NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4-Kecewa

Bel sekolah berbunyi dua kali, pertanda bahwa siswa siswi dijadwalkan untuk beristirahat sejenak, meninggalkan pelajaran mereka masing-masing untuk ke kantin.

Seperti biasa, Lula hanya bisa dikelas tanpa mengikuti teman-temannya ke kantin. Ia lebih baik menabung daripada harus mengeluarkan uangnya hanya untuk kebutuhan nafsunya, lagipula tadi pagi ia sudah cukup sarapan, ia bisa menahan laparnya sampai nanti siang.

Lula membuka buku yang tadi baru dipelajari. Baru selembar ia membukanya, tiba-tiba saja hal tak terduga menimang-nimang dirinya. Ia rasanya ingin kencing, jadi mau tidak mau Lula harus mengakhiri belajarnya, menutup bukunya dan berdiri untuk ke toilet.

Karena toilet dilantainya sedang dalam perbaikan, jadi mau tidak mau Lula harus turun kelantai bawah, tempat anak kelas sepuluh berada, ia juga harus melewati kantin terlebih dahulu. Selama dalam perjalanan Lula hanya menunduk, tidak berani menatap orang sedikitpun.

Beberapa menit berlalu Lula keluar dari kamar mandi, ia merapikan kembali pakaiannya yang agak berantakan, kemudian berjalan keluar dari toilet untuk kembali ke kelasnya. Sedari tadi pandangannya hanya tertunduk saja. Saat melewati kantin, Lula juga sama, menundukkan kepalanya.

Tapi, entah kenapa saat ia mendengar suara yang sangat dikenalnya, Lula yang awalnya ingin cepat-cepat berjalan, ia malah melambatkan langkahnya untuk mendengarkan percakapan mereka yang terdengar ditelinga Lula.

"Han, gimana tantangan dari kita kemarin? Lo berhasil enggak dapet nomer telepon nya?" Tanya salah satu teman rombongan Arhan yang bernama Vian.

Trian mengangguk semangat. "Iya nih, gue denger-denger ada yang ngomong kemarin Lo bawa cewek itu ke UKS, pasti misi Lo berhasil dong dari kita? Siap-siap dapet hadiahnya."

Arhan menggeleng. "Dia gak punya nomer telepon, enggak punya HP." Jawab Arhan dengan wajah biasa tanpa ingin menimpali ucapan teman-temannya yang sedang bercanda.

"Ppfttt...." Vian dan Trian menahan tawanya yang ingin meledak.

"Serius dia gak punya HP? Miskin banget anying..." Tawa Vian akhirnya pecah juga memenuhi kantin, orang-orang yang sedang makan dikantin bahkan hampir semua melihat kelakuan Vian.

Trian mengangguk sejutu dengan tawanya yang juga sudah pecah. "Emang bener sih, dia itu udah keliatan dari penampilannya, kudet, jadul, kotor hahaha...."

Entah kenapa, mendengar teman-temannya menghina Lula membuat hati Arhan panas dan mendidih tak terima. Sendok yang awalnya ia gunakan untuk makan semakin ia pegang erat tak kala tawa Vian dan Trian semakin menjadi.

Arhan yang ingin menjawab perkataan Vian dan Trian langsung tercekat di kerongkongan tak kala melihat seseorang yang kemarin ia jadikan bahan taruhan oleh teman-temannya itu. Hati Arhan begitu sangat gelisah melihat Lula yang berjalan cepat menaiki anak tangga. Arhan sangat yakin jika Lula mendengar semua pembicaraannya dan teman-temannya.

Tanpa waktu lama lagi, Arhan langsung meletakkan sendok yang ia pegang dan berdiri meninggalkan teman-temannya.

"Arhan, Lo mau kemana hey!" Seru Trian yang bingung melihat Arhan tiba-tiba meninggalkan mereka berdua.

Arhan tidak menggubris teriakan dari teman-temannya. Ia ikut berlari cepat mengikuti Lula yang mengarah ke gedung teratas yang dinamakan rooftop. Hatinya begitu gelisah dan gundah, seperti ada kesalahan yang ia perbuat pada Lula, kesalahan besar yang tidak akan bisa Lula maafkan. Entah kenapa Arhan takut jika Lula akan membenci dirinya karena mendengar percakapannya tadi.

Sekuat tenaga dengan langkah gemetar Lula berlari menaiki tangga dengan cepat, air matanya entah kenapa tiba-tiba mengalir begitu deras, bibirnya gemetar hebat mendengar pernyataan yang baru saja ia dengar tadi.

Lula pikir cowok kemarin yang baru ia kenali adalah cowok berbeda dari yang lain. Ia pikir Arhan adalah laki-laki yang dikirimkan tuhan untuknya, untuk menolong setiap masalahnya, ternyata itu semua hanyalah harapan dan hayalan semu. Ia sudah berharap pada orang yang baru dikenalnya.

Entah, Lula juga bingung, padahal bukan pertama kalinya ia dipermainkan seperti ini, tapi untuk kali ini ia juga bingung kenapa rasanya berbeda. Rasanya seperti sangat kecewa dan patah hati. Ia tidak menyangka jika kemarin Arhan hanya berpura-pura baik padanya.

Lula juga merasa bodoh karena terlalu percaya pada Arhan. Ia harusnya sadar diri dengan bentuknya, mana mungkin orang segembel dirinya akan diperhatikan oleh cowok seperti Arhan.

Sampai pada anak tangga terakhir Lula berhenti dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya agar tidak semakin keras menangis.

Beruntung, udara di pagi yang menjelang siang ini tidak panas, sangat sejuk, cocok untuk dirinya yang sedang kecewa, ini bukan pertama kalinya ia diberi kekecewaan oleh seseorang. Ini sudah yang keseribu kalinya mungkin.

Setelah dirasa sudah sedikit tenang, Lula melangkahkan kakinya perlahan ke pinggiran gedung untuk melihat pemandangan kota yang begitu bagus dari atas. Angin yang sedikit kencang ia menerpa rambutnya yang berantakan hingga kebelakang terbawa arah mata angin.

Lula tersenyum kecut saat kembali teringat dengan nasibnya yang tidak pernah beruntung dalam hal apapun. Air matanya kembali luruh, dadanya naik turun tak beraturan, ingin menangis mengeluarkan suara namun ia berusaha keras untuk menahannya.

Lula menunduk, air matanya jatuh membasahi sepatunya yang begitu jelek. Kedua tangannya mengepal, ia emosi, sangat emosi kepada dunia ini, kenapa hidupnya sangat tidak adil seperti ini.

"Hiks... Apa kalian tau? Ayah... Ibu... Anakmu disini begitu menyedihkan. Kenapa setega ini kalian membuangku? Kenapa kalian harus membuat anak jika ujung-ujungnya aku dibuang?" Tangisannya yang begitu sangat pilu, menyedihkan dan siapa saja yang mendengarkan nya akan sangat kasihan.

Ingin rasanya Lula berteriak sangat kencang, meminta pada tuhan untuk mengakhiri saja hidupnya. Ia sudah tidak kuat dengan semua ini. Ia lelah, sangat lelah, begitu sangat lelah dengan keadaannya. Hanya ada satu alasan kenapa ia masih bisa bertahan di titik ini.

"Lihat, aku begitu hina disini, tidak ada satu orang pun yang benar-benar tulus padaku, kenapa mereka semua begitu jahat? Aku juga manusia, aku juga butuh di manusiakan, aku bukan boneka yang dimainkan tanpa memiliki perasaan." Lula terisak dengan hebat. Dirinya benar-benar lemas sekarang, seluruh tubuhnya gemetar. Ia butuh tempat bersandar, tapi satu orang pun tidak ada yang mau ikhlas mengembangkan bahunya untuk sekali saja jadi tempat sandarannya.

Lula tidak sadar jika sedari tadi, semua kesedihannya didengar oleh cowok yang baru saja membuatnya kecewa hari ini. Arhan mendengarkan semua keluh kesah Lula dengan perasaan yang sangat bersalah. Ia membiarkan Lula menangis tanpa bisa menolongnya terlebih dahulu.

Arhan yakin, jika sekarang ia menghampiri Lula, lula akan langsung pergi. Arhan ingin tau, seberapa kecewa nya Lula pada dirinya, apa saja masalah yang Lula lalui hingga ia bisa menangis semenyedihkan ini.

Lula memukul dadanya berkali-kali karena rasanya begitu sangat sakit. "Sakit sekali disini tuhan... Rasanya sudah banyak luka yang kau berikan padaku, kenapa masih saja belum puas dengan banyak luka ini??" Berkali-kali Lula terus saja memukul dadanya, pertanda ia benar-benar sangat sakit hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!