"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pak Bambang menggandeng tangan pak Irfan masuk kedalam ruangan kepala sekolah, sementara Kaenan dibawa oleh beberapa orang guru ke ruang UKS.
Saat itu, bapak Adnan baru saja keluar dari kamar kecil, setelah selesai menuntaskan hajat beliau yang belum kesampaian sedari berangkat ke sekolah tadi.
"Ada apa pak Bambang?" tanya pak Adnan.
"Ini pak, orang tua dari Syafea, baru saja selesai menghajar Kaenan" lapor pak Bambang.
Pak Adnan sesungguh nya tahu jika pak Irfan ini adik kandung dari pak Arifin Hanggada, sang kepala Yayasan SMA Kebangsaan ini.
"Bapak sebagai kepala sekolah bagai mana sih?, sampai sampai putri saya dilecehkan disekolah ini bapak biarkan?" tanya pak Irfan lantang.
"Maaf pak Irfan, pelecehan yang mana ya yang bapak maksud kan ya?" tanya pak Adnan.
"Masa bapak tidak tahu?, atau jangan jangan bapak sengaja membela dan melindungi pelaku pelecehan itu ya?" tegas pak Irfan.
"Astaghfirullah pak!, tidak ada pelecehan di sekolah pak!" ujar pak Adnan lagi.
"Rupanya bapak memang sengaja untuk melindungi pelaku pelecehan itu ya?, saya akan bicara dengan kak Arifin agar memecat bapak, ingat bukan hanya anak itu yang saya adukan ke polisi, tetapi bapak juga!" teriak pak Irfan marah karena merasa kepala sekolah sengaja melindungi Kaenan.
Kepala sekolah masih mencoba bersikap lembut, tidak ingin terpancing kemarahan pak Irfan.
"Pak Irfan, sabar dahulu, tidak ada yang melindungi pelaku kejahatan pak, seandainya nya Kaenan benar melakukan pelecehan itu, saya sendiri yang akan mengeluarkan nya dari sekolah, tetapi bagai mana jika sebenarnya tidak ada pelecehan seperti yang putri anda laporkan itu, bapak akan berbuat zalim kepada orang lain yang tidak berdaya pak" ....
"Iya pak Irfan, tidak ada pelecehan seperti yang dilaporkan putri bapak itu, ini murni kesalahan pahaman dan candaan para anak anak saja pak!" sela pak Bambang ikut nimbrung bicara.
Namun pak Irfan yang sudah terlanjur kalap itu, tidak lagi mau mendengarkan ucapan dari pihak sekolah, baginya apa yang dikatakan Syafea putri nya, adalah kebenaran mutlak.
"Apa kau bilang?, kesalah pahaman saja?, lalu saat si sampah itu mencium bibir putri ku, itu kesalahan pahaman juga kah?, iya?" teriak pak Irfan semakin murka, karena merasa pak Bambang ikut bersekongkol dengan pak Adnan untuk melindungi Kaenan.
Pak Adnan menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghempaskan nya dengan kasar, ingin membuang jauh jauh emosi nya, agar tidak meladeni kemarahan pak Irfan.
"Begini saja pak, biar jelas, kita lihat di rekaman cctv saja" ujar pak Adnan.
"Ayo putar cctv nya, biar mata kalian melek melihat nya!" sahut pak Irfan.
Akhirnya pak Adnan memutar rekaman cctv kejadian kemarin di laptop nya, disaksikan oleh pak Irfan dan pak Bambang sendiri.
Saat melihat kejadian yang sesungguh nya rekaman dari beberapa sudut cctv, tiba-tiba tatapan mata pak Irfan yang tadi berapi api, kini termangu dan kuyu.
"Seharus nya bapak sebagai orang tua, teliti dan cek kebenaran nya terlebih dahulu, jangan mudah percaya begitu saja, sekarang bagai mana?, karena tindakan bapak, anak orang celaka, apalagi kalau media di luar sana tahu, nama besar keluarga bapak akan hancur, dan tidak mustahil juga jika semua rekanan kerja bapak takut dan mundur teratur, itu artinya nama besar Hanggada akan menjadi tinggal kenangan saja pak, tidak kah itu bapak pikir kan terlebih dahulu?, belum lagi karma dan balasan dari Allah, karena bapak telah berlaku zalim pada orang lain" ujar pak Adnan dengan suara lembut.
Seorang guru muda bernama Asep, masuk ke ruangan kepala sekolah.
"Bagai mana dengan Kaenan pak Asep?" tanya pak Adnan.
"Kaenan harus dibawa ke rumah sakit pak!, dia belum sadarkan diri, luka nya terlalu parah, pak Bayu dan beberapa orang anak sedang membawa Kaenan ke rumah sakit pak, saya juga sudah memberi tahukan pak Kiai Nuruddin, jika putra nya masuk rumah sakit" sahut pak Asep.
"Apa?, apa tadi?, putra pak Kiai Nuruddin?" tanya pak Irfan.
"Iya pak Irfan, Kaenan ini anak asuh pak Kiai Nuruddin, termasuk salah satu orang pondok juga!" sahut pak Adnan.
"Oh!" ....
Tiba-tiba rasa penyesalan menyusup kedalam relung hati pak Irfan. Karena tindakan ceroboh nya lah, peristiwa ini terjadi. seandainya nya sedari awal dia tidak termakan hawa nafsu amarah, dan mau mencari kebenaran nya terlebih dahulu, niscaya kejadian ini tidak akan terjadi.
Tetapi penyesalan memang datang nya harus terlambat.
Pak Arifin, ketua yayasan yang juga kakak kandung pak Irfan, harus datang sendiri dari kantor nya, setelah mendengar laporan kepala sekolah, tentang pemukulan murid yang dilakukan oleh adik nya itu.
Dengan muka merah padam karena marah nya, pak Arifin menatap kearah pak Irfan.
"Kau sudah tua seharus nya semakin dewasa dalam berpikir dan bersikap, tapi hanya tubuh mu yang semakin tua, tidak dengan akal pikiran mu, kau bertindak tanpa mau berfikir terlebih dahulu, lebih mirip anak ABG yang masih suka tawuran!" bentak pak Arifin.
"Aku salah kak, ku akui aku memang salah, aku khilaf!" ....
Apalagi setelah melihat hasil rekaman cctv, kemarahan pak Arifin semakin menjadi jadi.
Hari itu juga, hasil rekaman cctv dikumpulkan semua nya oleh pak Arifin, dan dibawa nya pulang, entah untuk apa, sehingga tidak ada satu pun lagi yang tersisa, bahkan para murid juga di ingatkan dengan peringatan keras, agar tidak ada yang mempublikasikan kejadian tadi, jika ada yang berani melakukan nya, ancaman di DO dari sekolah, termasuk para dewa guru.
Sementara itu, diruang UKS, Kaenan baru saja tiba di ruangan itu, di gotong pak Bayu dan beberapa orang anak murid yang lain nya.
Namun baru saja Kaenan tiba di ruangan UKS, kesadaran nya pun hilang, remaja itu pun tergolek pingsan.
Setelah diupayakan pemulihan dengan berbagai cara beberapa saat tidak juga membuahkan hasil, pak Bayu berinisiatif untuk membawa Kaenan langsung ke rumah Sakit saja.
Di Rumah Sakit, Kaenan langsung ditangani oleh beberapa orang tim medis, sementara itu pak Bayu segera menelpon Kiai Nuruddin, memberitahukan jika Kaenan mengalami kecelakaan di sekolah nya dan sekarang berada di rumah Sakit umum Daerah.
Pagi itu juga, Kiai Nuruddin langsung membatalkan semua kegiatan nya, buru buru pergi ke Rumah Sakit.
Selama ini, Kaenan tidak pernah bercerita pada siapapun jika dia ada masalah di sekolah nya. Dia menerima semua nya tanpa mengeluh pada siapapun juga.
Kaenan anak jenius, dan di didik dengan dasar agama yang kuat, dia tidak ingin merepotkan Kiai Nuruddin dan keluarga nya yang sudah banyak berbuat kebaikan kepada nya. Dia menyadari bahwa dia bukan siapa siapa, hanya anak seorang wanita penderita odgj.
Namun meskipun demikian, Kaenan sangat menyayangi ibu nya, karena dia tidak memiliki siapa pun lagi, selain ibu nya. Bahkan asal usul kedua orang tua nya pun dia tidak pernah mengetahuinya.
"Apa yang telah terjadi dengan anak ku?" tanya Kiai Nuruddin.
"Di… dia kecelakaan Kiai" sahut pak Bayu tergagap.
Kiai Nuruddin menarik nafasnya dalam-dalam, meredam kegundahan nya, perasaan hati nya seperti di iris iris, melihat tubuh Kaenan tergolek lemah bernafas dengan alat bantu.
"Inna lillahi wa Ina ilaihi Raji'un, ya Allah ya Rabb, ujian apa lagi ini ya Allah?" gumam pak Kiai Nuruddin.
Seluruh murid SMA Kebangsaan, dewan guru maupun staf tata usaha, seperti bungkam dan tidak ada yang berani memberikan keterangan apapun juga, perihal kejadian tadi. Mereka lebih takut ancaman ketua yayasan ketimbang menceritakan kebenaran nya. Apalagi Kaenan di sekolah itu tidak memiliki seorang teman pun juga.
Aisyah buru buru pulang dari Sekolah Aliyah tempat nya menimba ilmu selain pesantren.
Tanpa pulang kerumah, gadis cantik itu langsung menuju ke rumah sakit dengan motor metik nya.
"Abi!, bagai mana keadaan adik?" baru saja sampai di depan ruang UGD, Aisyah langsung mencecar abi nya dengan pertanyaan.
"Duduklah dulu nak!, tenangkan hati mu, berdoalah semoga Kaenan baik baik saja, dia masih di tangani oleh dokter" ....
Beberapa murid SMA Kebangsaan yang ikut mengantarkan Kaenan ke rumah sakit, menatap ke arah Aisyah tanpa berkedip.
Meskipun seluruh tubuhnya tertutup, dan yang tampak hanya wajah nya saja, namun kecantikan Aisyah jauh melebihi Syafea yang selama ini menjadi bintang nya SMA Kebangsaan.
Aisyah duduk di samping Kiai Nuruddin, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya.
Bayangan pertemuan pertama kali dengan Kaenan sembilan tahun yang lalu, berputar seolah olah baru saja terjadi.
Saat itu dia baru berusia lima tahun, namun kenangan itu masih membekas di dalam ingatan nya. Seorang bocah berusia dua tahun, dengan tubuh kurus, di gendong seorang wanita penderita odgj, menangis di dekat gerbang pondok pesantren karena lapar.
Kiai Nuruddin berhasil membujuk bu Limah ibu dari Kaenan setelah memberikan dua bungkus nasi.
Semenjak itulah, setiap pagi, bu Limah datang, menitipkan Kaenan sebelum pergi memulung, lalu kembali pada sore harinya, menjemput Kaenan.
Hari pun berganti Minggu, Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga tiba saat Kaenan berusia enam tahun, saat dia harus sekolah. Oleh Kiai Nuruddin, Kaenan disekolahkan di madrasah ibtidaiyah yang berdiri diseberang pondok pesantren.
Saat sekolah di Madrasah ibtidaiyah, Kaenan sering kena bully para murid yang lain, namun Aisyah lah yang selalu berdiri paling depan membela nya.
Pembullyan semakin menjadi jadi, saat Kaenan kelas dua Madrasah ibtidaiyah, ketika Kaenan menjadi Hafidzul Qur'an (penghafal Al Qur'an) termuda saat itu, dan mendapat kesempatan jamping kelas, langsung ke kelas empat.
Karena rasa iri, dengki, membuat hampir tiap hari terjadi pembullyan kepada nya. Apalagi saat itu, Aisyah telah lulus dari Madrasah ibtidaiyah dan menyambung ke Sanawiah, sehingga tidak ada lagi yang menjadi pembela bagi nya.
Aisyah masih duduk disebelah Kiai Nuruddin sambil menutupi wajah nya dengan kedua tangannya, bahu nya terguncang naik turun.
"Abi!, apakah Allah tidak membolehkan adik merasakan kebahagiaan?" isak Aisyah.
"Hus!, tidak boleh bicara seperti itu nak, salah satu tanda tanda Allah itu menyayangi hamba nya, adalah dengan banyak nya ujian yang di berikan nya, Dunia ini hanyalah jalan nak, coba kau pikirkan, mana yang kau pilih, jalan lurus tanpa hambatan apa pun, namun tiba-tiba di lautan api, atau jalan berkelok kelok, turun naik, banyak kerikil dan batu, tapi tiba di sebuah taman yang indah yang banyak bunga bunga dan buah buahan aneka rasa?" tanya Kiai Nuruddin menatap kearah putri bungsu nya itu.
Aisyah mengangkat wajah nya, kedua pipinya basah oleh air mata.
"Semoga adik baik baik saja ya abi?" ucap nya bergetar.
...****************...