Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
... Anneliese terlahir di zaman yang mana semua orang masih bergantung pada ramalan. Seolah ramalan adalah pilar di mana semua orang harus menggantungkan nasib. Selama bertahun-tahun ramalan itu hanya berisi keberuntungan dan kesialan kecil bagi semua orang, dan dunia tetap berjalan tenang seperti biasanya. Sampai ketika sebuah ramalan menyebutkan kelahiran kutukan dunia, mimpi buruk bagi semua orang pun di mulai. Semua orang khawatir dunia tidak akan aman jika kutukan itu sampai terlahir, bahkan Kaisar sampai menurunkan titah agar membunuh semua bayi yang lahir pada hari yang telah di tentukan oleh ramalan itu untuk mencegah lahirnya bayi yang di sebut sebagai kutukan dunia. Namun, apakah ramalan itu benar-benar bisa di percaya?...
...Kenapa sebuah ramalan bisa langsung membuat seseorang begitu hina di mata dunia? Bukankah dia juga tidak meminta untuk terlahir sebagai musuh dunia? Lantas siapa yang sebenarnya pantas di salahkan? Manusia yang harus menanggung hinaan seumur hidupnya, atau ramalan yang telah memaksa dunia untuk memusuhinya?...
...Sebenarnya ramalan itulah yang paling kejam, memaksa dunia menganggap seseorang sebagai kutukan yang pantas di musnahkan. Bukankah semua orang memiliki takdir hidupnya masing-masing? Yang seharusnya di musnahkan sejak awal adalah ramalan itu sendiri. Biarkan dunia terus berjalan dengan orang-orang yang memiliki takdir hidup yang nyata tanpa harus bergantung pada ramalan yang bahkan tidak bisa menjamin kehidupan mereka....
... Tanpa diduga, tepat pada malam di mana Kekaisaran melakukan pemusnahan masal sesuai ramalan, Permaisuri yang usia kandungannya baru menginjak tujuh bulan tiba-tiba melahirkan. Jelas itu adalah tamparan nyata bagi Kaisar, saat di antara semua bayi yang harus di bunuh ternyata ada keturunannya....
... Karena usia kandungan yang masih begitu muda dan kondisi Permaisuri yang lemah, membuat proses persalinan pada malam itu terjadi begitu lama, namun pada akhirnya hanya satu yang bisa hidup. Saat kedua nyawa menjadi pilihan, Kaisar akhirnya memilih siapa yang harus ia selamatkan....
... " Selamatkan Permaisuri. " Sebuah perintah yang terdengar begitu tegas tapi di penuhi kekhawatiran....
...Sementara Permaisuri yang mendengar perintah Kaisar itu menolak untuk menyelamatkan nyawanya, ia bersikeras meminta pada para pelayan dan tabib bahkan sampai memohon agar yang di selamatkan adalah anaknya....
...Kaisar terus menunggu dengan cemas di depan kamar Permaisuri, tangannya saling terpaut menahan kekhawatiran. Namun dunianya seketika runtuh tepat saat ia mendengar tangisan bayi dari kamar Permaisuri. Tangisan yang mungkin telah merenggut nyawa orang yang menjadi sebagian dari jiwanya....
...Ternyata semua tabib yang berada di dalam ruangan tidak bisa menolak permintaan terakhir dari seorang ibu untuk anaknya....
...Dengan kemarahan yang memuncak, Kaisar langsung mendobrak pintu kamar Permaisuri berniat untuk membunuh semua orang yang berada di ruangan itu termasuk anaknya sendiri. Saat amarah telah menggelapkan matanya, sebuah panggilan lemah dari sang istri berhasil menyadarkannya kembali....
...Dalam pelukan terakhir itu, Permaisuri meminta satu hal pada Kaisar dalam bisikan lemahnya. " Tolong biarkan anak kita tetap hidup, jangan percaya pada ramalan, anak kita bukan kutukan bagi dunia, berjanjilah padaku, biarkan dia hidup. "...
...Tepat pada malam itu Permaisuri meninggal, dan dalam kekacauan yang ia rasakan, Kaisar membuat sebuah keputusan untuk menyembunyikan anak itu dari dunia. Semua orang yang menjadi saksi kelahiran sang Pangeran di hukum mati hanya agar rahasia ini tetap tersimpan rapi tanpa ada satu orang pun yang tahu kecuali dia dan orang kepercayaannya....
...Pada malam yang dingin itu, Pangeran kecil yang seharusnya memiliki masa depan sebagai penguasa, di buang dari istana begitu saja. Takdir yang seharusnya begitu terang malah hancur hanya karena ramalan yang berkata tentang kelahiran kutukan dunia. Pada akhirnya, Pangeran kecil itu di buang dan kemudian di asuh oleh mantan dayang pribadi permaisuri yang telah lama keluar dari istana. ...
...Beberapa tahun setelah kematian Permaisuri, Kaisar akhirnya memiliki keturunan seorang putra dari Selir Agung, yang kemudian di angkat menjadi Putra Mahkota Kekaisaran saat itu. ...
...Dari saat itulah semuanya di bermula. Mulai dari pembantaian, trauma, sampai akhirnya kehancuran yang katanya memang telah di takdirkan. Seolah tidak ada yang bisa mengubah segalanya. ...
...****************...
... Anne terus mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada meja saat ia masih mencoba memahami pesan yang mungkin telah di sisipkan Anneliese melalui ingatan-ingatan yang datang padanya. Ia juga masih berusaha untuk sedikit mencocokkan ingatan itu dengan legenda dan juga sejarah yang pernah ia baca....
... " Jadi, jika mengikuti sejarah, Kaisar yang memimpin saat ini adalah paman dari Raja, dan seharusnya aku juga belum bertemu dengan Putra Mahkota, kan? Ah mungkin memang seperti yang ku perkirakan, sepertinya aku memang belum pernah bertemu dengan Putra Mahkota." Pandangan mata Anne terus bergerak melihat ke atas, hal yang memang biasa orang lakukan saat sedang berpikir dan mencoba mengingat sesuatu....
... " Apa yang sebenarnya harus kulakukan? " Anne menghembuskan helaan napas kasar sebelum kalimat selanjutnya keluar dari mulutnya. " Kenapa Anneliese juga hanya memberikan sedikit ingatannya padaku? Kenapa tidak langsung ia jelaskan saja apa tujuanku di tempat ini? Hhhaaaaahhh....... Anneliese benar-benar hampir membuatku mati karena memikirkan hal ini. Kumohon, siapapun tolong aku " teriaknya sedikit tertahan, karena takut para pelayan di luar kamarnya mendengar....
...Merasa kesal karena tidak kunjung menemukan titik terang dari hal yang coba ia ingat, akhirnya dengan langkah lelah ia beranjak menuju ranjang besar miliknya dan langsung menjatuhkan diri begitu saja ke atas ranjang, kemudian dengan satu uluran tangan ia menarik bantal untuk menutup wajahnya. Kebiasaan yang ia lakukan dulu saat kesal karena masalah penelitian....
... " Hhaaaaa..... aku jadi ingin pulang, aku tidak ingin berada di tempat ini..... Anneliese, kembalikan aku ke duniaku " gerutunya dengan bantal yang masih menutupi wajahnya....
...Tepat satu detik setelahnya, Anne langsung bangkit dan duduk saat ia menyadari seseorang telah mencengkram erat pergelangan tangan kanannya. Kini sosok yang masih tidak ingin ia temui telah berada tepat di hadapannya dengan rahang yang mengeras seperti sedang menahan amarah. Bahkan Anne sampai tidak berani menatap ke arah mata Leopold yang telah di penuhi kemarahan....
... " Apa katamu? ...Ingin pulang? ... Jadi sikapmu malam itu kau lakukan hanya agar kau bisa pergi dariku?" Cengkraman tangan itu semakin kuat, seolah menuntut jawaban dari Anne....
...Anne bahkan sampai meringis kesakitan sambil terus mencoba melepaskan cengkraman tangan Leopold....
... " Bukan, bukan itu maksudku-"...
... " Lalu apa? Apa lagi yang akan kau lakukan selain kabur dariku?" Ia menyela ucapan Anne yang bahkan belum selesai....
...Kini Anne memandang Leopold dengan kening berkerut, karena emosinya juga seolah telah di uji oleh pria yang bahkan tidak ingin mendengar penjelasan darinya....
... " Dengarkan penjelasanku dulu-"...
... " Apa lagi yang ingin kau jelaskan? " Lagi-lagi Leopold menyela, tanpa memberi Anne kesempatan untuk berbicara....
...Tidak, kali ini Anne benar-benar telah kehilangan kesabarannya, di tambah dengan rasa sakit karena cengkraman kuat dari Leopold membuatnya tidak bisa lagi menahan amarahnya....
... " Lepaskan! Kau menyakitiku! " sentak Anne. Lalu dengan satu tarikan keras akhirnya ia bisa melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Leopold....
... " 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳, 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘪𝘭𝘢. "...
...Keduanya terdiam cukup lama dengan pandangan tajam yang masih tertuju satu sama lain....
..." Jangan harap kau bisa keluar dari kamar ini. " tegas Leopold seraya berbalik dan bergegas untuk meninggalkan kamar Anne dengan amarah yang bahkan belum reda. Ia bahkan menutup pintu kamar Anne dengan sangat keras lalu memerintahkan untuk tidak membiarkan Anne keluar dari dalam kamarnya sedikitpun....
...Dari dalam kamar, Anne bisa mendengar dengan jelas semua perintah Leopold dan juga suara pintu kamarnya yang langsung di kunci oleh para pelayan....
...Disini Anne masih memegangi tangan kanannya yang terasa sakit dan panas akibat ulah Leopold yang tadi di kuasai amarah. Ia kesal kenapa ucapannya bisa di dengar oleh Leopold, padahal ia sama sekali tidak mendengar suara orang masuk ke kamarnya, dan ia juga begitu kesal karena pria itu ternyata sangat sulit untuk di hadapi. Bagaimana bisa ia bertahan jika terus seperti ini?...
..." Memang pria gila " Hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk mendeskripsikan kekesalannya pada Leopold saat ini....
...Tiba-tiba telinganya kembali berdenging. Anne tahu jika sebuah petunjuk akan ia dapatkan, namun suara yang terus berdenging di telinganya terasa cukup mengganggu....
...Tidak ada ingatan masa lalu, tidak ada bayangan ataupun sebuah gambaran yang datang padanya. Pesan dari Anneliese hanya terkirim lewat bisikan yang terus berulang di telinganya....
...𝓓𝓲 𝓫𝓪𝓵𝓲𝓴 𝓴𝓮𝓰𝓲𝓵𝓪𝓪𝓷𝓷𝔂𝓪 , 𝓽𝓮𝓻𝓼𝓲𝓶𝓹𝓪𝓷 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓰𝓲𝓽𝓾 𝓫𝓮𝓼𝓪𝓻 , 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪 𝓭𝓲𝓪 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓽𝓪𝓱𝓾 𝓬𝓪𝓻𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓾𝓷𝓰𝓴𝓪𝓹𝓴𝓪𝓷𝓷𝔂𝓪....