Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18: Tarian Aneh
System Glicth
Waktu: 21:30 PM
Ruang Direktur Utama Rosewood Media
Stella baru saja meletakkan kepalanya di atas meja kayu. Staminanya di Jendela Status kini menunjukkan angka 10/100. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
"Vix... jika aku pingsan, tolong jangan biarkan aku mengiler di atas dokumen kontrak ini," gumam Stella setengah sadar, matanya terpejam.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu utama.
Stella tidak mengangkat kepalanya. Ia terlalu lelah bahkan untuk bersuara.
Pintu terbuka.
Langkah kaki pria yang berat terdengar mendekat. Aroma makanan yang luar biasa lezat seketika menginvasi ruangan.
Wangi mentega yang dilelehkan, daging sapi panggang kualitas premium, dan rempah-rempah yang hangat langsung membuat perut Stella berteriak kelaparan secara harfiah.
Ia memaksa dirinya mendongak, matanya yang sayu mengerjap beberapa kali.
Berdiri di seberang mejanya adalah Liam, asisten pribadi Neo yang kaku seperti robot membawa sebuah tas belanja kertas mewah dari restoran bintang lima. Pria berkacamata itu meletakkan sebuah kotak makan elegan yang masih mengepulkan hawa panas ke atas meja Stella.
"Selamat malam, Nona Rosewood," sapa Liam dengan sopan, meski wajahnya terlihat sedikit canggung.
"Tuan Blake mengutus saya untuk mengantarkan makan malam ini. Beliau menyampaikan pesan bahwa... sangat menyedihkan melihat rekan bisnis mati kelaparan di hari pertamanya bekerja."
Mata Stella membelalak. Kantuknya hilang separuh.
Neo Hayes Blake? Mengiriminya makanan? Di malam buta begini? Nona Cegil itu tidak tahu harus merasa terharu atau merasa sedang diracuni untuk kedua kalinya.
Namun sebelum Stella bisa menjawab, layar biru holografik meledak menyala di depan wajahnya, nyaris membuat matanya buta sesaat.
[ Ding! ]
[ Misi Harian Absurd Diaktifkan! ]
[ Misi: Bertahan Hidup dan Menghancurkan Wibawa. ]
[ Tujuan: Terima makanan tersebut. Namun sebelum memakannya, kau harus berdiri, menatap mata pengawal tersebut, dan melakukan tarian kemenangan kecil (seperti menggoyangkan pinggul dan mengangkat tangan) selama lima detik sambil berkata: "Terima kasih, Pangeran Es!" ]
[ Hadiah: 30 Poin Karma & 1 Botol Air Mineral Pemulih Stamina. ]
[ Hukuman Gagal: Makanan tersebut akan berubah menjadi pasir di mulutmu. ]
Stella nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh ke arah Vix yang kini sedang menggigit bibirnya menahan tawa sampai rubah itu berguling di udara.
Tarian kemenangan kecil? Di depan asisten Neo yang kaku ini? Stella benar-benar ingin menangis.
Egonya sebagai CEO tangguh yang baru saja menendang pamannya pagi tadi, kini akan dihancurkan oleh sistem bodoh ini.
Tapi jika ia menolak, ia tidak akan bisa memakan Wagyu harum yang sudah ada di depan hidungnya, dan ia pasti akan pingsan.
Persetan, batin Stella.
Liam yang bersiap untuk pamit undur diri mendadak membeku ketika melihat Nona Rosewood tiba-tiba berdiri dari kursinya.
Wajah Stella terlihat sangat serius. Kemeja burgundy-nya sedikit berantakan. Ia menatap lurus ke arah Liam.
Pria berkacamata itu menelan ludah, mengira Stella akan mengusirnya atau melemparkan makanan itu ke wajahnya sebagai bentuk penolakan atas hinaan tuannya.
Namun, yang terjadi selanjutnya akan terukir di otak Liam sebagai salah satu momen paling membingungkan dalam hidupnya.
Stella mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi telinga, lalu dengan ekspresi wajah yang sepenuhnya datar dan mematikan, wanita itu mulai menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dalam gerakan tarian yang sangat tidak sinkron dan konyol.
Satu detik.
Dua detik.
Liam membelalakkan matanya di balik kacamata. Rahangnya sedikit turun.
Tiga detik.
Empat detik.
"Terima kasih, Pangeran Es," ucap Stella dengan nada sedatar papan, sama sekali tidak ada emosi gembira di dalamnya, berbanding terbalik dengan tarian pinggulnya.
Lima detik.
Begitu detik kelima berlalu, Stella langsung berhenti. Ia menarik kursi, duduk kembali dengan keanggunan sempurna seolah ia tidak baru saja kerasukan jin, menarik kotak makanan itu mendekat, dan mulai membuka tutupnya.
"Sampaikan terima kasihku pada bosmu," ucap Stella dengan mulut yang sudah mengunyah potongan daging pertama.
Matanya terpejam meresapi rasa Wagyu yang meleleh di lidahnya. "Kau boleh pergi, Liam. Pintu keluarnya ada di belakangmu."
Liam masih berdiri mematung selama tiga detik, memproses trauma visual yang baru saja ia saksikan. "B-baik, Nona Rosewood. Selamat malam."
Pria itu berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan, nyaris menabrak kusen pintu karena pikirannya masih kacau.
Sepeninggal Liam, Stella terus mengunyah makanannya dengan ganas. Daging itu benar-benar enak. Tidak ada bau seafood sama sekali, sebuah detail kecil yang tanpa sadar diperhatikan oleh Stella.
"Kau sungguh luar biasa, Host," Vix mengusap air mata tawanya. "Ketengilanmu di depan pria itu mencapai level absolut."
[ Misi Selesai! ]
[ Stamina Host berangsur pulih. Hadiah ditambahkan. ]
Di dalam mobil SUV hitam di bawah sana, Liam baru saja masuk dan duduk di kursi depan. Ia memasang sabuk pengaman dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Neo menatap asistennya dari kegelapan kursi belakang. "Bagaimana?"
"S-sudah saya berikan, Tuan." Liam menelan ludah. "Nona Rosewood... dia memakannya."
Neo mendengus pelan, sedikit merasa menang. Namun instingnya menangkap keanehan pada asistennya. "Lalu kenapa wajahmu terlihat seperti baru saja melihat hantu, Liam? Apa wanita itu mengomelimu?"
"Tidak, Tuan. Nona Rosewood..." Liam bingung bagaimana harus menjelaskan hal ini tanpa terdengar gila.
"Beliau menatap saya, lalu... melakukan tarian goyang pinggul selama lima detik sambil berkata 'Terima kasih, Pangeran Es' dengan wajah datar. Lalu beliau memakan dagingnya seolah tidak terjadi apa-apa."
Keheningan yang pekat dan sangat lama memenuhi kabin SUV tersebut.
Alis Neo bertaut tajam. Pikirannya mencoba membayangkan visual dari deskripsi Liam.
Seorang CEO wanita berbaju sutra, di tengah malam yang sepi, menari goyang pinggul dengan wajah sedingin es karena diberi makanan?
Sedetik kemudian, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Liam bekerja di bawah pria itu... terdengar sebuah suara dari kursi belakang.
Neo tertawa.
Bukan tawa keras, melainkan tawa rendah, dalam, serak, dan menggetarkan dada yang lolos dari tenggorokannya tanpa bisa ia tahan. Bahu pria bersetelan charcoal itu sedikit bergetar.
Tawa itu terdengar sangat maskulin, mematikan, sekaligus dipenuhi oleh rasa takjub yang murni.
Wanita gila, batin Neo, memijat pangkal hidungnya sambil masih menyisakan senyum lebar yang mengerikan di wajahnya.
Dia benar-benar makhluk paling gila yang pernah ada.
Dan pada detik itu juga, di lantai 40, sebuah suara ding kembali bergema di kepala Stella.
[ Pemberitahuan Sistem! ]
[ Afeksi Neo Blake meningkat! Status saat ini: 25%. Peringatan: Sang Predator kini mulai menikmati kegilaan Host! ]
Stella, yang baru saja memasukkan potongan kentang terakhir ke mulutnya, mendadak tersedak keras. Ia menatap udara kosong dengan horor.
"Apa-apaan?! Aku kan tidak melakukan apa-apa padanya!"
To be Continued