lingkungan keluarga Pihak Pertama atau di depan media. Sikap yang dimaksud meliputi bergandengan tangan, tatapan penuh cinta, dan panggilan sayang yang natural (disarankan tidak memanggil 'Pak' atau 'Bos').*

Membaca semua itu Kirana menghela napas berat. dia mengetuk pulpennya ke meja, lalu menatap pintu ruangan Radit yang masih tertutup. Baru saja dia mau berdiri untuk mengonfirmasi beberapa poin, pintu itu terbuka.

Radit keluar dengan setelan jas mahal berwarna navy. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, dan posturnya tegap seperti model majalah bisnis. Namun, semua wibawa itu langsung luntur begitu Kirana melihat apa yang ada di tangan kanan bosnya.

Sebuah boneka ayam plastik kuning yang kalau dipencet bisa mengeluarkan suara jeritan nyaring.

Kweeeek!

Radit memencet boneka itu tepat di depan wajah Kirana.

"Pagi, Kirana! Bagaimana kontraknya? Sudah siap ditandatangani, atau ada pasal yang kurang romantis?" tanya Radit dengan santainya.

Kirana menurunkan kacamatanya dengan satu jari lalu menatap Radit datar.

"Selamat pagi, Pak Radit. Pertama, mohon jauhkan ayam itu dari wajah saya. Kedua, ada beberapa poin di Pasal 3 yang menurut saya terlalu berlebihan. 'Tatapan penuh cinta'? Saya ini sekretaris Anda, Pak, bukan aktris peraih Piala Citra" ucap Kirana dengan dingin.

Radit terkekeh, lalu duduk di ujung meja kerja Kirana tanpa izin, kebiasaan buruk yang selalu membuat Kirana ingin menyemprot meja itu dengan disinfektan.

"Kirana, Kirana... akting itu harus totalitas" ucap Radit sambil mengayun-ayunkan kakinya. "Ibuku itu mantan detektif swasta sebelum nikah sama Ayah. Dia bisa mencium bau kebohongan dari jarak satu kilometer. Kalau tatapanmu ke aku masih kayak tatapan mau nagih utang begini, dalam tiga detik penyamaran kita pasti terbongkar" ucap Radit menjelaskan.

"Lalu apa gunanya kontrak ini kalau kita langsung ketahuan?" ucap Kirana logis.

"Makanya, kita butuh latihan. Malam ini, ibuku mengadakan makan malam keluarga di kediaman Baskara. Kamu ikut. Dan ingat, panggil aku Radit atau Sayang. Jangan Pak. Kedengaran seperti kita sedang melakukan pelanggaran ketenagakerjaan di depan orang tuaku" ucap Radit.

Kirana memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Baik, Pak... maksud saya, Radit. Tapi saya punya satu syarat tambahan di kontrak ini" ucap Kirana.

"Apa?" tanya Radit.

"Tidak ada kontak fisik di luar yang tertulis di kontrak. Dan tidak ada improvisasi aneh dari Anda" ucap Kirana.

Radit tersenyum misterius, senyuman yang selalu membuat alarm bahaya di kepala Kirana berbunyi keras.

"Deal. Tanda tangani, dan mari kita mulai pertunjukannya" ucap Radit.

Sore harinya, Jakarta diguyur hujan deras yang seolah menumpahkan seluruh isi langit. Jalanan ibu kota langsung lumpuh akibat macet total. Di dalam mobil sedan mewah milik Radit, suasana terasa hening, hanya ditemani suara wiper yang bergerak dinamis dan ketukan jari Kirana yang gelisah di atas pangkuannya.

Kirana sudah berganti pakaian menggunakan gaun midi berwarna marun yang sopan namun elegan. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai bergelombang.

Radit yang sedang menyetir sesekali melirik ke samping.

"Kamu cantik malam ini, Kirana. Tapi mukamu tolong dikondisikan. Kamu seperti mau dieksekusi mati, bukan mau makan malam sama calon mertua" ucap Radit mencoba mencairkan suasana.

"Saya hanya gugup" ucap Kirana jujur. tangannya bahkan sudah dingin. "Bagaimana kalau saya salah bicara?" lanjutnya.

"Tenang saja, ada aku. Lagipula, ibuku tidak menggigit. Paling cuma menginterogasi tentang silsilah keluargamu sampai tujuh turunan" canda Radit yang sama sekali tidak membantu menenangkan Kirana.

Tiba-tiba, mesin mobil batuk-batuk.

Uhuk... uhuk...

Dan dalam hitungan detik, mesin itu mati total di tengah jalanan yang banjir semata kaki. indikator mesin di dasbor menyala merah.

"Astaga, jangan sekarang" gumam Radit sedikit panik. Dia mencoba menstarter kembali mobilnya, namun nihil. Mobil itu resmi mogok.

Kirana pun ikut panik. Dia melihat jam tangannya.

"Radit, ini sudah jam tujuh kurang lima belas. Makan malamnya jam tujuh tepat, kan? Rumah ibumu masih dua blok lagi dari sini!" ucap Kirana.

Radit menghela napas, lalu memeriksa bagasi belakang lewat jok dalam. Dia berbalik dengan senyum kemenangan sambil memegang dua buah benda plastik tipis.

"Keberuntungan berpihak pada kita. Aku punya jas hujan" ucap Radit.

Kirana membelalakkan mata melihat benda di tangan Radit. Itu bukan jas hujan berkualitas tinggi, melainkan jas hujan plastik sekali pakai seharga sepuluh ribu yang biasa dijual di pinggir jalan. Satu berwarna hijau neon, dan satu lagi berwarna merah muda terang.

"Anda bercanda, kan? Kita mau ke rumah konglomerat Baskara dengan memakai jas hujan plastik?" suara Kirana naik satu oktaf.

"Daripada kita telat dan gaun mahalmu itu basah kuyup? Ayolah, Kirana, adventure time" ucap Radit.

Sebelum Kirana sempat protes lebih jauh, Radit sudah keluar dari mobil, menerobos hujan, dan memakai jas hujan warna hijau neon yang membuatnya terlihat seperti sebatang seledri raksasa. Dia kemudian membukakan pintu untuk Kirana, menyodorkan jas hujan warna merah muda.

Dengan sisa-sisa harga diri yang merosot tajam, Kirana memakai jas hujan plastik itu di atas gaun marunnya. Mereka berdua akhirnya berjalan kaki di trotoar, menerobos hujan deras Jakarta. Radit berjalan di sisi luar, menghalangi cipratan air dari mobil yang lewat dengan badannya, sebuah tindakan yang sempat membuat jantung Kirana berdegup aneh selama beberapa detik.

Namun, momen romantis itu langsung hancur ketika Radit tiba-tiba terpeleset genangan air dan hampir jatuh terjengkang kalau saja dia tidak berpegangan pada tiang listrik.

"Fokus, Pihak Pertama! Jangan mempermalukan diri sendiri sebelum kita sampai" teriak Kirana di balik deru angin dan hujan.

Radit hanya tertawa keras, wajahnya basah oleh air hujan, namun matanya memancarkan binar usil yang jarang Kirana lihat di kantor. Untuk pertama kalinya, Kirana melihat Radit bukan sebagai bos yang menyebalkan, melainkan sebagai seorang pria yang tahu cara menikmati hidup, sekacau apa pun situasinya.

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang rumah besar keluarga Baskara. Penampilan mereka benar-benar mengenaskan. Jas hujan plastik mereka sudah robek di beberapa bagian, rambut Kirana lepek, dan sepatu pantofel Radit mengeluarkan suara bep-bep-bep setiap kali melangkah karena kemasukan air.

Seorang pelayan rumah dengan seragam rapi membukakan pintu dan langsung terperangah melihat penampilan sang tuan muda.

"Malam, Pak Joko. Tolong buang ini ya" ucap Radit santai sambil melepas jas hujan plastiknya yang sudah basah kuyup, diikuti oleh Kirana.

Di dalam ruang tamu yang megah dan berlantai marmer berkilau, seorang wanita paruh baya dengan pakaian sutra elegan sedang berdiri menyilangkan tangan. Sinar matanya tajam, memancarkan aura otoritas yang kuat. Itulah Sofia Baskara, sang ibu negara di keluarga Baskara.

Sofia menatap anak laki-lakinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Kirana yang berdiri kaku di samping Radit.

Suasana menjadi sangat tegang. Kirana sudah bersiap untuk menerima cacian atau pengusiran karena datang dengan penampilan sekacau ini. dia meremas jemarinya sendiri, bersiap menghadapi skenario terburuk.

Namun, di luar dugaan, Radit tiba-tiba melangkah maju dan merangkul pinggang Kirana dengan erat. Tindakan yang sangat natural, seolah mereka sudah melakukannya ribuan kali.

"Ibu, maaf kami telat. Mobilku mogok di jalan" ucap Radit dengan suara yang mendadak melunak dan penuh kasih sayang. "Tapi aku tidak mau membatalkan acara malam ini. Soalnya, Kirana sudah tidak sabar untuk bertemu Ibu. Dia bahkan rela jalan kaki menembus badai demi Ibu" lanjutnya.

Kirana tersentak pelan mendengar kebohongan publik yang diucapkan Radit dengan begitu lancar. Namun, mengingat Pasal 3 di dalam kontraknya, Kirana langsung memaksakan sebuah senyuman manis yang sejujurnya lebih mirip seringai menahan korsleting listrik.

"Benar, Tante... eh, Ibu" ucap Kirana, dia buru-buru meralat panggilannya saat melihat tatapan tajam Sofia. "Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan Anda" lanjutnya.

Sofia berjalan mendekati mereka berdua. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi terdengar nyaring di atas marmer. Dia berhenti tepat di depan Kirana, menatap wajah Kirana yang agak basah dengan lekat.

Kirana menahan napas.

"Mati aku" pikir Kirana.

Tiba-tiba, Sofia mengulurkan tangannya. Bukan untuk menampar atau menunjuk pintu keluar, melainkan untuk menyeka sebutir air hujan yang menetes di dahi Kirana dengan selembar tisu yang diambilnya dari kantong.

Senyum tipis perlahan terbit di wajah tegas Sofia.

"Kalian berdua benar-benar gila" ucap Sofia, suaranya terdengar renyah. "Jalan kaki di tengah badai? Raditya, kamu benar-benar tidak becus merawat pacarmu. Tapi..." Sofia menatap Kirana dengan pandangan yang melembut. "Ibu suka perempuan yang gigih. Kebanyakan perempuan yang dibawa Radit dulu akan langsung menangis dan minta pulang kalau bajunya kena setetes air hujan. Tapi kamu? Kamu tetap berdiri tegak di sini" lanjutnya.

Sofia berbalik dan berjalan menuju ruang makan.

"Ayo masuk. Mandi dulu di kamar tamu, lalu kita makan. Ibu sudah menyuruh koki memasak sup ayam hangat untuk kalian berdua" ucap Sofia.

Radit melirik Kirana, lalu mengedipkan satu matanya dengan usil.

"Bagaimana? Aktingku hebat, kan?" bisik Radit pelan.

Kirana hanya bisa menghela napas panjang, membiarkan Radit menuntunnya masuk lebih dalam ke rumah itu. Satu rintangan berhasil dilewati, namun Kirana tahu, ini barulah awal dari makan malam panjang yang penuh dengan jebakan batman.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!