"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Kekacauan Di Malam Hari
Hutan Kristal yang dipenuhi mana dan batu sihir itu menjadi bising, dan penyebabnya adalah kekacauan yang disebabkan Hewan Buas.
Beberapa Hewan Buas mengamuk tidak jelas, sebagian ada yang menyerang permukiman penduduk dan ada yang mencegah Thranduil dan berniat membunuhnya.
"Sepertinya kalian sama sekali tidak mengenaliku..." Thranduil memejamkan matanya saat Banteng Api Merah berniat menyerangnya.
Hewan Buas di hutan kristal yang seharusnya mengenal dirinya dengan baik, kini justru seperti kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri dan mengamuk.
"Maafkan aku..." Thranduil memusatkan mana telapak tangannya, kemudian mengarahkan telapak tangannya kearah Banteng Api Merah.
Seketika gelombang kejut menghempaskan Banteng Api Merah kebelakang. Thranduil tidak menggunakan kekuatannya secara penuh, dan hanya membuat Banteng Api Merah tidak sadarkan diri.
"Sepertinya kalian lupa ingatan ya? Baiklah, kalau begitu aku akan membuat kalian mengingatnya!" ujar Thranduil saat dirinya dikepung gerombolan Hewan Buas.
Thranduil tersenyum kecut melihat makhluk-makhluk yang dulunya menjadi pelindung suci kaum elf, kini telah berubah total menjadi monster mengerikan.
Dua ekor Beruang Penjaga Kuno menerobos pepohonan. Tubuh raksasa mereka dipenuhi kulit tebal sekeras baja, menggeram siap mencabik Thranduil yang berdiri dan tidak bergeming ditengah gempuran.
Dari atas langit, kepakan sayap besar berderu. Tiga ekor Elang Paruh Belati menukik tajam, mengincar leher sang penjaga hutan dengan cakar baja mereka.
Thranduil melompat mundur dengan anggun, menghindar tepat saat paruh-paruh tajam itu menghantam tanah tempatnya berdiri.
Belum sempat bernapas, kepungan semakin merapat. Kawanan Rusa Putih Bertaring merengsek maju. Tanduk kristal mereka yang dulu indah kini meliuk tajam, siap menusuk dengan taring yang meneteskan racun hitam.
Di sela-sela akar pohon, siluet hitam bergerak cepat tanpa suara. Beberapa ekor Macan Kumbang Bayangan mengendap-endap, siap menerkam dari balik kegelapan.
"Tidak semudah itu untuk mengalahkanku!" teriak Thranduil saat melihat beberapa Hewan Buas kembali menyerangnya.
Tak lama suara lolongan mengerikan memecah kesunyian malam saat kawanan Serigala Bulu Lumut ikut mengitari tempat itu, mempersempit ruang gerak.
Thranduil terdesak di tengah kepungan ratusan hewan buas. Menyadari tidak ada jalan keluar, Thranduil menarik napas dalam, melepaskan mana yang lebih besar dan bersiap melepaskan badai sihir untuk menghempaskan mereka semua.
"Aku tidak memiliki waktu untuk melawan kalian semua!" ujar Thranduil saat badai sihir menghisap seluruh Hewan Buas kedalamnya.
"Aku harus bergegas!" ucap Thranduil dan berlari menuju kediaman Raja Eldrin.
Situasi ini bukan hanya terjadi di Hutan Kristal, melainkan hampir seluruh tempat di Pulau Emberwind.
Kediaman Sang Raja Elf juga tidak luput dari amukan Hewan Buas, bahkan kediaman Thranduil juga hancur karena amukan Banteng Api Merah.
Disana terlihat gadis mungil berumur lima tahun dan ketakutan, gadis mungil itu adalah cucu Thranduil yang bernama Indialys Emberwind.
"Kakek... Kakek dimana?" Gadis kecil itu terlihat sangat ketakutan saat Banteng Api Merah bergerak kearahnya.
ROOOAAARRRR!!!
Suara auman Beruang Penjaga Kuno membuat cucu Thranduil gemetar ketakutan. Beruang Penjaga Kuno berdiri dibelakangnya dan didepannya ada Banteng Api Merah bergerak menyerangnya.
Indialys Emberwind memejamkan matanya, terlalu takut untuk berteriak saat cakar raksasa Beruang Penjaga Kuno mengayun kearah dirinya.
"Kakek, selamatkan Indi..."
Saat gadis kecil itu terlihat pasrah, hantaman maut Beruang Penjaga Kuno berhenti, tubuhnya terlihat membeku begitu juga dengan Banteng Api Merah.
"Apa yang terjadi disini? Kenapa banyak hewan liar yang mengamuk dan menyerang permukiman..." Ashura terlihat bergumam dan berdiri dibelakang cucu Thranduil yang dipanggil Indi.
"ROOOAAARRR!"
Terlihat disana Beruang Penjaga Kuno menghancurkan es yang membekukan tubuhnya, dan mengincar Ashura yang berdiri dihadapannya.
"Tidak usah berteriak! Aku akan membunuhmu!" Ashura menatap dingin Beruang Penjaga Kuno tersebut.
Dalam sepersekian detik, Ashura melesat dan menciptakan seratus pedang es yang menusuk tubuh Beruang Penjaga Kuno.
Satu Beruang Penjaga Kuno tumbang, namun dirinya dikepung seratus Hewan Buas yang mengepung tempat tinggal Thranduil.
Melihat gadis kecil yang meringkuk ketakutan, Ashura bergerak menyambar tubuh mungil Indi dan mendekapnya erat, melindunginya dari serangan Hewan Buas.
"Kakak... Indi takut!" Indi memeluk erat Ashura dan tubuhnya tidak berhenti gemetar ketakutan.
Ashura tersenyum hangat dan mencoba menenangkannya.
"Tenang saja, aku akan menyelamatkanmu dari situasi ini."
Setelah mengatakan itu, Ashura melepaskan mana dalam jumlah besar dan memandang dingin seratus Hewan Buas yang mengepungnya.
"Namamu Indi bukan? Bisa tutup matamu sebentar?" Ashura berbisik serak namun suaranya menenangkan Indi, dan Indi pun mulai menutup matanya sambil mendekap erat leher Ashura.
Dalam hitungan detik tanah disekitar Ashura membeku, begitu juga dengan seratus Hewan Buas yang bergerak kearahnya.
Dalam sekejap, suhu di sekitar Ashura turun drastis. Seratus Hewan Buas membeku menjadi patung es. Tanpa membuang waktu lebih lama, Ashura bergerak membunuh mereka semua.
Kemudian Ashura memusatkan mana untuk menciptakan ribuan pedang es, dengan satu kali tarikan nafasnya, pemandangan yang ada dihadapan Ashura adalah hancurnya tubuh seratus Hewan Buas yang membeku.
"Hancurlah," bisik Ashura pelan.
Seratus Hewan Buas yang membeku itu pun hancur berkeping-keping menjadi serbuk kristal, yang terlihat seperti bunga salju turun berjatuhan ke tanah dan berwarna merah.
"Sekarang buka matamu..." bisik Ashura kepada Indi setelah dirinya membunuh seluruh Hewan Buas yang menyerang.
Indi membuka matanya dan menemukan salju berwarna merah turun dengan begitu indah, gadis kecil itu tertegun dan kedua tangannya mengadah seperti ingin menangkap butiran salju berwarna merah.
Ashura menatap gadis kecil itu cukup lama, dia melihat senyum polos gadis kecil yang tak lagi ketakutan dan menangkap butiran salju berwarna merah, tanpa mengetahui itu adalah darah Hewan Buas yang baru saja dirinya bunuh.
Setelah menyelamatkan Indi, Ashura pun menurunkan gadis kecil dari dekapannya dan merasakan mana dalam tubuhnya stabil.
"Hei, Ashura apa kau baik-baik saja?" teriak Onyx yang datang bersama Serlin dan Yuna.
"Tunggu, siapa yang membunuh mereka semua ini? Apakah kau yang membunuh mereka semua Ashura?" Onyx bertanya karena bagaimanapun Ashura yang usianya masih sepuluh tahun akan terbunuh jika melawan seratus Hewan Buas.
"Kakak ini yang mengalahkan hewan itu!" ujar Indi memberitahu dengan suaranya yang menggemaskan.
"Dia juga yang menyelamatkan Indi!" Gadis kecil itu kembali terlihat kegirangan dan berlari kebelakang Ashura seperti ingin bersembunyi saat Onyx hendak menyentuh rambutnya.
"Siapa anak itu Ashura?" Serlin bertanya dan terkejut melihat situasi yang terjadi disini.
"Aku tidak mengetahuinya. Aku berniat menemui Kakek Magus dan bertemu dengannya." Ashura memberitahu.
"Aku rasa anak itu adalah cucu Tuan Thranduil." Yuna menebak karena mereka berada di kediaman Thranduil.
"Sebaiknya kita bergegas ke alun-alun, Ashura. Semua penduduk menuju kesana. Kita harus ikut mengevakuasi penduduk yang lainnya." Serlin menjelaskan situasi yang terjadi di Pulau Emberwind.
Ashura mengerti garis besarnya dan berniat pergi, tetapi Indi menggenggam tangannya cukup kuat.
"Kakak, Indi takut!"
Melihat wajah lucu yang terlihat ketakutan itu, Ashura tidak tega dan mengusap kepala gadis kecil itu.
"Tenang saja, Kakak Ashura akan mengantarmu ke tempat yang aman." Ashura berbisik lembut, suaranya yang terdengar serak itu membuat Indi tersenyum cerah.
Melihat sikap Ashura yang hangat, Serlin, Yuna dan Onyx terkejut. Ekspresi yang ditunjukkan Ashura, tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Adik kecil, ayo kita pergi bersama." Yuna yang tidak tahan melihat gadis kecil yang lucu itu pun memeluknya dan menempelkan pipinya ke pipi Indi.
"Lepaskan!" Indi berteriak namun suaranya justru terdengar sangat menggemaskan membuat Serlin ikut tertawa kecil.
"Kalau begitu, aku akan memeriksa keadaan disekitar sini sebelum menyusul kalian," ujar Onyx sebelum tubuhnya menghilang dan secepat kilat menyelusuri keadaan disekitar mereka.