Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebodohan Amaia
"Ini foto terbaru yang saya dapatkan beberapa hari ini, Pak Widi." Edgar menyerahkan amplop cokelat kepada bosnya.
Widitama membuka benda itu dan melihat beberapa lembar foto yang diambil secara diam-diam. Tak salah dia mengandalkan Edgar untuk menyewa paparazi. Seringai tipis penuh kemenangan terlukis di bibir Widitama.
Pria berperawakan kekar itu turun dari mobil sesaat setelah berhenti di depan hotel bintang lima yang cukup terkenal. Semalam Ferdian Tedjakusuma sudah pulang dan sengaja tak memberitahu siapa pun selain Widitama. Sehingga Widitama bergegas ke sana sebelum mengujungi perusahaan properti milik keluarga mereka.
Sebagai salah satu bagian dari perusahaan keluarga dan salah satu dari calon ahli waris, Widitama dituntut untuk terus berada di perusahaan dan menunjukkan performa terbaiknya. Bisa dibilang dia dan Rakha sedang 'diadu' oleh ayahnya sendiri untuk menentukan siapa yang paling pantas duduk di kursi kebesaran Tedjakusuma Property.
Kendati demikian, tak siapa pun tau kalau Widitama juga memiliki tujuannya sendiri. Bahkan Edgar pun tak banyak tau tentang hal itu.
"Pak Ferdian menunggu Anda di dalam, silakan masuk." Pengawal pribadi ayahnya, Akmal, segera membukakan pintu salah satu kamar VIP.
Tanpa ditemani Edgar maupun Akmal, Widitama segera masuk ke sana. Ayahnya tengah menyantap sarapan saat dia datang. Widitama menunduk sebentar sebagai bentuk rasa hormatnya. Pria berkumis setengah memutih itu mengelap bibir dengan dan segera memerintah sang putra tertua untuk duduk di hadapannya.
Bisa dibilang saat ini Widitama yang paling mendekati kriteria pilihan Ferdian untuk diberikan posisi tinggi sebagai pemimpin perusahaan. Namun, hal itu tak membuat Widitama merasa di atas angin. Ia tahu keputusan ayahnya bisa berubah sewaktu-waktu jika performa kerjanya berkurang.
Selamatlah Widitama belakangan ini. Sebagai salah satu orang yang berperan penting di perusahaan, ia kerap menggantikan ayahnya untuk mengurus pekerjaan di luar kota. Menjabat sebagai direktur operasional di perusahan membuat Widitama beberapa kali berhasil memberantas kasus-kasus internal.
Sekitar lima belas kasus korupsi dari orang dalam perusahaan berhasil terkuak olehnya. Ia juga pandai membua klien maupun mitra bisnis merasa puas berbisnis dengan perusahaan mereka. Belakangan ini, Ferdian kian sering memujinya.
"Ada yang mau saya bicarakan dan nggak mungkin saya sampaikan pada Akmal," kata Widitama setelah sekian detik.
"Kalau begitu, katakan," titah sang ayah.
Widitama menyerahkan amplop cokelat berisi beberapa lembar foto. Sepasang mata ayahnya membeliak saat melihatnya. Foto itu dibanting kasar ke meja. Tangan kiri Ferdian terkepal erat di atas meja seolah kemarahannya bergumul di sana.
"Sialan, anak itu! Ayah sudah menduga dia memang nggak becus. Nggak bisa diharapkan. Dia mau membuat keluarga kita malu! Dia mau mencoreng nama baik keluarga Tedjakusuma," gerutu Ferdian.
"Dari awal saya sudah ingatkan, ada yang nggak beres darinya. Alih-alih fokus pada pernikahan serta rencana kita untuk mendapat kepercayaan Bu Atika dan Amaia, dia justru fokus pada hal lain." Widitama tak sungkan mengeluarkan pendapatnya.
"Lalu apa rencanamu, Widi?"
Inilah saatnya. Widitama tersenyum tipis. Sedikit demi sedikit, ia akan mendapatkan seluruh kepercayaan ayahnya. Karena dengan begitulah ia bisa membalas dendam.
"Apa itu artinya, masalah ini Ayah serahkan ke saya dan mengurus Amaia?" tanya Widitama.
"Rakha nggak bisa diharapkan, Widi." Ferdian bergumam meragukan putra keduanya.
Sementara Widitama menatap tanpa ekspresi saat ayahnya menatap ke arah lain. Andai tak berusaha menahan diri, mungkin dia sudah memaki pria di hadapannya itu.
"Lakukanlah," ujar Ferdian. Sepasang matanya menatap lurus kepada putra tertua keluarga Tedjakusuma. "Ayah percayakan padamu. Minta Edgar menyewa orang untuk mengawasi gerak-gerik Rakha. Kalau dia sampai mempermalukan nama baik keluarga kita dan melukai Amaia serta Atika, Ayah nggak bisa mempercayai dia untuk ke depannya."
Ucapan itu membuat Widitama menegakkan punggung. Bagus! Sedikit lagi, kepercayaan Ferdian berada dalam genggamannya.
"Kita harus mendapatkan persetujuan Atika dan Amaia kalau ingin memperluas bisnis kita. Properti dan lahan yang diwariskan oleh mendiang Erwin harus jadi milik keluarga kita," katanya.
Widitama tersenyum tipis. Ayahnya memang selalu begitu. Selalu penuh ambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Untuk itulah Widitama merasa kasihan pada Amaia yang tak tahu apa pun.
"Saya bisa mengurusnya. Akan saya buat Bu Atika serta Amaia percaya dan berada di pihak kita," cetus Widitama penuh percaya diri. Dia memperbaiki kancing jasnya. "Tapi izinkan saya melakukannya dengan cara saya sendiri."
"Apa rencanamu?"
Widitama menatap ayahnya selama sekian detik dan dengan penuh kemantapan ia berkata, "Izinkan saya yang menikahi Amaia Rembulan, Ayah."
...*****...
"Sudah lama kita nggak ketemu, Bu Atika," kata Widitama malam itu saat berkunjung ke rumah keluarga mendiang Erwin Arilangga.
Kedatangan sang putra tertua keluarga Tedjakusuma membuat Atika—wanita paruh baya berambut pendek sebahu—itu tersenyum hangat sekaligus kaget. Enam bulan ini Widitama tak membagikan kabar apa pun pada mereka. Ia sibuk menghilang dengan menyibukkan diri mengurus pekerjaan sang ayah.
Tiba-tiba kedatangannya membuat Atika terkejut. Meski begitu, Widitama tau Atika sekarang pasti akan menyambutnya dengan hangat.
"Iya, sudah lama sekali, Widitama. Bagaimana kabar kamu?" tanya Atika sambil menuangkan teh ke cangkir pria itu. "Terakhir kali kita bertemu enam bulan lalu. Padahal dulu saat masih remaja dan saat Amaia masih kecil, kamu dan Rakha sering ke sini."
"Waktu berjalan cepat, Bu Atika. Sekarang kami sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi saya rasa sebentar lagi kita akan sering bertemu karena Rakha akan menikah dengan Mai."
Senyum tipis terlihat di bibir Atika. Widitama sedikit terusik. Mungkinkah Atika mulai tak menaruh rasa percaya pada calon menantunya itu?
Atika mengalihkan pembicaraan. "Astaga, biar saya panggilkan Amaia untuk menemani kamu. Saya masih ada urusan. Ada beberapa pesanan bunga yang harus diurus."
"Iya, silakan."
Beberapa detik kemudian Atika sudah tidak terlihat lagi dari jangkuan pandang Widitama. Mungkin wanita itu bergegas ke toko bunganya yang terletak di samping rumah berlantai satu ini. Sejak kematian Erwin Arilangga, mereka berdua memutuskan hidup sederhana dan Atika membuka toko bunga. Padahal kalau diingat-ingat, Erwin meninggalkan sebuah property dan lahan luas untuk mereka.
Amaia muncul setelah beberapa saat. Dia terlihat sangat tak bersahabat saat menemukan Widitama duduk di ruang tengah. Gadis yang masih memakai midi dress berbahan satin itu menghela napas. Tanpa sungkan ia duduk di depan Widitama.
"Untuk apa Mas Widi ke sini? Mau bicara tentang hal konyol lagi? Aku nggak mau denger!" sergah Amaia, "aku juga lagi sibuk packing. Mending Mas pulang sekarang."
"Packing, ya? Liburan dengan calon suami kamu itu?" Widitama terkekeh meremehkan. "Kalau begitu silakan nikmati liburan terakhir kalian, Mai Kecil."
"Berhenti panggil aku dengan nama itu! Pulang saja kalau tujuan Mas Widi cuma untuk mengatakan hal yang nggak-nggak."
"Tadinya saya cuma berniat menyapa Bu Atika." Widitama mencondongkan tubuh ke depan. Seringai terlukis di bibinya. "Tapi sepertinya saya benar-benar harus menyadarkan kebodohan kamu."
Kedua tangan Amaia terkepal di sisi tubuh. Ia berdiri untuk menghindari obrolan itu. "Aku akan anggap Mas Widi nggak pernah ngomong sekurang ajar ini. Aku anggap kamu nggak serius. Pulanglah!"
"Kapan saya nggak serius tentang kamu, Amaia? Saya serius menawarkan hal yang menggiurkan."
"Hubungan aku dan Kak Rakha baik-baik aja! Kami nggak akan berpisah. Kami akan menikah bahkan sebelum aku lulus kuliah." Suara Amaia sedikit meninggi. "Jangan ganggu hubungan aku dan Kak Rakha, terlepas dari apa pun alasan kamu."
Widitama bisa melihat jejak kekesalan di wajah polos itu. Bodohnya gadis ini, pikir Widitama. ia akhirnya ikut berdiri sambil mengenakan jas yang sempat dibuka.
"Waktu itu kamu masih kecil dan muda. Jadi, saya biarkan saja kamu dengan Rakha. Karena kamu kelihatan bahagia," kata Widitama.
"Aku mau bersama siapa pun, bukan urusan kamu. Berhenti memperlakukan aku seperti aku ini adikmu!" sergahnya.
Seringai Widitama terlihat sekilas.
"Aku benar-benar akan membenci kamu, kalau terus bersikap seperti ini, Mas Widi. Kenapa kamu kembali kalau hanya untuk mengusik hidup aku dan Kak Rakha? Aku bukan anak kecil kayak dulu lagi!" imbuh Amaia.
"Kamu salah, Amaia." Widitama memangkas jarak di antara mereka membuat gadis itu mundur, tapi tak ragu mendongak berani. "Saya datang untuk membantu kamu keluar dari kebodohanmu, Mai Kecil."