NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Tatapan Arkana

“Pak Arkana."

Thalia mendesis pelan begitu netranya bertemu dengan manik Arkana, menutupi keterkejutan yang hatinya rasakan.

Arkana tidak mendekat. Ia menjaga jarak dengan tenang, seolah sadar bahwa kehadirannya saja sudah cukup membuat Thalia waspada.

“Maaf jika mengejutkanmu,” ujarnya pelan.

Thalia segera merapikan ekspresinya. “Tidak, Anda tidak perlu meminta maaf,” jawab Thalia.

Keheningan menyelimuti mereka.

Dari ballroom, suara musik masih terdengar samar. Namun di koridor itu, dunia terasa jauh lebih kecil. Hanya ada lampu temaram, kaca jendela, dan pria yang sejak tadi membuat Thalia merasa terlalu mudah dibaca.

Arkana menatap heels Thalia sekilas sebelum kembali menatap manik Thalia. “Anda berjalan seperti menahan sakit.”

Thalia tidak tahu harus merasa tersinggung atau terkejut. “Anda memperhatikan cara saya berjalan?”

“Sulit tidak memperhatikan ketika seseorang berusaha keras terlihat baik-baik saja,” jawab Arkana.

Kalimat itu membuat Thalia diam.

Arkana mengatakannya tanpa nada menggoda. Tanpa senyum penuh arti. Kalimat itu tulus.

Thalia mengalihkan pandangannya ke jendela. “Saya baik-baik saja.”

“Lagi-lagi jawaban yang sama,” sahu Arkana.

Thalia menoleh. “Maaf?”

“Beberapa saat lalu Anda juga memberikan jawaban itu,” ucap Arkana.

“Saya tidak tahu jawaban seperti apa yang Bapak harapkan,” sambut Thalia.

“Saya tidak mengharapkan apa pun.” Arkana memasukkan satu tangannya ke saku celana.

“Tapi Bapak bertanya,” kata Thalia.

“Karena saya ingin tahu,” jawab Arkana.

Thalia tertawa kecil tanpa humor. “Kenapa?”

Arkana terdiam sebentar. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya mungkin tidak.

“Karena Anda terlihat seperti seseorang yang tidak boleh menjawab jujur saat ditanya,” jawab Arkana pada akhirnya.

Dada Thalia terasa seperti ditarik paksa. Ia menatap Arkana. Pria itu berdiri tegak dengan wajah tenang. Tidak ada sorot kasihan berlebihan di mata pria itu. Tidak ada keinginan untuk mencampuri hidup orang lain secara kasar. Tapi ada sesuatu yang tajam di sana.

Sesuatu yang membuat Thalia ingin melarikan diri sekaligus tetap berdiri.

“Anda tidak mengenal saya,” ucap Thalia pelan.

“Benar,” jawab Arkana cepat.

“Kalau begitu jangan membuat kesimpulan,” ucap Thalia lagi.

“Saya tidak membuat kesimpulan. Saya mengamati,” koreksi Arkana.

Thalia membuang napas pelan. Ia merasa percakapan ini terlalu aneh. Terlalu pribadi untuk dua orang yang baru saling mengenal. Terlalu tenang untuk sesuatu yang membuat jantungnya tidak tenang.

“Sebaiknya Bapak kembali ke ballroom,” kata Thalia.

“Dan Anda?” Arkana bertanya.

“Saya akan kembali setelah merasa cukup,” jawab Thalia.

“Cukup untuk apa?” tanya Arkana mengerutkan kening.

“Untuk memasang wajah yang pantas.”

Begitu kalimat itu keluar dari bibir Thalia, ia menyesal. Ia tidak seharusnya berkata seperti itu.

Namun Arkana tidak tampak terkejut. Tatapannya justru berubah lebih dalam. “Wajah yang pantas untuk siapa?”

Thalia menelan ludah. “Untuk acara ini.”

“Bukan untuk suami Anda?” tanya Arkana lagi.

Pertanyaan itu mengenai sesuatu yang terlalu dekat dengan luka di hati Thalia.

“Pak Arkana.”

Arkana menundukkan sedikit kepalanya. “Maaf. Saya melewati batas.”

Thalia terdiam. Aneh.

Rendra yang suaminya saja nyaris tidak pernah meminta maaf. Bahkan saat jelas-jelas pria itu menyakitinya, Rendra selalu menemukan cara untuk membuat Thalia merasa dialah yang terlalu sensitif.

Namun Arkana, pria yang bahkan tidak mengenalnya, bisa meminta maaf hanya karena menyentuh batas yang belum tentu ia pahami.

Itu membuat Thalia semakin tidak nyaman.

Karena kebaikan yang tidak diminta kadang jauh lebih mengguncang daripada kekasaran yang sudah biasa diterima.

“Saya hanya lelah,” kata Thalia akhirnya.

Arkana mengangguk pelan. “Kalau begitu jangan berdiri terlalu lama dengan heels itu.”

Thalia hampir tersenyum, tapi menahannya. “Saran dari seorang CEO?”

“Saran dari pria yang melihat Anda hampir kehilangan keseimbangan sejak tadi,” jawab Arkana.

Panas merayap ke wajah Thalia. Ia tidak terbiasa dipedulikan seperti itu.

“Bapak terlalu memperhatikan istri karyawan Bapak.”

Kalimat itu keluar lebih tajam daripada yang ia rencanakan.

Arkana diam. Udara di antara mereka berubah.

Thalia baru menyadari betapa serius kalimatnya setelah melihat tatapan Arkana sedikit menggelap.

Namun pria itu tidak marah. Ia hanya menatap Thalia dengan tenang. “Mungkin."

Satu kata.

Tapi jantung Thalia jatuh ke tempat yang tidak semestinya. Pria itu sedikitpun tidak membantah atau membela diri.

Thalia merasa udara di koridor tiba-tiba menipis, yang membuat ia segera menegakkan tubuhnya.

“Saya harus kembali.”

Arkana mengangguk samar. “Tentu.”

Thalia berjalan melewati Arkana. Ia menjaga jarak, tapi aroma parfum Arkana tetap samar menyentuh indera penciumannya. Hangat, maskulin, tidak mencolok, namun sulit diabaikan.

“Nyonya Thalia.”

Langkah Thalia terhenti saat panggilan itu tiba-tiba menggema, tetapi tidak menoleh.

“Jika suatu saat Anda benar-benar tidak baik-baik saja,” suara Arkana rendah di belakangnya, “Jangan memaksa diri terlihat sebaliknya hanya karena seseorang menyuruh Anda.”

Jari-jari Thalia mengepal di sisi tubuhnya. Ia ingin berkata bahwa Arkana tidak berhak berkata demikian. Ia ingin berkata bahwa hidupnya bukan urusan pria itu. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya,

“Selamat malam, Pak Arkana." ucapnya lalu berjalan pergi.

. .. ..

.. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
Dewi Payang
Ayo Thalia.... bertindaklah......
Dewi Payang
Blencekkk memang si cuami ini.....
Zenun
bisa jadi ini sudah dipalsukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!