Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kepanikan Axel dan Posesifnya Zayn.
Sementara di tempat lain, suasana terasa sangat berbeda dan mencekam. Di dalam sebuah ruangan besar yang kini berantakan, Axel berdiri mematung dengan punggung tegap namun tangannya terkepal sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasanya tampan dan tenang kini dipenuhi aura gelap yang membakar habis kesabarannya. Rasanya kepalanya seakan mau meledak.
"Aruna... sebenarnya dimana kamu, Sayang... Katakan padaku bahwa kamu baik-baik saja.." gumamnya pelan, suaranya terdengar parau dan bergetar menahan rasa cemas yang luar biasa.
Rasa panik, takut, marah, dan khawatir bercampur menjadi satu di dadanya, membuatnya sesak napas. Ia sudah menyebar semua anak buahnya, memerintahkan mereka untuk mencari ke seluruh penjuru kota, memeriksa setiap sudut jalan, bahkan setiap tempat yang pernah Aruna kunjungi.
Namun hasilnya nihil. Gadis itu hilang begitu saja seperti ditelan bumi. Dan perlahan tapi pasti, satu nama muncul jelas di benaknya. Yaitu Zayn.
Siapa lagi kalau bukan dia? Hanya orang gila itulah yang berani dan nekat melakukan hal seberbahaya ini.
"Apa mungkin... Kau benar-benar menculiknya... Zayn.." desis Axel rendah, matanya menyala penuh amarah. "Kau pikir kau bisa mengambilnya dariku begitu saja?"
Tapi masalahnya sekarang, Axel sama sekali tidak tahu markas besar Zayn berada di mana. Ia tahu wajahnya, tahu namanya, tapi jejak keberadaannya sangat rahasia dan sulit dilacak.
Axel menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia harus berpikir jernih. Ia memutar otaknya sekeras mungkin, mengingat setiap informasi, setiap koneksi, dan setiap jalur yang mungkin dilalui musuh bebuyutannya itu.
"Tunggu aku, Aruna..." bisiknya tegas, matanya kembali tajam dan penuh tekad membara. "Aku akan menemukanmu. Dan jika Zayn berani menyakiti satu helai rambut pun darimu... aku akan hancurkan segalanya yang dia miliki sampai ke akar-akarnya."
Perburuan besar baru saja dimulai.
Axel benar-benar tidak tahu, kalau di tempat yang jauh dari jangkauannya itu, Aruna justru bersantai-santai layaknya seorang ratu. Gadis itu sama sekali tidak terlihat stres atau sedih. Ia justru menikmati semua perhatian manja yang diberikan Zayn, bahkan terlihat sangat senang saat Zayn membelikannya gaun dan beberapa sepatu baru, yang cantik dan mahal.
"Zayn... ayo dong katakan..." seru Aruna sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin besar. "Mana harta karunnya? Aku mau satu barang aja, yang paling langka."
Zayn tersenyum miring, lalu berjalan mendekat dan memeluk Aruna erat dari belakang. Wajahnya membenamkan diri ke dalam ceruk leher gadis itu, menghirup aroma tubuhnya yang khas.
"Kalau begitu... jadilah milikku sepenuhnya, sayang..." bisiknya menggoda. "Nanti akan aku berikan segalanya sampai kamu puas, sampai kamu bosan melihatnya."
"Ah enggak mau!!" Aruna menepis pelan tangan yang melingkar di perutnya. "Aku gak mau dikekang dan diikat. Aku butuh kebebasan."
"Lalu kenapa kamu mau dengan Axel?" tanya Zayn tiba-tiba, nada suaranya terdengar sedikit cemburu. "Kamu kan sebentar lagi mau bertunangan dengan dia?"
"Ya... iya sih..." jawab Aruna santai tanpa beban, "Tapi kan sekarang kamu menculikku. Jadi mungkin saja pertunangan itu batal otomatis kan? Gagal sebelum jalan."
Zayn menghela napas panjang, benar-benar tak habis pikir. "Aku gak ngerti sama isi kepala kamu, Aruna. Kamu terlalu santai menghadapi semua situasi gawat ini."
"Ya ya ya... udah ah gak usah bahas Axel terus." potong Aruna kesal. "Aku mau ganti baju dulu nih. Kamu keluar sana."
"Aku mau lihat, coba saja ganti baju di depanku..." goda Zayn, matanya menyipit nakal.
"Dasar otak mesum!" ceplos Aruna sambil tertawa kecil. "Tapi... aku gak keberatan. Kalau mau lihat, silakan saja."
Dan benar saja, Aruna benar-benar nekat.
Tanpa rasa malu sedikitpun, ia mulai melepaskan bajunya satu persatu. Hanya menyisakan pakaian dalamnya saja, Posisinya membelakangi Zayn, tapi ia sama sekali tidak menutupi diri. Ia berani melakukan hal itu seolah Zayn adalah teman ceweknya sendiri. Ia ingin tahu, seberapa nakal Zayn dihadapannya. Dan seberapa jauh Zayn mau melindunginya.
Tapi siapa sangka...
Wajah Zayn yang tadi santai langsung memerah padam seketika. Matanya terbelalak, jantungnya berdegup kencang bukan main. Dengan sangat cepat dan kaku, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, bahkan menutup sebagian matanya dengan tangan.
Meski ucapannya terdengar menantang, nyatanya Zayn justru gugup setengah mati dan merasa tidak pantas melihat hal itu sebelum waktunya.
"HEI! KAMU KENAPA SIH?!" teriak Aruna heran melihat punggung Zayn yang mematung dan wajahnya yang merah.
Zayn hanya bisa menggerutu dalam hati, 'Gadis ini... benar-benar di luar nalar manusia.'
Ia kemudian menghampiri Aruna yang sedang membetulkan dressnya.
"Aruna... jangan lakukan hal sembarangan begitu pada Axel, atau laki-laki yang lain.." ucap Zayn lembut namun tegas. Ia kembali memeluk erat tubuh Aruna yang kini sudah rapi mengenakan gaun baru.
"Kamu boleh melakukan apa saja, boleh seenaknya... tapi itu hanya boleh padaku, hanya di depanku saja."
Memang benar apa yang dipikirkan Zayn. Selama hidupnya di dunia gelap, ia sudah sering melihat pemandangan vulgar, wanita-wanita yang berpakaian minim atau bahkan telanjang di bar dan tempat hiburan. Ia bahkan pernah dengan santainya menyuruh gadis-gadis yang menggodanya melakukan hal serupa hanya untuk iseng, atau untuk menghina mereka.
Tapi berbeda dengan Aruna.
Saat melihat gadis itu tadi, jantungnya berdegup kencang bukan karena nafsu semata, tapi karena rasa hormat dan rasa memiliki yang begitu besar. Aruna bagaikan permata yang sangat berharga, sesuatu yang suci dan harus dijaga, bukan untuk dilihat dengan mata kotor. Aruna terlalu berharga untuk disentuh sembarangan.
"Kamu ngapain sih bahas Axel terus? Ah kesel banget aku sama dia." ketus Aruna kesal, wajahnya kembali manyun memikirkan calon tunangannya itu. Tapi bukan karena dia benar-benar begitu, dia hanya ingin Zayn tidak agresif padanya.
Zayn tersenyum miring melihat kekesalan itu. Tanpa aba-aba, bibirnya kembali bergerak liar. Ia mulai menghamburkan ciuman-ciuman hangat dan basah di sepanjang leher jenjang Aruna.
"Zayn!! Ngapain sih kamu ganggu terus!!" protes Aruna mencoba mendorong dada bidang itu.
Namun tangannya dengan cepat dicekal dan ditahan oleh Zayn. Pria itu tak mau berhenti. Aksinya semakin intens, semakin liar, dan penuh rasa posesif.
Bibir Zayn bekerja rakus, meninggalkan bekas-bekas merah membara di kulit mulus leher Aruna satu per satu. Ia ingin menandai gadis itu, ingin memastikan siapapun yang melihatnya tahu bahwa wanita ini sedang dimanja olehnya.
"Ungghhh... Zayn... stop... ah... sssakit...!" pekik Aruna meronta, matanya terpejam menahan sensasi campur aduk antara nikmat dan perih.
Mendengar kata "sakit", Zayn langsung menghentikan aksinya seketika. Ia melepaskan cengkeramannya dan mundur sedikit, wajahnya terlihat panik dan bersalah.
"Maaf... maafkan aku sayang..." ucapnya cepat, jari-jarinya dengan lembut mengusap area yang tadi dia cium ganas. "Aku terlalu bersemangat sampai tak sadar dengan kekuatan sendiri."
"Unghht... dasar cowok semua sama aja!" gerutu Aruna kesal sambil memijat lehernya sendiri yang terasa panas. "Selalu saja begitu, kalau udah mulai nggak bisa dikontrol."
Zayn hanya bisa tersenyum kecut dan mengusap kepala belakangnya, sadar ia baru saja membuat kekacauan kecil di tubuh wanita yang paling ia sayangi.
***