Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuli
"Sebelah sini, No. Ini kangkungnya udah aki." Aki Dikun dengan cekatan menggeser seikat besar kangkung hingga ruang yang tersisa untuk duduk Ziano lebih luas.
"Biasanya Aki duduk di depan sama ambu dan Uci.Tapi karena sekarang ada Nono jadi aki nemenin Nono aja disini." lanjutnya.
"Iya, Ki. Makasih." meskipun tak sesuai ekspektasi tapi setidaknya untuk hari ini ia tak terlunta-lunta di luar. Andai dompet nya tak hilang... Ah sudahlah, yang sudah berlalu tak perlu diungkit lagi. Meskipun di luar rencana tapi cukup dijalani saja dulu.
Jalanan bukan lagi lengang, bisa di sebut sepi. Sedari tadi sepertinya hanya kendaraan yang ditumpanginya saja yang lewat. Padahal jika dilihat dari kedua garis kuning di pinggir jalan bisa ditarik kesimpulan jika jalan yang dilaluinya merupakan jalur nasional, artinya jalur utama.
Kiri kanan jalan juga masih asri tanpa gedung atau bangunan-bangunan semi permanen yang sering ia temui di kota kembang. Di sekitar stasiun tadi lingkungannya cukup modern dengan bangunan-bangunan masa kini dan beberapa toko yang belum buka. Tapi semakin kesini malah semakin sepi, apalagi saat kolbak biru itu berbelok. Tak ada lagi lampu penerangan yang menyinari jalan, kanan kiri benar-benar gelap gulita. Ziano hanya bisa melihat hamparan sawah sekilas. sekitar lima menit berlalu barulah mulai terlihat rumah-rumah dengan design yang menurutnya jadul banget.
Melewati sawah, perumahan dan kini kolbak biru itu kembali memasuki area pesawahan. "masih jauh nggak Ki rumahnya?" tanya Ziano, kakinya sudah mulai pegal karena sedari tadi berjongkok alih-laih duduk.
Kepulan asap tak dapat Ziano lihat tadi dari aroma yang menguar di indera penciumannya, ia yakin si aki sedang merokok.
"Kedap deui, tos ieu nanjak gunung, turun teras dua kiloan deui." jawab Aki.
"Bentar lagi, tinggal nanjak gunung di depan, turunan terus paling dua kilometer juga sampe." ralatnya dalam bahasa indonesia.
Ziano membenarkan jaket yang ia kenakan dan mendekap dirinya sendiri, dingin.
"Aduh!" teriaknya reflek saat ia tersungkur gara-gara tubuhnya terguncang saat mobil menajak ke kaki gunung, jalannya lumayan jelek terbukti dari guncangan yang dihasilnya.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Aki."
"Pegangan yang bener, jalan sini emang jelek. Keseringan dipake lewat truk besar yang ngangkut beras jadi gini. amblas." terang Aki Dikun.
"Cuma dikit kok yang jelek. Nanti juga bagus lagi." lanjutnya.
"Iya, Ki." balas Ziano singkat.
Mobil yang ditumpanginya berhenti di depan rumah dengan halaman yang lumayan luas. Di sampingnya ada bangunan yang mirip garasi di rumahnya tapi lebih kecil. Ada beberapa kursi di depannya, ada Pom Mini juga. Pantesan ini mobil full muatan, ternyata si Aki punya warung pikir Ziano.
"Kita sudah sampai Aki?" tanya Ziano basa basi.
"Muhun, ieu saung aki. Hayu turun, teras bantosan nurunkeun balanjaan." (Iya, ini gubug kakek. Ayo turun, terus bantuin nuruin belanjaan) jawab Aki Dikun.
Ambu Yayat turun sambil menggendong Lusi yang tertidur, "Aki atuh teu kenging kitu, teu kira-kira Nono nembe dugi tos piwarang babantu." (Kakek jangan kayak gitu, masa Nono baru sampe udah langsung disuruh bantu-bantu)
"Ka bumi heula Nono, cai-cai heula. Nurunkeun barang mah ke wen ngantosan rada caang." (ke rumah dulu aja Nono. Minum dulu. Nurunin barang nanti aja nunggu agak terang) lanjutnya ambu Yayat.
"Iya, makasih Ambu." Ziano mengikuti Ambu Yayat.
"Ambu kalo gitu aku pamit pulang, ini kuncinya." Ziano ikut menoleh saat Ambu Yayat berhenti dan menerima kunci mobil.
"Iya, makasih yah Yudi. Maaf ambu sering ngerepotin."
Pemuda dengan kaos hitam dan celana pendek itu berlalu pergi setelah menyalami ambu, aki dan mengangguk ramah ke arahnya. Ziano hanya membalasnya dengan anggukan pula. Sedikit bingung, bukannya tadi Aki bilang cucunya yang jemput, kenapa si cucu malah pamit pulang?
"Itu Yudi, tetangga sebelah. Udah Aki anggep kaya cucu sendiri." Ziano mengangguk paham.
"Anaknya rajin, biasanya langsung bantu bongkar belanjaan tapi berhubung tadi ambu nyuruh kamu masuk dulu jadi dia pulang. Pasti ngiranya udah ada kuli panggulnya ini." ledek Aki.
Ziano tersenyum masam, "si al gue dianggap kuli panggul." batinnya.
Ketika Aki dan Ziano masih ngombrol, Ambu datang membawa dua gelas kopi hitam dan pisang goreng yang sudah dingin.
"Diminum dulu biar anget, pisang gorengnya dingin sih tapi karena kopinya anget jadi enak-enak aja." ucap Ambu.
"Makasih Ambu." ucap Aki Dikun, Ziano ikut mengangguk tapi tak menyentuh kopinya sama sekali.
"Kenapa atuh nggak diminum? sok atuh diminum." ucap Ambu.
"Makasih Ambu." jawab Ziano tapi tetap tak menyentuh minumannya.
"Nono nggak ngopi?" tebak Ambu.
"Jarang, Ambu. Aku kalo pagi minum air putih aja." jawab Ziano. Rasanya sungkan jika ia harus jujur setiap pagi hanya minum infused water buatan mamanya, serta hanya minum kopi yang ia beli di cafe. Tentunya bukan seperti kopi hitam yang kini ada di hadapannya.
"Ieu we atuh." (Ini aja kalo gitu) Aki Dikun mengambil satu gelas air minum kemasan dari bawah meja.
Ziano menerima air minum kemasan gelas itu. Sedikit ragu saat hendak meneguknya karena merek yang tertera disana tak pernah ia temui sebelumnya. Tapi sudahlah, nikmati yang ada.
Di luar sudah mulai terang, Ziano mengikuti Aki yang memintanya kembali ke halaman rumah. Kini suasa sudah tak sesepi saat ia datang. Sudah mulai ada orang-orang yang berlalu lalang. Ada satu hal yang membuatnya terpaku lumayan lama kala melihat seorang pria membawa banyak potongan bambu dengan cara di pikul, di pingangnya tersemat senjata tajam, dan yang lebih aneh pria itu tak memakai baju, hanya mengenakan celana pendek yang cukup dekil.
"Bongkaran Aki." seru lelaki itu.
"Muhun, mang. tumben gasik wayah kieu ek mangkat nyadap." (Iya, mang. Tumben pagi banget jam segini udah berangkat nyadap) jawab Aki Dikun.
"Enya puguhan, Ki. Soalna ke sina ka sakola budak." (iya nih, aki. soalnya nanti disuruh ke sekolah anak)
Ziano tertegun. nyadap? apa yang mau disadap dengan barang-barang yang dibawanya? bambu dan arit? bukannya sekarang nyadap cukup pake aplikasi saja.
"Aneh yah? baru kali ini liat orang nyadap?" Aki menyenggol bahu Ziano.
"Eh... Iya, Aki. Nyadap apaan bawa senjata tajam kayak gitu? sama bambu juga. Terus itu juga nggak pake baju, apa nggak masuk angin?"
"Kamu pernah makan gula merah nggak?"
"Pernah lah, Aki." jawab Ziano.
"Tau cara bikinnya nggak?"
Ziano menggelengkan kepala.
"Sebagian besar masyarakat sini kerjanya yah itu bikin gula merah. Jam segini mereka pergi nyadap. Apa yah bahasa indonesia nya?" Aki Dikun sedikit berpikir.
"Pokoknya mereka ngambil air nira dari kelapa terus diolah jadi gula."
"Nah lihat itu!" Aki menunjuk seseorang yang sedang memanjat pohon kelapa di samping rumahnya.
Ziano tercengang, "dia naik pohon kelapa tanpa pengamanan? kalo jatuh gimana?" membayangkannya saja sudah membuat Ziano bergidig ngeri.
Aki Dikun menepuk pelan pundak Ziano, "kalo jatuh yah ke bawah." ledeknya.
"Sudah lah lain kali Aki jelasin lebih rinci, sekarang bantu Aki nurunin belanjaan." lanjutnya.
Satu persatu belanjaan diturunkan. Entah sudah berapa kilo barang yang Ziano panggul ke warung. Kaos putihnya kini sudah tak putih lagi terutama bagian bahu. Kotor oleh aneka barang yang ia angkut.
Cape? sangat. Dia tak pernah melakukan pekerjaan berat kini harus memikul aneka sayuran yang tentunya tak ringan.
"Ayo semangat dikit lagi." Aki Dikun menaikan satu karung besar berisi tomat ke punggung Ziano namun naas ia sudah tak mampu menahan beban hingga karung itu terjatuh dan isinya berhamburan.
"Haduh Nono! rusak kalo gini tomat Aki."
"Cepetan kumpulin, nanti dilihat ibu-ibu tomatnya pada ambyar gini mereka nggak jadi beli." dengan sikap Aki DIkun langsung turun dan membantu memunguti tomat yang berhamburan.
"Iya, Aki. Maaf..." ucap Ziano lirih. Tangannya tak secekatan aki dalam mengumpulkan tomat.
"Waduh Abah kunaon atuh enjing keneh tos ngawur-ngawur tomat!" (aduh abah kenapa pagi-pagi udah ngeberantakin tomat)
Ziano mendongak, gadis dengan seragam pramuka lengkap berdiri sambil meledek Aki Dikun. Tangannya bersilang di depan dada, senyum meledeknya lumayan juga. Wajahnya begitu teduh dengan jilbab cokelat tua yang menutup dada.
"Heu kurang gawe meren abah ngawur-ngawur tomat! insiden ieu teh. tuh pelakuna!" (heh kurang kerjaan kali abah ngeberantakin tomat. Insiden ini, tuh pelakunya!) Aki Dikun menunjuk Ziano.
Ziano hanya merespon dengan wajah datar.
"Euh ni waas abah. Neng angkat sakola heula, Bah." (sayang banget, Abah. Neng berangkat sekolah dulu, Bah) gadis itu menyalami Aki Dikun.
"Aa kerjanya sing leres atuh. Rugi abah pami kieu mah." (Aa kerjanya yang bener dong. Kalo kayak gini rugi Abah aku) serunya pada Ziano begitu melewatinya.
Ziano tersenyum samar. Gaya bicaranya mengingatkan pada Raizel. "Ah lagi ngapain yah si ratu kupret sekarang? kalo tau gue kabur nggak diajak pasti tantrum itu bocah." batinnya.
"Heh! Nono! malah cengar cengir! beresin tomatnya cepet!" seru Aki.
"Ini kalo tomatnya banyak yang rusak kamu ganti rugi!" lanjutnya yang membuat Ziano memutar bola matanya jengah. Belum juga nerima bayaran udah disuruh ganti rugi. Kalo seperti ini caranya sudah dipastikan ia tak bisa pulang hari ini juga.
"Ternyata kayak gini rasanya nggak pegang uang." batin Ziano.
"Pah, Mah, anakmu jadi kuli." gumamnya sambil reflek melempar asal tomat yang dipegang. Kesal.
Tapi sedetik kemudian ia memungut kembali tomat itu saat matanya tak sengaja bersitatap dengan Abah.
"Maaf, Bah. Tomatnya lompat sendiri." ucapnya asal.
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
diiih diih