NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Dinding yang Bernapas

Labirin Dinding yang Bernapas

*"Jika labirin ini memang dirancang untuk mematahkan jiwa, maka dia telah membuat kesalahan fatal: dia lupa bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang justru tumbuh lebih kuat saat dipaksa untuk hancur."*

Dinding-dinding labirin itu bukan terbuat dari batu biasa. Saat tanganku menyentuh permukaannya untuk mencari celah, aku bisa merasakan getaran—sebuah ritme lambat dan dalam, seolah-olah seluruh labirin ini adalah bagian dari organisme raksasa yang masih hidup. Dinding-dinding itu bergeser secara periodik, mengubah jalan setapak menjadi jebakan yang membingungkan. Julius menarikku menjauh dari dinding saat sebuah duri logam tajam menyembul keluar tiba-tiba, nyaris menembus bahuku.

Kami terengah-engah di tengah lorong yang sempit. Langit di atas kami tertutup oleh jalinan dinding yang terus bergerak, membuat cahaya matahari hanya bisa menembus dalam bentuk garis-garis tipis yang menyakitkan mata.

*"Tetap di belakangku,"* bisik Julius. Dia tidak lagi memegang pedang, karena pedang hitamnya lenyap saat kami jatuh ke dalam sumur. Sebagai gantinya, dia memegang sepotong besi tajam yang ia ambil dari bangkai monster logam tadi. *"Labirin ini tidak bergerak secara acak. Perhatikan polanya. Dinding-dinding ini bereaksi terhadap denyut nadi kita. Semakin cemas kita, semakin sempit lorongnya."*

*"Kau mencoba bilang bahwa labirin ini bisa membaca emosi kita?"* tanyaku, mencoba mengatur napas yang memburu.

*"Bukan hanya membaca, tapi memberi makan,"* jawabnya dingin. *"Semakin takut kita, semakin kuat labirin ini menjadi. Kita harus tetap tenang. Kita harus menjadi sedingin batu."*

Kami mulai melangkah lagi, kali ini dengan langkah yang sengaja dibuat lambat dan berirama. Kami tidak membiarkan rasa takut mengambil alih. Setiap kali aku merasa panik karena lorong yang tiba-tiba menyempit, Julius akan menggenggam tanganku—sebuah kontak fisik yang anehnya berhasil menenangkan kekacauan di kepalaku. Tanpa sihir, tanpa kekuatan, kami hanya memiliki satu sama lain.

Setelah berjam-jam, kami sampai di sebuah persimpangan yang memiliki patung berbentuk burung hantu tanpa kepala. Di depan patung itu, terdapat lantai yang berpola seperti labirin yang lebih kecil.

*"Tunggu,"* Julius menghentikan langkahnya. *"Lihat lantai itu. Itu bukan sekadar dekorasi. Itu adalah kunci mekanisme labirin ini."*

Aku berlutut, memperhatikan pola di lantai. Itu adalah peta. Sebuah peta hidup yang menunjukkan posisi kami saat ini dan rute menuju pusat labirin—di mana pria bertopeng itu berada. Namun, rute menuju pusat tertutup oleh beberapa tanda silang yang seolah-olah menjadi dinding penghalang yang mustahil ditembus.

*"Jika kita ingin sampai ke pusat,"* kataku, menyentuh pola di lantai, *"kita tidak bisa melalui jalan biasa. Kita harus melakukan sesuatu yang akan membuat labirin ini bereaksi."*

*"Maksudmu memancingnya?"* tanya Julius dengan alis terangkat.

*"Ya. Jika dinding ini bergerak karena emosi kita, mungkin kita bisa 'menipu' labirin ini dengan emosi palsu. Jika kita menunjukkan rasa takut yang sangat hebat di sini, labirin ini akan membuka celah agar kita 'melarikan diri'. Saat itulah kita akan memutar balik arah dan menuju pusat."*

Rencana itu sangat berisiko. Jika labirin itu tidak tertipu, kami akan terkubur hidup-hidup di dalam dinding yang merapat.

*"Lakukan,"* kata Julius singkat.

Kami mulai berteriak, berpura-pura panik, berlari ke arah yang salah, bahkan saling membentak dengan amarah yang dibuat-buat. *“Lepaskan aku! Aku tidak tahan lagi! Kita akan mati di sini!”* teriakku dengan suara yang sengaja kuberikan getaran ketakutan.

Dinding-dinding di sekitar kami mulai bergemuruh hebat. Lubang-lubang ventilasi terbuka di langit-langit, dan celah sempit muncul di antara dinding-dinding yang semula rapat. Labirin itu merespons 'ketakutan' kami, mencoba memberikan jalan keluar bagi kami untuk pergi dari pusat.

*"Sekarang!"* bisik Julius.

Kami berhenti berteriak. Kami mengubah ekspresi wajah kami menjadi datar, tanpa emosi, lalu dengan cepat berbalik dan melompat masuk ke celah sempit yang baru saja terbuka. Saat kami masuk, labirin itu tersentak. Ia menyadari ia telah ditipu. Dinding-dinding di belakang kami mulai bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, mencoba menutup jalur yang baru saja kami lalui.

Kami berlari sekuat tenaga. Paru-paruku terasa seperti terbakar. Kakiku yang tanpa sihir sudah penuh dengan luka lecet, namun aku tidak memedulikannya. Di depan kami, pintu besar yang terbuat dari perak murni mulai terlihat. Itu adalah gerbang menuju pusat.

Namun, tepat sebelum kami mencapai gerbang itu, lantai di depan kami terbuka, menyingkap jurang yang berisi bilah-bilah pisau raksasa yang berputar.

*"Lompat!"* teriak Julius.

Kami melompat bersama. Aku berhasil mencapai sisi seberang, namun Julius... ujung kakinya tersangkut pada pinggiran lantai yang bergerak. Dia tergelincir, jatuh ke arah bilah-bilah pisau yang berputar itu.

*"Julius!"* aku menjerit, tanganku meraih udara kosong.

Dengan refleks yang luar biasa, dia melemparkan potongan besi tajam yang dibawanya ke dinding, menancapkannya ke dalam celah batu, dan menggunakan itu untuk mengayunkan tubuhnya kembali ke atas lantai, tepat sebelum bilah pisau itu mengiris kakinya. Dia terjatuh ke atas lantai dengan napas tersengal-sengal.

Kami sampai di depan pintu perak. Pintu itu tidak memiliki gagang. Hanya ada ukiran sebuah jantung yang retak di tengahnya.

*"Teteskan darahmu,"* suara pria bertopeng burung hantu tiba-tiba terdengar, menggema dari balik pintu. *"Hanya darah dari wadah yang retak yang bisa membuka jalan menuju kebenaran yang sesungguhnya."*

Aku memandang Julius. Dia menatap tanganku yang masih berdarah karena gesekan dinding tadi. Dia meraih tanganku, menekan luka di telapak tanganku ke ukiran jantung di pintu itu.

Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara dentuman logam yang berat. Di balik pintu itu bukan lagi labirin. Itu adalah sebuah ruangan luas yang melayang, dikelilingi oleh ribuan jiwa yang terjebak dalam kristal cahaya. Dan di tengah-tengah ruangan itu, pria bertopeng burung hantu itu berdiri, menatap kami dengan mata yang penuh kemenangan.

*"Kalian datang lebih cepat dari yang kuduga,"* katanya, melepaskan topeng burung hantu itu.

Wajah di balik topeng itu membuat kami berdua terpaku. Itu bukan wajah asing. Itu bukan wajah musuh. Itu adalah wajah yang selama ini kulihat di setiap cermin di kediaman Vance.

Itu adalah wajah ayahku—ayah Marie.

*"Ayah?"* bisikku, air mata mulai mengalir di pipiku yang kotor. *"Tapi kau... kau mati. Aku melihatmu mati!"*

*"Yang mati hanyalah cangkang fisik yang lemah, Marie,"* katanya dengan suara yang penuh kedamaian namun dingin. *"Apa yang ada di depanku saat ini hanyalah sisa-sisa kesadaran yang terbuang. Dan kalian, kalian berdua adalah kunci terakhir untuk menyelesaikan sirkuit ini."*

Dia mengangkat tongkatnya, dan seketika itu juga, lantai di bawah kaki kami berubah menjadi cairan cahaya. Kami berdua mulai tenggelam ke dalam lantai tersebut.

*"Kalian tidak akan mati,"* lanjutnya sambil menatap kami tenggelam. *"Kalian hanya akan menjadi bagian dari memori yang akan diputar selamanya. Selamat datang di pusat dari sejarah Oakhaven yang sebenarnya, di mana kalian akan belajar bahwa pengkhianatan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah kewajiban."*

Cahaya putih menelan pandanganku. Julius menggenggam tanganku semakin erat, sebuah genggaman yang terasa seperti sebuah sumpah. Saat cahaya itu benar-benar menelan kami, aku merasa diriku terpecah. Aku melihat diriku di masa lalu, masa depan, dan masa yang belum pernah terjadi.

Aku melihat Julius di kehidupan yang berbeda, mencoba menyelamatkanku dari kematian yang sama. Aku melihat diriku yang berdiri di depan cawan sihir, memilih untuk membuang jiwaku sendiri.

Dan kemudian, aku mendengar suara pria bertopeng itu—ayahku—berbisik tepat di telingaku sebelum kesadaranku benar-benar terhapus oleh arus memori yang tak terbatas:

*"Marie, apa yang kau lakukan di episode pertama bukan sebuah awal. Itu adalah episode terakhir dari ribuan pengulangan yang telah kau jalani. Sekarang, mari kita lihat apakah kali ini kau akan membuat pilihan yang berbeda."*

Aku terbangun.

Aku berada di kamar tidurku di dunia asalku—dunia sebelum aku bereinkarnasi. Alarm jam beker berbunyi dengan nyaring. Aku duduk di ranjang, keringat dingin membasahi baju tidurku. Semuanya terasa seperti mimpi. Mimpi yang sangat panjang, sangat menyakitkan, dan sangat nyata.

Aku menatap tanganku. Ada bekas luka berbentuk rasi bintang di lenganku—bekas luka yang sama dengan yang dimiliki Julius di dunia itu.

Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

*Cepat bangun, Marie. Julius sudah menunggu di depan rumahmu. Kita punya kontrak yang harus segera ditandatangani.*

Aku terdiam. Jantungku berdetak kencang. Aku melihat ke arah cermin di meja riasku. Di cermin itu, bayanganku bukan diriku yang asli. Bayanganku adalah Marie Vance, dengan mata yang memiliki aura sihir yang redup.

Aku tidak tahu apakah aku sedang bermimpi, atau apakah aku baru saja terjebak dalam pengulangan yang lebih dalam dari yang bisa kubayangkan. Tapi aku tahu satu hal: ini bukan akhir. Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Dan di luar rumahku, sebuah mobil hitam mewah berhenti. Pintu mobil terbuka, dan seseorang yang sangat kukenal keluar. Dia menatap rumahku dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan yang entah kenapa terasa seperti luka.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!