Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Rizal terkejut saat cahaya matahari memasuki kaca mobilnya. Ia tidak sadar kapan ia terlelap didalam mobil
Rizal mengucek matanya, ia kembali melihat kearah rumah bergaya minimalis yang tengah ia pantau
Tak ada orang yang ia cari, disana hanya ada seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu
Tak lama seorang wanita keluar sambil menggendong seorang bayi kecil, Rizal menajamkan penglihatannya namun tak bisa melihat wajah bayi yang sepertinya tengah dijemur itu
Namun entah kenapa hatinya terasa menghangat saat melihat bayi kecil itu. Rizal memegangi dadanya yang terasa sesak
"Apa itu putriku?" Tanyanya dalam hati sambil memegangi dadanya yang masih terasa sesak
"Dia putriku"
Rizal hendak keluar namun urung, jika mereka mengetahui dirinya berada disini. Mungkin keluarga Hanna akan memindahkan anak serta istrinya jauh
Tidak, Rizal tidak akan membiarkan itu terjadi, ia harus puas dengan melihat putrinya dari jarak yang cukup jauh
Ia akan menunggu hingga Hanna ada didepannya dan mereka bicara, ia yakin setelah ia bicara dengan Hanna maka mereka akan kembali bersama
Ia akan membawa anak serta istrinya kembali kerumah, ia akan bersama keluarganya lagi keluarga yang selalu ia inginkan
Rizal merasa kehilangan saat ibu mertuanya membawa bayi kecil itu masuk, ia masih ingin melihat putrinya walaupun dari jauh
"Kita pasti akan bersama lagi sayang, kamu tunggu papa yaa!" Gumamnya saat sang putri benar-benar hilang dibalik pintu
Ponselnya berdering, Rizal segera menjawab panggilan dari sang ibu "Halo Bu"
"Pulang sekarang! Ibu ada dirumah kamu!" Ujar Widuri dari seberang telepon
Tanpa menunggu lagi, Rizal memacu kendaraan roda empat miliknya kembali kerumah. Entah apa yang akan ibunya lakukan saat mengetahui semuanya
Sekitar dua puluh menit, kendaraan miliknya tiba didepan rumah. Dari dalam terdengar suara seorang wanita yang tengah marah-marah dan sepertinya itu Widuri
"Assalamualaikum"
"Akhirnya datang juga kamu! Kenapa wanita ini masih ada disini dan dimana Hanna?" Cecar Widuri tanpa peduli jika sang putra baru saja tiba
"Ibu?"
"Gak usah ibu, ibu kamu! Dimana Hanna?" Kesal Widuri
"Hanna.." Rizal tidak dapat melanjutkan kata-katanya
Widuri seperti tahu sesuatu, ia mendekat kearah putranya lalu menatapnya penuh selidik
"Dimana Hanna? Apa yang terjadi?"
"Hanna pergi dari rumah"
Mendengar itu membuat Widuri tersulut emosi "Apa yang sudah terjadi hingga Hanna memutuskan untuk meninggalkan rumah?"
Rizal diam membuat wanita paruh baya itu kesal "Jawab Rizal!"
Rizal menunduk "Hanna melihat aku dan Arum bersama, dia marah dan.."
Plak
Rizal tidak dapat melanjutkan ucapannya karena satu tamparan keras mendarat di pipi kirinya dan itu dilakukan oleh sang ibu
"Breng___ kamu Rizal! Hanna sedang hamil dan kamu melakukan ini?" Widuri menggeleng tak percaya
"Bu aku.."
"Ibu sudah peringatkan bahwa kamu harus segera menyingkirkan wanita ini! Tapi kamu malah terus bersama dia!"
Widuri menunjuk kearah Arum yang senantiasa menunduk "Dan kamu wanita mura___"
Widuri menatap tajam pada wanita yang merupakan selingkuhan putranya itu "Puas kamu! Puas kamu karena sudah berhasil memisahkan Rizal dari istrinya?"
Arum memegangi pipinya yang juga ditampar oleh Widuri, rasanya begitu perih karena wanita paruh baya ini tidak main-main
"Aku sedang berusaha menemukan Hanna, kamu pasti akan bersama lagi" Ucapan Rizal malah semakin membuat Widuri kesal
"Untuk apa lagi kamu mencari Hanna? Hmm? Untuk apa? Untuk menyakiti dia lagi?"
"Aku akan minta maaf, aku yakin Hanna pasti akan memaafkan aku dan kami kembali bersama" Ujar Rizal dengan penuh keyakinan
"Tidak perlu, ibu tidak akan membiarkan perempuan baik-baik seperti Hanna bersama pria baji___ seperti kamu!" Rizal terdiam, harapannya sudah benar-benar hilang untuk kembali bersama Hanna
"Aku akan meyakinkan Hanna lagi Bu, aku yakin dia mau kembali sama aku lagi"
Widuri tersenyum miring "Apa kamu pikir setelah semua ini Hanna akan mau sama kamu lagi?"
Rizal diam, pertanyaan ibunya itu benar. Ia pun yakin jika istrinya tidak akan pernah memaafkan semua yang sudah ia lakukan
"Terserah kamu mau melakukan apapun Rizal! Yang jelas ibu tidak ingin memiliki menantu mura___ seperti dia"
Widuri menatap tajam kearah Arum lalu pergi meninggalkan rumah. Rizal segera mengejar sang ibu
"Bu dengerin aku.."
"Jangan pernah bicara sama ibu lagi, Rizal! Ibu malu punya anak seperti kamu!"
Widuri meninggalkan rumah putranya, sementara Rizal hanya bisa menatap kepergian sang ibu
Kini ia telah kehilangan segalanya, bahkan ibunya sendiri tidak ingin lagi melihatnya "Semua ini karena kamu Hanna!"
Rizal mengepal, dengan cepat pria itu memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah. Tujuannya saat ini adalah kediaman sang mertua
Ia akan memaksa Hanna untuk kembali kerumah. Ia akan melakukan apapun bahkan mencium kakinya sekalipun
Mobilnya kembali terparkir didepan rumah, Rizal turun lalu menghampiri pintu dan mengetuk
Tak lama seorang wanita yang ia ketahui adalah asisten rumah tangga membuka pintu, tanpa menunggu lagi Rizal masuk kedalam rumah sambil berteriak
"Hanna!"
"Maaf mas siapa? Mau apa kesini?" Tanya wanita paruh baya itu mengikutinya dari belakang
"Dimana istri saya?"
"Istri mas siapa? Mbak Hanin kan belum nikah"
Rizal mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud dari pertanyaan wanita ini "Jangan pura-pura bi! Dimana Hanna?"
"Saya gak tau mbak Hanna, selama saya bekerja disini saya hanya melihat mbak Hanin dan ibu Hanum" Jelas Pembantu bernama Wati itu
"Jangan bohong!"
Tak lama seorang wanita paruh baya menuruni anak tangga, Hanum terkejut saat melihat menantunya ada disana
"Rizal?"
Hanum mendekat lalu berdiri dihadapan menantunya "Dimana Hanna Bu?"
"Tidak ada Hanna disini!" Jawab Hanum dengan nada kesal
"Lalu dimana putriku?"
"Putrimu yang mana? Mereka tidak ada disini!" Ujar Hanum "Sebaiknya kamu pergi dari sini!"
"Aku akan pergi jika Hanna dan putriku ikut bersamaku" Ujar Rizal Keukeh
"Tapi mereka tidak ada disini!" Kesal Hanum
Rizal kesal, dengan paksa ia naik kelantai atas. Tujuannya jelas untuk mencari keberadaan istri serta putrinya
"Hanna!"
Hanum yang menyusul segera mencegah "Mau apa kamu Rizal! Jangan kurang ajar kamu! Ibu akan panggil warga untuk mengusir kamu dari sini"
"Aku mohon Bu, tolong pertemukan aku dengan Hanna! Sekali saja" Rizal memelas
"Kamu boleh bertemu dengan dia jika dia ada disini!" Rizal mengernyit, jika tidak disini lalu dimana Hanna
"Tadi pagi aku melihat ibu tengah menjemur bayi kecil, dia siapa?" Hanum terkejut, artinya Rizal mengawasi rumahnya
"Aku mohon Bu!"
Hanum menarik napasnya panjang "Dia memang putri kamu, tapi ibu tidak akan mengizinkan kamu untuk membawanya"
Rizal merasa terharu mendengarnya, ternyata ia tidak salah jika itu memang putrinya
"Lalu dimana Hanna?"
"Hanna sedang menjalani pengobatan!" Jawab Hanum
"Pengobatan? Hanna sakit?" Tanya Rizal penuh kekhawatiran
"Ya, kejadian itu membuat mental Hanna terguncang dan untuk mengembalikan kewarasannya Hanna memerlukan perawatan!"
Rizal hampir saja terhuyung mendengar penjelasan ibu mertuanya itu. Mental istrinya terguncang karena kebodohannya
"Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini! Biarkan Hanna tenang tanpa ada bayang-bayang pengkhianatan kamu" Hanum sudah menitihkan air matanya membayangkan keadaan putrinya
"Maafkan aku Bu!"
"Ibu tidak bisa menyalahkan kamu, Rizal. Mungkin memang kamu sudah bosan bersama Hanna, tapi ibu menyayangkan karena kamu tidak mengembalikan dia pada ibu dengan baik-baik!"
Rizal membeku, ucapan ibu mertuanya salah, ia tidak pernah bosan bersama Hanna. Hanya saja dirinya yang lemah hingga godaan setan itu dengan mudahnya masuk
"Tapi aku sangat mencintai Hanna Bu" Lirihnya
"Ibu mohon pergi dari sini!" Usir Hanum dan Rizal tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.