No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Namun saat dirinya terbangun Valerie sudah berpacaran dengan Kennan keponakannya.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua garis merah
Melihat Ibu Amanda berdiri dengan cemas di belakangnya, Valerie segera mengusap bibirnya dan memaksakan sebuah senyum.
“Bu Manda tidak usah khawatir, aku tidak apa-apa,” ucapnya pelan. “Mungkin hanya kelelahan. Belakangan ini tugas kampus cukup banyak dan membuatku sedikit setres.”
Ibu Amanda meraih tangan Valerie dengan lembut.
“Ayo, duduk lagi.”
Valerie menurut. Ia kembali duduk di kursinya, sementara Ibu Amanda mengambil tempat di sampingnya.
“Valerie, sejak kapan kamu merasa mual?”
Valerie berpikir sejenak.
“Sudah beberapa hari ini, Bu.”
“Se beberapa sering rasa mual datang?”
“Akhir-akhir ini lumayan sering, dan setiap pagi rasa mual itu tidak tertahankan.”
Ibu Amanda kembali bertanya dengan hati-hati.
“Apa ada makanan atau bau tertentu yang membuatmu mual?”
Valerie mengangguk pelan.
“Iya, aku tidak tahan mencium bau yang terlalu menyengat. Tadi waktu mencium aroma sup ikan, perutku langsung terasa mual.”
“Nafsu makanku juga mulai berkurang, kadang baru melihat makanan saja sudah terasa enek. Tapi mualnya jadi berkurang kalau aku makan asam-asaman.”
Ibu Amanda dan Pak Boby saling berpandangan.
Semakin banyak Valerie bercerita, semakin kuat dugaan yang muncul di benak Ibu Amanda. Dengan nada yang sangat lembut agar tidak membuat Valerie terkejut, ia kembali bertanya,
“Valerie... kapan terakhir kali kamu menstruasi?”
Valerie tampak kebingungan, ia mencoba mengingat sambil menghitung dalam hati.
“Aku lupa Bu. Tapi kalau tidak salah, bulan ini aku belum menstruasi.” Valerie kembali berpikir. “Sepertinya sudah terlambat dua mingguan.”
Melihat raut wajah Ibu Amanda berubah semakin serius, Valerie buru-buru menambahkan,
“Tapi biasanya kalau aku sedang setres pasti mentruasinya mundur, atau membuat jadwalnya berantakan.”
Ibu Amanda tidak langsung menjawab, ia perlahan berdiri lalu berjalan menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kotak kecil.
Valerie memperhatikannya dengan bingung.
“Bu, itu obat apa?”
Ibu Amanda tersenyum tipis.
“Ini namanya test pack.”
Semua orang di meja makan langsung terdiam. Dua sahabatnya memasang wajah penasaran, sedangkan pak Boby terlihat sangat cemas. Lalu Ibu Amanda menyerahkan alat itu kepada Valerie.
“Alat ini untuk mengecek apakah seseorang sedang hamil atau tidak. Nah, coba kamu periksa dulu.”
“Kalau memang bukan hamil, berarti Ibu terlalu khawatir padamu. Tapi kalau hasilnya berbeda, nanti kita pastikan lagi ke dokter kandungan.”
Valerie menatap benda itu cukup lama, dadanya mulai berdebar.
“B-baiklah...”
Ia akhirnya menerima test pack tersebut dan berjalan menuju kamar mandi.
Di luar, suasana berubah hening. Pak Boby menundukkan kepala, ia tidak ingin melihat Valerie setres seperti putrinya dulu. Ariana menggenggam tangan Rachel dengan wajah cemas, Rachel mengigit bibirnya menunggu hasilnya. Tak seorang pun berani berbicara.
Beberapa menit terasa begitu lama, hingga akhirnya pintu kamar mandi terbuka.
Valerie keluar sambil memegang test pack di tangannya, wajahnya terlihat bingung. Ia mendekat, lalu menunjukkan tes pek itu pada mereka. Dengan polos berkata.
“Bu, di sini muncul dua garis merah.”
Kalimat sederhana itu membuat Ibu Amanda refleks menutup mulutnya, matanya langsung berkaca-kaca. Pak Boby terdiam seribu bahasa. Sementara Ariana dan Rachel saling berpandangan, sama-sama tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Ibu Amanda segera bangkit menghampiri Valerie, ia menuntunnya kembali duduk. Dengan lembut ia menggenggam kedua tangan gadis itu.
“Valerie sayang.”
“Hasil dua garis pada test pack menunjukkan kemungkinan besar seseorang sedang hamil. Tapi sebaiknya, hasil ini tetap harus dipastikan oleh dokter kandungan.”
Valerie hanya menatap kosong ke arah test pack yang masih berada di tangannya. Pikirannya mendadak kosong, ia tidak tahu harus merasa bahagia atau justru takut. Kehamilan itu sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Ia hanya pernah berhubungan dengan Damian, pada malam yang justru menjadi trauma dalam hidupnya. Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.
“Jadi maksud Ibu Manda, aku sedang hamil...?”
“Bagaimana mungkin, aku hanya melakukannya dengan Damian hanya sekali. Itupun tidak direncanakan oleh kami berdua.”
Ibu Amanda mengusap punggung Valerie dengan penuh kasih sayang.
“Perempuan bisa hamil jika sedang masa subur, walaupun berhubungan dimalam pertama.”
“Tapi, untuk sementara jangan berpikir yang macam-macam dulu. Sebaiknya kita pastikan kondisimu ke dokter.”
“Kalau memang benar hamil, kamu jangan panik atau takut. Kita hadapi bersama-sama.”
Pak Boby akhirnya angkat bicara.
“Ayo kita berangkat sekarang. Lebih cepat diperiksa, lebih cepat kita tahu kepastiannya.”
Ariana langsung berdiri.
“Aku mau ikut.”
“Aku juga,” sahut Rachel.
Valerie mengangguk pelan. Meski langkahnya kini terasa berat, ia perlahan bangkit dari kursinya. Ditemani Pak Boby, Ibu Amanda, serta kedua sahabatnya, Valerie meninggalkan rumah itu.
Mobil melaju menuju klinik dokter kandungan.
Sepanjang perjalanan, Valerie hanya memandang keluar jendela tanpa sadar tangannya mengelus pelan perutnya yang masih rata.
Sesampainya di klinik, Valerie masih terlihat linglung. Tangannya saling meremas ujung bajunya. Dalam hatinya masih bertanya-tanya.
‘Apa benar saat ini aku hamil?’
‘Bagaimana mungkin... kami hanya melakukannya satu kali...’
‘Lalu bagaimana caraku menjelaskan pada Damian, dia tidak akan percaya kalau anak ini adalah anaknya.’
‘Keluarganya pasti menuduh anak ini anak laki-laki itu.’
Ibu Amanda yang duduk di sampingnya menggenggam lembut tangan Valerie.
“Jangan terlalu dipikirkan dulu, Valerie. Apa pun hasilnya Ibu dan Bapak akan selalu mendampingimu.”
Valerie menoleh dan mengangguk pelan.
“Iya.”
Tak lama kemudian, nama Valerie dipanggil oleh perawat.
“Valerie Sinclair.”
Valerie berdiri.
Ibu Amanda juga ikut berdiri.
“Bu... apa boleh saya menemani putri saya?”
“Tentu.”
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.