Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di tempat lain, di dalam kehangatan kamar penthouse suite hotel mewah di Tokyo, sepasang suami istri baru itu masih tertidur pulas di balik selimut tebal mereka.
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden tipis perlahan mulai menerangi ruangan yang tenang itu.
Afrain menjadi yang pertama membuka mata. Menatap wajah damai Lani yang tertidur di dekapannya, sebuah senyuman tulus terukir di bibir sang CEO.
Ia mengecup lembut kening istrinya, lalu beralih membisikkan kata-kata manis di dekat telinganya.
"Sayang, ayo bangun..." bisik Afrain dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Lani hanya melenguh pelan, makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Afrain demi mencari kehangatan.
"Hm, sebentar lagi, Mas. Masih mengantuk sekali," gumam Lani dengan mata yang masih terpejam rapat.
Melihat respons menggemaskan dari istrinya, ide jail sekaligus romantis melintas di kepala Afrain.
Ia mengeratkan dekapannya, lalu berbisik lagi dengan nada menggoda, "Bagaimana kalau kita olahraga dulu pagi ini?"
Mendengar kata 'olahraga' di ranjang pada pagi buta, Lani seketika membelalakkan matanya.
Kantuk yang tadi menggelayuti matanya langsung hilang entah ke mana.
Wajahnya mendadak merona merah padam melihat jarak wajah mereka yang begitu dekat, ditambah dengan tatapan mata Afrain yang begitu dalam dan penuh arti.
"Sayang, aku ingin..." rengek Afrain manja, sangat kontras dengan pembawaannya yang dingin dan tegas saat di kantor.
Ia mengecup pipi dan hidung Lani, meminta haknya sebagai seorang suami yang sah untuk pertama kalinya di tanah Jepang.
Melihat ketulusan dan rasa cinta yang begitu besar di mata suaminya, rasa canggung Lani perlahan memudar, digantikan oleh kebahagiaan yang membuncah.
Sambil tersenyum malu-malu dengan pipi yang kian merona, Lani pun menganggukkan kepalanya pelan, memberikan izin penuh bagi suaminya untuk merajut kemesraan yang indah di pagi yang sejuk itu.
Setelah satu jam "berolahraga" pagi yang penuh dengan kehangatan dan keintiman, napas keduanya masih terdengar memburu pelan di atas ranjang yang kini sudah berantakan.
Lani tampak terkulai lemas dengan sisa rasa hangat yang masih menjalar di sekujur tubuhnya, sementara Afrain tersenyum sangat puas melihat sang istri yang bersandar pasrah di dadanya.
Tak ingin membiarkan istrinya kedinginan, Afrain perlahan bangkit.
Dengan gerakan yang sangat lembut namun bertenaga, ia membopong tubuh polos Lani ke dalam pelukannya.
Lani yang terkejut refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Afrain, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang sang suami.
Afrain membawa Lani masuk ke dalam kamar mandi mewah yang super luas.
Di sana, sebuah jacuzzi besar yang sudah terisi air hangat dengan busa-busa aromaterapi yang menenangkan telah menanti mereka.
Afrain menurunkan tubuh mereka berdua perlahan-lahan ke dalam jacuzzi.
Begitu kulit mereka bersentuhan dengan air hangat, rasa lelah di tubuh Lani seketika melumer berganti kenyamanan yang luar biasa.
Lani bersandar rileks pada dada Afrain yang duduk di belakangnya, menikmati pijatan lembut air jacuzzi.
Namun, kenyamanan itu tidak bertahan lama ketika Lani merasakan sepasang tangan kekar Afrain mulai bergerak nakal, mengusap pinggangnya dengan usapan yang kembali membakar atmosfer di dalam kamar mandi tersebut.
Afrain mendekatkan bibirnya ke telinga Lani, membisikkan kalimat yang membuat jantung Lani kembali berdegup kencang.
"Kita mandi bersama, dan sepertinya setelah ini aku akan minta lagi, Sayang," bisik Afrain dengan suara berat dan serak yang begitu seksi.
"Mas..." rengek Lani tertahan, mencoba memprotes namun suaranya justru terdengar manja di telinga Afrain.
Ia memegang tangan suami yang ada di perutnya, tetapi tubuhnya sama sekali tidak menolak sentuhan yang kembali membakar gairah di pagi yang syahdu itu.
Setelah menyelesaikan ritual mandi bersama yang penuh kemesraan dan berakhir jauh lebih lama dari perkiraan, Afrain dan Lani akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang senada.
Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas siang, Afrain mengajak istrinya untuk menikmati sarapan yang kesiangan alias brunch romantis di dalam kamar penthouse mereka.
Pelayanan kamar hotel telah menyajikan berbagai hidangan mewah di atas meja dekat jendela besar, mulai dari pancake lembut khas Jepang, buah-buahan segar, hingga kopi hangat yang aromanya membangkitkan energi.
Sembari menyuap sepotong kecil pancake yang dipotongkan oleh suaminya, Lani menatap Afrain dengan mata berbinar penasaran.
"Setelah ini kita mau kemana, Mas?" tanya Lani lembut, sudah tidak sabar ingin menjelajahi keindahan Tokyo.
Afrain tersenyum misterius. Ia merogoh saku kimononya, mengambil ponsel, lalu menggeser layarnya sebelum menunjukkannya tepat di depan wajah Lani.
Di layar tersebut, menampilkan sebuah foto lanskap yang luar biasa memukau: sebuah danau yang tenang dengan latar belakang Gunung Fuji yang megah, dikelilingi oleh hamparan bunga-bunga musiman yang sedang bermekaran dengan indahnya.
"Kita akan ke Danau Kawaguchiko hari ini," ucap Afrain lembut.
"Aku sudah menyewa mobil khusus dan pemandu pribadi untuk mengantar kita ke sana agar kamu bisa melihat Gunung Fuji dari dekat tanpa harus berdesakan."
Melihat pemandangan yang begitu menakjubkan di layar ponsel Afrain, Lani spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
"Wah, indah sekali, Mas!" seru Lani dengan wajah yang berbinar riang, seketika melupakan semua penat dan kesedihan masa lalu yang pernah menderanya.
Perlakuan manis Afrain benar-benar membuatnya merasa seperti wanita paling beruntung di dunia.
Sementara itu di tempat lain, raungan mesin motor Alex terdengar lesu saat ia menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah sang ibu.
Dengan langkah gontai dan bahu yang merosot dalam, ia berjalan menuju teras.
Wajahnya kusut, menggambarkan keputusasaan yang teramat sangat setelah menerima surat pemecatan dari Pak Firman.
Tak berselang lama, Ibu Narti berjalan kaki memasuki halaman rumah sambil menjinjing kantong plastik hitam berisi ikan lele yang baru saja dibelinya dari pasar kaget terdekat.
Langkah kaki wanita paruh baya itu seketika terhenti.
Ia sedikit terkejut ketika melihat putranya sudah duduk termenung di kursi teras, padahal jam dinding baru menunjukkan waktu siang hari.
"Lho, kok sudah pulang, Lex?" tanya Ibu Narti kebingungan sembari mendekati anak sulungnya itu.
"Bukannya ini belum jam istirahat kantor? Motor kamu rusak atau ada barang yang ketinggalan?"
Alex mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tampak memerah, menatap sang ibu dengan pandangan kosong dan penuh penyesalan yang terlambat.
"Aku dipecat, Bu..." lirih Alex dengan suara parau, nyaris berbisik karena sisa harga dirinya runtuh total.
Kantong plastik berisi lele di tangan Ibu Narti hampir saja terlepas ke lantai.
Matanya membelalak lebar, menatap Alex dengan kombinasi antara tidak percaya dan syok yang luar biasa.
"APA?!" pekik Ibu Narti dengan suara bergetar.
"Dipecat bagaimana, Lex?! Kamu kan karyawan tetap di sana! Kenapa bisa sampai dipecat?!"
"Aku dipecat karena masalah kemarin di kantor Afrain yang sama Mbak Sisil, Bu," jawab Alex lirih, suaranya terdengar bergetar menahan malu dan frustrasi.
Alex langsung duduk di kursi teras yang reot sambil memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
Semua bayang-bayang kesuksesan dan kesombongan yang dulu ia miliki runtuh dalam sekejap.
Ibu Narti yang mendengar hal itu langsung lemas, menyandarkan tubuhnya ke tiang teras dengan air mata yang mulai menggenang.
Tepat saat atmosfer di teras rumah itu diselimuti keputusasaan, terdengar suara langkah kaki yang menghentak kasar.
Sisil datang dengan wajah yang masih ditekuk dan riasan yang sedikit luntur, melangkah masuk ke halaman rumah ibunya dengan mengomel.
Begitu melihat adiknya duduk frustrasi, bukannya menenangkan, Sisil justru kembali memprovokasi Alex.
"Bagus ya! Jadi kamu sekarang malah lemas begini cuma karena dipecat oleh bos sialan itu?!" cerocos Sisil dengan suara melengking, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
"Alex, buka matamu! Ini semua gara-gara jalang itu! Lani pasti yang menghasut Afrain untuk memecatmu lewat jalur belakang. Kamu jangan mau diinjak-injak seperti ini!"
Sisil melangkah lebih dekat, menatap Alex dengan pandangan meremehkan sekaligus memanas-manasi.
"Kalau kamu menyerah sekarang, mereka berdua pasti sedang tertawa puas di atas penderitaan kita! Kamu harus cari cara buat balas dendam, Lex! Bikin perhitungan sama mereka, jangan cuma bisa memijat kepala seperti orang kalah!"
Kata-kata provokasi Sisil bak bensin yang menyiram sisa-sisa api kemarahan di dalam dada Alex, membuat kepalanya semakin berdenyut kencang di antara rasa bersalah dan ego yang kembali tersulut.