Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Jidan dan Nada banyak menaiki permainan yang tersedia di wisata itu. Bahkan Nada yang sejak tadi antusias tidak merasa lelah sama sekali, padahal Jidan sudah terlihat lelah.
"Kak Jabir, apa ini?" Tanya Nada saat melihat sebuah permen jadul yang kebetulan tersedia di tempat itu. Permen gulali jadul yang biasanya mengikuti pesanan orang-orang sesuai bentuk dan keinginan pembeli. Jajanan itu dulu banyak terlihat di sekolah SD, tapi sekarang sudah langkah dan baru kali ini Nada melihat.
"Itu namanya permen gulali. Kamu bisa membeli sesuai keinginan mu."
"Benarkah?"
"Kalau nggak percaya coba kamu beli, nanti bapak nya buat kan sesuai dengan pesanan mu." Jawab Jidan, membuat gadis itu menatap ingin tau ke arah penjual Permen gulali itu.
Jidan yang sejak tadi memperhatikan semua gerak-gerik Nada. Ia merasa ada yang aneh dengan gadis itu, karena tingkah seperti anak kecil yang banyak ingin tahu sesuatu hal.
"Neng mau bentuk apa?" Tanya bapak penjual itu dengan ramah saat Nada menghampiri nya.
"Saya mau pesan yang balon apa bisa pak?" Tanya Nada tertarik saat melihat satu anak kecil membeli dengan bentuk itu."Sama yang burung bisa pak?"
"Bisa neg sebentar bapak buatkan."
Jidan terus memperhatikan interaksi Nada dengan penjual itu dan bagaimana antusias Nada saat bapak penjual itu berhasil membuat permen sesuai dengan bentuk yang Nada rekueskan.
"Terima kasih pak, ini sangat cantik dan bagus!"
Bapak penjual permen gulali itu tersenyum."Sama-sama mbak."
Nada mendekati Jidan yang masih berdiri di posisi yang sama."Sudah?"
"Sudah, kak. Ini untukmu." Nada memberikan gulali berbentuk burung itu ke Jidan.
"Tidak Nada, terimakasih. Aku tidak suka yang manis-manis."
"Hmm, baiklah. Aku tidak memaksa." Mendengar jawaban Nada Jidan hanya terkekeh; Ternyata gadis itu tidak memaksa nya.
"Kamu sama seperti anak kecil saja." Celetuk Ardian tanpa sadar, membuat Nada yang tadi sedang menikmati permen berbentuk balon menoleh ke arah nya.
"Kamu mengatai ku anak kecil?" Jidan menggeleng saat mendapatkan tatapan tajam dari Nada.”Awas saja kalau kamu mengatai ku.”
Keduanya kembali berkeliling serta mencoba hal baru, dan berhenti di tempat-tempat yang menyediakan berbagai makanan jadul. Nada sangat suka nyemil hal itu membuat Jidan hanya tersenyum melihatnya
"Kak Jabir, ada kerak telor. Aku ingin membelinya!" Nada kembali antusias saat melihat makanan khas Betawi— Jakarta. Yang sekarang sudah sangat langka penjual nya.
Nada kembali menghampiri bapak-bapak penjual kerak telur itu dengan antusias; Sepertinya Nada sangat senang dengan jajanan jadul yang jarang ditemui sekarang.
"Kak Jabir mau?"
"Boleh. Tapi kamu yang traktir seperti perkataanmu tadi malam."
"Tenang saja, aku yang traktir hari ini." Jidan mengulum senyumnya dengan jawaban Nada. Gadis itu ternyata tidak melupakan perkataannya.
Nada memiliki sifat yang sama seperti Yaya, mereka sama-sama ceria dan memiliki sifat ingin tahu. Sama-sama memiliki rahasia, hanya saja Nada memilih untuk diam walaupun Jidan sebenarnya penasaran.
Nada gadis ceria dengan bukunya, sementara Yaya gadis ceria dengan rahasianya.
Mengingat Yaya, entah kenapa jantung Jidan berdetak kembali. Berbeda jika dia bersama dengan Nada, ia hanya merasakan rasa senang saat mengenal gadis sih pecinta buku itu.
Ia tidak ingin menjadikan Nada sebagai pelampiasan rasa kecewanya, tapi ia juga butuh seseorang yang bisa membuat nya lupa dengan perasaannya yang lalu.
Dua tahun ia menutup diri untuk tidak mencintai orang lain, tapi tidak dengan sekarang. Ia membutuhkan gadis seperti Nada untuk menemaninya dan melabuhkan perasaan ke tempat yang seharusnya.
❄️❄️❄️❄️❄️
Setelah setengah hari berkeliling, Jidan memutuskan untuk pulang. Tapi terlebih dahulu ia mengantarkan Nada pulang ke rumah nya.
"Pelan-pelan." Ucap Jidan mengingatkan saat gadis itu turun dari motornya.
"Besok kamu sudah kembali ke kota B, kak?"
"Iya besok rencananya aku kembali ke kota B. Kenapa kamu tanya begitu, mau ikut?"
"Tidak-tidak, aku hanya bertanya saja. Kalau misalnya kak Jabir kembali ke sini, jangan lupa kabarin ya. Nanti aku ajak kak Jabir jalan-jalan lagi."
"Tenang saja, nanti kak Jabir yang bawa kamu jalan-jalan. Tapi tidak di kota S, melainkan ke sesuatu tempat. Kamu pasti suka." Ucap Jidan menampilkan senyum misterius nya, dan hal itu membuat Nada salah tingkah. Entah apa yang gadis itu tangkap dari senyuman Jidan, tapi Nada memiliki perasaan tersendiri."Baiklah aku pulang ya, sampai ketemu nanti. Babay." Jidan kembali menjalankan motor nya. Sementara Nada menatap kepergian Jidan dengan tersenyum malu-malu.
Ada rasa yang ingin Nada utarakan, tapi Nada tidak bisa mengatakannya. Rindu yang kemarin tersimpan akhirnya sedikit mengurang setelah dia menghabiskan waktu bersama dengan pria yang diam-diam ia sukai.
Ya, Nada mulai menyukai Jidan setelah mereka berteman. Perhatian dan kebaikan pria itu membuat nya nyaman saat dekat dengannya. Ia yang dari kecil kekurangan perhatian sangat senang sekali diberikan perhatian sekecil apapun, walaupun itu hanya sekedar perhatian teman dan tidak lebih dari itu.
"Mbak Nada nggak masuk?" Lamunannya buyar saat mendengar panggilan dari satpam yang sudah membuka pagar rumah itu.
"Eh, pak Danang." Langkah kecil nya terayun mengarah masuk kedalam pekarangan rumahnya dan kedatangan disambut baik oleh istri pak Danang, yaitu bik Yasmin.
"Bagaimana kencan nya, mbak Nada. Aman?" Tanya bik Yasmin tersenyum jahil, berhasil menimbulkan merah pada pipi nya.
"Bukan kencan bik, tapi jalan-jalan." Jawab Nada malu-malu tapi kakinya tetap melangkah mendekati bik Yasmin dan dengan perasaan bahagia dia memeluk tubuh yang sudah tidak muda lagi itu.
"Sama saja, mbak. Jalan-jalan ataupun kencan kalau sama dia di jantung terasa berdetak." Sambung pak Danang semakin membuat pipi Nada memerah. Ada rasa panas pada pipi nya jika membayangkan pria yang diam-diam dia sukai tiba-tiba menjadi kekasihnya. Bahkan sekarang jantung nya berdetak lebih kencang dari sebelumnya saat mengingat wajah tampan Jidan yang sedang tersenyum dan tertawa.
"Tuh pipi nya Mbak Nada saja sampai merah Bu, berarti benar nih kalau mbak Nada ada rasa." Lanjut pak Danang semakin gencar menggoda anak majikannya itu.
"Ih nggak pak, cuman teman aja." Jawab Nada malu-malu.
Melihat Nada malu-malu, pak Danang dan Bik Yasmin tertawa menatap wajah Nada yang sekarang sudah memerah bagaikan strawberry yang baru matang.
"Tapi pak Danang nggak yakin kalau cuman teman saja. Iya nggak bik?" Bukannya berhenti menggoda Nada, pak Danang semakin gencar membuat pipi gadis itu memerah.
"Tapi yang dikatakan sama pak Danang benar, mbak. Pasti ada perasaan lain." Nada sangat malu sekarang, karena kedua pekerja rumah terus menggoda nya membuat ia sangat-sangat malu.
"Bibik, pak Danang." Rengek Dana memasang wajah cemberutnya. Karena tidak ingin terus di goda oleh pekerja rumah nya, Nada memutuskan untuk masuk. Sementara pak Danang dan Bu Yasmin semakin tertawa melihat nya.
"Lucu ya mbak Nada nya Bu."
"Iya pak, lucu.”
Bersambung….