"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpukau
"Kau sedang tidak bercanda, kan?" ucap Rasti setelah duduk di kursi samping kemudi.
Xena menoleh sebentar, " Belum ada sehari, rasanya kau sudah melupakan perjanjian yang baru kau buat,"
Rasti terdiam, dalam hati ia berkata bahwa Xena sudah mendahului start.
"Hmm, sepertinya begitu. Kalau begitu, kau tidak benar-benar ingin mengantarku," sahut Rasti pelan.
"Tentunya... Tidak!"
Seketika hening. Xena langsung menyalakan mobil hitamnya melaju keluar pekarangan rumah itu. Rasti menatap lurus ke depan. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya. Ia mengatur nafasnya agar tetap stabil. Sementara Xena, fokus pada jalan. Rahangnya terlihat mengeras.
" Aku hanya menjalankan perintah Papa," ucap Xena tiba-tiba, memecah keheningan.
Rasti tidak langsung menjawab, " Aku tahu."
Jawaban itu terlalu tenang, membuat Xena melirik sekilas.
"Kau tidak protes?," tanyanya.
"Untuk apa? Bukankah kita sudah sepakat dari awal,?
Xena kembali menatap jalan, " Bagus kalau kau ingat,"
Hening kembali. Namun beberapa menit berlalu, mobil melaju cepat lebih dari sebelumnya. Seolah Xena ingin menyelesaikan urusan ini.
"Pelan sedikit," ucap Rasti tiba-tiba membuat Xena mengernyit.
"Apa?"
"Jalannya terlalu cepat," jawab Rasti singkat.
Xena mendengus kecil, "Takut,"
Rasti menggeleng, " Bukan. Aku hanya... tak ingin mati dalam keadaan seperti ini."
"Seperti ini, apa maksudmu,?"
"Menikah dengan orang yang tak menginginkanku,"
DEG
Untuk sepersekian detik kaki Xena mengendur di pedal gas. Mobil melambat dan Xena tidak langsung menjawab.
"Kalau kau merasa rugi...,"
"Aku tidak rugi," potong Rasti pelan.
Xena mengerutkan dahi, " Lalu,?"
Rasti menarik nafas panjang, " Cuma aneh saja. Dua orang tidak saling kenal, tapi dipaksa untuk hidup bersama,"
Hening lagi. Namun kali ini bukan hening yang tajam, tapi hening yang membuat kepikiran. Mobil akhirnya berhenti di lampu merah. Xena mengetuk jarinya pelan pada setir mobil.
" Untuk apa? Lebih baik fokus saja pada perjanjian . Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh," ucap Xena tiba-tiba.
Rasti meliriknya, " Tentu saja. Aku juga tidak."
Lampu merah berubah hijau. Mobil kembali melaju, namun tidak secepat sebelumnya. Tanpa disadari Xena menurunkan kecepatan. Rasti menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya kembali lurus ke depan, tapi pikirannya tak setenang tadi.ucapan Xena jelas l, bahkan sangat jelas.
Xena seakan membangun benteng yang tinggi diantara mereka.
***
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki sebuah pusat perbelanjaan besar. Xena mematikan mesin.
"Kita sampai," ucapnya datar.
Rasti mengangguk kecil, ia langsung melepas sabuk pengaman namun tidak langsung turun.
"Apa lagi?" tanya Xena tanpa menoleh.
Rasti ragu sejenak, " Apa kita harus benar-benar masuk,?"
Xena akhirnya menoleh, "Kau pikir kita di sini hanya untuk duduk di mobil,?"
Rasti menghela nafas kecil, " Aku hanya...tidak terbiasa,"
Xena menatap beberapa detik. Tidak mengejek. Tidak juga dingin seperti biasanya. Hanya mengamati.
"Ya sudah...Biasakan," ucapnya akhirnya.
Mereka turun dari mobil, langkah Rasti terlihat ragu saat memasuki gedung megah itu. Lampu terang, lantai mengkilap, orang-orang dengan pakaian rapi, semua terasa seperti dunia lain bagi Rasti.
Xena berjalan di sampingnya. Semua pegawai tunduk begitu mereka melewatinya. Hal itu justru membuat Rasti semakin kecil.
"Jangan seperti orang hilang," ucap Xena pelan.
"Tegakkan kepalamu," tambahnya lagi.
Rasti menoleh sedikit kesal, " Aku memang tersesat,"
Xena hampir tersenyum,namun ia menahannya.
" Kalau begitu, ikuti saja,"
Mereka masuk ke sebuah butik. Melihat siapa yang datang, seorang pramuniaga langsung menyambut dengan ramah.
"Selamat sore, Tuan, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu,"
Rasti langsung menegang mendengar sapaan itu. Xena langsung meliriknya sekilas.
"Pilihkan beberapa yang cocok untuk dirinya, " ucap Xena singkat.
" Baik, Tuan,"
Beberapa pakaian langsung dibawa keluar, mulai dari dress, blouse, sepatu. Semuanya terlihat mahal. Rasti melihat satu persatu dan menggeleng pelan.
" Tidak perlu sebanyak ini,"
"Ambil saja,"
"Ini terlalu berlebihan,"
Xena menghela nafas, " Dari tadi kau menolak. Sebenarnya kau mau apa?"
Rasti terdiam. Ia menatap pakaian itu lagi.
"Aku tak ingin terlihat seperti orang lain,"
Xena mengernyit," Maksudmu,?"
Rasti menatapnya, " Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Bukan seseorang yang dipaksakan untuk cocok dengan dunia kalian."
Hening. Untuk beberapa detik. Xena tak menjawab.
"Kalau begitu....," Xena mengambil satu pakaian dari rak.
"Tentukan sendiri," lanjutnya sambil menyerahkan pakaian itu pada Rasti.
Rasti menatap pakaian itu, lalu menatap Xena, " Ini?"
"Bukankah itu yang kau inginkan?," balas Xena singkat.
Rasti mengangguk, untuk pertama kalinya ia tersenyum. Sekilas Xena melihatnya l, seketika Xena memalingkan wajahnya. Namun tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Coba," ucapnya singkat.
Rasti mengangguk, lalu masuk ke ruang ganti. Sementara Xena menunggu diluar. Dan untuk pertama kalinya, menunggu seseorang dan itu tidak menyebalkan baginya.
Beberapa menit kemudian,tirai ruang ganti terbuka. Rasti keluar dengan pakaian sederhana itu. Tidak mewah dan tidak mencolok
Tapi pakaian sangat cocok dan pas di tubuh Rasti. Xena terdiam. Matanya sedikit melebar. Tatapannya terpaku beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
"Aneh," gumamnya pelan.
Rasti mengernyit, " Apa,?"
Xena menggeleng cepat, "Tidak apa-apa,"
Namun dalam hatinya, ia baru saja menyadari sesuatu. Bahwa kesederhanaan yang ia anggap biasa, justru terlihat berbeda saat pakaian itu melekat pada Rasti. Dan itu mulai mengganggu pikirannya.
"Bagaimana Tuan, Apakah Anda menyukainya? Nyonya sangat cantik sekali," ucap salah sat pramuniaga itu.
Xena hanya mengangguk-angguk kecil.
"Bungkus beberapa untuknya," ucap Xena akhirnya.
Rasti kembali masuk ke ruang ganti, namun beberapa saat Xena berkata,
"Jangan lepaskan baju itu, itu sangat cocok," ucapnya sedikit keras.
Rasti terdiam sesaat, lalu menatap dirinya di cermin
Rasti terdiam sesaat, lalu menatap dirinya di cermin.Pantulan di hadapannya terasa asing. Ia mengusap pelan kain di bagian lengan, seolah memastikan itu benar-benar nyata.
"Memang cantik...," gumamnya lirih.
Namun ia merasa sedikit aneh, ketika tirai tadi terbuka Xena tak mengatakan apapun tapi malah memintanya untuk tidak melepasnya. Hal itu membuat Rasti berpikir tentang sesuatu.
Ia menarik nafas dalam lalu membuka tirai itu lagi. Xena masih berdiri di tempat yang sama. Xena langsung menatapnya sekilas lalu ia memalingkan wajahnya.
"Sudah,?" tanyanya singkat.
"Iya," jawab Rasti pelan.
Pramuniaga itu langsung tersenyum lebar.
"Nyonya terlihat sangat cocok. Tuan punya selera yang bagus," ujarnya ramah.
Xena tak menjawab, ia hanya mengambil dompet dan menyerahkan kartu tanpa banyak bicara. Rasti menatap sejenak
"Kau tidak perlu membeli sebanyak itu," ucapnya pelan.
Xena tidak menoleh," Kau dengar kata ayah, ini bukan tentang perlu atau tidak."
Rasti terdiam. Ia ingin membalas tapi tidak tahu harus berkata apa. Setelah selesai, mereka keluar dari butik. Tas-tas belanja sudah dibawa oleh pegawai.Rasti berjalan di samping Xena. Namun kali ini langkahnya tidak ragu dari sebelumnya. Meski masih terasa canggung.
"Terima kasih,"
Xena melirik sekilas," untuk apa."
"Untuk tadi," jawab Rasti singkat.
Xena menghela nafas kecil," Jangan terlalu cepat berterima kasih. Aku hanya tidak ingin berdebat lama."
Rasti tersenyum tipus," Iya, aku tau."
Mereka berjalan melewati beberapa toko.Orang-orang masih melirik, namun kali ini Rasti mencoba menegakkan kepalanya. Mengingat ucapan Xena tadi. Tetapi beberapa detik kemudian, tiba-tiba langkah Xena berhenti. Rasti yang tidak siap hampir menabraknya.
"Ada apa,?" tanya Rasti.